Saya akan menggunakan Author Pov, dari bab ini hingga selanjutnya.
Tak terasa sudah satu minggu berlalu, dan selama itu lah Djian bekerja di rumah Andaru untuk membayar denda karena merusak guci mahal milik pria itu. Dalam kurun waktu satu minggu itu tak banyak perubahan antara mereka berdua. Andaru tetap bersikap ketus pada Djian, begitu pula dengan remaja bertubuh kecil itu, dia tak segan balas ketus jika Andaru semena-mena terhadapnya. Akan tetapi karena statusnya yang sebagai pembantu dadakan membuatnya tak bisa berkutik. Sekesal apapun yang ia rasakan, dia tetap melakukan apapun perintah Andaru di rumah itu.
Seperti sekarang ini, remaja itu diberi tugas oleh Andaru untuk membersihkan semua jendela rumah. Dan parahnya jendela di rumah besar ini sangat banyak serta tinggi-tinggi dan dia harus menyelesaikan itu semua dalam sehari, oh tidak sehari, tapi setengah hari karena Djian mulai bekerja setelah dia pulang sekolah.
Djian berkecak pinggang mengamati jendela ruang tengah yang lebar dan juga tinggi, lebih tinggi dari tubuhnya. 'kamu harus membersihkan kaca sampai atas jangan hanya setengah' Djian teringatakan kata-kata Andaru tadi. Dengan tubuhnya yang kecil bagaimana dia bisa menjangkau semua sisi kaca jendela.
Oleh karena itu Djian bergegas mengambil kursi bundar dari dapur. Djian meletakkan kursi bundar itu tepat di bawah jendela ruang tengah, Kemudian menggunakan kursi itu sebagai pijakan kakinya. Djian naik ke atas kursi itu dengan hati-hati. Lalu mulai membersihkan setiap sisi jendela dengan cairan pembersih.
"Harusnya dia memberiku alat pembersih yang sesuai dengan bentuk jendela rumah ini, lagian kenapa sih dia bangun rumah sebesar ini di desa, apa dia punya pesugihan. Dasar orang kaya sombong," gerutu Djian.
Tubuh kecilnya tampak goyang ke kanan dan kiri mengikuti arah gerakan tangannya.
Djian berjinjit berusaha menjangkau sudut jendela untuk membersihkan noda yang terlihat jelas, Djian malas turun untuk menggeser kursinya agar lebih mudah membersihkan noda itu. Remaja itu justru memilih memaksakan diri untuk menjangkau dengan cara berjinjit, tanggung Cuma noda sedikit saja pikirnya.
Akan tetapi Djian salah perhitungan, dia tidak memikirkan tidak ada seseorang di bawah menjaga kursi yang ia pijak, jika kursi itu bergeser sedikit saja maka itu bisa berbahaya untukya. Dan benar saja saat kedua kakinya semakin berjinjit kursi yang ia pijak bergeser. Djian terkejut, yang malah membuatnya melakukan gerakan tiba-tiba. Akibatnya Djian kehilangan keseimbangan. Tubuhnya condong ke belakang sadar akan segera jatuh Djian memejamkan mata, siap mendarat di atas lantai marmer yang keras.
"Brukkk!!" Tubuh kecil Djian terjatuh.
"Brukk!!" kursi bundar jatuh menimpa kaki seseorang yang berada di bawah Djian dan memeluk pinggangnya.
Perlahan Djian membuka mata lalu melihat sekitar, untung saja tubuh kecilnya tidak mencium kerasnya lantai marmer. Dia merasakan seseorang menangkap tubuhnya, tapi tunggu dulu, di rumah ini hanya ada dirinya dan pria angkuh itu. Jadi seseorang yang sedang mendekapnya saat ini adalah si Om angkuh itu. Djian sibuk sendiri dalam pikirannya.
"Cepat bangun, apa kamu senang berada di atas tubuhku?"
Mendengar itu Djian langsung bangkit berdiri.
"Siapa yang senang berada di atas tubuhmu, enak saja!" ketus Djian, alih-alih membantu Andaru berdiri.
Remaja itu melirik ke arah kaki Andaru yang berdarah karena tertimpa kursi yang terbuat dari kayu. Ada rasa bersalah di hatinya saat melihat luka itu.
"Kamu itu, jika bekerja jangan hanya pakai otot saja, tapi pakai otakmu, apa yang kamu lakukan tadi itu berbahaya, kalau aku tidak kebetulan ke ruangan ini apa yang akan terjadi ha ... tidak ada kompensasi kecelakaan kerja untukmu. Jadi berhati-hatilah," omel Andaru sambil berlalu pergi dengan kaki sedikit pincang.
Bibir Djian terbuka menganga. Dia rasanya ingin mencakar seluruh tubuh pria sombong itu. Menyesal tadi sempat merasa bersalah karena telah membuat kaki pria itu terluka. Tapi sekarang biar saja, mau berdarah atau mau patah sekalipun dia tidak peduli. Umpat Djian dalam hati.
Niat hati ingin tak peduli, tapi nyatanya Djian kepikiran dengan luka kaki Andaru. Dia juga belum mengucapkan terimakasih karena pria itu tadi menangkapnya saat jatuh, andaikan si sombong tidak menangkap tubuhnya mungkin saja saat ini kakinya lah yang terluka.
Selesai dengan pekerjaanya, Djian keliling ruangan untuk mencari Andaru, biasanya pria itu ada di halaman belakang bermain dengan kucingnya jika sore hari. Tapi si kucing terlihat sendiri, ke mana perginya majikan itu.
Djian berdiri depan pintu kamar Andaru, hanya ruangan ini yang belum ia periksa. Mungkinkah pria itu sedang mandi? Gumam Djian.
"Tok ... tok ...tok ..." Djian mencoba mengetuk pintu.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Djian mengetuk pintu lagi. Namun, masih tetap sam, tak ada respon dari dalam kamar. Setelah berpikir sejenak, Djian perlahan membuka pintu kamar. Karena hari mulai sore dan gorden kamar yang tertutup rapat, ruangan itu jadi agak gelap.
"Om ... Om Andaru ..." panggil Djian.
Djian memberanikan diri untuk melangkah masuk. Sebenarnya Djian takut masuk kamar Andaru tanpa izin, karena pria itu tidak pernah mengizinkan Djian masuk tanpa perintahnya. Selama satu minggu kerja di rumah ini, hanya satu kali Djian masuk kamar ini. Kala Andaru menjerit perkara cicak.
"Om ..." panggil Djian lagi.
Tangannya meraba dinding untuk mencari saklar lampu. Akan tetapi belum sempat Djian menekan saklar lampu, remaja itu dikejutkan suara dari arah tempat tidur.
"Brukkk!!!"
Djian menajamkan pandangnnya, betapa terkejutnya dia ketika melihat tubuh besar Andaru jatuh dari tempat tidur, pria itu meringkuk di lantai memeluk tubuhnya sendiri dan menggigil.
"Om ..." teriak Djian lalu bergegas menghampiri Andaru.
Dengan tubuh kecilnya Djian berusaha mengangkat Andaru lalu ia baringkan perlahan di atas tempat tidur.
"Om ...kamu kenapa Om?"
Andaru tak menyahut, malah menarik tangan Djian untuk merapat pada tubuhnya.
"Dingin ..." rancau Andaru dengan mata terpejam.
Djian memeriksa suhu tubuh andaru dengan telapak tangannya.
"Kenapa panas sekali ..." gumam Djian.
"Om tunggu sini aku ambilkan obat dulu di lantai bawah?"
Djian melepas tangan Andaru dari lengannya, tapi pria itu menolak. Malah semakin erat memegangi lengan Djian.
"Jangan tinggalkan aku Kirana, jangan ..." rancau Andaru lagi.
Djian terdiam sejenak, memandangi wajah Andaru.
"Aku gak akan kemana-mana, aku akan kembali di sini. Aku janji," ucap Djian pelan.
Perlahan Andaru mengendurkan tangannya, membiarkan Djian beranjak dari sisinya.
Djian lalu turun ke lantai bawah, berjalan ke arah dekat dapur untuk mengambil kotak obat serta yang ia butuhkan lainnya. Setelah yang ia butuhkan di rasa lengkap Djian kembali ke kamar Andaru.
Sebelum mengurus Andaru, Djian terlebih dahulu menghubungi Kakek untuk memberitahu bahwa Andaru sakit dan dia kemungkinan akan menginap untuk menjaga Andaru.
Selesai memberi kabar pada Kakeknya, Djian mulai melakuan apa yang harus di lakukan untuk mengatasi orang demam.
"Om, bangun dulu, minum obat ini." Djian memaksa Andaru untuk duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidur.
Ia kemudian, memberikan satu tablet obat penurun panas. Akan tetapi Andaru menolak, menampik obat itu lalu ia merosot ke bawah dan kembali meringkuk.
Djian tidak menyerah, remaja itu kembali memaksa Andaru untuk minum obat dengan susah payah. Baru tahu selain takut pada cicak ternyata pria angkuh ini tidak pandai minum obat.
Tak hanya memaksa Andaru untuk minum obat, Djian juga mengompres pria itu dengan air hangat supaya cepat berkeringat dan suhu tubuh segera menurun.
Djian mendesah pelan, apa yang salah dengan pria ini , mengapa tiba-tiba jatuh sakit, padahal tadi terlihat biasa saja. Tapi Djian jadi teringat saat Andaru menangkap tubuhnya, si tuan angkuh memang terlihat pucat. Apakah memang dia sedang menahan sakit sejak tadi. Djian menoleh ke arah Andaru, memandangi wajah pria itu lekat-lekat.
Wajah yang tampan, tapi sayang sangat galak, dan sombong. Sukanya marah-marah. Djian berndai-andai bagaimana jika pria ini baik, lemah lembut pasti akan lebih tampan lagi. Djian tersenyum sendiri. Beberapa detik kemudian Djian tersadar dari apa yang ada dalam pikirannya. Bagaimana mungkin dia mengagumi wajah tampan sesama laki-laki.
Djian menggeleng cepat, mengalihkan pikiranya yang mulai tidak beres. Ia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo ..." sapa Djian ketika panggilan telponnya mendapat respon dari seseorang di sana.
"Ini aku Djian."
"Ohh ... Djian, bagaimana kabarmu? Apa semua baik-baik saja?"
"Iya aku baik-baik saja tapi tidak dengan temanmu."
"Andaru? Kenapa dengannya?"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tadi siang dia masih terlihat baik-baik saja, tapi sekarang dia sakit demam."
"Ohh mungkin radangnya kambuh, Andaru akan seperti itu jika dia salah makan. Tapi Djian, aku belum bisa kembali ke desa sekarang ini, masih banyak yang harus aku selesaikan, bisakah kamu menjaganya sampai dia sembuh?"
Djian terdiam sejenak.
"hallo ... Djian, hallo ..."
'Iya ..." sahut Djian pelan.
"Bisa kamu menjaganya?"
"Sekarang ini aku menjaganya, dia sudah aku beri obat penurun panas juga."
"Ahh terimaksih banyak Djian, jika dia tidak mau minum obat paksa saja, dia memang susah minum obat, dan satu lagi, aku harap kamu bisa menginap di rumah untuk menemaninya. Karena jika dia sedang tidak enak badan, Andaru akan mengigau dan mencari seseorang saat tengah malam. Jadi kamu bisa tidur di sampingnya jika tidak keberatan."
"Hah???"
"Hehhee ... maaf jika kamu tidak mau, kamu bisa tidur di kamar lain."
"Tentu saja aku tidak mau tidur satu ranjang dengan orang sombong seperti dia."
'Iya ... iya baiklah, maafkan aku Djian, yang penting kamu menginap dulu sampai dia sembuh."
"Ya baiklah, tapi jika temanmu ini merepotkan, aku akan pulang," kata Djian sebelum sambungan telepon berakhir.
Di tempat yang berbeda Marvel tersenyum sendiri mendegar kalimat terakhir Djian, ketus tapi juga terdengar menggemaskan.
"Berhenti tersenyum sendiri Marvel, katakan siapa yang menghubungimu dan apa yang terjadi pada bayi besarmu itu?"
"Andaru sakit, dia demam dan barusan yang menghubungiku adalah remaja kecil yang menggemaskan," jawab Marvel sambil senyum.
"Remaja kecil?" ulang seorang wanita cantik yang duduk di samping Marvel.
"Iya remaja kecil, yang Andaru pikir seorang gadis hahaha ..."
Marvel teringat saat dia membiarkan Andaru berpikir bahwa Djian adalah seorang gadis. Marvel sengaja membiarkan temannya itu salah paham, salah siapa tidak bisa membedakan mana yang seorang gadis dan mana yang laki-laki.
"Lalu bagaimana kamu bisa tertawa di sini jika bayi besarmu sedang sakit."
"Ada Djian yang merawatnya."
"Si remaja kecil itu?"
Marvel mengangguk.
"Apa kamu yakin anak itu bisa mengatasi Andaru? Kamu tahu bagaimana dia jika sedang sakit."
"Lalu aku harus bagaimana, aku tidak bisa meninggalkanmu sekarang Yolanda..." Marvel menyandarkan kepalanya pada wanita di sisinya dengan ekspresi manja.
"Marvel hentikan, kasihan anak remaja itu." Mendorong kepala marvel sedikit mejauh.
Marvel cemberut. "Apa kamu tidak rindu padaku? Lagipula aku yakin Djian bisa menjaga Andaru, dia itu perbaduan antara kamu dan Kirana."
"Maksudmu?" Wanita bernama Yolanda itu mengerutkan kening.
"Djian itu manis seperti Kirana, pemberani seperti dirimu. Dan kamu tahu artinya jika Andaru membully seseorang."
Yolanda mendesah pelan, tiba-tiba saja ingatannya kembali ke masa lalu saat-saat kuliah dulu, kala Andaru selalu mengganggunya dan juga teman baiknya 'Kirana'. Masih melekat dalam ingatannya, dia akan melawan jika Andaru menindasnya, tapi tidak dengan Kirana, gadis berwajah manis itu akan selalu pasrah jika di ganggu oleh Andaru. Bukannya menjadi kasihan Andaru justru semakin semangat mengerjai Kirana dengan berbagai perintah yang konyol. Yolanda tersenyum getir kala mengingat semua itu kini tinggallah kenangan.
"Kamu merindukannya?"
"Tentu saja, tapi dia sekarang sudah bahagia," kata yolanda dengan suara agak serak.
Marvel meraih tubuh Yolanda lalu membawa wanita itu dalam pelukannya.
"Dia pasti berharap kita bertiga juga bisa bahagia."
****
Malam ini Djian menginap di rumah Andaru untuk menjaga pria itu, dan dia Akhirnya memilih tidur di samping Andaru. Awalnya Djian ingin tidur di kamar lain, tapi itu sangat merepotkan beberapa kali Andaru terbangun dan berteriak tidak jelas. Dari pada bolak balik dari satu kamar ke kamar lain, lebih baik mengikuti saran Marvel, tidur satu ranjang dengan pria angkuh itu.
Sepanjang malam Djian tidak bisa tidur nyenyak, beberapa kali dia terbangun untuk memeriksa suhu tubuh Andaru, sudah tidak setinggi sebelumnya hanya saja belum berkeringat, artinya Andaru masih sedikit demam.
"Sebaiknya besok pagi aku bawa dia berobat saja," gumam Djian.
Remaja itu nampak menahan kantuk, namun berusaha untuk tetap terjaga.
Djian meletakkan handuk kompres di kening Andaru, lalu ia membaringkan tubuhnya di sisi pria itu. Dia sudah tak tahan lagi untuk membuka mata. Wajar saja Djian ngantuk berat, pagi hingga siang dia sekolah, siang hingga sore bekerja, dan malam hari dia harus begadang. Ahhh Djian seperti wanita yang mempunyai bayi.
Bersambung ...