“Agak heran sebenarnya. Waktu itu alasan kamu memilih saya untuk menikah kontrak sama kamu karena saya bukan tipe kamu. Jadi persentase kemungkinan kamu tertarik sama saya itu sangat kecil dan bahkan nggak mungkin terjadi,” ucap Sita setelah bertahan dalam diamnya selama sepuluh menit. “Oh, itu…,” jawab Rigel. Dia tampak salah tingkah saat ini. “Itu hanya alasanku saja. Supaya kamu nyaman dan mau menerima tawaranku,” sambungnya sambil mengusap lengan Sita yang tidak tertutup blazer dari belakang. “Jadi kamu menjebak saya?” tanya Sita sedikit menyerongkan badannya untuk melihat Rigel. Tatapan laki-laki itu tampak lebih sayu dari biasanya. “Ya nggak menjebak juga. Kamu jangan salah paham dulu,” jawab Rigel lalu menyentuh puncak hidung Sita dan memberi sedikit cubitan gemas di sana. “Ja

