Hari ini Justin dan Dior harus mempersiapkan diri mereka karena mereka akan berangkat ke suatu tempat yang jauh. Seperti yang sudah dijelaskan kemarin-kemarin kalau mereka akan pergi ke tempat di mana ada berbagai macam bahaya dan juga ilmu baru yang sangat dahsyat. Bahaya memang ada banyak di sana, tetapi hal itu tak lantas membuat Justin takut. Justru Justin merasa kalau adrenalinnya akan terpacu saat ia berada di sana, ditambah ada sihir baru yang akan didapatkan. Sesuai janjinya kalau ia tidak akan pulang sebelum mendapatkan ilmu sihir baru itu karena itulah yang akan membantu mereka menyelamatkan Mia yang disandera.
Justin nantinya tidak hanya akan pergi bersama Dior saja, melainkan juga dengan beberapa prajurit dan tentunya si beruang tanahnya yang bernama Billy. Beruang itu memaksa agar Justin mengajaknya karena tidak ingin ditinggal di istana sendirian. Padahal, di istana tidak hanya sendirian karena ada raja dan banyak prajurit istana, tetapi alasan lain Billy ingin ikut karena ingin memastikan kalau Justin baik-baik saja. Billy ingin menjadi pelindung Justin karena Justin adalah orang yang menciptakannya, baginya hidupnya hanya untuk Justin. Kalau tidak ada Justin, tidak mungkin Billy tercipta di dunia ini. Sungguh beruang yang sangat tahu berbalas budi sekali, selalu mengigit kebaikan penciptanya.
"Kalian berhati-hati saat telah sampai di sana, pesanku hanya satu. Jangan kalian berpisah di berbeda tempat karena hal itu bisa memicu ketidakselamatan kalian sendiri," ujar Raja Doe saat Justin dan yang lainnya akan berangkat.
"Baik, Raja, kami akan mengingat pesanmu," balas Dior.
"Kalian bisa membawa beberapa kuda untuk ikut bersama kalian, sudah aku minta beberapa prajurit untuk menyiapkannya. Kuda-kuda itu sudah berada di depan istana, kalian tinggal berangkat saja."
"Terima kasih banyak, Raja."
"Terima kasih, kau telah banyak membantu keberangkatan kami." Dior dan Justin berucap terima kasih secara bergantian.
"Kalian tidak perlu sungkan begitu, bukankah aku sendiri yang meminta kalian pergi ke sana? Lagipula tempat itu bukanlah tempat yang menyenangkan, jelas saja semuanya harus aku yang persiapkan." Raja Doe menepuk pelan bahu Dior.
"Semoga Raja baik-baik saja saat kami pergi," ucap Dior.
"Kau tenang saja, semua bagian dari istana ini sudah dilindungi dengan sihir. Tidak akan ada penyusup yang bisa masuk lagi, kau bisa pergi bersama Justin dengan tenang, Dior." Mendengarnya, Dior merasa sangat lega sekali.
"Syukurlah, aku lega mendengarnya, Raja. Karena sebelum pergi, itulah yang aku khawatir. Tetapi aku tidak perlu merasa khawatir lagi setelah mendengar perkataanmu, Raja." Raja Doe sangat tahu sekali kalau semuanya biasanya diurus oleh Dior, wajar saja jika penasihat sekaligus orang kepercayaannya itu begitu khawatir meninggalkan istana.
"Sekarang kau bisa pergi dengan tenang bersama Justin, Dior. Tidak perlu memikirkan keadaan istana, biarkan aku dan yang lainnya yang mengurusnya." Raja Doe kembali menepuk bahu Dior pelan.
Kali ini tatapan Raja Doe mengarah pada Justin, orang paling tinggi di antara mereka semua. Ada harapan besar di mata Raja Doe untuk Justin, di mana Justin bisa segera menemukan ilmu itu agar mereka dapat menyelamatkan Mia sesegera mungkin. Walau tidak berkata apa-apa, jelas saja hati Raja Doe begitu mengkhawatirkan Mia. Mia adalah putri semata wayangnya sekaligus penerus kerajaan Auguirel, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Mia sampai kenapa-kenapa.
"Hadapanku sangat besar padamu, Justin, aku harap kau dan yang lainnya segera menemukan banyak ilmu sihir dahsyat yang tersembunyi itu." Raja Doe berucap pada Justin, membuat Justin merasa seperti ada sesuatu beban yang tiba di pundaknya.
"Kau jangan khawatir, Raja, kami tidak akan pernah pulang sebelum mendapatkan ilmu sihir itu. Aku tidak pernah mengingkari janjiku, bukankah kau tahu itu?" Raja Doe mengangguk, ia tahu kalau Justin adalah anak yang jujur. Tak salah Justin menjadi bagian dari penyelamat istana yang datang dari bumi secara khusus.
"Jaga diri kalian baik-baik, jangan berpencar. Selalu bersama apapun keadaannya." Sekali lagi Raja mengingatkan tentang hal itu.
"Baik, Raja. Kalau begitu kami pamit berangkat, sampai jumpa di waktu yang tidak dapat ditentukan," ujar Justin sambil menunjukkan senyum perpisahan kemudian keluar dari istana disusul dengan beberapa prajurit yang akan ikut bersamanya.
Dior kali ini berhadapan dengan Raja Doe, tadi Justin sengaja pergi duluan karena ia tahu kalau Dior ingin berbicara dua mata bersama Raja Doe. Raja Doe tidak berbicara, ia menunggu Dior yang berbicara karena ia melihat kalau ada sesuatu penting yang ingin Dior bicarakan padanya.
"Raja, tempat yang akan kami datangi sungguh berbahaya. Jika memang suatu saat nanti aku tidak bisa kembali ke istana, tolong berikan kehidupan layak untuk putri serta istriku," ujar Dior.
"Mengapa kau berbicara seperti itu? Aku yakin sekali kalau kalian pasti akan kembali dengan selamat, tidak perlu merasa cemas berlebih begitu." Raja Doe tidak suka mendengar perkataan Dior yang seakan kalau pergi ke tempat itu adalah pintu kematian baginya.
"Karena aku sudah menjanjikan diriku kalau aku akan melindungi Justin apapun yang terjadi, bahkan meskipun aku harus mengorbankan nyawaku sendiri, Raja." Kesetiaan seorang Dior memang seperti itu, ia rela mengorbankan apapun termasuk nyawanya demi kepentingan Raja Doe dan istana.
"Kau tidak perlu mencemaskan keadaan keluargamu, Dior, kami pasti akan menjaganya dengan baik. Yang harus kau lakukan sekarang adalah berangkat bersama Justin dan fokus mencari kekuatan itu tanpa memikirkan hal-hal yang tadi kau pikirkan. Aku yakin sekali kalau tidak akan terjadi apa-apa pada kalian, kau adalah kurcaci yang kuat. Aku yakin kau bisa melindungi Justin dan menjaga dirimu sendiri," ujar Raja Doe.
"Berangkatlah, aku percayakan Justin kepadamu dan kau percayakan lah keluargamu padaku. Aku akan menjaga mereka." Raja Doe menepuk pelan pundak Dior.
"Terima kasih banyak, Raja." Dior menatap Raja Doe dengan haru.
"Dior, kau jangan cengeng, kau adalah seorang ksatria. Tidak pantas jika kau bersikap seperti ini," ujar Raja Doe bercanda.
"Seorang ksatria juga hanya kurcaci biasa, Raja, aku tidak sekuat yang kau katakan." Dior tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu. Kami pasti akan saling menjaga, akan kami pastikan kalau kami akan segera pulang membawa kekuatan yang bisa mengalahkan musuh kerajaan. Sampai jumpa kembali, Raja." Dior akhirnya pergi meninggalkan Raja Doe menuju depan istana, di mana Justin dan yang lainnya sudah menunggu dirinya. Dengan beberapa kuda yang akan menjadi kendaraan mereka.
"Ayo kita berangkat!" Dior menaiki sebuah kereta kuda yang terpasang di punggung kuda bersama dengan Justin, sebaliknya para prajurit itu menunggangi kudanya secara langsung.
Kuda yang membawa Justin, Dior dan para prajurit segera melaju dengan cepat meninggalkan istana. Perjalanan yang akan mereka jalani cukup jauh, butuh waktu berhari-hari baru sampai ke tempat berbahaya yang menyimpan banyak ilmu itu. Perbekalan sudah mereka bawa secara lengkap sehingga mereka tidak akan merasa khawatir saat nantinya waktu beristirahat tiba, di mana waktu malam nanti mereka pasti akan mendirikan sebuah tenda untuk beristirahat karena tidak mungkin beberapa kuda itu berjalan dalam kegelapan malam. Kuda juga butuh istirahat dan makan untuk mengumpulkan tenaga, tak hanya manusia dan kurcaci saja.
"Dior, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Justin membuka suaranya setelah mereka berada dalam keheningan cukup lama.
"Kau ingin bertanya apa, Justin?" Dior menatap Justin.
"Sudah berapa lama kau menjadi kesatria sekaligus orang kepercayaan raja di istana?" Akhirnya Justin menanyakan juga hal yang membuatnya penasaran.
"Sudah cukup lama, sedari kecil aku selalu ikut ayahku ke istana. Beliau mengajariku banyak hal tentang istana, hingga ketika aku besar akhirnya Raja Doe mengangkatku menjadi kesatria istana. Aku dan Raja Doe sudah cukup lama saling mengenal karena dia merupakan teman masa kecil, dia dan aku saling mempercayai satu sama lain. Mengapa kau menanyakan ini, Justin?" tanya Dior.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa penasaran saja. Ternyata seperti itu, jadi aku tidak heran dengan keakrabannya kalian tadi." Justin tersenyum.
"Saat kau berada di bumi kau merupak sosok yang pendiam dan jarang berinteraksi, Justin. Saat di sini kau seperti orang yang berbeda, contohnya sering bertanya dan banyak bicara. Apa kau memiliki dua kepribadian?" Mendengar pertanyaan Dior untuknya, membuat Justin tertawa.
"Serius kau berpikir begitu? Mana mungkin aku punya dua kepribadian. Seharusnya kau setidaknya tahu sedikit mengenai aku, bukankah kau kelinci coklat yang membawaku ke sini?" Justin menaik-turunkan alisnya.
"Ya, atas perintah Raja Doe, aku menyamar sebagai seekor kelinci coklat yang akan mengajakmu ke sini. Tetapi hanya Raja Doe lah yang paling memahamimu karena aku bukan bagian dari keluarga istana, yang aku tahu kau itu memiliki darah bangsawan yang mengalir."
"Hmm, jadi begitu. Kalau Raja Doe tidak menceritakan semuanya padaku, aku tidak akan tahu kalau aku ini juga merupakan bagian dari keluarga istana." Justin berpikir sejenak.
"Jangan terlalu banyak berpikir, kau jawab saja pertanyaanku tadi," ujar Dior mengingatkan Justin kalau Justin belum menjawab pertanyaannya.
"Pertanyaan tentang apa?" tanya Justin berlagak lupa.
"Jangan pura-pura lupa, aku bertanya apakah kau memiliki dua kepribadian?" Dior kembali mengulangi pertanyaannya.
"Oh tentang itu." Justin tertawa.
"Aku sama sekali tidak memiliki dua kepribadian yang kau tanyakan itu, Dior. Aku memang orang seperti ini, hanya saja saat di bumi aku merasa tidak bebas berekspresi karena rasa trauma. Aku akan bebas berbicara di tempat yang membuat aku nyaman."
"Jadi, kau merasa nyaman di sini sehingga kau bisa bebas berekspresi dsn berbicara?" tanya Dior yang dibalas anggukan oleh Justin.
"Ya, benar sekali. Entah mengapa aku merasa sangat nyaman berada di sini, seakan ada keluarga hangat yang berada di sekelilingku. Kalian begitu baik sekali, tidak pernah memperlakukanku segara kasar. Aku merasa nyaman berada di tempat ini, aku berpikir kalau tempat ini adalah tempat baru yang bisa memberiku kenyamanan," ujar Justin.
"Kami tak menyangka kalau kau merasa nyaman berada di istana, terima kasih karena sudah nyaman. Terkadang aku dan raja selalu memikirkanmu, apakah kau merasa nyaman atau tidak saat berada di istana? Apakah ada yang membuatmu tidak nyaman? Apakah hidupmu baik saat di istana? Pertanyaan itu terus saja kami tanyakan pada diri sendiri." Mendengar perkataan Dior membuat Justin tertawa, menurutnya Dior terlalu berlebihan ketika berkata begitu.
"Aku bukan orang yang ribet seperti itu, kalian tenang saja. Aku tidak menyangka kalau kau dan raja ternyata bisa berpikir begitu tentang aku," ujar Justin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Banyak yang Raja Doe pikirkan kalau kau ingin tahu, Justin, hanya saja Raja Doe sering tidak mau terbuka pada siapapun mengenai masalahnya. Tetapi tanpa mendengarkan cerita raja, aku sudah tahu kalau ada yang dipikirin oleh raja saat melihat raut wajahnya yang berbeda itu," tukas Dior.
"Kau sangat memahami raja sekali ya, aku salut padamu. Kelak aku ingin menjadi ksatria yang berani sepertimu, agar aku tidak ditindas oleh orang-orang yang lebih kuat dariku."
"Kau sedang menceritakan masa lalumu ya?" tanya Dior.
"Maksudmu?"
"Dulu kau pernah ditindas sehingga kau akhirnya merasa trauma, tetapi trauma yang kau alami seakan hilang saat aku berada di sini. Apa aku benar?" Justin bertepuk tangan, merasa takjub dengan apa yang Dior katakan.
"Hebat sekali! Aku belum bercerita dan kau sudah sangat pandai dalam menebak!" ujar Justin.
"Itu hanya hal kecil, kau tidak perlu berlebihan seperti itu." Dior tertawa melihat reaksi Justin.
Mereka pun mengobrol hingga tak terasa kalau perjalanan yang mereka lalui sudah cukup jauh. Matahari yang semula berada di atas kepala kini sudah turun drastis ke bawah, pertanda kalau beberapa saat lagi malam akan datang. Mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat di sebuah hutan karena malam sudah semakin larut karena kuda pun juga butuh beristirahat setelah perjalanan cukuplah panjang yang mereka alami tadi.
"Kau bisa tidur lebih dulu di dalam tenda, Justin. Biarkan kami yang berjaga di luar," ujar Dior pada Justin.
"Aku belum mengantuk, masih ingin menemani kalian berjaga di luar. Bukan begitu, Billy?" Billy yang berada di pangkuan Justin mengangguk, menyetujuinya perkataan Justin.
"Ya sudah. Langsung saja ke dalam tenda jika kau mengantuk," ujar Dior.
Justin hanya mengangguk kemudian ia sibuk berbicara dengan Billy. Malam ini Billy begitu aktif sekali, sering mengajaknya berbicara seakan tidak pernah lelah meskipun mereka baru saja habis perjalanan jauh.
"Apakah hutan ini aman untuk kita beristirahat?" tanya Justin.
"Aku pastikan kalau hutan ini aman, Justin. Tadi sebelum kita memutuskan beristirahat di sini, kami sudah mengeceknya. Tidak ada bahaya apapun," jawab Dior.
"Syukurlah. Aku hanya ingin kalian beristirahat dengan tenang tanpa ada bahaya. Kalian boleh beristirahat lebih dulu, biar aku yang berjaga di luar." Para prajurit saling pandang mendengar perkataan Justin.
"Tetapi Tuan adalah—"
"Tidak perlu merasa sungkan begitu, kita akan berjaga bergantian. Kalian beristirahat lah lebih dulu." Justin berkata seakan tidak ingin dibantah.
"Baik, terima kasih banyak, Tuan Muda." Akhirnya mereka menyetujui titah Justin.
"Mengapa kau membiarkan mereka beristirahat, Justin?" tanya Dior.
"Mereka juga butuh istirahat, aku tahu setelah perjalanan panjang tadi mereka lelah. Biarkan saja mereka beristirahat lebih dulu, lagipula aku masih ingin duduk di sini. Jadi sekalian saja," jawab Justin.
Dior tersenyum mendengar perkataan Justin, menurutnya Justin adalah orang yang begitu baik.