Peperangan pun terjadi, kali ini Justin tak hanya menghadapi para prajurit Diavro melainkan langsung menghadapi Diavro sendiri. Beberapa kali Justin kewalahan karena ternyata kekuatan Diavro begitu besar, ditambah Diavro jelas lebih lihai ketimbang dirinya. Namun, Justin tak akan menyerah, ia akan berusaha sampai titik daràh penghabisan. Diavro mungkin saja lebih lihai dan lebih kuat darinya, tetapi Justin yakin kalau kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Terbukti, beberapa prajurit dari sebelah Diavro banyak dikalahkan oleh prajurit dari sebelah Raja Doe. Raja Doe sendiri tengah melawan anak buah terkuat Diavro, sedangkan Dior melawan panglima perang Diavro. Semuanya tak akan ada yang mengalah sampai ada yang kalah.
Banyak kurcaci yang sudah tewas dan tergeletak di tanah dengan dàrah yang bercucuran karena peperangan menggunakan pedang itu. Baik dari sebelah Diavro maupun prajurit Raja Doe. Melihat itu, Justin merasa sangat miris sekali, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena ia tidak akan mungkin bisa membangkitkan kurcaci yang sudah mati. Apalagi dia tengah berjuang melawan Diavro yang memiliki kekuatan luar biasa, berkali-kali Diavro menyerang Justin hingga laki-laki itu terlempar jauh bahkan mengenai pohon. Beruntung tenaga Justin begitu kuat, hingga ketika ia merasa sakit di tubuhnya ia tak akan menyerah. Justin pun balas menyerang Diavro, tetapi ternyata Diavro begitu pandai mempertahankan dirinya.
"Lihatlah, Justin, kami yang akan menang. Kau dan Doe akan kalah!" teriak Diavro pada Justin yang telah terkapar di tanah.
"Sudah kukatakan kau akan ikut menang jika tadi mau bergabung denganku, sayangnya kau begitu keras kepala dan malah tetap memilih membela Doe." Justin meringis ketika Diavro menusuk dagunya dengan tongkat sihirnya.
"Betapa lemahnya dirimu, Justin. Anak ingusan sepertimu tidak akan bisa mengalahkanku!" Semakin keras Diavro menekan tongkatnya di dagu Justin.
"Akhh!" Justin berteriak kesakitan.
"Bagaimana rasanya? Pasti enak sekali, bukan?" tanya Diavro sambil tersenyum miring.
Justin mencoba menarik tongkat Diavro, tetapi dengan cepat si kurcaci jahat itu menyentak Justin dengan kekuatannya hingga Justin terlempar jauh. Jika saja tubuh Justin hanya seperti manusia biasa kebanyakan, maka tubuhnya pasti akan hancur. Beruntung kekuatan yang Justin miliki menyelamatkannya dari celaka itu. Justin tak menyerah, Justin tak ingin kalah dengan cara yang menyedihkan. Laki-laki itu berusaha bangkit, Diavro hanya diam melihat gerak-gerik Justin. Justin sudah terluka parah dan Diavro pikir Justin tidak akan bisa membalasnya lagi. Kekuatan Justin tak sebanding dengan kekuatannya, hingga hal itu membuat Diavro begitu sombong sekali.
"Walaupun aku harus mati ditanganmu saat ini, aku ikhlas. Yang terpenting dan yang harus kau tahu kalau sampai kapanpun aku tak menyesal dengan keputusan ini, bergabung denganmu hanya membuat aku menjadi jahat saja! Ketahuilah kalau kau tidak akan pernah tenang dengan kegelapan yang selalu mengikutinya itu, Diavro!" ujar Justin kemudian mengarahkan tongkatnya ke Diavro. Menyerang Diavro dengan kekuatan yang tersisa.
"Akhh!" Tubuh Diavro mundur beberapa langkah karena serangan Justin hingga akhirnya ia ambruk, tetapi dengan cepat Diavro dapat bangkit kembali dan berdiri tegak.
"Hanya itu kekuatan yang kau miliki? Payah sekali!" tukas Diavro.
BUAAAKKK
"Inilah yang namanya kekuatan!" Dengan sihirnya, Diavro mengarahkan sebuah pohon pada Justin yang dengan sigap langsung menghindar.
"Hei, kau!" teriak Mia pada Diavro. Dengan kudanya, Mia menghampiri Diavro kemudian menendang tubuh Diavro keras hingga membuat Diavro ambruk ke tanah.
"Oh, ternyata ini putri semata wayangnya Doe." Diavro menatap licik ke arah Mia setelah ia berhasil bangkit kembali.
"Tendanganmu lumayan juga, tetapi hal itu tidak akan bisa membuatku mati," ujar Diavro.
"Kau jangan sombong! Kesombonganmu itu akan mengalahkanmu!" teriak Mia menatap geram Justin.
Mia segera turun dari kudanya, ia menghampiri Justin yang sudah mengalami luka banyak di seluruh tubuhnya. Justin mengkode agar Mia tak menghampirinya, tetapi terlambat karena Mia sudah berdiri di sampingnya. Padahal, Justin ingin agar Mia tetap berada di atas kuda karena jika suatu hal terjadi, maka Mia bisa kabur dengan menunggang kuda itu. Namun, jika begini caranya, sepertinya akan sangat sulit hal itu dilakukan. Apalagi melihat tatapan Diavro yang menyiratkan sesuatu dan hal itu membuat Justin jadi khawatir.
"Justin, kau tak apa-apa?" tanya Mia menghampiri Justin.
"Aku tidak apa-apa, Mia, mengapa kau malah turun dari kudamu? Ayo, naiklah kembali ke kudamu," ujar Justin. Namun, Mia menggelengkan kepalanya, enggan menuruti kata-kata Justin. Mia sudah terlanjur turun, maka tak ada keinginan baginya kembali menunggang kuda.
"Aku tidak ingin lagi menunggang kuda, Justin. Aku ingin membantumu mengalahkan penyihir jahat itu!" balas Mia sambil menatap Diavro tajam.
"Oho, teman yang sangat setia kepada temannya," ujar Diavro sambil bertepuk tangan.
"Kau jangan banyak bicara, rasakan saja balasanku untukmu!" Mia langsung memberi serangan demi serangan pada Diavro, Diavro hanya membalas seadanya karena kurcaci jahat itu masih ingin bermain-main sebentar. Kalau ia langsung membunuh mereka sepertinya tidak akan seru lagi, ya Diavro menganggap kalau semua musuhnya ini adalah mainannya. Mainan yang suka rela dimainkan dan diapa-apakan tanpa protes, benar-benar menyenangkan.
"Katanya kau raja kurcaci terkuat dengan ilmu hitam yang kau miliki? Nyatanya kekuatanmu hanya sebatas ini? Benar-benar payah!" ledek Mia.
"Kau jangan terlalu meremehkanku, Nona!" balas Diavro.
"Bisa saja saat ini aku menyerangmu, tetapi rasanya tidak seru menyerang seorang gadis cilik sepertimu." Diavro melanjutkan sambil menatap Mia dengan tatapan santainya.
Langkah Diavro mendekati Mia, membuat Mia memundurkan tubuhnya. Diavro semakin maju sedangkan Mia semakin mundur, hingga akhirnya Mia tidak dapat mundur lagi ketika dengan cepat Diavro menyerang kesadarannya hingga ia jatuh pingsan. Diavro langsung membawa tubuh Mia ke dekatnya dan hal itu membuat Justin khawatir.
"Mia!" teriak Justin mendekati Diavro.
Teriakan Justin membuat Raja Doe dan Dior menghentikan peperangannya, Raja Doe menatap putrinya yang tengah berada di tangan Diavro dengan khawatir.
"Apa yang kau lakukan kepada putriku, Diavro!?" teriak Raja Doe dan dalam satu kali sentak ia berhasil menghabisi anak buah Diavro.
Raja Doe langsung menghampiri Diavro dan hal itu membuat Diavro tersenyum miring karena inilah yang diinginkannya. Raja Doe terlihat khawatir sekaligus ketakutan, benar-benar menyenangkan untuk dilihat. Diavro nampak tak terpengaruh dengan kemarahan yang terlihat di wajah Raja Doe, Diavro malah nampak begitu menikmati ekspresi musuhnya itu. Kunci kekalahan Raja Doe sudah berada di tangan Diavro dan hal itu membuat Diavro merasa senang, Diavro saat ini sedang berada di atas awan. Tidak akan ada yang bisa mengalahkannya karena ia tak terkalahkan. Tak ada ilmu yang bisa melebihi ilmu sihir hitam yang ia miliki, semua kekuatan itu hanyalah miliknya.
"Apa yang aku lakukan pada putri kecilmu ini? Tentu saja aku menghilangkan kesadarannya," jawab Diavro santai.
Diavro memberi kode pada anak-anak buahnya agar kembali berada di belakangnya dan hal itu membuat Raja Doe begitu khawatir. Ketika prajuritnya akan menyerang prajurit Diavro yang tersisa, Raja Doe melarang para prajuritnya itu. Raja Doe tidak ingin mengambil keputusan yang nantinya akan menyakiti putrinya, putrinya sudah berada di tangan Diavro dan tidak menutup kemungkinan kalau Diavro tidak akan menyakiti putrinya. Diavro begitu kejam, tak pernah ada rasa ampun saat melakukan sesuatu. Raja Doe jelas mengenal Diavro luar dalam karena dulu Raja Doe dan Diavro pernah satu tempat belajar ilmu sihir. Bedanya, ia begitu patuh pada peraturan sedangkan Diavro sering melanggar hingga mencuri sesuatu hal yang tidak boleh diambil yaitu ilmu sihir hitam.
"Lepaskan putriku, Diavro! Atau kau akan menerima akibatnya!" ancam Raja Doe yang hanya dianggap angin lalu oleh Diavro.
"Bisa-bisanya kau yang lemah itu mengancamku, kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu itu? Tentu saja tidak akan pernah! Justru kau yang harusnya takut padaku. Memangnya kau tidak takut aku akan menyakiti putrimu ini?" tanya Diavro sambil mengusap pipi Mia dengan tongkat sihirnya.
"Jangan kau lakukan apapun pada putriku! Aku tidak akan pernah rela kalau kau menyakitinya!" teriak Raja Doe.
Diavro hanya tertawa mendengar perkataan Raja Doe, drama ini begitu menyenangkan bagi Diavro. Melihat semua raut wajah musuhnya itu begitu tegang membuat ia merasa kalau ia adalah raja bagi semua makhluk di dunia Auguirel ataupun dunia lainnya, terlihat ads kepasrahan yang bersinar di kedua mata para musuhnya itu. Diavro belum puas, ia ingin membuat mereka semakin panik. Hal yang dilakukan Diavro untuk mewujudkan keinginannya itu jelas saja menyakiti Mia, dalam sekejap tongkat ajaibnya berhasil menjadi sebuah pedang. Pedang itu ia arahkan tepat di leher Mia dan hal itu membuat para musuhnya semakin tegang.
"Aku tidak pernah membunuh musuh dengan pedang secara langsung, sepertinya jika aku penggal kepalanya maka ini akan terasa sangat menyenangkan," ujar Diavro.
"Jangan!" teriak Raja Doe.
"Bukankah selama ini kau mengincarku? Lepaskan Mia maka aku akan ikut bersamamu, biarkan aku yang menggantikan posisi Mia," ujar Justin.
"Justin, tidak!" Raja Doe menggelengkan kepalanya.
"Aku siap menerima semua hukuman yang akan kau beri, tetapi lepaskan lah Mia." Justin kembali berucap, ia sama sekali tidak merespon apa yang Raja Doe katakan. Menurutnya ibu saatnya ia memberi sesuatu pada Raja Doe, meskipun ia harus menawar nyawanya sendiri demi nyawa orang lain.
"Tidak, Justin! Jangan!" Raja Doe menggelengkan kepalanya, tak setuju dengan usul Justin.
"Hmm, ternyata kau begitu menyayangi Justin melebihi sayangmu pada putrimu, Doe," ujar Diavro.
"Apakah kau berharap kau akan menang saat membawa Justin bersamamu untuk menyerangku?" tanya Diavro menatap Raja Doe dengan senyum meremehkannya.
"Kau salah besar! Anak ingusan sepertinya mana mungkin bisa mengalahkanku! Menggunakan tongkat sihir dengan benar saja ia tidak mampu, apalagi untuk mengalahkanku? Bermimpi sajalah kalian!" teriak Diavro.
"Aku tidak peduli apa yang kau katakan, Diavro, lepaskan saja putriku!" balas Raja Doe.
"Tak semudah itu aku melepaskannya, kau pikir gampang membuatnya seperti ini? Ternyata putrimu ini sedikit sulit dikalahkan, dia begitu berani sekali." Diavro jelas saja menolak untuk melepaskan Mia karena Mia saat ini akan menjadi sanderanya.
Diam-diam, Justin mengeluarkan tongkatnya dan mengarahkannya pada Diavro saat mereka tengah sibuk berbincang-bincang. Justin berniat menyerang Diavro yang dikira sedang lengah karena Justin ingin menyelamatkan Mia, tetapi ternyata Justin salah karena Diavro sama sekali tidak lengah. Karena ulahnya itu ia malah terluka sendiri saat Diavro berhasil membalikkan keadaan, di mana Diavro menyerang Justin dengan tongkatnya yang sudah ia kembalikan dari bentuk pedang menjadi tongkat lagi.
"Tidak akan semudah itu kau menyerangku, Anak Muda!" ujar Diavro ketika melihat Justin tersungkur ke tanah dengan beberapa luka di bagian wajahnya.
"Kau salah memilih seseorang yang tidak berguna seperti dia, Doe. Dia sama sekali tidak bisa mengalahkanku, si lemah ini hanya memiliki kekuatan yang tidak sebanding dengan apa yang aku miliki! Dasar kau pun lemah! Memilih seseorang untuk melawanku dengan orang semacam dia! Payah sekali!" Diavro tersenyum meremehkan.
"Berniat melakukan p*********n kemudian kau berharap kalau aku akan menyerah semudah itu, eh?" tanya Diavro.
"Yang terjadi malah akulah yang kembali menang! Bahkan aku mendapatkan putrimu ini! Sepertinya putrimu yang gigih dan penuh keberanian ini bisa menjadi gadis kurcaci terkuat jika aku memberinya ajaran tentang ilmu sihir hitam," ujar Diavro lagi.
"Kau jangan macam-macam, Diavro!" teriak Raja Doe.
Raja Doe mengarahkan tongkatnya ke Diavro, berniat menyerang Diavro. Namun, belum sempat itu terjadi, Diavro sudah mengerakkan tongkatnya hingga membuat tongkat di tangan Raja Doe terjatuh ke tanah. Diavro tersenyum miring melihat itu , ia memang tidak terkalahkan. Wajar saja pengikutnya begitu banyak karena ia bukanlah kurcaci yang lemah, ia merupakan raja kurcaci terkuat. Hanya kurcaci bódoh saja yang menolaknya ketika diajak menang bersama dan menurutnya Justin termasuk orang yang bódoh. Rela terluka hanya demi Raja Doe, padahal ia sudah menjanjikan sesuatu yang diinginkan oleh Justin. Yaitu ia akan membawa Justin pulang kembali ke bumi, sesuai keinginan laki-laki itu.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam, tetapi hanya satu macam yaitu menjadikan Mia anak buahku yang kuat!" ujar Diavro kemudian dalam sekejap ia menghilang bersama anak buahnya yang lain, meninggalkan asal hitam tebal yang begitu pekat.
"Ke mana perginya mereka!?" tanya Justin mencari-cari keberadaan mereka.
"Mereka sudah kembali ke istana kejahatan itu, Justin." Terlihat raut wajah Raja Doe begitu sedih karena putrinya telah disandera oleh Diavro.
"A-apa!? Kalau begitu ayo kita harus pergi ke sana, kita tidak bisa membiarkan Diavro menyakiti Mia di sana. Kita harus membalas kejahatan mereka," ujar Justin.
Namun, Raja Doe hanya menggelengkan kepalanya seakan mengatakan kalau percuma saja karena istana Raja Diavro tidak dapat terlihat oleh mereka.
"Percuma saja, Justin. Kita tidak akan bisa menemui Diavro, Diavro sangat pandai menyembunyikan istananya. Semua itu berkat kekuatan sihir hitamnya itu. Kekuatanku yang tak sebanding dengan kekuatan yang Diavro miliki," balas Raja Doe.
"M-maaf, ini semua pasti salahku. Diavro bisa membawa Mia karena Mia ingin membantuku mengalahkannya, ini semua—"
"Kau tidak perlu merasa bersalah, ini semua bukan salahmu, Justin. Kita memang saat ini kalah, tetapi kita tidak bisa mengalah begitu saja. Kita harus menyusun strategi baru untuk mengalahkan Diavro." Justin terdiam mendengar perkataan Raja Doe.
"Semuanya, ayo kita pulang kembali ke istana!" teriak Raja Doe pada semua anak buahnya. Raja Doe mengkode agar Justin ikut pulang bersamanya dan akhirnya Justin mau tak mau ikut pulang.