19. JATD

1008 Kata
Perjalanan di dalam gua masih terus berlanjut, mereka semua harus terus berwaspada diri karena bisa saja ada suatu bahaya yang kembali membahayakan diri. Entah mengapa jika dirasa jalanan gua ini semakin lama semakin sempit ketika mereka lewati. Jalanan gua yang biasanya nampak begitu besar, luas dan juga tinggi itu semakin kecil dan pendek. Justin yang memiliki tubuh tinggi pun agak sedikit menunduk jika tidak ingin kepalanya terbentur oleh dinding atas gua. Sedangkan para kurcaci yang memiliki tubuh kecil pun berjalan seperti biasa saja karena jalan ini seakan diciptakan untuk mereka dan bukannya untuk manusia biasa seperti Justin. Benar saja apa yang diwaspadai oleh mereka, karena pada kenyataannya ada bahaya yang kembali menanti mereka. Sebuah rintangan yang mungkin saja akan membuat mereka kesulitan melewatinya. Di arah depan sana, tiba-tiba saja ada gelembung-gelembung besar yang datang. Awalnya, mereka hanya biasa saja karena mengira kalau itu adalah gelembung biasa, nyatanya itu bukan gelembung biasa karena saat beberapa prajurit yang duluan berjalan melewati gelembung itu tiba-tiba saja tubuhnya langsung masuk ke dalam gelembung-gelembung itu. Prajurit-prajurit itu berusaha membebaskan dirinya adu gelembung-gelembung itu dengan cara memukul-mukulnya, tetapi gelembung itu sangatlah elastis dan tidak mudah pecah. Bahannya seperti karet yang sangat tebal sekali. "Kita harus segera membebaskan mereka, Justin," ujar Dior pada Justin. "Iya, karena perlahan-lahan jalan ini semakin mengecil jika terasa. Aku saja harus berjalan menunduk jika tidak ingin kepalaku terbentur tembok atas gua," balas Justin. Justin dan Dior bersama dengan para prajurit berusaha membebaskan prajurit-prajurit yang terperangkap di dalam gelembung-gelembung sepanjang perjalanan mereka. Dengan pedang yang mereka miliki, mereka berusaha memecahkan gelembung-gelembung itu. Namun, ternyata semua itu tidak mudah karena itu bukanlah gelembung biasa, gelembung itu tidak dapat dipecahkan dengan pedang biasa ataupun dengan benda tajam lainnya. Mereka sudah berusaha sekuat mungkin untuk memecahkan gelembung-gelembung itu, semua senjata sudah mereka keluarkan dan gunakan, tetapi tak ada satupun gelembung yang pecah. "Semua senjata yang kita gunakan sama sekali tida berfungsi, bagaimana ini, Justin? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Dior mulai putus asa dan merasa kasihan dengan para prajurit lain yang berusaha membantu membebaskan temannya, tetapi malah ikut terperangkap masuk ke dalam. Justin nampak berpikir, sekalian ia kembali mengingat mimpinya yang kemungkinan berhubungan dengan petunjuk yang bisa melepaskan para prajurit dari jerat gelembung-gelembung itu. Belum sempat Justin mengatakan apa yang tengah ia pikirkan, tiba-tiba saja Billy yang sedari tadi berada di atas bahu Justin melayang hingga ke arah gelembung-gelembung itu. Beruang kecil itu melompat-lompat di atas gelembung-gelembung di mana para prajurit ada di dalamnya. Justin merasa sangat khawatir melihat itu. "Billy! Jangan berada di sana, nanti kau juga ikut masuk!" teriak Justin memperingati Billy. Billy sama sekali tidak mengindahkan perkataan Justin, boneka beruang kecil itu malah semakin merasa senang dengan kegiatannya meloncat di atas gelembung-gelembung itu. Hingga apa yang Justin katakan benar terjadi, Billy ikut terperangkap masuk ke dalam gelembung itu. "Benar 'kan apa yang aku katakan," gumam Justin sambil menggelengkan kepalanya. Beruntung dari pengamatan mereka, gelembung itu sama sekali tidak berbahaya. Berada di dalam gelembung itu pun tidak membuat para prajurit kehabisan napas, mereka hanya harus berusaha membebaskan para prajurit agar perjalanan mereka bisa kembalikan dilanjutkan. Ada hal yang membuat Justin dan Dior merasa terkejut yaitu ketika gelembung yang tadi memerangkap Billy perlahan-lahan mulai pecah hingga akhirnya Billy dan para prajurit yang ada di dalam gelembung bersama Billy berhasil lepas dari dalam gelembung itu. "Billy bisa terlepas dari dalam gelembung itu? Bagaimana bisa?" tanya Justin bergumam pada dirinya sendiri. "Billy terbuat dari tanah, apa itu berarti gelembung itu bisa pecah pada tanah?" Lagi, ia bergumam sendiri. Hingga ia menunduk kemudian mengambil gumpalan kecil tanah kemudian melemparnya hingga mengenai gelembung itu untuk mencari jawaban atas pertanyaannya. Gumpalan tanah yang Justin lemparkan masuk ke dalam gelembung itu, hingga beberapa saat kemudian gelembung itu pecah. Justin tersenyum, kini ia ia tahu benda apa yang bisa membebaskan mereka dari gelembung itu. Bukanlah benda tajam terbuat dari besi, melainkan hanya tanah saja. "Kini aku tahu bagaimana caranya kita bisa membebaskan mereka dari gelembung-gelembung itu," ujar Justin. Dior dan para prajurit langsung menoleh ke arah Justin, mereka seakan bertanya apa yang bisa membuat para prajurit bisa terbebas dari gelembung itu? "Apa itu, Justin?" tanya Dior. "Kita hanya perlu melemparkan gumpalan tanah kecil ke atas gelembung-gelembung itu, tanah kecil itu akan masuk ke dalam gelembung kemudian gelembung itu akan pecah," ujar Justin menjelaskan. Dior dan para prajurit mengangguk, mereka semua langsung melempar gumpalan tanah kecil itu hingga kemudian akhirnya gelembung-gelembung itu pecah dan para prajurit terbebas dari jeratan gelembung. "Terima kasih, Justin, akhirnya semua bisa terbebas. Ini semua karena idemu," ucap Dior. "Jangan berterima kasih padaku karena semua berkat Billy. Kalau bukan karena Billy, mungkin saja aku juga tidak tahu cara apa yang bisa membebaskan para prajurit," balas Justin sambil tersenyum. "Billy, kau kecil-kecil ternyata hebat juga," ujar Dior sambil melihat Billy yang beberapa saat sudah berada di atas bahu Justin. Billy menanggapinya hanya dengan lambaian tangannya, seakan kalau itu bukanlah hal besar baginya. "Kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanan kita." Mereka semua mengangguk kemudian mulai melanjutkan pekerjaan mereka yang tentunya masih sangat panjang sekali. Jalanan nampak semakin mengecil, jika Justin awalnya hanya membungkuk sedikit maka ia harus berjongkok mensejajarkan tingginya dengan para kurcaci agar ia bisa ikut melewati jalanan ini. Ditambah tiba-tiba saja udara semakin terasa pengap karena banyaknya makhluk hidup di sini sedangkan tempatnya yang cukup tertutup. Billy tidak dapat lagi berada di atas bahu Justin, boneka kecil itu ikut berjalan di belakang Justin. Mengikuti Justin dan para kurcaci lainnya mencari keberadaan jalan keluar dan sesuatu yang sedari tadi mereka cari. Mereka berpikir kalau tidak ada lagi bahaya yang akan menghampiri, tetapi nyatanya masih ada bahaya lainnya yang tengah menanti mereka. Bahaya yang mungkin akan mereka takuti dan membuat semuanya berada dalam bahaya. Dalam keadaan apapun, tujuan mereka hanya satu, mendapatkan dan melawan atau tidak mendapatkan dan mati. Hingga di depan sana, bahaya yang mengancam mereka terlihat sangat jelas. Memang terlihat kecil, tetapi justru itulah yang menjadi bahayanya. Bahaya yang mengancam itu membuat beberapa prajurit memundurkan langkahnya karena merasa takut. Takut kalau sesuatu yang kecil itu masuk ke dalam tubuh mereka melewati rongga-rongga lubang di dalam tubuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN