Djian menggeliatkan badan ketika merasakan hari mulai pagi, perlahan ia membuka kelopak matanya, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar. Djian mengerjap beberapa kali, dia sedang mengingat ada di mana dirinya sekarang ini. Djian diam sejenak tuk mengumpulkan kesadaran, selang beberapa detik Djian berjingkat kaget. Dia menoleh ke kiri dan kanan mencari sosok pria yang semalam sakit.
"Lho ... kemana orangnya?" gumam Djian.
Kedua matanya terbelalak kaget saat melihat jarum jam nenunjukkan pukul sepuluh pagi. Remaja bertubuh mungil itu lalu merosot turun dari atas tempat tidur. Baru saja dia menginjakkan kaki di atas lantai, pintu kamar mandi tiiba-tiba terbuka.
Andaru keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Pria itu berjalan melewati Djian ke arah lemari pakaian.
"Jika sudah bangun cepat keluar dari kamarku" kata Andaru tanpa menoleh ke arah Djian.
"Emang Om sudah sembuh?" Djian berjalan mendekati Andaru.
Dia berjinjit lalu meletakkan punggung tangngannya ke kening Andaru tanpa permisi.
"Kamu kenapa sih ..." Andaru mendorong Djian menjauh dari tubuhnya.
"Aku mau memastikan apa Om sudah tidak demam lagi." Djian kembali berjinjit berusaha menggapai kening Andaru.
Pria yang jauh lebih tinggi itu justru menjauhkan kepalanya membuat Djian melompat-lompat kecil untuk menyentuh keningnya.
"Aku tidak apa-apa, kamu ngapain lompat-lompat begitu."
Djian berdecak kesal.
Ia menoleh ke arah nakas dekat tempat tidur, mencari alat pengkur suhu tubuh yang ia gunakan semalam.
"Sini Om aku periksa dulu."
Djian memaksa Andaru untuk mengangkat lengannya ke atas, guna menyelipkan alat pengukur suhu tubuh di antara ketiaknya.
"Gak mau! Ini kenapa sih ..." Andaru berusaha menolak.
Tapi Djian tidak menyerah, dia berusaha mengangkat lengan Andaru ke atas. Semakin Djian memaksa, Andaru semakin menolak.
"Aku Cuma mau chek suhu badanmu saja Om, masih demam apa tidak." Sambil terus maksa.
"Aku sudah tidak demam."
'Tapi biar aku yakin harus di-chek dulu."
"Gak perlu, cepat keluar dari kamarku!"
"Huh! Aku hanya ingin memastikan Om masih demam apa tidak, kalau sudah gak demam aku mau pulang."
"Kalau mau pulang, pulang saja. Siapa yang peduli. Bukankah aku sudah menyuruhmu keluar dari kamarku. Sekarang pulanglah."
"Kenapa di dunia ini ada orang sepertimu, aku menjagamu semalaman, bukannya berterimakasih malah mengusirku."
"Siapa yang mengusirmu? Kamu sendiri yang mengatakan ingin pulang, kan ..."
Djian melongos sebal, remaja bertubuh mungil itu melangkah keluar.
Andaru kembali berdiri tegak depan lemari pakaiannya, memilih baju yang akan ia kenakan. Rupanya Djian tak benar-benar keluar dari dalam kamar Andaru. Remaja bertubuh kecil itu teringat sesuatu. Djian tersenyum menyeringai, dia jadi ingin sedikit memberi pelajaran pada pria angkuh yang tidak tahu terimakasih itu.
"Om ... itu ada cicak!" teriak Djian sambil menunjuk ke arah dinding samping lemari. Andaru yang phobia terhadap cicak sontak langsung melompat kaget, menjauh dari depan lemari.
"Di mana cicaknya, di mana?" Andaru panik.
"Itu om, eh lompat, itu di handukmu Om," dusta Djian.
Andaru jadi makin panik, berteriak histeris, ia mengibaskan tangannya ke semua sekitar handuk yang melilit di pinggangnya dengan kasar.
"Itu Om, itu ..." Djian menunjuk-nunjuk gak jelas sambil menahan tawa.
Karena teramat takut Andaru melompat ke arah Djian, menerjang tubuh kecil itu hingga terjengkang. Mereka berdua jatuh di lantai dengan posisi Andaru berada di atas tubuh kecil Djian.
"Ci-cicak ... di mana cicaknya?" tanya Andaru terbata.
Djian yang berada tepat di bawah Andaru diam terpaku, kedua matanya berkedip-kedip saat merasakan ujung hidung mancung Andaru bergesekan dengan ujung hidungnya. Hembusan napas pria itu hangat menerpa wajah Djian. Sesaat Djian linglung tak mendengar pertanyaan Andaru barusan.
"Cicaknya di mana?" tanya Andaru lagi.
Pria itu sama sekali tidak berani bergerak, ataupun menoleh ke kanan dan kiri. Pandanganya tetap fokus ke wajah Djian.
"Gak ada Om ..." jawab Djian pelan.
Djian jadi kasihan melihat wajah Andaru pucat, terlihat sangat takut dan cemas.
"Cicaknya sudah pergi?" tanya Andaru penuh harap.
Djian mengangguk pelan.
Andaru merenggangkan tubuhnya, hendak bangkit berdiri. Namun, baru saja dia mengangkat sedikit tubuhnya, Andaru langsung mendorong Djian untuk kembali berbaring terlentang di lantai.
"Sakit Om, jangan kuat-kuat dorongnya." Djian meringis kesakitan, sikunya membentur lantai.
"Kamu diam. Jangan bergerak. Megerti!?"
"Kenapa, ada apa? Om berat, jangan menimpaku begini, buruan berdiri."
"Aku bilang diam. Jangan banyak gerak!"
"Ya tapi kenapa?"
Andaru diam sesaat, seperti sedang berpikir apa yang harus dia katakan.
"Handuk, handukku di mana?" Menahan malu luar biasa.
"Hah?"
Djian mengangkat sedikit kepalanya berusaha melihat ke bagian bawah Andaru. Remaja bertubuh mungil itu seketika terbelalak kaget saat melihat kedua bongkahan p****t Andaru. Djian mengulum senyum, memalingkan wajahnya ke samping. Wajahnya tetiba jadi terasa panas.
"Kenapa ekpresimu begitu? Aku memintamu untuk diam jangan bergerak."
"Om telanjang ..."
"Diam!! Sekarang di mana Handukku?"
Djian menoleh ke kanan dan kiri.
"Itu ..." menunjuk handuk yang tergeletak di lantai dengan dagunya.
"Tutup matamu." Perintah Andaru.
"Gak mau, kenapa aku harus tutup mata," tolak Djian, entalah dengan beraninya kalimat itu meluncur dari bibirnya begitu saja.
"Kenapa kamu terlihat ingin sekali melihatku telanjang?"
Djian menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya, jenis senyum menyebalkan di mata Andaru. Dia seperti sedang di remehkan.
"Aku tidak, kenapa Om ada pikiran seperti itu? Berdiri dan ambil handukmu." Kalimat Djian terdengar seperti perintah tapi juga seakan menantang.
"Aku bukan seorang gadis, harusnya tidak masalah," imbuh Djian.
Andaru tertegun. Benar juga. Sebenarnya untuk apa ia meminta Djian untuk menutup matanya. Bukankah mereka sama-sama laki-laki. Tapi tunggu dulu, Andaru memiringkan kepala mengamati wajah Djian, ada yang berbeda dari remaja itu. Lihat ... tatapan mata anak itu tak lagi terlihat polos seperti biasanya. Kilat mata remaja itu menyala menyiratkan keinginan. Ayolah ... Andaru bukan anak di bawah umur seperti Djian, dia adalah pria dewasa usia 35 tahun, dia bisa menangkap arti dari sorot mata remaja yang ada di bawahnya.
Perlahan Andaru merundukkan punggungnya, wajahnya semakin dekat dengan wajah Djian, tatapan matanya mebuat remaja itu gugup. Djian menelan ludah sekali, napasnya menderu jantung berdegup cepat. Ia buru-buru membuang muka ke samping kala wajah Andaru makin mendekat ke wajahnya.
"Dengar ..." bisik Andaru tepat di telinga Djian dengan suara lirih.
"Jika kamu tidak menutup matamu, maka aku akan menambah tugas harianmu, bersihkan semua tolilet di semua rungan, bersihkan gudang belakang, bersihkan semua isi dapur dan ber ...."
"Baiklah!" potong Djian cepat sambil menutup kedua matanya rapat-rapat.
Orang seperti Andaru pasti tak akan sekedar mengancam, lebih baik Djian menutup kedua matanya rapat daripada harus mati kelelahan di usianya yang belum genap 17 tahun.
Andra tersenyum menang. Pria itu lalu secepat kilat langsung berdiri meraih handuk yang tergelak tak jauh darinya lantas ia lilitkan kembali di pinggangnya. Tak lupa matanya mengedar ke sekitar memastikan si cicak sudah benar-benar tidak ada.
"Buka matamu dan cepat keluar dari kamarku."
Mendengar itu Djian segera bangkit berdiri, memandang kesal ke arah Andaru yang sudah mengenakan handuk. Kesal untuk alasan yang tak ia mengerti, dia seolah merasa kehilangan kesempatan yang langka.
"Kenapa masih berdiri di situ? Cepat keluar!"
Dengan wajah di tekuk Djian keluar dari kamar Andaru. Remaja bertubuh kecil itu tak henti mengomel. Menggerutu tentang Andaru yang tak tahu terimakasih, karena menjaga pria itu dirinya tidak bisa masuk sekolah hari ini.
Selesai berpakaian Andaru tak lama kemudian keluar dari kamarnya. Pria itu berjalan menuju dapur, lalu mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk membuat sarapan. Djian yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya pura-pura tak menyadari kehadiran Andaru di sekitar dapur.
"Hentikan pekerjaanmu dan makanlah lebih dulu," kata Andaru sambil duduk di ruang makan.
Di atas meja makan sudah tersaji dua gelas s**u dan dua mangkuk bubur ayam serta sup tahu. Andaru itu pandai memasak, sesimpel apapun yang dia masak, tampilannya pasti membuat perut langsung keroncongan, dan Djian mengakui itu. Oleh karena itu, meskipun kesal remaja itu tak mengabaikan tawaran Andaru. Kebetulan dia memang merasa lapar.
Djian menghentikan aktivitasnya, lalu duduk bergabung dengan Andaru di ruang makan. Mulut kecilnya menyantap makanan di depannya dengan begitu lahap, tak menyadari Andaru diam-diam memperhatikan cara remaja itu makan.
"Om aku harus mengantarmu berobat setelah sarapan," ucap Djian setelah menyeruput habis sup tahu miliknya.
"Untuk apa? Aku sudah sembuh."
"Belum tentu, pagi ini Om merasa sehat tapi bisa saja nanti malam deman lagi, aku tidak bisa terus-terusan menjagamu. Jadi lebih baik aku mengantarmu berobat"
"Aku tidak memintamu untuk menjagaku, kamu bisa pulang setelah menyelesaikan pekerjaanmu," ujar Andaru tanpa melihat ke arah Djian.
"Harusnya aku merekam siapa orang yang semalam merengek memintaku untuk tidak meninggalkannya."
"Uhuk ..." Andaru tersedak s**u yang sedang ia minum.
Pria itu mengusap bibirnya dengan tisu dan berusaha untuk besikap tenang.
"Nanti kita pergi ke klinik Bidan titik yang ada di jalan depan itu, kata Kakek banyak orang berobat di sana, obatnya sangat manjur, sekali dua kali minum langsung sembuh," tutur Djian meyakinkan.
"Bidan? Memangnya aku akan periksa kehamilan, kenapa berobat ke bidan?"
"Memangnya kenapa? Apa hanya orang hamil yang boleh berobat ke bidan?"
"Aku tidak perlu berobat kemanapun. Aku sudah sembuh." Andaru bangkit berdiri lalu meninggalkan meja makan.
Djian berdecak kesal. Awas saja jika nanti pria itu mebuatanya repot, dia tak akan peduli.
****
Siang hari setelah menyelesaikan pekerjaannya Djian pulang ke rumah Kakek. Ia membaringkan tubuhnya yang terasa lelah di atas sofa sederhana di ruang tamu rumah Kakek.
"Djian ... kapan kamu pulang?" tanya kakek yang baru saja masuk rumah dari pintu belakang.
'Baru saja Kakek."
"Apa kamu sudah makan siang?"
"Sudah, tapi sepertinya aku ingin makan lagi, aku rindu masakan Kakek."
Kakek Jono tertawa renyah.
"Kalau begitu tunggu apa lagi cepat makan, habiskan saja yang ada di meja makan, Kakek dan Bihan sudah makan.
"Oh ya di mana Kak Bihan?"
"Dia mengantar sayuran ke pelanggan kita, menggantikan pekerjanmu. Dia menggerutu sejak pagi, katanya kamu membuatnya kerja double sejak kemarin hahaha ..."
Djian ikut tertawa, membayangkan Bihan menjadi repot dan menggerutu sepanjang hari.
"Djian ... bagaimana keadaan Nak Andaru, apa sudah sembuh?"
"Untuk saat ini sih sepertinya sudah membaik, tapi gak tahu nanti, dia itu seperti anak kecil susah diajak berobat Kek ..."
"Kasihan kalau dia belum sehat betul, apa sebaiknya nanti sore kamu datang ke sana lagi, bawa baju sekolah dan buku pelajaranmu untuk besok, kamu bisa sekolah dari sana besok pagi."
"Kakek menyuruhku untuk menginap di rumahnya lagi?" tanya Djian dengan wajah tak percaya.
"Iya, kasihan jika dia sakit tapi tidak ada yang merawat."
Kakek Jono teringat ketika dia tinggal seorang diri sebelum Djian datang, hanya Bihan yang kerap kali menemani dan merawatnya saat dia sedang tidak enak badan.
"Aku tidak mau Kek, aku ingin istirahat, kita bukan kerabatnya untuk apa peduli, biar saja, toh dia itu orang sombong dan angkuh, gak tahu terimaksih. Aku gak mau Kek."
"Djian ... bayangkan jika Kakek yang sedang sakit, sendirian di rumah ini, dan tak ada siapaun yang peduli, bagaiman perasaanmu?"
Djian terdiam. Remaja bertubuh kecil itu lalu menghabiskan semua sisa makanan di atas meja makan dalam diam.
Hari telah berganti malam, dan Djian sedang gelisah, remaja itu berguling ke kanan dan kiri di atas tempat tidur kamarnya. Dia teringat akan kata-kata Kakek, membayangkn bagimana jika Kakek yang sedang sakit sendirian dan tak ada yang peduli. Pasti kasihan sekali. Pun dengan Andaru si pria angkuh itu, apa yang akan terjadi jika tiba-tiba pria itu kembali demam tinggi, siapa yang akan menjaga dan merawatnya.
Djian mendesah pelan, ia lalu bangkit duduk dan beringsut turun dari atas tempat tidur. Mengambil baju seragam dan buku pelajaran untuk ia masukkan ke dalam tas ranselnya.
"Kak Bihan ..."
Bihan yang saat itu sedang menonton TV bersama Kakek menoleh ke arah Djian yang berdiri depan pintu kamar sambil menggendong tas ransel sekolahnya.
"Lho ... mau kemana Djian?" tanya Bihan.
"Antarkan aku ke rumah gedong itu."
"Hah ...malam-malam begini?"
"Iya ... aku takut dia sekarat sendirian," jawab Djian asal.
"Antarkan dia Bihan," kata Kakek.
Bihan bangkit berdiri.
"Apa majikanmu itu menelponmu?"
"Dia bukan majikanku, enak saja."
"Bihan, sudah jangan menggodanya, cepat antarkan dia, sepertinya sebentar lagi hujan."
"Hehehe Djian lucu kalau sedang kesal seperti itu Kek."
Menggunakan motor bebek tua miliknya, Bihan mengatar Djian ke rumah Andaru.
"Besok sekolah gimana?" tanya Bihan di tengah perjalanan.
"Aku bisa pakai motor di rumah itu."
"Oh, ada motor juga ya di rumah itu." Bihan manggut- manggut. "Apa Mas Marvel belum pulang dari kota?" tanya Bihan lagi.
"Kalau dia sudah pulang aku tidak mungkin harus merawat pria tua itu."
"Jangan memanggilnya pria tua dong, dia kan masih muda."
"Kak Bihan ini kenapa sih kok selalu memihak sama dua orang itu."
"Ya aku mana mungkin membenci orang tanpa alasan," jelas Bihan.
Djian tak menyahut lagi.
Sesampainya di depan rumah Andaru, perlahan Bihan menepikan motornya.
"Terimakasih ya Kak," ucap Djian sebelum melangkah masuk ke halaman rumah Andaru.
"Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku ya ..."
Djian mengangguk.
Bihan meninggalkan rumah Andaru setelah memastikan Djian masuk ke dalam rumah.
Rumah tampak sepi, lampu sengaja di matikan. Hanya beberapa ruangan lampu di biarkan menyala.
"Apa di sudah tidur?" guman Djian.
Remaja itu melangkah menuju kamar Andaru.
Bersambung ...