"Shine Aurora Friza."
Panggilan dari arah belakang punggungnya menyentak Shine kembali pada kenyataan setelah tadi dia sempat-sempatnya menghayalkan sedang berjemur di pantai Hawai, hanya mengenakan bikini sambil minum es kepala bersama dengan aktor tampan, Brant Daugherty. Hayalan wanita kesepian yang berpacaran terakhir kalinya saat masih SMA itupun hanya sebulan karena ternyata cinta monyetnya beralih ke lapak sahabatnya.
Kan ngeselin banget bisa suka sama cowok b******k yang doyan memanfaatkan orang modelan begitu.
Ah, lupakan era orde lama begitu karena sekarang saatnya menyosong era orde baru bagi kisah percintaannya.
Pemicu hayalan indahnya tadi muncul saat asyik memandangi arakan awan di luar sana yang mulai memanas karena matahari semakin meninggi melalui dinding kaca gedung di lantai sepuluh hanya untuk mengurangi sedikit saja rasa gugupnya selama menunggu Pak Williem Thomas, calon atasannya yang katanya seorang duda keren-- dari bisik-bisik obrolan karyawati di lobbi tadi-- yang sedang meeting dengan bawahannya.
Dan dari obrolan mereka juga, Shine mendapatkan pencerahan kalau di perusahaan ini ada banyak lelaki good looking dengan pekerjaan mapan yang bisa dikecengin. Yah, awalnya ngeceng dulu lah, kalau ada yang pas di hati siapa tahu boleh di coba dekatin. Selama ini Shine memang tidak terlalu peduli dengan hal-hal semacam ini tapi kok setelah dipikir-pikir lagi, nanti kalau dia cuek terus, kapan dia bisa ngerasain yang namanya relationship.
Shine nggak mau nasib cintanya berakhir tragis seperti Amora, wanita workaholic yang rumahnya hanya beda satu blok dengannya yang setiap hari doyannya bersenggama dengan pekerjaan dan diusianya yang ke 30 tahun kelabakan nyari calon suami.
Aduhh, janganlah. Malu. Kayak nggak laku aja. Padahal cantik.
Dia mau, ada lelaki yang menjemputnya setelah pulang kerja bukannya abang gojek, terus ngajak dia jalan-jalan selain Arsen, ada yang bisa digeret nonton bioskop selain Sasha, ada yang nyodorin es krim kalau dia ngambek seperti Arsen dan ada yang bisa dia ajak gulat seperti, yah, Arsen lagi.
Siapa tahu nasib percintaannya bisa sebagus nasib kariernya setelah bekerja di tempat yang baru ini.
Who knows?
Tapi tetap saja, Shine akan memukul mundur lelaki yang dianggapnya masuk dalam kategori setan, jerk, bastard dan sejenisnya. Dia tidak butuh lelaki penggombal yang membuat kepalanya pusing dan perutnya eneg melihat tingkahnya.
Shine reflek berdiri dari duduknya dan menjawab panggilan itu. "Iya Pak. Saya sendiri."
"Siap untuk lembur hari ini?"
"Hah?!" Mulutnya sedikit terbuka menanggapi pertanyaan itu. Pak Williem meletakkan map merah yang dibawanya di atas meja dan duduk santai di kursinya tidak peduli kalau Shine terdiam cukup lama sebelum menjawabnya. "Lembur?"
Williem mengangguk, mengamati keterkejutan Shine yang masih berdiri di depannya.
"Saya tidak akan basa-basi," ucapnya serius. Perlahan Shine duduk lagi di tempatnya. Berharap kalau pertanyaan tadi berarti satu hal. Dia diterima bekerja sebagai asistennya. Semudah itu kah?
"Kamu wanita yang beruntung. Saya membutuhkan seseorang untuk mengisi posisi ini secepatnya dan empat wanita lainnya yang tadinya akan saya wawancarai sama seperti kamu tidak bisa hadir semua." Ah, Shine menyadari hal itu dari tadi dan hertanya-tanya, kenapa hanya dia yang datang memenuhi panggilan wawancara ini. "Kamu punya pengalaman di bagian Marketing dan saya percaya kalau kamu bisa belajar dengan cepat terkait apa saja yang akan kita jual di sini. Benarkan, Shine?"
Memang ya orang yang pintar itu masih kalah dengan orang yang beruntung.
"Iya Pak. Saya akan belajar menyesuaikan diri di bidang ini dan bekerja dengan sebaik-baiknya," ujarnya mantap dan penuh tekad.
Williem mengangguk, mengambil bolpoint mahalnya dan membuka map yang tadi di bawanya dan bersiap membubuhkan tanda tangannya tapi gerakannya terhenti dan kembali menatapnya.
"Besok ada meeting penting dengan pimpinan tertinggi perusahaan, banyak hal yang harus disiapkan dan semua itu harus sudah selesai besok pagi. Semua datanya sudah ada dan kamu hanya harus menyusunnya menjadi satu laporan utuh. Jadi saya tanya, kalau saya menerimamu sekarang, kamu siap untuk lembur?"
Shine menelan salivanya. Bukan karena dia tidak mau lembur tapi karena dia tidak menyangka akan diterima secepat ini.
"Saya siap Pak kalau memang diterima."
"Good. Saya akan tanda tangani surat ini dan kamu bisa membawanya ke HRD untuk segera ditindaklanjuti kontraknya. Ada beberapa persetujuan yang harus kamu ketahui dan kalau semuanya tidak ada masalah, kamu bisa kembali ke sini dan mulai bekerja. Simple." Shine tersenyum mengangguk. "Tapi semua kontrak di sini punya kekuatan hukum, jadi sekali kamu melakukan pelanggaran yang tidak bisa ditoleransi perusahaan maka kamu akan langsung dipecat dan harus membayar ganti rugi."
Shine mengerjapkan mata, komat kamit di dalam hati semoga tidak ada masalah yang serius selama dia bekerja nantinya supaya tidak berakhir di pecat lagi. Hampir saja dia memekik dan loncat bahagia seperti di pasar kemarin saat dilihatnya Williem membubuhkan tandatangan persetujuannya, menutup mapnya dan berdiri dari duduknya membuat Shine juga ikut berdiri saling berhadapan tanpa bisa menyembunyikan senyumannya.
"Selamat bergabung di Perusahaan Gaster Technology, Shine."
Williem menyerahkan mapnya ke Shine yang langsung menerimanya dan membalas jabat tangan bosnya dengan suka cita. Bahagia tidak terkira karena diterima bekerja hari ini juga.
"Terimakasih banyak Pak. Saya akan bekerja dengan giat."
"Kita lihat saja nanti. Saya tidak butuh omong kosong tapi bukti nyata." Shine tersenyum dan menganguk senang. Lalu mundur untuk mengambil tasnya dan begegas ke bagian HRD. Dia sudah tidak sabar melihat berapa digit nol yang ditawarkan pihak Gaster padanya.
"Ah ya satu hal lagi--" Shine kembali berbalik dan melihat Williem yang sudah duduk di kursinya menatapnya serius. "Saya harap kamu wanita yang tidak gampang tergoda dengan sesuatu yang mempesona dan sejenisnya karena bekerja di sini sangat rawan." Shine mengerutkan alis tidak mengerti. "Saya tidak suka melihat karyawan saya hobinya tebar pesona di luar sana saat bekerja jika melihat lelaki tampan dan membuat saya risih juga jengah dan akhirnya mengambil keputusan pemecatan seperti yang sudah-sudah. Jadi, saya berharap kamu bisa menjaga sikap, Shine."
"Maaf Pak, saya tidak mengerti? Apa maksudnya? Lelaki tampan siapa?"
Bapak juga masuk dalam kategori tampan dan lelaki idola saya pak, batin Shine seraya mengamati sosok seorang Williem Thomas yang wajahnya manis legit kayak cupcake. Enak dipandang. Duda menggoda.
Shine sih nggak masalah sama duda yang penting dia nggak pecicilan yang hobinya serong kanan serong kiri, celup sana, celup sini. Euuhh!!
"Saya sudah peringatkan dan kamu harus ingat baik-baik. Nanti, kamu akan mengerti. Sekarang cepat tuntaskan kontrakmu dan kembali bekerja."
"Baik Pak."
Shine yang bingung memilih mengangguk dan berbalik pergi keluar dari ruangan Pak Williem meski dengan wajah penasaran. Tapi saat dia berdiri di depan pintu yang baru saja ditutupnya, Shine memekik tertahan.
"YEAAAYYY."
Shine menggoyangkan map di tangannya dan mencium-ciumnya. Terlalu senang karena akhirnya dia bisa memiliki pekerjaan tetap tidak peduli pada beberapa orang yang memperhatikannya dengan panasaran.
Dia percaya kalau orang baik yang teraniaya pasti akan mendapatkan balasan yang lebih baik lagi. Shine mendesah bahagia, akhirnya. Dia bisa mulai menabung untuk mencari Abi lagi nantinya.
***
"Kalau kau lagi bosan, coba sekali-sekali memandang dunia dengan cara yang berbeda."
Zaf yang duduk dengan pandangan lurus ke depan menatap kilauan permukaan air kolam renang rumahnya menolehkan kepalanya ke gadis yang duduk di sampingnya asyik menghabiskan es cream strawberry-nya. Semilir angin sore menerbangkan helaian rambut pirangnya yang terurai cantik. Zaf mengulurkan tangan untuk merapikannya.
"Bosan ya bosan. Akan tetap seperti itu adanya meskipun kita melihatnya dari sudut mana pun. Tidak akan ada pengaruhnya."
Victoria memutar bola matanya yang bulat dengan iris mata hijau cemerlang, melebarkan bibir mungilnya dan menghabiskan es nya dalam satu kali bukaan mulut membuat Zaf terkekeh melihatnya.
"Dasar maniak es," sindir Zaf. Mengusap sudut bibir Victoria yang belepotan dengan jemarinya. "Gendut biar tahu rasa!!!"
Victoria tertawa mendengarnya dan menonjok lengan Zaf. "Sebutan yang tepat itu es cream lovers. Siapa sih di dunia ini yang tidak suka es cream. Membuat mood yang tadinya berantakan jadi lebih baik. Apalagi rasa strawberry yang manis melumer di dalam mulut."
"Aku nggak suka es krim." Zaf menggeleng.
"Itu sih urusanmu. Makanya kau selalu cepat bosan."
Zaf menghadap ke Victoria sepenuhnya dan menopangkan dagunya di tangan yang disandarkan di atas paha memandangi lekat gadis-nya yang selalu riang apapun masalah yang sedang dihadapinya dan dia hanya butuh es krim untuk meredakan emosinya.
Bagi Zaf sendiri, Victoria itu diibaratkan es krim strawberry-nya.
Saat emosi mengganggunya maka dia akan selalu datang ke tempat di mana Victoria berada dan pulang dalam keadaannya yang sudah jauh lebih tenang. Jadi Zaf tidak membutuhkan apapun lagi selama Victoria ada di dalam dunianya, pusat dari hidupnya yang rasanya semanis es krim.
"Kalau begitu, coba beritahu aku caranya supaya aku bisa menikmati dunia seperti kau menikmatinya."
Victoria tersenyum lebar, ikut menopangkan pipinya di depan Zaf dan mencubit hidungnya.
"Kau akan merasakan perbedaanya." Lalu kepalanya menoleh ke arah lain dan tangannya menunjuk kilauan air kolam yang terkena cahaya matahari sore yang cerah di Florida. "Tempatnya di sana, di dalam air."
"Really?" Zaf menaikkan alisnya. "Kita harus basah-basahan dulu."
Victoria tertawa dan mengangguk. Lalu berdiri dari duduknya, mengambil ikat rambutnya dan menggulung rambut panjangnya ke atas. Zaf memandang dengan mata berbinar. Cahaya matahari kalah dari cahaya yang dipancarkan Victoria untuk hidupnya.
Mataharinya. Seperti kalung matahari yang terjuntai cantik di lehernya. Hadiah ulang tahun ke sepuluh dari Zafier dan gadis itu tidak pernah sekalipun melepasnya.
Victoria mengulurkan tangan dan Zaf akan selalu menyambutnya lalu mereka berdiri bersisian saling melempar senyuman dan bersama-sama berjalan ke sisi kolam renang.
"Tarik napas banyak-banyak supaya kita bisa lebih lama berada di dalam sana dan rasakan sensasinya."
"Oke." Zaf mengangguk. Mereka berdua berbalik membelakangi kolam, saling bergandengan tangan, saling menatap dengan senyuman di wajah.
"Ready. Dalam hitungan ketiga. Tarik napas."
"Satu--" Zaf yang berhitung. "Dua." Diganggamnya tangan Victoria dengan erat. "Tiga." Mereka sama-sama menarik napas panjang kemudian menjatuhkan diri ke dalam air dan --
BYUUUURRRRR!!!
"Hmmmppphh--" Zaf keluar dari air yang tadi menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam bath up-nya dengan panik.
"Uhukk..uhuuukkk...uhuuukkk!!" Napasnya tersenggal membuatnya batuk-batuk. Tangannya memegangi erat pinggiran bath up sementara dia meredakan emosinya.
Kurang dari lima menit Zafier mencoba untuk kembali ke masa lalu tapi dia selalu memaksa dirinya keluar lagi lebih cepat karena ketakutan. Dia ingin mencoba kembali ķe tempat di mana dulu dia merasa nyaman bisa melihat dunia yang sama seperti yang dilihat Victoria. Tapi sekarang melakukan hal itu sungguh sangat sulit dan menyakitkan juga membangkitkan kenangan yang sama sekali tidak ingin diingatnya.
Victoria selalu suka berada lebih lama di dalam air. Mengambang dengan cantiknya di dalam sana menikmati langit yang terbentang di atasnya dengan cara yang berbeda. Keluar jika dirasanya napasnya sudah tidak sanggup menahannya di sana.
"Victoria."
Lirih Zafier seraya menundukkan wajahnya, menjambaki rambutnya sendiri dan tidak bisa menahan tangisannya untuk seseorang yang sudah lama meninggalkannya. Hatinya masih saja remuk dan sakit ketika mengingatnya tapi bayangannya seperti tidak mau menghilang.
"Victoriaaaaa--" Zaf memukul kepalanya sendiri dan meringkuk di sana meresapi kesakitannya. "Victoriaaaa." Riak air bergerak saat tubuh Zaf yang polos bergetar karena tangisannya.
Victorianya, yang suka berada di dalam air, yang pada akhirnya menjadi tempat di mana dia menutup matanya untuk selama-lamanya. Meninggalkan Zafier penuh luka.
Zaf melihat sendiri bagaimana sadisnya gadis mataharinya meninggalkannya. Bunuh diri dengan cara menenggelamkan dirinya di dalam air.
Zaf lebih dari hancur.
***