Dua

1706 Kata
Setengah jam kemudian Irza sudah berada di Elka tower, gedung tempat kerjanya selama hampir satu tahun terakhir. Irza bekerja sebagai packaging and quality control departement staff di Elkafood, yang merupakan salah satu perusahaan consumer goods populer di tanah air. Elkafood memfokuskan produknya pada makanan siap saji seperti bubur instan dan mi instant yang kerap dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat di negara ini, termasuk Irza. Elkafood sendiri merupakan salah satu anak perusahaan dari raksasa bisnis Elka Group milik pengusaha sukses dan berbakat Luthfi Khawas. Hari ini Irza memang sengaja mengambil cuti untuk mencari solusi atas persoalan yang tengah menjerat kehidupan tenangnya. Langkahnya yang biasa ceria terlihat lesu menuju bagian keuangan. Salah satu alternatif yang bisa ia ambil untuk membantunya keluar dari persoalan pelik soal hutang dan tagihan kartu kreditnya. Lorong di sekitar lantai yang kini sedang dilalui Irza memang selalu sepi. Jadi Irza tidak perlu repot-repot menjelaskan keperluannya pada orang-orang yang hanya sekedar ingin tahu saja, tanpa berniat untuk membantu.  Setelah mengetuk pintu ruangan bagian keuangan dan dipersilakan masuk oleh managernya, Irza pun masuk. Beruntung ruangan sedang sepi karena staf bagian keuangan yang lain sedang berada di kafetaria siang ini. Irza lantas menarik salah satu kursi yang berada di depan meja manager keuangan, mendudukinya dengan kepala tertunduk. “Ada kepentingan apa, Irza?” tanya sang manager. “Saya mau menggunakan manfaat fasilitas kredit tanpa bunga, Pak,” ucap Irza ragu, setelah berpikir selama beberapa detik. “Oke, sebentar saya cek dulu apa kamu sudah memenuhi syarat atau belum.” Irza menunggu dengan gelisah. Jantungnya berdetak lebih cepat menunggu keputusan sang manager. Sebenarnya Irza tahu bahwa dirinya belum memenuhi syarat untuk bisa memperoleh pinjaman seperti yang diajukannya tadi. Namun Irza benar-benar sedang mencoba peruntungannya saat ini. “Kamu mau pinjam berapa, Irza?” tanya manager tersebut setelah mengalihkan pandangannya dari monitor komputer. “100 juta bisa, Pak?” Manager keuangan berperawakan tambun tersebut terbahak mendengar ucapan Irza. “Tidak bisa, Irza. Mau pinjam sebanyak itu, kamu saja belum dua tahun kerja di Elkafood. Limit pinjaman kamu masih di bawah 20 juta.” “Nggak ada pengecualian gitu, Pak?” “Pengecualian apa?” “Ini benar-benar kebutuhan mendesak, Pak.” “Saya kasih penawaran 15 juta. Kalau tidak mau ya sudah. Kamu boleh meninggalkan ruangan ini sekarang juga.” Akhirnya Irza melangkah gontai dari ruang bagian keuangan. Penawaran sejumlah itu tidak mampu menyelesaikan persoalan peliknya. Yang ada dia malah menambah masalah baru dengan menambah hutang lagi. Irza pun kembali ke kosannya dengan tangan kosong. (***) Jerome dibuat pusing tujuh keliling karena Rigel A yang merupakan brand ambassador Orland’s Men, salah satu produk unggulan Orland’s Fashion kembali membuat keonaran. Berita soal video Rigel A saat mabuk menghajar beberapa orang di klub malam tiba-tiba beredar di jagad maya. Yang lebih membuat Jerome geram model yang kini sedang digandrungi anak muda itu mendadak menghilang dari peredaran. Padahal minggu depan akan diadakan pembukaan outlet terbaru Orland’s Men dan akan mendatangkan idola kaum milenial terutama para gadis belia itu sebagai bintang tamu. Jerome tidak bisa berkonsentrasi penuh pada perjalanan bisnisnya di Jepang. Akhirnya Jerome memutuskan kembali ke tanah air sebelum jadwal kepulangannya. Tanpa didampingi oleh supir pribadi seperti biasanya, Jerome melajukan mobil sportnya menuju tempat yang merupakan vila pribadi milik Rigel A yang tidak diketahui siapapun kecuali Jerome dan sekretaris pribadi Jerome. Tidak dapat dipungkiri juga meski seorang biang onar, setelah Rigel A didapuk menjadi brand ambassador untuk produk fashion khusus pria dengan merek dagang Orland's Men, perusahaan konveksi milik Jerome semakin berkembang pesat dan hasil produksinya patut diperhitungkan di dunia fashion, baik dalam maupun luar negeri. Hal itulah yang menjadi alasan Jerome melunturkan segala egonya demi membujuk seorang Rigel A yang juga merupakan adik laki-lakinya itu. Karena ketika Rigel A sedang bermasalah seperti saat ini, hanya Jerome yang mampu mengajaknya bernegosiasi. Saat mobil Jerome berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah, ponselnya bordering, sebuah panggilan dari salah seorang asisten rumah tangga di rumahnya menginterupsi perjalanan Jerome menuju Bogor. Sebelum menerima panggilan telepon yang dirasa penting itu, Jerome terlebih dulu menepikan mobilnya, mencari tempat aman dan nyaman untuk menerima panggilan telepon. “Pak Jerome, maaf mengganggu. Saya Hasna. Mau mengabarkan kalau Nyonya Rieta terpeleset di tangga saat hendak kembali ke kamarnya. Saat ini beliau sedang dirawat oleh dokter keluarga,” ucap Hasna setelah Jerome menerima panggilan telepon. “Dokter siapa yang dipanggil ke rumah?” “Dokter Heriza, Pak.” “Saya tidak pernah dengar nama dokter itu. Memangnya Dokter Fathur ke mana?” “Maaf, Pak. Kata asistennya, Dokter Fathur sedang ada seminar di luar kota. Nyonya Rieta sendiri yang minta dipanggilkan Dokter Heriza. Katanya Pak Jerome sudah setuju kalau dokter itu dijadikan alternatif kalau Dokter Fathur berhalangan datang,” jelas Hasna penuh ketakutan. “Kalau begitu saya akan tiba di rumah beberapa menit lagi.” “Tapi tadi Nyonya melarang kami semua untuk menyampaikan kabar ini pada Pak Jerome.” “Tidak apa-apa, nanti saya yang akan menjelaskan pada Mami. Sekarang tolong jaga Mami dan jangan mengatakan apa pun soal saya akan tiba di rumah pada beliau.” “Baik, Pak.” Jerome hanya bisa mengempaskan napas kasar sebelum akhirnya memutar balik mobil menuju rumahnya. Masalah apa pun yang tengah mendesaknya, urusan ibunya tetaplah nomer satu. Begitu prinsip Jerome dalam memuliakan sang ibu. Setelah berkendara dengan kecepatan terjaga akhirnya Jerome sampai di rumahnya sekitar setengah jam kemudian. Dia datang tepat waktu karena dokter perempuan berparas anggun yang menangani Marieta baru saja selesai melaksanakan tugasnya. “Apa kabar Kak Jerome?” sapa Heriza setelah Jerome melangkah terburu mendekat ke arahnya. “Baik-baik saja. Bagaimana keadaan Mami saya?” tanya Jerome datar, setelah mempersilakan Heriza duduk di salah satu sofa ruang tamu. “Ibu Rieta dalam kondisi baik. Detak jantung maupun tekanan darahnya masih stabil. Hanya saja engkel kakinya terkilir. Saya sudah memberi rujukan untuk periksa ke dokter spesialis ortopedi,” jelas Heriza. Terlihat sekali dari caranya berbicara dia adalah wanita cerdas dan berkelas. “Saya mau menemui Mami dulu. Terima kasih karena sudah membantu memeriksa kondisi beliau. Untuk keuangannya nanti sekretaris saya yang akan mengurusnya,” ucap Jerome beranjak dari sofa, sembari merapikan jasnya. “Kak Jerome! Kamu tidak ingat aku?” ragu Heriza memanggil dan bertanya pada laki-laki yang sudah berbalik badan hendak meninggalkannya sendirian di ruang tamu tersebut. Jerome mengangguk ragu. “Sepertinya kita pernah tetangga satu kompleks dulu,” jawabnya kikuk. “Tapi kamu jangan salah paham dulu, saya ingat karena kamu dan ibumu adalah orang yang paling sering datang berkunjung ke rumah saya dibanding tetangga lain,” imbuh Jerome tegas. “Nggak apa-apa. Aku senang aja kamu masih mengingatku dengan baik. Jadi aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan diri saat acara makan malam kita besok,” ucap Heriza memberanikan diri. “Maksud kamu?” “Memangnya Tante Rieta tidak mengatakan sesuatu hal soal jamuan makan malam untuk kita berdua?” “Oh, jadi kamu pasangan kencan buta yang dipilihkan Mami untuk saya?” ucap Jerome dingin dan dengan nada bicara angkuh yang begitu kentara. “Apa kamu akan datang, Kak Jerome?” “Nanti saya pikirkan lagi. Meski kamu kenal saya, tapi saya merasa sangat asing dengan kamu, dan saya merasa kurang nyaman berada di sekitar orang yang masih terasa asing,” jawab Jerome dengan ekspresi tak terbaca. “Kalau sudah selesai kamu boleh pulang,” tandas Jerome, melangkah lebar menuju  kamar ibunya. Heriza mendesah pasrah dengan sikap dingin Jerome yang tidak pernah bersahabat itu. Tidak ada yang bisa menyentuh kehidupan pribadi Jerome sejak remaja, termasuk orang-orang yang pernah dekat dengannya sebagai teman ataupun sahabat. Bisa dikatakan Jerome tidak pernah punya teman dekat baik laki-laki maupun perempuan semenjak usia remaja. Sebagai tetangga yang pernah memerhatikan Jerome saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas, Heriza merasa sesuatu yang salah terjadi pada diri Jerome. Namun saat itu usia Heriza masih belia sehingga dia tidak bisa mengungkapkan kecurigaannya dalam bahasa yang pas. Heriza masih menatap bagian belakang tubuh Jerome yang mampu menggoda kaum hawa seperti dirinya. Tubuhnya atletis, bugar tapi tidak terlalu gempal. Otot-ototnya terlihat pas mengisi tubuh dengan tinggi badan di atas 180 cm tersebut. Heriza terpesona, bahkan mungkin bukan hanya dirinya saja wanita yang memiliki pemikiran yang sama kala menatap Jerome dengan jarak sedekat ini. Hanya wanita tidak normal saja, yang tidak tertarik pada tampang yang terpahat sempurna bak titisan para dewa-dewa dan bentuk tubuh milik Jerome.  Heriza menggeleng cepat ketika pikirannya sudah mulai  berkeliaran tidak tentu arah. Dia lalu memutuskan bergegas keluar dari rumah Jerome dengan pikiran tak menentu. (***) “Bagaimana keadaan mami?” tanya Jerome setelah duduk di pinggiran ranjang. Tangannya terulur membelai rambut Marieta yang mulai memperlihatkan rambut putih di beberapa bagian tertentu saja. “Mami nggak apa-apa, Jey. Katanya tadi kamu masih ada di Jepang? Kenapa sekarang sudah ada di sini?” “Aku ada kepentingan mendadak makanya pulang ke Indonesia lebih awal.” “Karena Mami ya? Mami memang semakin merepotkan kamu, Jey.” “Bukan, Mi. Aku ada urusan pekerjaan.” “Kalau gitu segera selesaikan urusan pekerjaanmu itu, supaya besok tidak ada gangguan saat acara makan malam yang sudah Mami atur sendiri.” “Mami-” “Please, Jey! For the first Mami memohon sesuatu padamu. Sekali ini saja kamu turuti permintaan Mami. Kalau kamu nggak cocok pada perempuan pilihan Mami, it’s oke, Jey. Mami nggak bakal marah.” “Oke! Berarti keputusan tetap ada di tanganku ya? Mami harus berjanji, nggak boleh marah, sedih apalagi kecewa kalau seandainya aku nggak nyaman sama pilihan Mami!” “I’m promise! Terima kasih ya, Jey.” “Sama-sama, Mi,” jawab Jerome penuh kelembutan. “Oh, iya, Jey! Mami tidak bisa menghubungi adikmu sejak tiga hari yang lalu. Apa dia berulah lagi?” Jerome terlihat gugup merespon pertanyaan Marietha. Namun dia berusaha tenang dan menggeleng kemudian. “Rigel sedang liburan. Mami tahu sendiri kan, saat dia bersenang-senang meski dunia besok mau runtuh nggak akan ada yang bisa mengusik kesenangannya,” jawab Jerome diselingi tawa, berusaha meyakinkan Marietha kalau adik laki-lakinya itu tidak sedang tersangkut masalah besar saat ini. “Ya, tentu saja Mami paham karakter adikmu itu. Tidak beda jauh dengan karakter papinya,” jawab Marietha dingin. Jerome tidak lagi menjawab ucapan Marietha. Dia meminta maminya itu untuk beristirahat dan tidak memikirkan hal yang berat-berat dan mengganggu ketenangan batinnya. ~~~ Continued…   ^vee^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN