Seminggu kemudian,
"Shineeeee!!!"
Shine yang sedang memastikan semua yang dibutuhkannya ada di dalam tas kerjanya kaget saat mendengar teriakan itu dan langsung meletakkan tasnya di sofa, bergegas keluar dan melongokkan kepalanya melalui celah pintu. Tetangganya, Ibu Anah yang biasanya kalau pagi asyik menyiram tanaman dengan kostum ibu-ibu masa kini, dasteran lengkap dengan gulungan roll rambut sedang berbicara dengan seseorang di balik pagar rumahnya yang memang bersebelahan dengan rumahnya.
"Shine, kamu pesan gojek ya?" tanya Bu Anah saat melihat kepala Shine nongol.
"Iyessss Buk," jawab Shine dengan senyuman lebar lalu menoleh ke Mas-Mas gojek yang duduk di atas motor CBR gagah warna hijau.
"Tunggu sebentar ya Mas. Lima menit aja."
"Siap Neng."
Sang Mas penunggang motor besar mengacungkan jempolnya. Bu Anah menggelengkan kepala melihatnya yang nyengir dan masuk lagi ke dalam rumahnya.
Sebenarnya sih dia sudah siap lahir dan batin mulai dari atas rambut sampai jempol kaki untuk datang lagi ke perusahaan Gaster Technologi untuk melakukan wawancara akhir setelah seminggu lamanya mengikuti seleksi untuk bisa masuk ke perusahaan mereka. Mulai dari seleksi berkas, psikotes, kemampuan dan pengalaman. Semua sudah Shine ikuti dengan tekad baja dan sepenuh hati karena dia benar-benar berharap bisa masuk ke perusahaan sebesar itu. Gila aja, kantornya modern banget dan terlihat sangat nyaman untuk karyawan yang bekerja di sana. Gajinya juga lebih tinggi dari gajinya dulu di perusahaan periklanan. Pokoknya, Shine yakin kalau hidupnya akan terjamin saat masuk ke sana.
Dia sudah senang banget kemarin siang saat di telepon untuk datang menjalani seleksi akhir bersama lima orang lainnya untuk melakukan wawancara dengan Manager Marketing Gaster Tech bernama Williem Thomas yang akan menjadi atasannya langsung. Shine bahkan langsung loncat-loncat indah dan memekik nyaring di depan penjual sayur karena memang saat menerima pemberitahuan itu dia sedang berada di pasar karena tidak menyangka kalau dia bisa sampai sejauh ini karena saingannya lebih berpengalaman dan kompeten di bidang teknologi.
Jadi, pagi ini dengan semangat empat lima, dijemput oleh babang gojek yang wajahnya biasa-biasa aja tapi tunggangannya wow --rezeki mah pagi-pagi-- dia akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan posisi itu.
"Minnie, sayang. Where are you?"
Shine merunduk dan melongokkan kepalanya ke bawah meja makan untuk mencari kucing kesayangannya yang belum dia kasih makan pagi ini. Teman pelipur laranya saat sendirian berada di rumah sederhana, tiga kamar yang saat ini ditempatinya. Minnie itu segala-galanya sama seperti arti Sasha dan Arsen di hidupnya karena Minnie masih betah berada di sekitarnya sebawel apapun dia.
Ya iyalah betah, wong dikasih makan terus.
"Nah kan, kamu ada di situ."
Shine tersenyum saat menemukan Minnie rebahan di antara bantal sofa yang tergeletak di atas karpet bulu di depan televisi yang biasanya menjadi tempat mereka untuk nonton film. Shine mengambil kucing Persia berbulu orange dan putih yang mengeong saat dia mengangkatnya dan mengelus bulu-bulunya lalu membawanya ke kandangnya yang terbuka dan tempat makanan yang sudah diisinya dengan makanan kucing.
"Minnie sayang, aku tinggal dulu ya. Doakan supaya dapat pekerjaan ini dan kamu bisa dapat makanan enak terus setiap hari." Shine menggoyangkan tubuh Minnie yang kepalanya menghadap ke wajahnya dan mengeong-ngeong lucu seakan menjawab perkataan Shine. "Good job baby, sekarang kamu makan dan jangan ke mana-mana sampai aku pulang. " Shine meletakkan kucingnya di depan mangkuk makanannya dan mengelusnya sayang. "Nanti malam kita movie marathon nonton film friends ya." Shine memeluk lututnya yang memakai celana kain warna hitam itu dan tersenyum melihat Minnie yang mulai makan.
"SHINEEEE!!!" teriakan Ibu Anah menggema lagi. "INI SUDAH ENAM MENIT LEBIH LOH!!"
"Aduhh!!"
Shine buru-buru bangkit, mengambil tas kerjanya dan memperhatikan penampilannya di kaca segi empat ruang tamunya dan tersenyum cerah mengalahkan matahari di luar yang semakin meninggi lalu keluar dari sana seraya menentang heels 5-cm nya dan duduk di kursi beranda untuk memakainya.
"Iya Bu. Ini sudah siap kok."
Bu Anah menggelengkan kepala. "Jangan dibiasakan lelet ah. Kalau bilang lima menit ya lima menit dong. Kasihan Masnya nungguin nih."
Shine yang sudah selesai memakai sepatu heelsnya langsung berdiri, menutup dan mengunci pintu rumahnya lalu bergegas mendekati pagar dengan cengiran khas Shine. "Iya Bu maaf. Nanti Minnie pingsan kalau nggak dikasih makan. Kalau Minnie nggak ada kan saya yang kesepian."
Bu Anah menggelengkan kepala mendengarnya saat Shine mengulurkan tangannya melewati pagar pembatas rumah dan menyalaminya.
"Doakan lancar ya Bu. Nanti Shinte traktir seblak deh," kekehnya.
"Ihh seblak. Makan si restoran kek." Shine tertawa mendengarnya. "Tanpa kamu bilang juga selalu ibu doakan kok. Ya sudah sana, nanti telat."
Shine beruntung memiliki tetangga yang peduli padanya. Banyak di luar sana, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing hingga melupakan kalau mereka memiliki tetangga yang perlu di sapa.
Shine mengambil helm yang di sodorkan Masnya lalu naik dengan hati-hati karena dudukan motor yang tinggi. Wah, bolehlah ya selama perjalanan dia merasa di antar pacar yang motornya keren. Asal jangan keterusan bapernya dan akhirnya nggak sadar meluk Masnya dari belakang dengan erat. Untuk menghindari kejadian itu, Shine meletakkan tasnya di tengah dan melambai ke Bu Anah yang tersenyum.
"Pergi dulu ya Bu. Titip Minnie. Dadaaaaaahhh"
"Halah, dia nggak bakal kemana-man. Hati-hati ya."
Lalu motor berlalu pergi dan Shine merasakan terpaan angin pagi yang segar di wajahnya yang tersenyum sepanjang perjalanan. Tidak ada yang bisa menghancurkan kebahagiaannya saat ini dengan harapan tinggi kalau dia bisa mendapatkan pekerjaan ini.
Tidak ada, kecuali satu hal yang luput dia cari tahu. Siapa CEO dari perusahaan Gaster Technologi.
***
"Apa jadwalku hari ini?"
Zafier baru saja menginjakkan kaki di bandara Soekarno Hatta pagi ini dengan ponsel yang menempel di telinganya setelah perjalanan panjang New York -Jakarta. Zaf memang hanya dua hari berada di rumah orang tuanya di Florida dan sisanya dia pergi mengunjungi Om Gabriell juga calon keponakannya yang akan segera lahir di New York. Bahagia melihat sepupunya Alva Alexander akhirnya akan menjadi seorang ayah.
"Tidak ada jadwal pertemuan. Proyek Franklin sedang dalam proses dan tidak ada hambatan berarti. Semuanya bisa ditangani dengan baik. Tapi besok jadwalmu padat karena ada meeting manajemen untuk memantau perkembangan proyek itu dan beberapa pertemuan dengan client penting di luar kantor," jawab Freya.
Zaf mengangguk mendengarnya dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya. "Okelah. Kalau begitu aku ingin beristirahat hari ini dan jangan ganggu aku."
"Yes, sir. Bagaimana perjalananmu? Menyenangkan?"
Zaf merebahkan punggungnya dan menghela napas. "Sama sekali tidak. Kalau begitu aku tutup dulu."
"Ah ya satu lagi, wanita itu datang ke kantor dua hari yang lalu. Dia berlagak seperti nyonya besar. Aku tidak tahu apakah kalian sudah resmi--"
"Tidak. Aku akan mengurus hal itu," selanya seraya memijit pelipis.
"Baiklah Pak, walaupun dengan terpaksa harus aku katakan wanita itu kelihatannya ular."
"Yeah, terimakasih untuk pendapatmu Freya. Sampai jumpa besok."
"Oke Pak."
Tut.. sambungan terputus. Tangan Zafier berayun turun dan jatuh di atas pahanya dengan helaan napas panjang. Rasanya tidak pernah baik-baik saja setiap kali pulang setelah mengunjungi kedua orang tuanya.
Zaf merebahkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan mata selama perjalanan menuju ke apartemen pribadinya. Dia butuh pengalihan pikiran tapi Helena bukan tempatnya.
Lalu wajah wanita cantik itu terlintas di pikirannya. Wanita cantik dengan nyali yang tidak bisa diremehkan.
Kapan sekiranya mereka bisa bertemu lagi dan siapa namanya?
***
Zaf takjub mendapati dirinya berjalan berputar-putar di blok salah satu perumahan sejak setengah jam lalu. Mobil jemputannya menunggu di depan gang sementara dia mencoba menyusuri blok perumahan yang malam itu jadi tempat adu gulatnya dengan wanita itu.
Entah kenapa bukannya langsung ke apartemen, dia malah singgah dulu ke sini.
Tentu saja keberadaan Zaf yang mencolok menyedot perhatian ibu-ibu yang kebetulan berada di depan rumahnya termasuk Bu Anah yang tadinya asyik dengan tanaman anggreknya.
Dia heran kenapa ada lelaki bule tampan yang seharusnya hanya muncul di film-film holywood itu sejak tadi berputar-putar di jalanan blok rumahnya seperti mencari seseorang.
Bu Anah langsung lari ngibrit ke dalam rumah, masuk ke dalam kamar anak perempuannya dan mengambil kamus yang untungnya tergeletak di atas meja belajarnya. Setelah itu dia langsung kembali lagi ke halaman tepat saat Zafier melintas.
"Ser...ser..serr..," panggilnya dengan lambaian tangan membuat Zafier kaget dan berhenti melangkah saat melihat seorang ibu-ibu paruh baya bergegas mendekatinya dengan kamus di tangannya.
"Wait," ucapnya seraya memandangi bergantian antara kamus dan Zafier yang tadinya bengong dan langsung tersenyum geli melihatnya. Si ibu sibuk mencari entah kata apa di dalam kamusnya. Zaf menunggu dengan sabar.
"Need helep?" Tanyanya kemudian dengan senyuman lalu kembali membuka lembaran kamusnya. "Looking for someone." Lalu ibu itu sibuk lagi dengan kamusnya.
"Saya memang sedang mencari seseorang yang tinggal di sekitar sini."
Bu Anah cengok memandangi Zaf yang dengan fasihnya berbahasa Indonesia.
"Oalaaaaah, bisaaa ngomong Indonesia toh. Ya ampun, saya kira bule yang nggak bisa bahasa sini karena dari tadi cuma lewat-lewat doang tapi nggak mau nanya."
Bu Anah menghela napas panjang dan memeluk kamusnya di d**a.
Zafier tertawa. "Maaf Bu. Saya bukan bermaksud tidak mau bertanya karena saya juga bingung."
"Kalau boleh tahu siapa namanya yang kamu cari?"
Zaf garuk-garuk kepala. Mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah yang ada di kanan kirinya dan terdiam lama memandangi rumah bercat biru yang berdiri tepat di samping rumah ibu yang menegurnya itu yang pintunya tertutup rapat.
"Hmm, saya nggak tahu namanya. Soalnya hanya kenalan dan waktu itu dia masuk ke blok sini Bu."
"Oh ya ampun. Susah juga kalau begitu ya. Wanita?"
Zaf mengangguk lalu menambahkan. "Wanita. Cantik. Rambutnya pendek sebahu."
"Shine?"
Zaf terdiam ketika mendengar nama itu dan mengulangnya. "Shine?"
"Di sini ada yang namanya Shine, rambutnya pendek sebahu tapi orangnya lagi kerja. Jadi nggak ada di rumah."
"Oh. Kalau nggak salah dia pengangguran sih." Zaf nampak berpikir. "Dia tomboy ya Bu?"
"Tomboy? Ah nggak kok." Bu Anah menggelengkan kepala.
"Oh gitu. Ya sudah kalau begitu saya permisi ya bu. Terimakasih banyak sudah ditegur. Dari tadi ibu-ibu di sini hanya bisik-bisik waktu saya lewat."
"Mungkin mereka nggak punya kamus di rumah jadi nggak berani negur. Tampang situ kan bule." Lalu si Ibu memandanginya lekat membuat Zaf kikuk. "Ganteng ya memang orang-orang bule itu."
"Iya begitulah. Kalau begitu permisi." Zaf tersenyum sopan.
Ibu itu mengangguk. Zaf berbalik kembali ke tempat di mana dia masuk tadi tapi sempat berhenti sesaat di depan rumah biru itu untuk beberapa saat kemudian berlalu pergi. Entah apa yang diharapkannya tapi dia benar-benar berharap kalau dia bisa menemukan wanita itu.
Shine.
Apa wanita bernama Shine itu?
Sialnya Zaf baru menyadari saat kemarin berada di Florida kalau kalung berharganya hilang. Apapun akan dia lakukan untuk mendapatkannya kembali tapi sebelum itu dia harus mencari wanita itu dulu.
Kira-kira di mana dia berada?
***