Semua yang diperlukan sudah dipersiapkan, seperti pedang, kuda dan juga tongkat sihir yang memiliki kekuatan dahsyat. Sepertinya mereka semua sudah siap tempur, dengan persiapan yang ada ini mereka yakin kalau mereka akan menang. Raja Doe memang langsung berunding untuk menyerang kerajaan Diavro karena menurutnya Diavro sudah sangat keterlaluan dengan mengirimkan penyusup ke sini. Jika terus dibiarkan maka semakin lama dunia Auguirel akan ikut gelap seperti kerajaan seberang sana. Misi Diavro adalah ingin menyebarkan ilmu sihir hitamnya agar rakyat Raja Doe mengikuti ilmu sihir hitamnya. Raja Doe yang mengetahui dampak jahat ilmu sihir hitam tentunya tidak akan mau rakyatnya terpaku pada kegelapan.
Diavro memang tidak menyerang mereka duluan secara langsung, tetapi dengan sikap Diavro yang memerintahkan anak buahnya menjadi penyusup di istana mengakibatkan beberapa prajurit di istana Raja Doe mengalami pengaruh dari ilmu hitam. Raja Doe tidak ingin nantinya rakyat atau prajuritnya yang lain mengalami nasib yang sama. Raja Doe jelas saja tahu bagaimana Diavro itu, Diavro merupakan raja penyihir jahat yang tidak akan pernah mundur jika keinginannya belum terlaksana. Keinginan Diavro itu adalah membuat semua kurcaci di dunia Auguirel agar menguasai ilmu hitam, Raja Doe jelas saja menentang itu semua karena baginya tidak ada yang abadi jika menggunakan kejahatan dalam ilmu sihir.
Ilmu sihir itu harus lah digunakan dengan tepat, tidak sembarangan atau tidak serakah karena jika sembarangan dan serakah maka celakalah yang akan menghampiri. Raja Doe tentu tidak mau kalau sampai rakyatnya bernasib tragis karena mengikuti Diavro dalam menggunakannya ilmu sihir, Diavro sudah salah langkah karena bersekutu dengan jin jahat untuk mendapatkan ilmu sihir yang katanya lebih kuat dari seluruh sihir lainnya. Sedangkan bagi Raja Doe sendiri, meski tak sekuat sihir hitam, sihir secukupnya juga sudah baik. Bisa digunakan ketika dibutuhkan, membantu mereka lebih mudah dalam melakukan sesuatu. Keserakahan hanya membuat diri sendiri celaka, sebaliknya kebaikan akan membuat hidup menjadi damai.
"Justin, apa kau sudah siap?" tanya Raja Doe memasuki kamar Justin.
"Aku sudah siap, aku berharap kalau di saat pertempuran nanti aku bisa membantu kalian," jawab Justin menatap Raja Doe.
Nampak jelas di raut wajah Justin kalau ia begitu gigih, ingin mengalahkan para kurcaci jahat itu agar semua bisa hidup damai dan tenang. Karena jujur saja, Justin geram ketika melihat kejahatan terus merajalela. Ia pikir dengan kekuatan yang ia miliki ini, setidaknya ia bisa membantu. Meskipun mungkin tak banyak, tetapi ia akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa memenangkan pertarungan ini bersama para prajurit dan kurcaci lainnya yang membantu.
"Ayah, aku akan ikut kalian dan Justin!" Mia tiba-tiba datang ke kamar Justin membuat keduanya langsung menoleh ke arah Mia.
"Kau yakin ingin ikut, Mia? Ayah khawatir, kau lebih baik berada di istana saja." Mia menggelengkan kepalanya, keinginannya untuk ikut begitu kuat. Dia juga ingin ikut andil membantu yang lainnya dalam mengalahkan pasukan Diovra si raja sihir jahat itu.
"Baiklah, kau bisa bersiap-siap. Kami akan menunggumu di depan bersama dengan para prajurit," ujar Raja Doe.
"Baik, Ayah." Mia langsung pergi dari kamar Justin untuk mempersiapkan diri.
"Ayo kita keluar, Justin."
Justin mengangguk hingga akhirnya keduanya berjalan keluar dari kamar menuju depan istana. Di sana sudah banyak prajurit kurcaci yang siaga, Dior terlihat tengah berbicara dengan para prajurit. Sepertinya Dior sedang mengatakan tentang strategi perang sebelum nanti mereka menyerang. Terlihat dari gestur tubuh dan kata-katanya yang samar didengar oleh Justin.
"Para prajurit menggunakan pedang dan tidak menggunakan sihir?" tanya Justin ketika menyadari kalau tidak ada satupun prajurit yang memegang tongkat sihir, mereka semua hanya memegang pedang yang runcing saja.
"Peraturannya memang seperti itu, Justin. Mereka jelas sama-sama memiliki ilmu sihir, tetapi digunakan bukan untuk perang. Saat perang hanya orang-orang penting dalam istana saja yang boleh menggunakannya, sama seperti para prajurit Diavro nanti juga." Justin mengangguk paham mendengarnya.
"Dior!" panggil Raja Doe membuat Dior langsung mendekat.
"Ada apa, Raja?" tanya Dior.
"Kau persiapkan mereka, kita akan berangkat sekarang!" titah Raja Doe.
"Baik, Raja." Dior langsung mematuhi perintah Raja Doe dengan meminta seluruh prajurit berbaris dan bersiap siaga karena mereka akan segera berangkat.
"Ayah!" panggil Mia menghampiri ayahnya dan Justin.
"Kau yakin, kau ingin ikut, Mia?" tanya Raja Doe ketika melihat penampilan putrinya yang sudah sangat gagah sekali bak kesatria.
"Yakin!" jawab Mia mantap.
"Oh ya, Justin, di mana Billy? Biasanya dia selalu bersamanya." Mia mencari-cari keberadaan si beruang kecil yang selalu mendampingi Justin, yang baru ia sadar kalau di sini tidak ada Billy.
"Aku tidak membawanya, aku menyisirnya agar ia tidak bisa bergerak karena aku tidak mau terjadi apa-apa pada Billy." Justin tadi memang sempat menyihir Billy agar tidak dapat bergerak dan berbicara karena Justin tidak ingin Billy ikut bersamanya, biarlah dia sendiri yang berangkat berperang. Tak perlu mengajak Billy, agar hatinya jauh lebih tenang.
"Baiklah, semua sudah siap. Sekarang ayo kita langsung berangkat!" Raja Doe memerintahkan semuanya agar segera berangkat.
"Justin, kau ikut aku saja!" Mia menarik tangan Justin dan mengajaknya menunggang satu kuda bersamanya.
"Mia, kau bisa menunggang kuda?" tanyanya Justin karena sejujurnya ia tidak bisa.
"Tentu bisa, ayo sekarang giliranmu untuk naik." Justin ragu karena ia takut kalau terjatuh dari kuda itu.
"Tidak perlu takut, atau kau malah meragukanku? Aku benar-benar bisa mengendalikan kuda manis ini. Kau tak perlu khawatir," ujar Mia meyakinkan Justin.
"Hmm, baiklah." Akhirnya Justin naik ke atas punggung kuda itu, tepatnya di belakang Mia.
"Berpegangan kuat karena aku akan segera meminta kuda manis ini berangkat, Justin!" teriak Mia kemudian langsung meminta kudanya bergerak menyusul Raja Doe dan lainnya yang sudah berangkat duluan.
"Astaga! Aku tak menyangka kalau kau ternyata benar-benar bisa menunggang kuda!" teriak Justin ketika Mia ternyata begitu lihai menaklukkan kuda ini.
"Tentu saja! Keturunan raja harus bisa menguasai segala bidang! Kau tahu? Ini semua karena ulah Ayahku, Ayah memintaku agar menguasai semua bidang termasuk dalam dunia perang. Ayah ingin agar kelak jika aku menggantikannya menduduki posisi raja, maka aku sudah mengetahui berbagai macam strategi perang dan lain sebagainya!" Mia pun ikut berteriak karena jika tidak begitu sudah pasti Justin tidak akan mendengar perkataannya.
Hingga akhirnya mereka tiba juga di lokasi, tak menyangka kalau di sana sudah berdiri banyaknya prajurit dari Diavro. Sepertinya Diavro sudah tahu kalau Raja Doe dan yang lainnya akan menyerang, terbukti persiapan mereka juga terlihat kuat.
"Mengapa mereka tahu kalau kita akan menyerang? Jangan bilang sebenarnya di dalam istana masih ada penyusup lagi," ujar Mia ketika melihat di depan sana sudah berjejer rapi prajurit Diavro.
"Di mana Raja Diavro yang jahat itu?" tanya Justin.
"Kau lihat yang paling depan sana? Yang lebih tinggi sedikit dari beberapa kurcaci lainnya? Itu adalah Raja Diavro," jawab Mia sambil mengarahkan pandangannya ke arah Diavro.
"Memang terlihat kejam, sepertinya Diavro itu tidak akan pernah memberi ampun pada siapapun yang mengusiknya." Mia mengangguki perkataan Justin karena apa yang dikatakan oleh Justin itu benar.
"Sepertinya kau tahu kalau kami akan ke sini menyerang kalian!" teriak Raja Doe yang berhadapan dengan Diavro.
"Tentu saja, semua hal jelas aku ketahui termasuk keberadaan manusia biasa yang kau harapkan bisa membantumu mengalahkanku," balas Diavro menatap Justin sekilas kemudian kembali menatap Raja Doe.
"Manusia yang kau bilang biasa itu bisa mengalahkanmu!"
"Jangan terlalu percaya diri, ilmu hitam ku tidak terkalahkan! Apalagi kau hanya menambah manusia tak berguna itu! Dalam satu kali sihir saja dia pasti akan langsung tumbang!" ujar Diavro sambil mengusap tongkat kesayangannya.
"Kita buktikan saja nanti hasilnya!" Raja Doe memberi kode pada Dior agar Dior dan yang lainnya memulai perang itu.
Hingga akhirnya p*********n yang berakhir dengan peperangan pun dimulai, semua prajurit baik dari sebelah Raja Doe dan Diavro saling menyerang, saling mengalahkan dan ingin membunuh satu sama lain. Tak ada kata kasihan karena hanya dua hal di pikiran mereka, yaitu membunuh atau dibunuh. Jika tidak ingin terbunuh, maka harus membunuh. Lagipula jika mendapat kemenangan dalam perang ini, maka Raja pasti akan memberi sebuah hadiah pada masing-masing prajurit. Semisal kekuatan sihir mereka akan ditambah atau hal lainnya.
"Mia! Lebih baik aku turun saja agar aku lebih mudah menyerang mereka!" ujar Justin.
"Kau yakin, Justin?" Justin mengangguk kemudian tanpa aba-aba ia langsung meloncat turun dari punggung kuda itu.
Beberapa prajurit kurcaci dari Dior nampak tengah mengerubunginya, berniat menyerangnya secara bersamaan. Dalam waktu singkat, dengan tongkatnya Justin dapat mengalahkan mereka semua hingga tewas dan terbunuh.
"Hallo, Justin!" sapa Diavro tersenyum jahat.
"Aku tak menyangka ternyata manusia yang aku anggap biasa memiliki kemampuan luar biasa sepertimu," ujar Diavro.
Justin hanya diam, dari yang ia lihat sepertinya Diavro ini adalah kurcaci yang begitu licik. Semua itu terlihat dari ekspresi wajahnya dan kata-kata Raja Doe yang mengatakan kalau Diavro ingin agar seluruh penduduk dunia Auguirel mengikutinya dengan memakai ilmu sihir hitam.
"Aku punya penawaran untukmu, Justin. Penawaran ini sangat menguntungkanmu sekali," ujar Diavro lagi.
"Jangan banyak bicara! Aku tidak akan sudi menerima penawaran apapun darimu!" balas Justin.
"Benarkah? Bagaimana kalau aku menawarkanmu sesuatu hal yang benar-benar kau inginkan? Kalau kau mau membantuku mengalahkan Raja Doe dan bergabung bersamaku kita akan menang. Kau akan kuberi ilmu yang sangat dahsyat dan kau akan kuberi pintu masuk dari tempat ini ke duniamu, Justin."
"Apa maksudmu?" tanya Justin.
"Kau sangat ingin pulang, bukan? Aku bisa membantumu pulang ke bumi." Justin menggelengkan kepalanya, merasa tak tertarik dengan tawaran Diavro.
"Jangan langsung menolak seperti itu, kau tahu? Kau itu hanya dimanfaatkan saja oleh Doe. Dia menahanmu lebih lama karena ingin kau membunuhku, nyatanya kau sama sekali tidak akan bisa membunuhku karena kekuatanku jelas saja lebih kuat dari seribu kekuatan kurcaci lainnya meskipun sudah ditambah kekuatanmu." Justin hanya diam, ada beberapa prajurit dari sebelah Diavro yang akan menyerangnya, tetapi Diavro memberi kode agar prajuritnya itu jangan menyerang Justin karena Justin adalah urusannya.
"Kau tidak perlu banyak bicara lagi! Aku tahu kau begitu licik! Kalau aku membantumu belum tentu kau akan menepati janji yang telah kau katakan itu! Lagipula aku sama sekali tak tertarik dengan kata-kata manismu itu! Lebih baik aku terbunuh dalam kebaikan daripada menang karena kejahatan!" Setelah mengatakan itu, Justin langsung menyerang Diavro yang dengan cepat menghindari serangan dari Justin.