18. JATD

1021 Kata
Selesai urusan mereka dengan raksasa, ternyata masih ada lagi bahaya yang harus mereka lewati di dalam gua itu. Bahaya yang sama sekali tidak pernah mereka pikirkan akan berada di dalam gua itu. Entah ini merupakan ilusi atau nyata adanya, yang jelas mereka sama sekali tidak mengerti mengapa bisa sekumpulan pecahan kaca bisa ada di dalam gua ini. Kaca-kaca itu tak nampak seperti kaca biasanya, tidak bisa pecah hanya dengan diinjak, tetapi sangat tajam jika terinjak. Bahan-bahan kaca itu seperti terbuat dari baja yang sangat kuat, tidak bisa hancur dan pecah meskipun sedemikian rupa sehingga mereka coba hancurkan. Sekelompok prajurit berusaha melewati banyaknya pecahan kaca yang tak hanya ada di bawah lantai tanah gua saja, melainkan juga ada di atas langit-langit gua. Besi melawan baja sama sekali tidak ada yang bisa menang karena keduanya sama-sama cukup imbang. Sepatu yang digunakan para prajurit itu berbahan dasar besi, sayangnya saat hampir mencapai di pertengahan jalan pecahan kaca itu dengan hebatnya menghancurkan sepatu yang terbuat dari besi itu. Para prajurit merasa kebingungan sekaligus takut, takut kalau kaki kecil mereka terkena oleh pecahan kaca yang sangat keras dan tajam itu. Justin yang melihat kepanikan di wajah para prajurit pun tidak bisa tinggal diam, ia harus melakukan sesuatu. Sebagai seseorang yang sudah pernah melewati ini walau hanya dalam alam mimpi saja, tetapi ia setidaknya sedikit memiliki pengalaman itu. "Kalian berhenti dulu!" Justin memberi instruksi pada para prajurit. Prajurit pun menurut, semua mendengarkan intrupsi dari Justin. Karena kerja tahu, apa yang Justin katakan akan membantu mereka saat ini. "Tak mengapa kalian melewati pecahan kaca itu dengan kaki télanjang kalian." Mendengar perkataan Justin selanjutnya membuat mereka saling pandang, seakan tak percaya dengan apa yang Justin katakan. "Bagaimana bisa kami melakukan apa yang kau katakan? Bukankah itu malah akan membuat kaki kami terluka?" tanya salah seorang prajurit itu. "Aku jamin kalian tidak akan terluka, asalkan kalian mendengarkan setiap intrupsi dariku." Justin menjawab dengan tenang meskipun para prajurit nampak tak mempercayai segala perkataannya. "Kau yakin kalau ini tidak akan melukai mereka, Justin?" tanya Dior membuat laki-laki itu langsung menoleh ke arah Dior. "Aku sangat yakin sekali, karena saat di mimpi itu aku melakukan hal yang sama." Justin nampak meyakinkan. "Baiklah, kalau begitu kami akan percaya padamu, Justin," ujar Dior. "Terima kasih, Dior." "Kalian semua! Ikuti apa yang Justin katakan tadi, aku yakin ini semua juga demi kebaikan dan keselamatan kita!" ujar Dior pada para prajuritnya. "Tapi panglima, bukankah yang akan kita lakukan ini sangat berbahaya? Kami tidak akan bisa berjalan kalau sampai kaki kami terluka." Ada prajurit yang setuju dengan Justin dan ada beberapa lagi yang tidak setuju karena khawatir jika mereka gagal melewati maka mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan mereka karena kaki yang terluka. "Kalian semua tenanglah, akan aku pastikan kalau kalian sama sekali tidak terluka asalkan kalian mendengarkan apa yang aku katakan." Justin meyakinkan beberapa prajurit yang tak percaya padanya. Para prajurit yang awalnya tidak percaya pada Justin itu saling pandang, seakan mereka tengah berkompromi. Hingga akhirnya mereka mengangguk dan memutuskan untuk mempercayai setiap perkataan Justin, mereka yakin utusan raja tidak akan pernah menipu mereka. "Baiklah, kami memutuskan untuk mempercayaimu, Justin," ujar salah satu prajurit mewakili prajurit lainnya. Justin tersenyum, merasa bersyukur karena para prajurit akhirnya mempercayainya. "Baiklah, aku mau kalian melewati tempat ini secara bertahap. Para prajurit akan dibagi menjadi beberapa kelompok kemudian kalian akan melewati jalanan ini sesuai intrupsiku." Mereka menurut, membagi kelompok yang setiap anggotanya berjumlah sepuluh atau dua belas. "Kalian jangan menginjak pecahan kaca yang terlihat runcing, injaklah pecahan kaca yang seperti kristal hancur atau kaca yang terbagi menjadi beberapa bagian, atau kaca yang terlihat seperti serbuk debu. Aku yakin kaca-kaca yang itu tidak akan melukai kaki kalian." Justin mulai menjelaskan membuat para prajurit itu mengangguk setelah paham apa yang Justin jelaskan. "Kalian bisa mulai melewati jalan-jalan itu!" ujar Justin. "Kalau kalian masih ragu, biar aku yang duluan. Akan aku tunjukkan kalau ini sama sekali tidak berbahaya, kalian pasti akan selamat jika mengikuti kata-kataku tadi." Justin segera melompat ke tempat yang tadi ia katakan pada para prajurit, para prajurit menatap ngeri ke arah Justin ketika laki-laki itu sudah tiba di pertengahan jalan dekat mereka. "Lihatlah, aku sama sekali tidak terluka." Justin mengangkat kakinya, menunjukkan telapak kakinya yang mulus tanpa luka. "Kalian lanjutkan! Dior, kau juga harus segera ke sini!" ujar Justin pada para prajurit dan Dior. Dior mengangguk, ia mengikuti instrupsi Justin hingga akhirnya ia bisa sampai juga di dekat Justin. Begitupun juga dengan para prajurit yang tadinya berada di belakang Dior. Mereka akhirnya tiba juga di ujung jalan, semua ini berkat Justin yang bermimpi mengenai ini sehingga mempermudah mereka semua dalam melewati berbagai jalan yang berisi bahaya atau tantangan. "Semua ini berkatmu, Justin, akhirnya kita bisa selamat. Lagi dan lagi kami harus berterima kasih padamu," ujar Dior. "Tidak perlu berterima kasih, kau yang justru ikut andil sehingga kita semua bisa sampai di sini. Kalau tidak ada kau, aku tidak bisa membujuk para prajurit-prajurit itu." Justin membalas. "Anggap saja saat ini kita imbang ya," ujar Dior sambil tertawa. "Bisa jadi," balas Justin. "Oh ya, setelah ini apalagi yang harus kita lewati, Justin?" tanya Dior. "Nanti kita akan melewati tanah berapi, aku tidak yakin hal ini karena di mimpiku tentang ini hanya samar-samar. Yang kutahu ada tanah yang dipenuhi oleh api yang tidak bisa padam," ujar Justin mengingat-ingat kembali mimpinya. "Sepertinya itu akan sangat berbahaya bagi kita semua. Apa kau tahu bagaimana cara menaklukkannya?" tanya Dior. "Untuk hal ini sama sekali belum aku ketahui, karena waktu di mimpi itu hanya samar-samar," jawab Justin. "Sebelum kita ke sana lebih baik kita harus menyiapkan segala yang kemungkinan akan dibutuhkan karena apa yang kau katakan itu cukup berbahaya. Lawan kita nanti adalah api, mungkinkah kita membutuhkan air untuk memadamkannya nanti?" "Bisa jadi, Panglima, karena setahu kami, api bisa padam dengan air." Para prajurit menimpali. "Kalau begitu, biarkan aku menyimpan energi air sebentar," ujar Dior. Dior duduk dengan kedua kaki yang menyilang, ia memejamkan matanya kemudian menggerakkan tangannya untuk memanggil semua air yang ada di dekat-dekat sini untuk ia simpan energinya agar nanti saat dibutuhkan ia bisa mengeluarkan energi itu kapan saja. Justin dan juga para prajurit kurcaci itu hanya bisa menyimak dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Dior.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN