10. JATD

1994 Kata
Mendapat kekalahan saat perang melawan Diavro membuat Raja Doe bersedih, ditambah ia harus kehilangan Mia karena Diavro telah menyandera putrinya. Para prajurit yang ikut pulang ke istana hanya tersisa beberapa karena saat pertempuran tadi sangat banyak memakan korban, yang tersisa pun banyak mengalami luka-luka termasuk dirinya, prajurit-prajurit itu, Dior dan juga Justin. Kekalahan bukan akhir dari segalanya, Raja Doe yakin mereka kalau karena kurang dalam memakai starategi yang tepat. Ditambah merek benar-benar berperang dan bukannya menyerang, semua itu karena Diavro sangat pandai sekali mengirimkan mata-mata ke dunia Auguirel tanpa diketahui oleh semua orang. Sebaliknya, Raja Doe tidak dapat mengirimkan mata-mata ke istana kerajaan sihir hitam itu karena ia sendiri pun tak tahu di mana tempatnya. Kekhawatiran Raja Doe semakin meningkat ketika Diavro mengijinkan sebuah pesan mengenai keadaan Mia saat ini. Di mana Diavro mengabarkan kalau saat ini dia tengah mengurung Mia di dalam sel penjara hitam dengan beberapa siksaan yang akan didapatkan. Kalau begini caranya Raja Doe dan yang lainnya tidak bisa diam saja, jika mereka terlalu banyak diam maka yang ada kondisi Mia tidak akan bisa baik-baik saja. Diavro terlalu kejam untuk memaafkan musuh-musuhnya, tak akan ada ampun bagi musuh. Dengan rakyatnya sendiri saja Diavro tidak akan memberikan ampun jika sang rakyat melakukan kesalahan, apalagi dengan musuhnya itu. "Kita harus menyusun siasat baru untuk mengalahkan mereka," ujar Raja Doe saat mereka telah kembali ke istana. "Iya, aku setuju, Raja. Kita memang harus menyusun siasat baru, kalau bisa kita harus mencari tahu di mana keberadaan istana kerajaan hitam itu," timpal Dior. "Justin, kau pergilah ke kamarmu. Nanti akan ada seorang pelayan yang aku perintahkan ke kamarmu untuk membantumu mengobati luka," ujar Raja Doe pada Justin. "Tapi kita sedang membahas siasat baru itu, masalah luka ini sepertinya tak terlalu parah. Nanti akan sembuh sendiri." Raja Doe menggelengkan kepalanya mendengar kekeraskepalaan Justin. "Kau tahu, Justin? Membahas siasat ini memang penting, tetapi kesehatan diri sendiri itu jauh lebih penting dari segalanya. Aku pun nanti akan diobati lukanya oleh pelayan, begitupun juga dengan Dior. Sekarang kau pergi ke kamarmu, jangan membantah lagi." Akhirnya Justin patuh juga, setelah mengangguk ia segera pergi menuju kamarnya berada. "Anak itu, tak kusangka rasa pedulinya begitu tinggi hingga mengabaikan lukanya sendiri demi orang lain," gumam Raja Doe saat Justin sudah pergi dari hadapannya. "Maka dari itu dia cocok menjadi penyelamat kita, Raja. Meskipun memang kita hari ini sudah kalah, tetapi aku yakin sekali itu semua karena Justin belum terlalu menguasai ilmu yang dimilikinya," ucap Dior yang mendengar gumaman rajanya. "Ya, kau benar, Dior." Raja Doe mengangguk-anggukkan kepalanya. "Coba kau cari tahu bagaimana cara kita mendapatkan ilmu yang kuat melebihi ilmu sihir yang dimiliki Diavro, aku yakin sekali kalau dari semua tempat yang ada di sini pasti setidaknya ada suatu ilmu yang bisa kita gunakan untuk mengalahkannya. Aku ingin agar Justin yang memiliki ilmu itu karena aku sudah tidak mampu lagi menerima ilmu yang kuat," ujar Raja Doe. "Baik, Raja, sesuai perintahmu aku akan mencari tahu mengenai hal itu." Dior menyetujui perintah dari Raja Doe. "Terima kasih, kau boleh obati dulu lukamu. Setelah sembuh baru kau pergi," ujar Raja Doe kemudian pergi menuju kamarnya. "Permisi, Tuan Muda." Justin menoleh ke arah pintu ketika mendengar sebuah suara. "Ya?" "Boleh saya masuk? Raja Doe meminta saya untuk mengobati Tuan," ucap salah seorang pelayan itu. "Masuklah!" ujar Justin. Pelayan itu pun akhirnya memasuki ruangan Justin, dia duduk di bawah Justin dan berniat mengobati luka di kaki Justin. Namun, Justin langsung menarik pelayan itu agar duduk di sampingnya saja hingga membuat pelayan itu terkejut. "Meskipun kau seorang pelayan, tetapi aku menganggap kalau kita ini setara. Jangan duduk di bawah, duduk saja di sampingku," tukas Justin. "T-tapi, Tuan Muda—" "Jangan membantah, anggap saja ini sebuah perintah dariku." Sebelum pelayan itu protes, Justin sudah lebih dulu membuka suaranya. "B-baik, Tuan. Biar saya mengobati luka Tuan dulu saat ini," ujar pelayan itu. Justin hanya mengangguk, hingga pelayan istana itu akhirnya mengobati luka Justin dengan tumbuh-tumbuhan herbal penyembuh luka. Setelah selesai melakukan tugasnya, pelayan itu segera pergi dari kamar Justin hingga akhirnya Justin saat ini sendirian lagi. "Aku tidak akan betah jika terus berada di sini, jika dulu di bumi memang aku lebih banyak di rumah, tetapi saat ini? Sepertinya berada di kamar kemudian tidur bukan aku sekali." Justin memilih bangkit kemudian keluar dari kamarnya. Tanpa sepengetahuan Raja Doe dan Dior, Justin pergi menuju taman belakang istana. Meskipun saat ini lukanya masih dalam penyembuhan, tetapi Justin tidak ingin hanya duduk diam beristirahat. Justin lebih memilih berlatih sekaligus memikirkan alasan mengapa kekuatannya ternyata tak bisa sedahsyat kekuatan yang Diavro miliki hingga akhirnya mereka jadi kalah. Memikirkan kalau Mia saat ini sedang berada di sana dan disandera oleh Diavro membuat rasa semangat dalam diri Justin untuk mengalahkan Diavro pun semakin kuat. Untuk membawa Mia kembali, jelas saja ia harus memiliki kekuatan yang harus melebihi Diavro. "Kekuatan apa yang kira-kira dapat mengalahkan Diavro? Mungkinkah Raja Doe tahu akan hal ini?" tanya Justin bergumam dalam hati. "Nanti akan aku tanyakan, lebih baik saat ini aku berlatih. Mencoba ilmu-ilmu baru yang ada di dalam diriku," ujarnya pada dirinya sendiri. Justin mengarahkan tangannya ke sembarang arah, memikirkan ilmu-ilmu baru yang sekiranya nanti dapat berguna. Beberapa ilmu baru telah dia dapatkan dan hal itu membuatnya merasa senang. Ia berharap semoga saja semakin banyak ilmu-ilmu baru yang dapat ia kuasai saat berlatih. Masih banyak waktu untuk berlatih dan Justin tak ingin membuang waktu hanya untuk menganggur saja. Kekalahan saat peperangan tadi membuat Justin sadar kalau ia harus berusaha keras agar dapat membantu Raja Doe memenangkan peperangan selanjutnya. Justin yakin sekali kalau peperangan tadi bukanlah peperangan terakhir, melainkan awal dari segalanya. Apalagi Mia saat ini sedang disandera oleh Diavro, mana mungkin mereka akan diam begitu saja. Meskipun kata Raja Doe kalau kerajaan kegelapan itu tak terlihat, tetapi Justin yakin kalau suatu saat akan ada masanya kerajaan itu terlihat. Mereka hanya perlu mempersiapkan diri agar kelak jika memang mereka harus berperang lagi, mereka dapat menang dan membawa Mia kembali ke istana. Mia merupakan pewaris tunggal di kerajaan dunia Auguirel, keberadaannya jelas sangat penting bagi istana. Tak hanya istana karena bagi Justin Mia pun sangat penting, selama ini Mia lah yang selalu menemaninya berlatih dan mengajarkan hal-hal baru padanya. "Justin, bukankah aku menyuruhmu beristirahat? Mengapa kau malah ada di sini?" Justin menghentikan kegiatannya yang sedang berlatih ketika mendengar sebuah suara yang cukup ia kenal, ia menoleh dan ternyata benar adanya kalau itu adalah Raja Doe. Raja Doe menghampiri Justin kemudian berdiri di samping laki-laki itu, keberadaan Raja Doe membuat Justin harus menghentikan latihannya sejenak. Padahal, tadi ia sedang menggebu-gebu sekali dalam sekali berlatih, tetapi tak mengapa. "Aku tidak bisa hanya diam saja di dalam istana, aku hanya ingin berlatih sekaligus mengenal semakin banyak ilmu baru saja di dalam diriku," ujar Justin. "Tapi kau sedang terluka, Justin, akan ada baiknya bagi kau untuk istirahat saat ini juga. Aku tak ingin mendesakmu untuk terus berlatih karena hal itu pastinya malah akan menyakiti tubuhmu saja." Justin tersenyum mendengar perkataan Raja Doe, ia tahu kalau Raja Doe khawatir padanya dan Justin merasa senang layaknya perhatian itu seperti diberikan dari ayah pada putranya. "Aku tidak apa-apa, tadi seorang pelayan yang kau minta sudah datang ke kamarku dan mengobatiku. Aku sudah merasa lebih baik saat ini, aku hanya ingin berlatih sedikit saja. Lagipula berlatih tidak akan membuatku langsung mati 'kan?" Raja Doe menggeleng mendengar Justin yang keras kepala dan kegigihannya itu. "Justin, kau ingin tahu sesuatu?" tanya Raja Doe pada Justin. "Apa itu tentang siasat baru kita untuk mengalahkan Diavro atau malah bagaimana cara kita mendapatkan kekuatan baru yang lebih dahsyat dari dia?" Mata Raja Doe membela ketika mendengar perkataan Justin. "Bagaimana kau tahu?" tanya Raja Doe terkejut. "Tadi sebelum pergi ke kamar, aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengan Dior." Raja Doe mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku juga tengah berpikir tentang dua hal itu, maka dari itu saat ini aku tengah berlatih. Siapa tahu aku mendapatkan ilmu yang sangat kuat saat berlatih," ujar Justin. Raja Doe tertawa mendengar perkataan Justin yang menurutnya sangat lucu, mana ada kekuatan diambil dengan cara itu? Seharusnya ia bisa maklum karena Justin merupakan orang baru di sini. Justin tak banyak tahu mengenai Auguirel, jika pun tahu, mungkin hanya beberapa hal saja. Perihal sepenting ini Justin tentunya belum tahu karena ia memang belum memberitahu Justin. "Bukan begitu cara untuk mendapatkan ilmu baru yang lebih kuat dari yang Diavro miliki, Justin," ujar Raja Doe hingga membuat Justin menoleh ke arahnya. "Lantas?" tanya Justin. "Cara terbaik adalah dengan mencarinya di tempat lain, bukan di dalam istana karena di istana ini sama sekali tidak ada kekuatan yang kau harapkan itu, Justin," jawab Raja Doe. "Tunggu dulu ... aku masih tidak mengerti apa yang kau katakan. Maksudmu kalau di luar sana pasti ada banyak ilmu baru yang bisa kita dapatkan?" Raja Doe mengangguk. "Ya, hanya aku dan Dior saja yang tahu mengenai itu. Diavro sama sekali tidak mengetahui hal itu karena dia sudah terlalu serakah mengambil kekuatan jahatnya di tempat lain, tanpa dia tahu kalau sebenarnya ada kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari itu." Justin mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Raja Doe. "Di mana kekuatan itu berada?" tanyanya sangat penasaran. "Sabarlah, Justin, aku tidak akan memberitahumu di sini. Tetapi aku akan langsung membawamu ke sana, tidak bersamaku melainkan bersama Dior. Dior lah yang akan mengantarmu ke tempat itu," ujar Raja Doe. "Apakah ini yang kau sebut sebagai siasat baru tadi?" Raja Doe mengangguk. "Iya, aku memang terlalu tergesa-gesa saat meminta kita semua menyerang mereka. Tanpa tahu kalau akan ada kemungkinan kita kalah dari mereka dan saat ini putriku tersiksa berada di sana. Jelas saja hal itu membuatku marah, aku ingin segera menghabisi kerajaan kegelapan itu agar tak ada lagi kegelapan yang bersahutan bersama dengan cahaya Auguirel." "Mia adalah kurcaci yang kuat, aku yakin sekali Mia pasti akan bisa menjaga dirinya." Justin berusaha menghibur Raja Doe yang nampaknya tengah bersedih. "Aku tahu itu, karena sejak kecil Mia sudah terlatih untuk menjadi gadis yang kuat. Mia adalah pewaris kerajaan ini, tak mungkin aku mengajarinya menjadi gadis yang lemah. Dia harus kuat dan tahan banting dari berbagai rintangan yang ada," ujar Raja Doe. "Raja, aku sudah menemukan informasi tempat itu," ujar Dior menghampiri Raja Doe dan Justin. "Kau sudah menemukannya? Cepat sekali, tak salah aku mempercayakanmu mengenai ini, Dior. Ayo kita masuk! Justin kau juga ikut!" Ketiganya pun akhirnya memasuki istana. Mereka tak pergi ke ruangan umum istana, melainkan ruangan khusus yang sangat-sangat rahasia karena pembahasan ini begitu rahasia. Mereka tidak ingin kalau nantinya ada yang mendengar, apalagi akhir-akhir ini sangat rawan sekali dengan adanya penyusup. Memang semuanya sudah dikawal secara ketat, tetapi tidak ada yang tahu kalau semisal ada seorang penyusup yang berhasil masuk. "Aku sudah menemukan tempatnya, Raja, tetapi tempat itu tidak bisa dikatakan kalau aman dari segala macam bahaya," ujar Dior. "Maksudmu?" tanya Raja Doe. "Kalau ingin mendapatkan kekuatan baru yang sangat dahsyat itu, maka harus melewati beberapa tempat yang ada banyak sekali bahayanya. Aku sudah mengamatinya, kalau bisa saja nyawa taruhannya. Sudah ada banyak kurcaci yang berusaha mendapatkan kekuatan dahsyat itu, tetapi mereka semua berakhir tewas di beberapa tempat." Dior menjelaskan yang ia tahu mengenai bahayanya tempat mencari kekuatan baru itu. "Aku tidak keberatan! Apa pun yang terjadi di sana aku akan tetap pergi!" ujar Justin sangat mantap sekali. Sepertinya Justin tak takut pada kematian, terbukti tanpa berpikir panjang lagi ia langsung menawarkan dirinya. Lagipula tadi Raja Doe sudah memberitahu dirinya kalau pasti ia lah yang akan pergi, untuk apalagi harus menolak segala kalau ujungnya ia yang akan tetap pergi? "Aku akui keberanianmu itu, Justin, tetapi yang harus kau tahu kalau mendapatkan kekuatan ini selain ada banyak macam bahaya, kau harus berkonsentrasi penuh. Tidak boleh memikirkan hal lain selain menginginkan kekuatan itu, apa kau mampu?" tanya Dior. "Justin pasti mampu, meskipun kita memang belum lama bertemu dengan Justin. Tetapi aku yakin dengan kegigihan dan semangat Justin, Justin itu sangat mirip dengan Raja Dee terdahulu," ujar Raha Diavro. "Sama sepertimu, aku juga tidak pernah meragukan Justin, Raja, tetapi kita harus menanyakan hal ini padanya langsung. Dia harus menjawab pertanyaanku tadi tanpa ada beban agar nantinya kita bisa tenang," ucap Dior. "Bagaimana, Justin?" tanya Raja Doe. "Aku siap menerima segala konsekuensinya, baik itu bahaya atau kejahatan apapun yang ada di sana nantinya demi menyelamatkan Mia dan kerajaan Auguirel ini." Justin menjawab dengan satu tarikan napas, membuktikan betapa mantapnya ia dalam menjawab tanpa berpikir apa-apa lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN