maaf dan terimakasih

2343 Kata
"pak., saya mau lapor.. anak saya zero hilang, tolong temukan dia..." ujar papa begitu sampai di kantor Polisi... "baik, sebelum itu, tolong isi formulir ini" ujar polisi itu sambil menaruh kertas formulir dan langsung diisi oleh papa. sedangkan mama tengah sibuk dengan ponselnya, telepon sembari mondar-mandir binggung sekaligus khawatir. sementara itu.., zero yang kabur dari rumah itu.. akhirnya berhenti... entah mengikuti naluri, insting, atau bagaimana, jelas-jelas ia sampai di rumah nenek mikha (di jelasin di episode 4 : bdms (bukan b**m)) bingung dengan keadaan yang ia alami sekarang, zerobi duduk bersandar di dekat pintu. tak berapa lama.. mikha datang bersama chiko dan anak-anaknya.. mereka langsung menyambut, mengerubungi zero sementara mikha tertegun sebentar.. "apa yang kau lakukan disini?" tanya mikha namun tak dijawab zero. melihat kondisi zero sekarang, akhirnya mengajak zero masuk kerumahnya, awalnya zero juga menolak, namun akhirnya, mikha menyeretnya masuk kerumah. "mandilah dulu... oia, nanti, taruh pakaianmu di mesin cuci." ujar mikha menyeret zero ke kamar mandi, kemudian ia juga memberikan set baju ganti untuknya. setelah zero selesai mandi... ia menatap mikha yang duduk menyeruput tehnya, sementara didepannya tersedia segelas coklat hangat. "duduk, dan minumlah.." ujar mikha. (btw,. mereka duduk lesehan, dengan meja kecil diatasnya... 11-12 kayak kotatsu jepang gitu, tapi nggak ada pemanasnya, hanya meja biasa...) "..." duduk dan mengambil gelasnya. "kau sudah tenang sekarang? kenapa kalian suka membuat masalah?" tanya mikha. "..." "apa lagi kali ini... kau bertengkar dengan siapa" ujar mikha. "aku tidak bertengkar dengan siapapun... aku hanya... mengasihani diriku sendiri.." jawab zero, kemudian leo datang padanya, dan mlungker (maksudku, leo nggak tidur, hanya bermanja-manja) dipangkuan zero. "hmmm.... kali ini, kau siapa?" "aku zerobi.." "ah, benar... kepribadian lainnya... tapi... aku hanya memanggilmu zero... aku capek dengan banyak kepribadianmu itu." "kau juga tidak suka padaku?" "mmm... yah... gimana ya... aku tidak menyalahkanmu memiliki banyak kepribadian.. hanya saja... bagi orang yang awam sepertiku... itu terdengar dan nampak aneh.. manusia hanya memiliki satu kepribadian dengan berbagai macam sifat... tapi ini dari sudut pandangku.." "oh gitu..." jawab zero sambil mengelus leo. "lalu... apa yang akan kau lakukan sekarang..." ketika akan dijawab, telepon mikha berdering.. ia mengambilnya mengangkat teleponnya... "ya halo ma..." "ya aku dirumah sekarang... heh? zero?" sejenak ia mamandang zero, namun zero memberi isyarat untuk tidak mengatakan pada siapapun kalau ia ada dirumahnya... "nggak tau tuh ma... nggak kesini... eh kabur dari rumah... ya ya... nanti kalau aku melihatnya, akan aku kabari.. oke.. oke... bye..." "kamu itu ya..." belum selesai bicara... telepon kembali berdering, kali ini tante nirina yang telepon, dan zero tetap memberi isyarat untuk merahasiakan keberadaannya. "ya halo tante... iya tadi mama telepon juga... nggak ada tante... iya.. iya, baik tante... maaf ya tante... ya.. siap... nanti mikha hubungi kalo dapat info soal zero... ya ya.. masama tante.." menutup teleponnya... dan baru di taruh meja hpnya... telepon kembali berdering... kali ini telepon dari ren... "ya halo, mau nanyain zero juga... dia nggak disini... ntar aku kabari kalo dah ketemu dia.. iya aku tau... ya ya... oke" menutup teleponnya. telepon kembali berdering, dan itu dari rui,.. "ya halo... nggak, dia nggak disini... ya mana aku tau... ya.. ya.. oke.. bye.." dan tak berapa lama, sekali lagi telepon berdering... dari rui. "apa lagi... rahasia? nggak, nggak ada kayak gituan,... hei kau tau, mama, tante, ren, tadi mereka juga menelponku, dan sekarang kamu, wajarlah kalo aku cepetin bicaranya... nanti aku hubungi kalau ketemu zero.. ya.. aku nggak bohong... ya bener.. ya... ya... " menutup teleponnya. "kau lihat banyak yang nyariin kamu... buat apa kamu kasihan sama diri kamu sendiri... malah seharusnya kamu bangga banyak orang yang perhatian sama kamu.." ujar mikha, menasehati zero.. dan sekali lagi telepon berdering... dengan kesal mikha mengangkat teleponnya dan... "udah aku bilang, zero nggak disini, nanti aku kabari kalo zero dah ketemu oke?!.." kata mikha kesal, namun ketika tak mendengar apapun dari seberang.. ia melihat nama di hpnya... ternyata itu akira.. "eh akira... maaf.. aku kira rui.. heh.. anu itu.. (dengan gelagat anehnya, ia menjauh dari zero).. iya, zero katanya kabur dari rumah.. eh? aku nggak tau,.. bener... oiya... tumben kok telepon, ada perlu apa? eh... tunggu tunggu tunggu... aku mau minta tolong boleh nggak... tolong beliin aku sarapan, uangnya nanti aku ganti... kakiku kesleo nih... nggak ada siapapun dirumah... aku mohon... nanti aku sharelock... please datang ya... ini beneran... aku tunggu... " ujar mikha kemudian menutup teleponnya, lalu share lokasi ke akira. "kamu lalu mau gimana?" tanya mikha, sebenarnya ingin zero segera pergi... "rumah ini cukup besar untuk kau seorang, jadi... aku mau menyewa kamar." "yang benar saja... maksudnya.. benar.. aku sedang menyewakan kamar, tapi kau tidak boleh! kau kembali kerumahmu sana" "sudah kubilang... aku sedang nggak ingin di rumah..." "bodo mau kemana.. itu bukan urusanku.. pergi sana.." "apa-apaan sih.. kok tiba-tiba gitu.. tadi jelas-jelas kau mau bantu aku..." "itu tadi... sekarang aku berubah pikiran.." kata mikha. selama 10 menit lebih, nggak ada yang mau ngalah.. bahkan para anjing cuek dengan keduanya. ketika hendak mengusir zero,. pintu terbuka... dan ternyata didepannya telah berdiri akira yang hendak menekan bel pintu. kaget, mikha menarik zero masuk, menutup pintu. "aku sudah melihatmu.. buka pintunya..." "(dengan tampang lesu dan bersalah... akhirnya mempersilahkan akira masuk, plus pura-pura kakinya sakit.)" "hei, bukankah kakimu nggak kenapa-napa..?" tanya zero yang langsung dibungkam mikha. "makanya kau pergi saja sana.." "ini pesananmu.. mana uangnya.." kata akira yang menyadarkan mikha. "oh, ya tunggu sebentar.." kemudian mengambil dompetnya. "mmm.... zero.. bisakah kita bicara?" kata akira tiba-tiba. "m.. ya.. apa yang mau kau bicarakan?" kata zero, namun tiba-tiba akira duduk tersimpuh... "apa yang..." "maafkan aku... karenaku... kau kehilangan salah satu keluargamu... aku sungguh minta maaf..." ujar akira, matanya mulai berkaca-kaca. zero diam... awalnya ia merasa sedih, teringat apa yang terjadi, namun kemudian ia menguatkan hatinya... "walaupun sejujurnya aku masih tidak bisa menerima kematiannya, namun apa yang harus kulakukan.. hal itu sudah terjadi.. dan waktu tidak bisa diputar kembali... " "sungguh... bagiku kau dan zeus adalah penolongku... karna itu, jika kau masih marah, marahlah padaku.. dendamlah padaku... Aku mohon... apa yang harus kulakukan untuk menghilangkan rasa bersalahku ini..." kata akira menangis. mikha yang disana hanya melihat dari jauh. "berdirilah... (menarik tangan akira, agar ia berdiri)... kau tidak perlu minta maaf... keputusan untuk membantumu saat itu, benar-benar tulus dari kami, aku rasa, zeus juga akan mengatakan hal yang sama... aku juga tidak menganggap ini sebuah penyesalan.. namun ini adalah keserhanaan dan kesetiaan seekor anjing yang terlalu baik hati... sudah cukup dengan minta maaf... aku harap kau akan mengatakan terimakasih padanya..." ujar zero, matanya mulai berkaca-kaca. tiba-tiba, mikha muncul mengejutkan keduanya yang tengah bersedih. "jadi kita semua berteman sekarang... ayo kita rayakan..." ujar mikha, lalu menuangkan minuman dalam gelas masing-masing... "ayo bersulang, kita baikan sekarang.. dan mari berteman... ujar mikha, btw, minuman itu bukan alkohol, tapi minuman soda rasa jeruk lemon (sp**te, boleh nggak sih bilang merk, ( ╹▽╹ )). "zero... sekali lagi, aku minta maaf dan terimakasih... secepatnya aku juga akan ziarah ke makam zeus.." "..(dibalas senyuman)". mereka minum-minum sampe larut.. eh nggak taunya,. ternyata zero mabuk... (padahal jus jeruk lemon lho..). "apa kau sudah lega sekarang?" tanya mikha pada akira. mereka berada di beranda rumah. "walaupun rasanya masih mengganjal, namun kurasa bebanku berkurang... aku akan menjadi sahabatnya.. walaupun aku tidak bisa seperti zeus.. tapi aku akan menjadi sahabat terdekatnya..." "hei, kau lupa padaku? aku yang membantumu selama ini, kau tidak mau bersahabat denganku lagi?" "yah... setidaknya kau nomer 2 setelahnya..." balas akira, dan keduanya kemudian tertawa. "sudah lama kita tidak tertawa bersama seperti ini" pikir mikha kemudian melanjutkan meledek akira. "menginaplah disini.." ujar mikha. "aku pulang saja... aku bisa pesan taksi." "pesan taksi, berarti bayar juga... menginaplah disini.. besok kita berangkat sekolah bareng...." ujar mikha mengambil selimut untuk zero yang tidur di sofa. "... dasar licik..." kata akira kemudian menendang kaki mikha. mikha ketahuan bohong soal kakinya. "aduh!.. sakit tau!" "..." berbaring di sofa lainnya. "hei, kau tidur di ranjang saja.." "kau bereskan dulu kamarnya... aku minta selimut." "hei, kau pikir aku pembantumu ambil sendiri,. toh ini juga bukan pertama kalinya kamu ke sini.." mendengarnya akira bangkit, ia mengambil sesuatu di kantung jaketnya, memberikanya pada mikha, kemudian kembali berbaring di sofa. ternyata ia mengambil kertas yang di pajang di pagar halaman... yang bertuliskan : 'kamar disewakan hubungi no. 087879xxxxx' "tapi kau bukan penyewa... " ujar mikha namun tak di gubris akira... dan mikha pun kemudian pasrah. dia mengambilkan selimut, merapikan area ruang tamu (yang dipakai pesta tadi), cuci piring, dll. bahkan ia membereskan 2 kamar, yang di siapkan untuk zero dan akira... (mikha itu memiliki 60% sifat tsundere, selebihnya murni baik hati..). setelah selesai bersih-bersih, ia masuk ke kamarnya, rasa capek dan kantuk mulai melanda.. ia pun kemudian tertidur pulas. keesokan paginya... mikha terbangun karena mencium sesuatu.. "bau ini..." ia bangun, lalu bergegas ke dapur. benar saja, zero sudah duduk manis dengan berbagai hidangan sarapan di meja. "oh... pagi... terimakasih, memperbolehkanku menginap..." kata zero. akira juga sudah bangun., dan menyiapkan makanannya. "akira, kau buat ini semua?" tanya mikha lalu mengambil kursinya. "ya, aku yang bikin, tapi untuk zero.. ayo dimakan zero.. mumpung masih panas..." kata akira menggeser semua makanan yang enak-enak ke zero. "mmm... kurasa ini terlalu banyak untukku.. ayo kita makan sama-sama aja.." "tenang saja... di bisa bikin sendiri kok.. nggak perlu kuatir.." kata akira melirik ke mikha., mereka saling tatap, namun akhirnya mikha tersenyum... dia tertawa. "hahaha... rasanya sudah lama sekali... aku merasa selepas ini..." ujar mikha lalu bangkit dari duduknya, menuju dapur, dan berakhir dengan 'cupmen' alias indomie cup. ketika mau berangkat sekolah... "oh iya zero... kau tau tidak? minggu depan ujian, kau mau masuk sekolah apa masih mau cuti?" tanya mikha. "(zero terdiam)... mungkin aku akan berhenti sekolah... aku mau cari kerja saja" jawab zero. "kau yakin? tanggung lho... toh kalau kamu kayak gitu, kamu akan bikin tante nirina sama om fatir sedih.. apa kau tidak berfikir ke arah sana?" "aku belum siap menghadapi mereka." jawab zero, langsung masuk ke kamar yang memang sudah mikha sediakan untuknya. "hei memangnya ada apa? apa yang terjadi?" tanya akira. "..." mikha terdiam sejenak, ia berfikir... sepertinya akira sudah tenang dan terbuka dengannya, buktinya sekarang akira mengajaknya bicara duluan. "yah.. sepertinya masalah internal keluarga.. dan sebaiknya rahasiakan kalau zero ada disini.. beri dia waktu untuk berfikir dengan jernih.." "... kau baik sekali padanya..." "itu karena mama yang minta tolong,.. dengan bayaran.... tadahhhh.... moge" ujar mikha sambil pamer motor gedenya itu... "naiklah... ayo kita berangkat bareng..." lanjutnya memberika helm pada akira, namun akira tolak. "aku naik bus saja..." ujarnya, lagipula, akira harus pulang dulu, mengambil seragamnya. "sudah ayo... naik aja... kau mau terlambat? kau ada jam pagi kan?" "bagaimana kau tahu?" "aku tau semuanya..." ujar mikha kemudian memasangkan helm di kepala akira, menariknya ke bangku penumpang. "pegangan yang erat, aku akan ngebut.." "kita pergi dulu, " lanjutnya sebelum melajukan motornya. dalam perjalanan, akira bingung apa yang harus ia lakukan... haruskah ia berpegangan di bajunya mikha, namun akhirnya ia urungkan, ia memilih memegang body motor., namun, dengan liciknya mikha tiba-tiba rem mendadak... yang akhirnya membuat akira menabrak punggung mikha dan tangannya memegang pinggangnya mikha... mikha tersenyum, lalu menarik tangan akira agar berpegangan lebih erat. disisi lain.. zero tengah dikamarnya.. ia berbaring ditemani para anjing. dia hanya bengong, entah apa yang ia lamunkan sambil mengelus anjing-anjing. di sekolah... "pagi..." "yo.. " "sepertinya kamu lagi bahagia ya kha?" tanya teman sebangkunya, cindy. "keliatan banget ya?" "jelaslah.. kamu tu tipe yang mudah ditebak... aku kepo nih... apa yang bikin suasana hatimu membaik?" "rahasia... sudah lah... jangan ganggu aku dulu..." ujar mikha, mengambil bukunya, dan mengerjakan pr-nya. "dasar pelit.." kata cindy kemudian dia berbicara dengan teman lainnya, sedangkan mikha tersenyum sebentar lalu kembali serius ngerjain. "a.ki.ra!" ujar teo, teman sekelas akira merangkul dari belakang. "apaan sih..." "ohoo... sepertinya.. inilah akira yang kukenal... apa ada berita baik?" "mmm... yah.. bisa dibilang berita baik.. " "berita apa itu?" "... mmm... nggak ah... nggak jadi... sana kembali ke tempat dudukmu.." "hei hei... jangan bikin aku penasaran nih..." "permisi teman-teman semua... sebelum guru masuk... seperti yang udah aku share di grup kelas, kalau temen kita zero, sudah sadar dari komanya, beberapa waktu lalu.," ujar si ketua kelas, laily. "syukurlah..." "btw.. bukannya si zero ini sepertinya sangat diperhatikan di kelasnya?" bisik teo ke akira. "entahlah.. aku juga heran... padahal dulu kalau dikelas, dia sangat pendiam.. susah di ajak ngobrol, namun baru-baru ini dia jadi pusat perhatian.." kata akira. "permisi.. aku mau tanya... kenapa kalian sangat memperhatikan zero? padahal dia jarang berbicara di kelas.., dan dia juga menutup diri..." kata akira memberanikan diri bertanya. "emmm... kalau dibilang pendiam, mungkin sih.. tapi dia selalu berbicara jika di butuhkan...dan ucapannya selalu menenangkan hati.." "betul tuh.." kata yang lainnya. "dia sebenarnya memiliki kharisma yang mungkin dia sendiri nggak tau..." jawab yang lainnya.. dan hampir 70% anak-anak mengangguk, bukti kalau mereka setuju dengan pendapat itu... ~intermezzo singkat~ pernahkah para pembaca sekalian menonton anime handa-kun?, waine menggambarkan zero seperti handa-kun... namun tidak seheboh handa-kun... hanya karena sebagian besar teman sekelas zero adalah teman masa kanak-kanak zero yang notabene tau dan paham sifatnya zero... namun zero sendiri menganggap dirinya di asingkan, dia juga masih sering dibully,.. dan karenanya.. dia menutup diri pada orang lain.. ~intermezzo end~ dilain pihak, ke-3 pembuli (episode bdms) mereka memperlihatkan wajah kesalnya, kemudian meninggalkan kelas. tepat saat itu, guru masuk kekelas. "kelas mau dimulai, kalian mau kemana?" kata guru yang tidak digubris mereka.. entah apa yang mereka pikirkan... mereka sepertinya membolos sekolah dan pergi ke suatu tempat. ~EXTRA~ halo semuanya... waine desu... sebelumnya waine minta maaf, kalau episode ini laaamaaaaaa banget... karena banyak kerjaan dan dan waine sempet drop karena streesss berlebih... syukurlah dah membaik.. dan waine bisa melanjutkan cerita ini... btw.. terimakasih atas dukungan para pembaca sekalian... dukungan kalian sangat berharga untuk waine... sungguh terimakasih.. (っ˘̩╭╮˘̩)っ saat ini waine sudah memutuskan melanjutkan cerita ini sampai benar-benar selesai, ending, tamat. mungkin nanti akan sedikit terlambat namun waine akan tetap berusaha tepat waktu, target waine, cerita lanjutan akan waine update sekitar pertengahan bulan, syukur bisa lebih cepat, atau bahkan bisa lebih dari 1 episode dalam sebulan... amin... mungkin akan banyak waktu yang di butuhkan.. (~ ̄³ ̄)~namun mohon terus dukung ceritaku ini... terima kasih banyak.. (*^3^)/~♡dan sampai jumpa di episode selanjutnya o((*^▽^*))o...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN