Takdir Pertemuan Dua Monster
Hujan yang tumpah sejak pagi mereda petang itu, menyisakan genangan air di jalanan yang basah. Di Jakarta, jika hujan tak henti-henti mengguyur maka jelas kondisi jalanan di malam hari akan menjadi neraka.
Tidak saja kondisi jalanan cenderung macet total di segala titik, bunyi klakson kendaraan yang terdengar tidak sabar pun akan terus bersahutan meneror gendang telinga orang. Kemudian di akhir perjalanan setiap pengendara tersebut, emosi yang memuncak di jalanan akan dilampiaskan di bawah atap rumah masing-masing.
Neraka khas Jakarta!
Setelah berjalan menempuh jarak sejauh satu kilometer dari lapangan tempatnya rutin bermain basket demi menghindari macet, Albert Siallagan berhenti tepat di seberang gedung tua setinggi 25 lantai yang berwarna kelabu. Sambil memerangi udara dingin, ia berlari kecil menyebrangi jalan, melewati barisan mobil yang tampak begitu gelisah akibat lambat bergerak maju.
Baik mobil-mobil yang tak henti saling membunyikan klakson tersebut dan juga jalanan, masih terlihat seolah mengembun akibat sisa-sisa hujan. Albert merapatkan jaket tebal berwarna hijau army untuk melindungi tubuhnya dari semilir angin malam yang dingin.
Di dalam jaket, ia masih mengenakan kaos longgar hitam tanpa lengan dengan tulisan angka sebelas berwarna merah, serta celana lebar hitam yang jatuh hingga ke lututnya. Di bawah lututnya sendiri, ia mengenakan sepatu basketnya yang berwarna putih yang sedari tadi telah menghantam genangan air di jalanan.
Sesekali, ia bisa melihat sekilas dirinya dari pantulan genangan air tersebut di bawah, dengan bantuan lampu-lampu jalanan dan gedung pencakar langit. Untuk ukuran anak berusia enam belas tahun, Albert memiliki postur tubuh yang cukup ideal --- tinggi besar khas pemain basket SMA.
Kulit tubuhnya berwarna kecoklatan dan rambutnya cepak nyaris plontos. Ia tidak bisa dikatakan tampan, tidak juga jelek. Namun aura wajahnya cukup hangat, sama persis dengan ayahnya.
Seorang satpam berseragam mengangguk membalas sapaan kilat Albert ketika dirinya memasuki area gedung yang kurang terlihat megah dan kurang futuristik tersebut. Ia langsung berpapasan dengan begitu banyak orang yang terlihat baru saja menyelesaikan kerja dan mencoba pulang dari kantor.
Sebagian lagi terlihat hanya berdiam diri di lobi gedung dan seolah mencoba menghabiskan waktu di sana untuk menunggu jalan raya melenggang. Resepsionis gedung sendiri tengah sibuk mengembalikan kartu identitas kepada beberapa tamu non karyawan gedung dan tidak melihat Albert yang melewati mereka.
Albert sadar betul dirinya tidak cukup rapih untuk berada di antara beberapa orang pekerja di sekitarnya yang tengah menunggu lift di lantai lobi gedung. Untungnya, tidak banyak yang masuk ke lift khusus lantai 15 ke atas sehingga Albert langsung leluasa meluncur naik ke lantai 19.
Ada tiga kantor berbeda di lantai 19 yang didesain dengan kayu-kayu berwarna cokelat tua. Di bagian paling ujung lorong yang memutar dengan luas area paling kecil, ada kantor milik ayah Albert.
Sebelum menemui ujung lorong bagian kanan, siapa pun akan melewati sebuah kantor head hunter yang lumayan besar. Sementara di bagian kiri ada sebuah kantor pengacara. Albert sendiri langsung melangkah menuju kantor ayahnya.
Begitu tiba di sana, ia dapat melihat papan tulisan Klinik Prof. Dr. Yosef Siallagan baru milik ayahnya. Albert membuka pintu depan yang berbahan kaca tebal dan segera mencium aroma pinus menyeruak dari dekat meja resepsionis.
Masih ada Risa --- karyawan ayahnya di meja depan --- yang terlihat serius dengan pembicaraannya di telepon. Begitu melihat Albert, ia segera menutup bagian bawah gagang telepon dengan tangan kanannya dan segera melotot ke arah Albert dengan galak.
"Kau basah dan membawa lumpur ke sini. Aku baru mengepel lantai!"
Albert tersenyum simpul ke arah Risa. Ia melihat sekilas ke arah sepatunya yang masih kotor akibat bercak-bercak lumpur dan jaketnya yang lembab akibat terkena rintikan hujan sepanjang perjalanan tadi.
"Ayah di mana?"
"Di dalam bersama pasiennya. Hari ini ada sisa satu sesi terakhir. Mau menumpang pulang lagi dengan mobil ayahmu?"
Albert mengangguk, lalu membiarkan Risa segera kembali tenggelam dalam pembicaraannya di telepon lagi. Ia melenggang masuk ke dalam pintu kaca lain di samping kiri meja resepsionis, setelah Risa menekan tombol unlock dari balik mejanya.
Anak laki-laki itu langsung disambut dengan musik instrumental khas Asia Timur dari balik pintu kaca tersebut dan juga aroma lavender yang manis dan menenangkan. Di dalam kantor ayahnya, ada beberapa ruangan lainnya yang terpisah.
Satu ruangan konsultasi, satu ruangan observasi dan terapi, satu ruangan arsip, satu ruang obat, dua ruangan khusus untuk tes, satu ruangan tunggu yang cukup besar, satu dapur kecil, dan bilik toilet. Semua ruangan itu diatur sangat bersih dan nyaman bagi para pengunjung atau juga pasien.
Albert menyempatkan diri membersihkan dirinya terlebih dahulu di toilet sebelum masuk ke ruang tunggu. Seperti biasa, di ruang tunggu selalu disediakan air putih dan teh chamomile dengan penghangat otomatis yang fungsinya untuk menenangkan --- beserta beberapa cemilan biskuit gandum s**u.
Albert minum segelas air putih lalu mengambil sedikit biskuit dan duduk di sofa krem yang menghadap langsung ke arah ruang konseling. Ia ingin mengawasi langsung ruangan ayahnya sambil mengisi perutnya sementara.
Anak laki-laki itu baru menyadari bahwa di bagian pojok ruangan --- dengan hanya terpisah dua meter darinya --- ada seseorang lainnya yang tengah duduk sambil membaca majalah.
Pria itu tinggi, bisa dikatakan sekitar 12 senti lebih tinggi dari Albert dan memiliki postur tubuh agak kurus. Kulitnya pucat seolah tak pernah terkena paparan sinar matahari.
Pria itu bergaya preppy bak kalangan bangsawan dengan sweater cokelat tua yang menutupi kemeja putih di dalamnya serta celana bahan kain berwarna krem.
Sekilas, Albert merasa pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya di suaru tempat. Baru beberapa lama kemudian, ia bisa mengingat di mana pernah melihat orang di dekatnya tersebut. Albert sering melihatnya di TV belakangan ini.
Namanya Bayu Soedjono. Seingat Albert, umur Bayu hanya terpaut dua tahun lebih tua darinya. Yang membuat Albert kemudian mengingat detail tentang Bayu selain dari drama kontroversi nasional seputar kematian kedua orang tuanya adalah ... karena Bayu kini merupakan miliarder termuda di Indonesia -- penerima beasiswa istimewa Universitas Stanford Amerika.
Kabarnya, pertengahan tahun ini Bayu sudah akan berangkat ke Amerika. Setidaknya begitu menurut surat kabar yang dibaca oleh Albert.
Pria tersebut tahun lalu selalu berada di peringkat teratas negara dan konon memiliki tingkat intelegensia luar biasa. Belum lagi secara fisik, Bayu bisa dikatakan menarik.
Wajar jika banyak pemuda se-Indonesia yang iri kepada Bayu, termasuk Albert. Meski begitu, rasa tidak suka Albert kepada laki-laki itu mengalahkan rasa irinya.
Ia merasa langsung tidak menyukai Bayu --- entah karena apa. Mungkin juga karena Bayu sempat diadili karena diduga sebagai pembunuh kedua orang tuanya sendiri dan kemudian dinyatakan tidak bersalah dan bebas.
Albert mengamati Bayu yang duduk dengan santai di atas sebuah kursi kayu besar yang terletak di ujung ruangan. Tingkah lakunya sangat tenang, lebih tenang dari orang dewasa kebanyakan.
Sepengetahuan Albert dari TV, jika Bayu berbicara, intonasi suaranya juga tidak pernah meninggi dalam situasi apa pun. Suaranya selalu terdengar pelan serupa tiupan angin.
Di pengadilan kemarin saja, Bayu selalu berbicara dengan teratur dan selalu menekankan kepada konteks-konteks yang diperlukan saja. Ekspresi wajahnya selalu datar dan tanpa emosi. Bahkan napasnya tidak pernah terlihat menderu dalam situasi-situasi apa pun, termaksud saat jaksa mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit terhadapnya.
Kebanyakan orang yang mengenalnya secara langsung konon sedikit takut kepada Bayu. Albert sendiri tidak merasa merinding ketika berada di dekat Bayu.
Entah mengapa, ia merasa dirinya seperti elang sedang berburu kelinci saat melihat Bayu secara langsung. Ia merasa segera membenci orang itu tanpa sebab.
"Hai," sapa Bayu tiba-tiba ke arah Albert. Ia masih menggenggam sebuah majalah pariwisata di tangannya yang terbuka lebar. "Kau mengamatiku sejak tadi?"
Albert tercengang. Ia tidak sadar jika sejak tadi terkesan mengamati Bayu secara terang-terangan.
"Ah, tidak. A-aku hanya---"
"Jalanan di luar masih macet?" tanya Bayu memotong ucapan Albert. Raut wajahnya terkesan bersemangat membuka komunikasi dengan Albert yang terus menatapnya.
"Ya begitulah," jawab Albert sambil mengangkat bahunya dengan kaku. "Kau pasien ayahku atau...?"
"Pasien baru --- dan sudah selesai menjalani sesi konseling pertama dari setengah jam yang lalu," jawab Bayu dengan santai. "Kebetulan tadi dengar-dengar kondisi di luar macet total, jadi aku merasa lebih nyaman menunggu di sini sampai jalanan lebih lenggang. Apa kabar? Masih ingat padaku?"
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Albert kebingungan. Ia merasa tidak pernah berkenalan langsung dengan pria di depannya.
"Kau anak Profesor Yosef, kan? Namamu Albert?"
Albert terlihat sedikit terkejut begitu mendengar lawan bicaranya saat ini mengenalinya. Namun belum sempat Albert bertanya, Bayu sudah melanjutkan pertanyaannya lagi.
"Kau sedang menunggu ayahmu pulang?"
Albert menatap Bayu dengan aneh. Ia tidak menyangka orang seperti Bayu mau menjalin komunikasi dengan mudah kepada orang seperti dirinya.
"Semua bus ke arah rumahku penuh sesak. Jadi aku ke sini untuk menumpang pulang dengan ayahku, sekalian menunggu jam macet berkurang," jawab Albert dengan wajar.
Bayu tersenyum misterius setelah sejenak tenggelam dalam pengamatan tajamnya ke diri Albert.
"Ayahmu sering bercerita tentang dirimu. Beberapa bulan lalu saat ia rutin mengevaluasiku di Mabes Polri dan juga di sesi konseling hari ini, ia masih terus menyebut namamu. Kadang kala di sesi wawancara, ia memakaimu sebagai bahan studi banding denganku. Makanya aku ingin bertemu denganmu secara langsung."
Keheningan timbul sejenak. Albert merasa curiga bahwa ayahnya telah bercerita banyak tentangnya kepada Bayu dan bahwa pria aneh itu jangan-jangan sengaja menunggu di sana untuk bertemu dengan Albert. Ia pun mulai merasa tidak nyaman.
"Studi banding apa? Kenapa ayahku bercerita tentangku kepadamu?"
"Menurutmu kenapa?"
Bayu bertanya balik kepada Albert dengan wajah dan nada suara yang datar, namun kilat matanya mendadak bersinar tajam.
"Apa saja yang ia ceritakan tentangku?" tanya Albert dengan canggung --- berusaha memecahkan keheningan yang mendadak timbul.
Bayu tidak segera menjawabnya. Namun ia meletakkan majalahnya di meja dan kini mengangkat cangkir tehnya dari sana. Sambil menatap Albert, ia kemudian meneguk teh chamomile-nya.
"Maaf kalau aku salah, tapi ... melihatmu secara langsung membuatku teringat kepada seseorang," ucap Bayu dengan pandangan mengawang. Ia menolak menjawab pertanyaan Albert. "Jester --- seseorang yang aku kenal sejak tahun lalu. Ia sangat mirip denganmu.
"Staf ayahmu di depan tadi namanya Ri...sa?" lanjut Bayu dengan hati-hati setelah melihat perubahan air muka Albert. "Wanita yang baik dan sangat komunikatif. Ia yang tadi mengatakan kepadaku bahwa kau sering ke kantor ayahmu untuk pulang bersama setiap kondisi jalanan dan cuaca agak buruk."
Albert mulai terlihat kurang senang. "Jangan-jangan, sejak tadi kau memang menungguku?"
"Benar," desis Bayu dengan suara berintonasi dalam.
Albert menggeser posisi duduknya di sofa dan terlihat sangat terganggu. "Apa yang ingin kau tahu tentangku?"
Bayu terlihat menimbang-nimbang kalimat berikutnya sebelum menjawab, "Aku hanya penasaran. Kau tidak ingin menjenguk ibumu di Jogja? Kau masih ingat bagaimana wajahnya?"
Albert menahan napas sesaat ketika mendengar ibunya disebut-sebut Bayu. Ia sudah sangat lama tidak bertemu ibunya dan ia sangat merasa heran bagaimana Bayu bisa tahu soal ibunya itu.
Bayu sendiri segera menangkap kegelisahan Albert dan langsung tersenyum tipis.
"Ah, aku calon mahasiswa departemen psikologi, jadi cukup tertarik saat mendengar kasus-kasus tertentu seputar depresi akut. Tapi ... pasti berat rasanya bagimu mendengar kabar buruk tentang ibumu secara terus menerus dari sini. Apalagi bagi ayahmu yang memang seorang psikiater."
Albert mengepalkan tangannya dengan kesal. "Itu bukan urusanmu!"
Ibu Albert memang tinggal di kota yang terpisah dengan Albert dan ayahnya. Sejak Albert kelas 5 SD, Ibu Albert harus dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di Jogja akibat perilaku yang cenderung ekstrim dan kerap melukai dirinya sendiri.
Berkali-kali, ibunya mencoba untuk bunuh diri. Terakhir minggu lalu, Ibu Albert berusaha merobek nadi pergelangan tangannya sendiri dengan garpu yang ia sembunyikan dari ruang makan rumah sakit.
Albert tahu benar ayahnya sering terpukul dan tak berdaya jika mendengar kabar buruk seputar istrinya tersebut. Albert dan ayahnya sendiri kemudian pindah dari Jogja ke Jakarta ketika Albert menginjak kelas 1 SMP --- meninggalkan Ibu Albert yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di sana.
"Aku sedikit kasihan kepada ibumu. Dia pasti sangat sedih ketika adikmu meninggal."
Kali ini Albert menghembuskan napas dengan kesal. Ia heran kenapa orang seperti Bayu terus berbicara seputar keluarganya dan merasa perlu mengorek detail cerita seputar ibunya. Ia pun semakin merasa tidak nyaman.
"Aku tidak mengerti kenapa kau harus memikirkan kondisi ibuku di saat kisah seputar tragedi keluargamu sendiri tengah menguncang masyarakat. Seharusnya kau sendiri lebih fokus kepada perkembangan kesehatan mentalmu dibanding mempelajari kehidupanku!"
Bayu terdiam di tempatnya dan suasana di antara keduanya tiba-tiba hening. Sekilas sorot mata Bayu terlihat seperti memancarkan emosi tertentu --- lebih tepatnya seperti terheran-heran. Namun tak berapa lama, ia menarik garis bibirnya sendiri dan langsung tersenyum dengan dingin.
Mendadak Bayu beranjak dari kursi tempatnya duduk dan berjalan perlahan ke arah Albert. Ia berhenti tepat di depan Albert dan kini menatapnya dengan tajam sambil menundukkan setengah badannya ke arah wajah Albert.
"Kau tahu kasus pembunuhan high profile di kalangan polisi sejak tahun lalu?" tanya Bayu dengan sangat pelan kepada Albert --- nyaris seperti berbisik. "Aku mendengar hal ini masih menjadi perhatian pihak reskrim kepolisian dan belum terpecahkan. Februari 2002, mayat seorang dokter wanita ditemukan nyaris membusuk dengan kondisi kepala yang hancur.
"Ia ditemukan di dalam gentong sampah biru di jalan tol Jagorawi setelah sekian minggu dilaporkan hilang oleh keluarganya. Lalu Agustus 2002, mayat wanita karyawan mal di daerah Senayan ditemukan di dalam ruang genset. Lagi-lagi, korban dalam kondisi kepala yang hancur."
Bayu menarik napas sejenak. Bola matanya kini berkilat-kilat tampak lebih bersemangat.
"Kau tahu sesuatu?" lanjutnya ke arah Albert. "Orang-orang yang menemukan mayat mereka mengatakan bahwa tengkorak kepala mereka sampai hancur dan isinya terburai, sampai-sampai wajah mereka tidak bisa dikenali. Tidak ada yang tahu benang merah atau koneksi pembunuhan keduanya karena susah menelusuri motif pelaku. Jadi, belum ada gembar-gembor media seputar kasus ini.
"Yang menarik, orang forensik Polri mengatakan kepadaku saat itu --- kalau senjata pembunuh adalah dumbbell seperti di ruang gym. Dumbbell seberat dua atau tiga kilo yang dihantam berkali-kali ke wajah dan seluruh korbannya dalam keadaan hidup-hidup.
"Mereka menyebut pelakunya ... pembunuh bertangan dumbbell. Kau pasti sudah dengar detail kasus ini dari ayahmu yang berkerja sama dengan forensik Polri, kan? Tidakkah bagimu kasus ini menarik?"
Dari posisi duduknya, Albert menatap lurus ke arah Bayu yang tengah tersenyum ganjil. Tubuhnya mendadak kaku melihat gelagat mencurigakan dari pria di depannya. Baru kali ini ia merasa bahwa Bayu bisa sangat berbahaya. Sangat sangat berbahaya.
"Kenapa kau mendadak bertanya soal kasus itu? Apa hubungannya denganku?" tanya Albert dengan sikap waspada.
Bayu melenguh kecewa sambil kembali berdiri tegak di tempatnya. "Kukira kau sudi mengatakan kepadaku, apa pendapatmu dan ayahmu tentang kasus ini? Tidakkah ayahmu seharusnya tertarik untuk membedah mental pelakunya?"
"Kenapa ia harus merasa tertarik?!" balas Albert menggeram. Ia mengendus sesuatu yang tak wajar di diri Bayu.
"Karena sebagai calon mahasiswa psikologi, aku juga tertarik," jawab Bayu dengan ringan. "Desas-desus di kalangan reskrim mengatakan bahwa pembunuhnya sadistis yang hanya mengincar korban-korban wanita...."
Bayu tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tertawa kecil sebentar saat mengucapkan kata-kata terakhirnya.
"Kau punya pendapat yang lain?" tanya Albert dengan perlahan. Ia merasa bagaimanapun ... ia menjadi sedikit lebih penasaran dengan maksud Bayu.
"Korban-korban wanita...," ulang Bayu lagi dengan geli. "Bagiku, semuanya harus dilihat dari korban pertama."
Bayu memalingkan muka dan mulai menggumam dengan misterius sambil memejamkam matanya.
"Pada korban pertama, pelaku menunjukkan kemarahan sebenarnya. Ia meluapkan amarahnya kepada korban karena sesuatu. Lalu, ia mulai mengenal darah --- cipratan darah korban yang menyentuh tangan, tubuh, dan wajahnya. Ia merasa mendadak b*******h senang, seolah hidup kembali.
"Pembunuhan kedua lebih seperti proses mencari jati diri bagi pelaku. Bukan karena identitas mereka sebagai wanita. Pembunuhan kedua itu lebih ia nikmati dengan mata terbuka dan telah direncanakan dengan rapi. Begitu juga dengan ... kemungkinan pembunuhan selanjutnya."
"Kau berbicara seolah kau pelakunya," ujar Albert dengan raut wajah yang curiga dan jijik sekaligus. "Kau pikir akan ada pembunuhan selanjutnya?"
Bayu menoleh ke arahnya secara perlahan dan langsung tersenyum cuek. "Pelakunya ... belum memiliki niat berhenti. Ia seperti anak kecil labil yang baru pertama kali diberi permainan menyenangkan. Ia belum puas, dan masih menikmati usaha untuk menuntaskan level per level permainannya.
"Tentunya akan susah bagi pelaku untuk langsung mencapai kesempurnaan --- level tertinggi. Ia masih memiliki 'pagar' yang merintangi ambisinya --- yang belum bisa diterobosnya sebagai seorang anak kecil."
"Anak kecil?"
"Tahun ini, ia belum bergerak lagi," ujar Bayu setelah mengambil jeda sejenak. "Tapi kalau tahun ini sang pelaku kembali beraksi --- ah maksudku, ia pasti akan kembali beraksi -- akankah ia tetap dalam tradisinya? Menurutmu, kali ini ia masih akan membunuh wanita lemah ... atau mencoba yang lain?"
Albert mulai merasa mual. Darahnya mendadak terasa mengalir deras ke kepalanya. Ia tahu apa yang sedang dilakukan Bayu. Mengancamnya tanpa sebab! Laki-laki di hadapannya itu jelas orang berbahaya, pikir Albert dengan sangat gelisah.
"Ia akan tertangkap," cetus Albert dengan suara bergetar dan rahang yang mengeras.
"Ya, mungkin suatu saat. Aku yakin tidak saat ini," kata Bayu sambil mendengar suara denting berbunyi dari jam dinding kuno di ruang tunggu --- mengganggu suara musik instrumental yang sedari tadi masih mengalun. Pria itu melihat jarum jam sudah menunjukkan waktu pukul 19.00 malam.
"Kau berbicara seolah sudah mengenal betul pelakunya. Jangan-jangan kau...?"
Bayu terkekeh dan memandang geli ke arah bola mata Albert yang tengah melotot bengong.
"Kurasa aku memang kenal dengan pelakunya," ucap Bayu dengan ekspresi datar dan intonasi suara sangat tenang dan teratur. "Kau tidak akan tahu, bisa jadi kau juga mengenalnya atau bahkan pernah bertemu dengannya."
Pria ini monster dan entah mengapa ia seolah sengaja berbicara seputar kasus ini kepadaku, pikir Albert meradang. "Apa menurutmu aku harus peduli? Apa hubungannya denganku?!"
Bayu membuat sudut acuh di bibirnya. Lalu dengan sorot mata tajam dan pandangan mata yang aneh ke arah Albert, Bayu kembali bersuara.
"Karena ayahmu memperkenalkanmu kepadaku beberapa bulan lalu. Ia juga bilang kepadaku bahwa kita memiliki banyak kesamaan."
Alis mata Albert mengernyit. "Lalu...?!"
Bayu kemudian memiringkan sebagian wajahnya dengan ekspresi wajah datar, seolah sedang berusaha keras menganalisa Albert. Setelah beberapa lama melakukannya, ia kemudian mengucapkan sesuatu dengan suara seperti tertelan angin --- yang tak akan pernah dilupakan Albert seumur hidupnya dan akan terus membekas hingga beberapa tahun ke depan.
"Karena kita pernah dekat sebelumnya dan kau akan membutuhkan bantuanku suatu saat nanti."
___
Hanya sekitar satu minggu dari saat pertama ia menjumpai Bayu, Albert terbangun agak terlambat di tempat tidurnya. Pagi itu ia hendak segera bergegas menyiapkan diri untuk menuju ke sekolahnya, sebelum kemudian merasa keganjilan yang mendadak menghantam nalurinya.
Rumahnya pagi itu terasa terlalu hening. Ayahnya tidak membangunkannya seperti biasa.
Tidak ada suara berisik di dapur --- yang berarti ayahnya tidak sedang menyiapkan sarapan untuknya. Tidak ada suara mesin mobil meraung dari carport rumah mereka --- yang berarti ayahnya juga tidak sedang memanaskan mobil kijang kunonya.
Dengan berusaha mengumpulkan pikiran segar dan kesadarannya, Albert bergegas melangkahkan kakinya turun dari tangga lantai dua rumahnya yang sudah kusam dan tua untuk menuju ke kamar ayahnya.
Hari itu adalah hari Selasa, awal April tahun 2003 yang biasa disebut dengan April's fool. Suasana pagi itu cerah dan tidak diawali oleh hujan yang biasa terbawa dari akhir tahun sebelumnya.
Albert membuka pintu kamar ayahnya dan mendapatkan Profesor Yosef Siallagan sedang tidur di tempat tidurnya sendiri, dengan mengenakan celana pendek tidur dan kaos singlet putihnya seperti biasa. Yang berbeda pagi itu hanya ... kepala ayahnya sudah hancur total.