7. JATD

1319 Kata
Sejak hari ini, selain berlatih mengendalikan kekuatannya sendiri, Justin juga mulai melatih kekuatan fisiknya. Tak hanya itu saja, dia juga melatih menggunakan pedang yang tersedia. Semua itu untuk berjaga-jaga kalau misal kekuatan dalam diri tak berfungsi, maka masih ada kekuatan fisik dan pedang yang akan dikeluarkan. Farhat tak sendiri karena ada Billy dan Mia yang menemani, Mia yang merupakan anak Raja Doe itu sangat baik sekali. Membantu Justin dalam segi hal mempertahankan diri dan menyerang, sepertinya Mia memang ahli dalam hal itu. Seperti apa yang Raja Doe katakan beberapa hari yang lalu, terbukti dalam jangka waktu beberapa hari saja Justin setidaknya sudah menguasai hal itu. Justin terus berlatih tak kenal lelah karena menurut apa yang dikatakan Raja Doe kalau bisa saja di waktu-waktu yang tak diketahui, Diavro dapat menyerang. Maka, Justin harus memiliki persiapan untuk membalas serangan itu karena jika tidak berlatih sekarang, mereka akan kalah. Justin yang kali ini tak hanya menginginkan cepat pulang dari tempat ini, melainkan juga ingin membantu para rakyat kurcaci pun tentunya begitu semangat berlatih. Dia berpikir kalau bukan dirinya siapa lagi yang akan membantu rakyat kurcaci? Apalagi Raja Doe sudah meminta dirinya untuk membantunya, bahkan meminta secara langsung tanpa perantara. Sungguh tidak baik menolak seseorang yang membutuhkan bantuan. "Tak kusangka ternyata kau cepat juga menguasai latihan ini," tukas Mia ketika memperhatikan Justin yang semakin lihai saja. "Terima kasih, Mia. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku ingin berlatih dengan giat." Mia merasa takjub dengan semangat Justin dalam berlatih. "Kau sangat hebat, Justin. Aku salut dengan kegigihanmu dalam berlatih," ujar Mia. "Kau jauh lebih hebat dariku, Mia, semua ini tak terlepas dari bantuanmu beberapa hari ini. Terima kasih." Mendengar itu, Mia hanya terkekeh pelan sambil mengibas-ibaskan tangannya. "Tak perlu sungkan begitu, sudah menjadi tanggung jawabku melatihmu sesuai dengan perintah Ayah. Lagipula kau tak terlalu menyusahkanku, cara berlatihmu sudah sangat bagus." "Itu berarti aku sedikit menyusahkanmu ya?" tanya Justin dengan nada bercanda. "Hmm, sepertinya begitu. Kau terlalu memikirkan Billy sehingga latihanmu sedikit terganggu, beruntung hasilnya maksimal. Kalau tidak, mungkin aku yang dimarahi oleh Ayah." Mia balas bercanda. "Billy merupakan temanku sekarang, mana mungkin aku tak memikirkannya?" tanya Justin sambil melihat ke arah Billy si beruang kecil yang Justin buat dari tanah. Billy sedang bermain dengan hewan-hewan lainnya, seharusnya Justin tidak perlu khawatir tentang itu. Namun, tetap saja Justin merasa khawatir, takut-takut kalau tiba-tiba Billy hancur karena hanya terbuat dari tanah. Apalagi beberapa kali Billy memasuki sungai, hal itu benar-benar membuat Justin seakan olahraga jantung. Billy adalah teman barunya, jelas saja Justin tak ingin kehilangannya. Apalagi Billy sudah menemani hari-harinya dan terkadang menjadi teman berbicara yang sangat asyik. Billy memang sangat mengerti Justin karena Billy merupakan ciptaan tangannya sendiri. "Kau lihatlah, dia sedang asyik bermain di dalam sungai." Mia menunjuk Billy yang tengah berada di dalam air yang tidak terlalu dalam. "Billy!" teriak Justin langsung berlari menghampiri Billy. Mia yang mendengar teriakan Justin keheranan, Mia mengikuti Justin hingga tiba di tepi sungai. Justin terus memanggil Billy hingga si beruang kecil itu menoleh ke arah Justin, dengan patuh beruang dari tanah itu menghampiri Justin ketika Justin terus saja memanggilnya. "Ada apa, Justin?" tanya Billy setelah berhasil menapaki tanah. "Mengapa kau berada di dalam air? Kau tahu kalau kau itu terbuat dari tanah, Billy. Lihatlah, bagian tubuhmu ada yang terkelupas, sini biar aku perbaiki." Justin langsung menggunakan sihirnya untuk memperbaiki Billy. "Kau tak perlu khawatir, Justin. Aku hanya terbuat dari tanah, aku tak akan mati," ucap Billy sambil terkekeh. "Lihatlah, aku sudah pulih kembali." Billy memperlihatkan semua anggota tubuhnya yang telah diperbaiki Justin. "Itu karena aku sudah memperbaikimu, coba saja kalau belum kuperbaiki. Hancur berantakan tubuh coklatmu itu," ujar Justin datar. "Jangan marah, Justin. Kau adalah teman terbaikku yang sangat peduli padaku, kalau kau marah maka aku akan masuk lagi ke dalam air." Billy berniat memasuki air sungai lagi, tetapi jelas saja Justin langsung menangkap Billy dan membawa si beruang kecil nakal itu menjauhi sungai. "Hei, Justin! Lepaskan aku!" teriak Billy berontak. "Tidak akan!" Justin menurunkan Billy di dekat sebuah pohon kemudian dengan sihirnya ia membuat Billy terkurung dalam penjara yang tak nampak, tetapi berhasil menghalau Billy pergi. "Justin, mengapa kau mengurungku?" protes Billy. "Supaya kau tak kelayapan lagi dan aku bisa tenang berlatih," balas Justin. "Hei, lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini!" Justin sama sekali tidak mempedulikan teriakan Billy. "Kalian ini benar-benar lucu," ucap Mia sambil tertawa. "Apanya yang lucu!? Tidak ada! Jelas-jelas ini mengesalkan karena Justin mengurungku di sini," protes Billy. "Sudah, abaikan saja dia. Lebih baik kita kembali latihan," ujar Justin pada Mia membuat Billy berontaknya semakin menjadi. Belum sempat mereka memulai latihan, tiba-tiba saja ada beberapa prajurit istana yang berlari menghampiri mereka. Nampak prajurit-prajurit itu seakan tengah mengejar sesuatu, melihat kegaduhan itu tentu saja membuat Justin dan Mia menghentikan latihan yang belum sempat dimulai kembali. Keduanya saling pandang, nampak kebingungan di wajah keduanya. Saling bertanya lewat tatapan mata itu tentang hal yang sama-sama tengah keduanya lihat dan pikirkan. "Apa yang tengah mereka kejar?" tanya Justin. "Aku pun tak tahu," jawab Mia. "Lebih baik kita ke dalam istana, mungkin saja raja tahu," ujar Justin yang dibalas anggukan kepala Mia. "Ayo!" Mereka akan berjalan menuju dalam istana, tetapi sebelum itu terdengar teriakan begitu nyaring. "Hei! Kalian akan meninggalkanku!? Tega sekali!" Kompak, Justin dan Mia menoleh ke arah suara nyaring itu yang tak lain pemiliknya adalah si Billy beruang kecil. "Astaga, maaf kami melupakanmu!" Justin menepuk dahinya, laki-laki itu langsung menghilangkan sihir yang ada pada Billy kemudian membawa si beruang kecil itu bersamanya. "Ayo, sekarang kita ke dalam istana!" ajak Mia. Justin mengangguk hingga keduanya bersama dengan Billy memasuki dalam istana. Sama seperti apa yang mereka lihat tadi di luar, ternyata di dalam istana pun tak jauh berbeda. Ada kegaduhan juga di dalam istana, nampak banyak prajurit yang berlarian memeriksa seluruh ruangan yang ada di istana. Raja Doe dan Dior terlihat ikut panik, dari raut wajah mereka yang agak kaku. "Sebenarnya ada apa ini?" tanya Justin pada Mia. "Entahlah, lebih baik ayo kita mendekat dan tanyakan langsung." Justin mengangguk hingga keduanya berjalan menghampiri Raja Doe dan Dior. "Ayah, ada apa ini? Mengapa para prajurit terlihat berlarian? Seperti mencari sesuatu?" tanya Mia membuat Raja Doe dan Dior langsung menoleh. "Mereka sedang mencari penyusup yang datang, Mia," jawab Raja Doe. "Penyusup? Bagaimana bisa ada penyusup?" "Entahlah, sepertinya Ayah terlalu lengah sehingga tak sadar kalau selama ini ada penyusup dan ternyata penyusup itu sepertinya sudah kabur." Raja Doe nampak begitu cemas karena jika sudah ada penyusup, maka informasi apapun itu pasti akan keluar dan tersebar. "Apa perlu bantuanku untuk mencarinya? Sepertinya tadi aku melihat sesuatu yang mencurigakan," ujar Justin. "Apa yang kau lihat tadi, Justin?" tanya Raja Doe sambil menatap Justin. "Seperti sesuatu yang begitu hitam dan gelap. Aku akan mengeceknya saja sekarang!" Justin langsung berlari sebelum mendengar perkataan Raja Doe dan yang lainnya. Mia jelas tidak akan membiarkan Justin pergi sendiri, Mia berlari mengikuti Justin. Hingga keduanya tiba di tempat yang kata Justin begitu mencurigakan, keduanya terdiam melihat sebuah asap hitam itu dan juga di bawah asal hitam itu ada pakaian prajurit, tetapi sama sekali tidak ada kurcaci di sini. "Sepertinya penyusup itu sudah pergi dari sini," ujar Mia. "Iya, ternyata kita terlambat." Mata Justin terpaku pada suatu kertas berwarna hitam kelam yang ada di dekat pakaian prajurit itu. "Ada sesuatu," ujar Justin sambil mengambil kertas hitam itu. "Apa itu?" tanya Mia. "Ada tulisannya." Justin membuka kertas itu hingga terlihat sebuah tulisan. "Ternyata kau adalah raja yang bódoh, Doe. Ada penyusup selama itu saja kau tidak tahu." Justin membaca tulisan di kertas itu. "Ini pasti ulah Diavro," ujar Mia sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Diavro musuh kerajaan Auguirel?" tanya Justin yang dibalas anggukan oleh Mia. "Mereka benar-benar keterlaluan! Seenaknya saja mengirimkan penyusup ke sini!" ujar Mia begitu marah. "Ayo kita kembali ke istana, Justin!" ajak Mia berjalan terlebih dulu yang disusul oleh Justin. Sesampainya di istana, Mia langsung memberikan surat hitam itu pada Raja Doe. Raja Doe yang membaca surat itu pun hanya bisa menggeram, ia sadar kalau ia memang lengah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN