"halo, dr. ardha? ini papanya zero."
"ya, ada apa pak?"
"begini, sepertinya zero berganti kepribadian siang ini.,"
"heh? lalu sekarang dimana zero?"
"kurang tau, tadi pergi buru-buru dengan ren. bahkan hpnya zero nggak dibawa..."
"oh, begitu... ngomong-omong bagaimana saya mengontak zero? sementara zero sendiri nggak bawa hpnya?"
"saya ada nomer hpnya ren, dokter bisa hubungi dia saja... nanti saya kirimkan." pak fatir belum tau kalau dr. ardha dan ren itu, saudara kandung.
"ya siap pak, terimakasih infonya. ditunggu ya pak, terimakasih." kata dr. ardha menutup teleponnya.
"ada pa?" tanya kekasihnya dr.ardha.
"si zero berganti kepribadian", ujar dr.ardha memakai piyama tidurnya, lalu mengambil minum.
(W : btw, mereka itu abis xxxxxxxx, maaf ye ngganggu...hihihi ~dimasukkan karung, dibuang ke kali serayu~ W : help...)
~kembali ke pohon... eh?~
dr. ardha memeriksa hpnya, nomer ren masuk, dengan segera, ia menelpon ren.
sementara itu,...
"hei, ini bukan jalan pulang.." kata zerobi ke ren si sopir.
"aku ingin membawamu ke suatu tempat..." ujar ren.
"tapi aku nggak mau, aku mau pulang." kata zerobi, lalu mencoba merebut kemudi di jalan raya besar. mobil pun menjadi oleng kesana kemari, dengan kesal, akhirnya ren menghentikan mobilnya di bahu jalan.
"apa kau gila?! kau mau mati?!" kata ren marah dengan sikap zerobi.
"aku bilang, aku mau pulang!"
"kenapa kau begitu keras kepala! aku mencoba menghiburmu, malah ini yang aku dapatkan?!"
"(kesal dengan ren, zerobi membuka pintu, ia keluar mobil dengan barang-barangnya. ia berjalan berbalik arah, sepertinya ia mau pulang dengan jalan kaki)"
"zerobi! apa-apaan kamu ini, masuk ke mobil!" ujar ren mengejar zerobi kemudian menarik tangannya agar masuk ke mobil.
"(menghempaskan tangannya, memandang ren sebentar, lalu kembali melanjutkan jalannya)".
"dasar bocah sialan itu..." umpat ren. kemudian ia masuk ke mobil lalu berbalik, mengikuti zerobi.
"diiinnn...(klakson mobil dibunyikan)"
"masuk kemobil, aku akan mengantarmu pulang" ujar ren mengalah.
"(cuek, melanjutkan jalannya)"
"...." ren memotong langkah zerobi dengan mobilnya, ia keluar kemudian menyeret zerobi masuk ke mobilnya. awalnya zerobi masih menolak, tapi karena ren memaksa (ia terlihat marah), akhirnya zerobif masuk dalam mobilnya. ia kemudian melajukan mobilnya tanpa berkata-kata apapun.
sepanjang jalan, hanya diam dan kesunyian... masing-masing dari mereka nggak ada yang mengalah, hingga akhirnya telepon ren berdering. ren lihat itu adalah nomor baru, khawatir kalau orang penting yang menghubunginya, ia pun mengangkat teleponnya (di speaker, karena ia lupa nggak membawa headset)
"ya halo, siapa ya?" tanya ren.
"ini hyungmu.. ardha... ada yang perlu aku bicarakan denganmu dan zero, sekarang kalian dimana?" mendengar kakaknya yang berbicara, membuat ren kaget, ia tiba-tiba mengerem mobilnya (untung jalanan nggak begitu ramai), kemudian ia lanjut menyetir lagi.
"..."
"kalian dimana? aku akan menjemput kalian.." ujar dr. ardha.
"...."
"kenapa nggak di jawab.." kata zerobi membuka pembicaraan..
"(dengan buru-buru, ren menutup teleponnya)"
"...(kembali hening)"
"dasar ini anak... " keluh dr. ardha, kemudian ia mengotak-atik hpnya,. sepertinya ia menyalakan pelacak nomer hp.
"hei, nggak seharusnya kau begitu.. kasih dia privasi..." ujar pasangannya yang kemudian memeluknya dari belakang.
"privasi sih privasi, tapi ini keadaan darurat, pasienku ganti kepribadian yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan padaku, dokternya, penanggungjawabnya... tentu saja aku penasaran, apa aku salah?" ujar dr.ardha, sambil mengambil handuk,. hendak mandi.
"kamu benar mau menemui mereka?"
"ya pastilah... sudah kubilang, aku dokternya."
"..."
setelah mandi, berpakaian, dan siap-siap otw...
"lho, kamu mau pergi juga?" tanya dr. ardha yang melihat kekasihnya itu sudah rapi.
"tentu, aku kan dah bilang kalau aku dapat shift malam...lagipula, aku penasaran, anak seperti apa zero itu" ujar kekasihnya itu.
"ayo masuk" ujar kekasihnya itu sambil membuka pintu mobil.
"kamu ketemuan dimana?" tanyanya sambil bersiap mejalankan mobil.
"umm, amannya, di rumah zero saja." jawabnya dan langsunglah mereka tancap gas menuju rumah zero.
sesampainya disana (dirumah zero)...
"katanya kerja..." ujar dr ardha, melihat kekasihnya ikut turun dari mobil.
"yah... hanya sebentar kok.. " udah penasaran tingkat dewa.
" ya sudah, ayo masuk... hanya sebentar kan?"
"mm" jawabnya kemudian masuk ke rumah zero.
>>tok tok tok
"permisi... om fatir."
"kau memanggilnya 'om'?" bisik pacarnya.
"jangan ributkan hal sepele.." sanggah dr. arda.
"oh, dr. ardha, silahkan masuk.." sapa om fatir.
"maaf om, zero dan ren sudah pulang?"
"belum tuh, oh, ayo masuk dulu..." ujar om fatir mempersilahkan mereka masuk.
"lho, om mau ada acara? kok udah rapi?"
"iya, mau njemput istri dan rui di bandara.."
"oh, begitu, saya minta maaf om, kalau mengganggu"
"tentu saja tidak, dr. sudah om anggap seperti keluarga sendiri, malah om yang harusnya berterimakasih, karena dokter mau kerumah buat ngobatin zero, putra kami..."
"terimakasih kembali om... sekali lagi, maaf mengganggu waktu om sebentar.." ujar dr. ardha berbasa-basi.
"by the way, apa dokter tidak menghubungi nak ren?" lanjut beliau.
"saya sudah menghubunginya, tapi mungkin sinyalnya buruk, jadi teleponnya mati.."
"oh gitu, coba om telepon dulu... lagian, zero juga nggak bawa hpnya..." ujar om fatir kemudian menelpon ren. dan ren pun mengangkatnya.
"ya, om, ada apa?"
"kalian ada dimana? ini dah malam lho, inget waktu..., zero di mana? bisa bicara dengan zero?"
"ya..." ujar suara diseberang.
"halo... papa..."
"uh, zero, dimana? papa khawatir sama zero, kenapa gak bawa hp juga..."
"maaf pa.. zero tadi buru-buru, jadi zero lupa..."
"ya dah deh, sekarang dimana?"
"ini lagi di jalan, on the way pulang..."
"oh, ya udah, cepet pulang, jangan mampir-mampir... ini ada tamu yang mau ketemu..."
"eh? siapa?"
"dah, pokoknya, cepetan pulang ya..."
"ya dah deh,.. iya.."
"oke, papa tunggu.." ujar om fatir kemudian menutup teleponnya.
"seperti yang dokter dengar, dia sedang perjalanan pulang... "
"ya, trimakasih bantuannya om.."
"ya sudah.., saya tinggal dulu, karena mau njemput istri sama rui..."
"lhoh, memangnya mereka dari mana?"
"kalau istri, ada tugas studytour, kalau rui mah, cuma ikut-ikutan, liburan... ya sudah, anggap rumah sendiri,. om tinggal dulu."
"ya om... terimakasih." ujar dr. ardha.
sepeninggal om fatir, kekasihnya hanya bengong, dengan yang ia lihat.
"hei, bukankan keluarga ini aneh?" tanyanya.
"apanya yang aneh?"
"masak iya, kita kan bukan 'kerabat dekat' mereka, tapi beliau mempersilahkan kita buat tinggal disini, dan nggak ada siapapun disini... bukankah seharusnya mereka berhati-hati?"
"mereka, satu keluarga, seperti itu semua.. mereka itu easy going to other people yang sudah mereka kenal,.. dulu awal aku kenal keluarga ini, aku juga gak habis pikir dengan mereka, tapi akhirnya.... ya sudahlah... memang seperti itu mereka... nanti juga kamu bakal easy going juga..."
"tapi tetep aja, seharusnya mereka ngga mudah percaya gitu sama orang lain...".
"btw, jadwal kerjamu kapan? ini udah hampir jam 8 lho..." lanjut dr. ardha.
"oh, iya, lupa... nggak papa nih, aku tinggal.. yakin?" kata kekasihnya.
"nggak apa-apa..."
"beneran... nih aku tinggal..."
"iya... udah sana kalo mau pergi.." "ya dah... aku pergi dulu deh,.. salam buat mereka ya..." ujar kekasihnya itu, sebelumnya tengok kanan tengok kiri, lalu mencium kening dr. ardha. dr. ardha pun jadi tersipu malu.
>>cekreekkk
(tanpa disadari, ada yang melihat mereka)
"tidak seharusnya kalian melakukan hal itu dirumah orang.." kata ren yang kemudian merebut hpnya, mencari foto yang diambil zerobi, kemudian menghapusnya.
"hei..."kata zerobi yang kaget dengan yang dilakukan ren.
"oh.. maaf.." kata keduanya malu. "sesuai janji, aku dah mengantarmu pulang, jadi aku juga mau permisi.." kata ren namun di tahan zerobi.
"bisakah kita ngobrol sebentar?" ajak zerobi. dan ketiganya nggak bisa berkutik. layaknya mama tiri, teh dan cemilan sudah ia sandingkan di meja, ia hanya memperhatikan ketiganya.
"ehem... sebelumnya, biar aku memperkenalkan diri. aku sudah mendengar sedikit tentangmu, anda dr. ardha, dokter kami.. benarkan? aku kepribadian yang lain, zerobi, salam kenal."
"ya, salam kenal, saya dr. ardha, dokter pj-mu." jawab dr. ardha gugup..ia sadar, memang zero yang ini memiliki kharisma yang berbeda dengan zero yang sebelumnya.
"lalu anda?" tanya zerobi pada pria disebelahnya.
"aku...(terhenti sejenak, mencari alasan, namun sepertinya sudah tidak mungkin mengelak)... aku suami ardha, namaku Kang Gu la, kami sudah menikah.." jawabnya sambil menunjukkan cincin yang ia pakai.
"ohooo..." melirik ke arah ren, dan ren pun buang muka kearah lain..
"...."
"oh, jadi kalian dah menikah... pantas saja... namun kalau boleh aku saranin,.. lain kali... jangan lakukan itu di kening... lakukan di bibir..." kata zerobi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari ren.
"(mendengar jawaban mengejutkan zero, gu la hanya tersenyum)... baiklah... btw... kalian.. silahkan dilanjutkan... aku ada kerja.. dan ren, kuharap kita bisa kembali akrab seperti dulu... aku permisi dulu..." kata gu la lalu meninggalkan tempat introgasi.
sepeninggal kang gu la, mereka kembali terdiam.
"mm.. btw, ada perlu apa dr. kemari malam-malam...?" tanya zerobi.
"tentu saja., kau pasienku.. masak aku sendiri nggak tau saat kau ganti kepribadian..."
"ohh gitu... dan ren, kenapa kau diam aja?"
"sepertinya, aku nggak dibutuhkan disini, jadi aku mau pulang saja.."
"eits... masih banyak yang ingin aku bicarakan,.." kata zerobi sok baik. kan mereka baru aja bertengkar, tapi gegara melihat tingkah ren yang aneh saat melihat saudaranya, ia pun mulai mengaktifkan devilmode..
"sudah, sini duduk dulu..." kata zerobi memaksa ren untuk duduk.
"kalian sudah saling kenal?" tanya dr. ardha.
"ya begitulah... diantara kepribadian yang lain, bisa dibilang, aku yang paling berani padanya.." jawab zerobi, sementara ren hanya diam saja.
"sedekat apa hubungan kalian?"
"mmm... kurang lebihnya... yaahh... tom and jerry..."
"ohh... bukankah itu artinya kalian berteman?"
"mmm... mungkinkah? aku rasa nggak gitu,. lebih seperti tuan dan peliharaan" kata zerobi menunjuk dirinya kemudian ke ren.
"tapi ngomong-ngomong nih... kenapa hubungan kalian buruk?" selidik zerobi pada dr. ardha.
"udah ku bilang, jangan ikut campur urusan orang.." potong ren.
"bukannya kau duluan yang ikut campur urusanku?" balas zerobi.
"yahh.. alasannya sih sudah bisa ditebak, tapi nggak seharusnya aku membicarakannya disini" jawab dr. ardha.
"okey... kembali ke perbincangan kita.." kata dr. ardha.
"bisakah kamu jelaskan masing-masing kepribadian? kemarin, zero yang satunya pernah cerita, bahwa kalian juga kadang seperti rapat, berkumpul bersama gitu.. apa itu benar?" lanjut beliau.
"hmmm... walaupun kukatakan pun, itu nggak akan berguna."
"apa maksudmu?"
"masing-masing dari kami masih ingin hidup... tidak ada satupun dari kami yang menginginkan peleburan... "
"kenapa?"
"mm... kalau ditanya kenapa... yang bisa kukatakan... itu kehendak kami.. kau kira kami saling mengisi untuk jadi lebih kuat? tidak, kami mengisi porsi kami masing-masing.,"
"coba kau pikirkan kembali... kau memiliki satu tubuh dengan 3 kepribadian yang berbeda, apakah menurutmu itu benar? manusia hanya memiliki satu kepribadian dalam tubuhnya, walaupun memiliki banyak sifat." ujar dr. ardha mencoba ngubah cara pikir zerobi.
"... maaf memotong bentar... aku mau pulang dulu saja... besok ada kegiatan pagi... jadi aku permisi..." kata ren memotong pembicaraan mereka, lalu bergegas mengambil barang-barangnya, dan pergi.
"yah.. karena sudah malam juga... aku mau tidur..." ujar zerobi.
"eits... pembicaraan kita belum selesai."
"tapi bagiku dah selesai... sudah ahh... aku capek mau tidur.." ujar zerobi kemudian meninggalkan dr. ardha.
awalnya dr. ardha sedikit kesal dengan sikap zerobi, tapi mau gimana lagi, akhirnya ia memaklumi, karena memang sudah malam sih... sebelum pergi, ia pamitan (dengan teriak), entah zerobi dengar atau tidak.
Tak berapa lama, suara ramai terdengar di lantai bawah, mama dan rui sudah pulang, zerobi yang mendengarnya, turun untuk menyambut mereka...
"zero.. mama pulang..." sapa mama kemudian memeluk zero.
"mm... selamat datang, " jawab zero kemudian memeluk rui juga.
"ini oleh-oleh buat zero... semoga suka..." lanjut mama sambil memberikan beberapa kantong kertas yang lumayan berat, ntah apa isinya.
"rui juga punya oleh-oleh buat kak zero tapi nanti dikamar aja..." kata rui membisiki telinga zero, zero merasa aneh dan kemudian mundur sampai ke jarak amannya...
adegan berubah, ketika rui dah standby d kamar zero. rui duduk di ranjang dikelilingi beberapa kantong kertas oleh-oleh.
"ehem... ini semua buat kakak..." kata rui dengan pedenya.
"buat aku? darimana kamu dapat uang dan belanja segini banyak cuma buat aku?"
"tenaaang... rui jamin uang rui halal, jadi kakak santai aja..." ujar rui menyombongkan diri. sementara itu, zero melihat apa isi kantong itu.
"apa-apaan ini! bawa kembali! aku nggak mau! titik!" kata zero marah begitu tau apa isi kantong itu.
"lho kak... ini spesial rui pilihin buat kakak.. nggak masalah kan, sekali-kali kakak tampil beda.." ujar rui ngeles.. yah... bisa ditebak, yang rui kasih buat oleh-oleh, ya benar, beberapa setel baju, tapi untuk pasangan plus aksesorisnya,.. padahal zero bahkan nggak punya gebetan... sementara rui menjelaskan detilnya, zero melihat, satu wadah yang besar namun tipis... ia penasaran dan membukanya... ternyata isinya...
"sejak kapan kamu suka kayak gini?" tanya zero sambil melemparkan buku itu kearah rui..
"kakak.. ini barangku, punya kakak yang itu.." uja rui mengambil buku itu dan merasa kesal karena kakaknya buka barangnya sembarangan.
"sejak kapan!" ulang zero yang mulai meninggikan suaranya. merasa terintimidasi, rui duduk bersimpuh dihadapan zero...
"aku masih baru, mungkin sekitar 5 bulan yang lalu.." jawab rui. buku yang dimaksud adalah beberapa buku komik dengan sampul gambar 'tali-temali sesama pria'.
"lalu... apa ini?" menunjuk ke salah satu buku namun sampul gambarnya itu lho.... adalah foto zero, ren, dan mikha yang pernah rui minta.
"itu hanya fan fiction biasa"
"kau fujoshi?"
"nggak juga kok kak.. aku cuma suka adegan kayak gitu..." ujar rui memainkan jarinya sambil memalingkan muka, tidak berani menatap rui.
"kakak akan musnahin nih semua barang bukti."
"kakak apa-apaan sih, rui bikinnya udah susah payah, eh mau di ancurin.. enak aja nggak boleh!" ujar rui lalu berusaha mengambil bukunya itu, tapi gagal karena keduluan kaki zero yang berakhir masuk ke kolong ranjang.
"kakak... balikin...." rengek rui, dan yang terjadi malah rui ditarik keluar dari kamar zero, kemudian zero mengunci pintunya.
"KAKAK! BUKA PINTUNYA! BALIKIN! ITU PUNYA RUI!" tereak rui sambil gedor-gedor pintu kamar.
"RUI! INGAT TETANGGA!" kata mama mengingatkan (yang juga dengan tereak) dari lantai bawah (btw, rumah pak fatir itu 2 lantai, namun lantai atasnya agak rendah).
"tapi kakak maa... ngambil barangnya rui..." kata rui ngadu..
"zero, balikin punya rui!" kata mama dengan nada agak keras.
"dia duluan yang mulai!" balas zero.
"HEI INGAT! MALEM! JANGAN BERISIK!!" bantah tetangga sebelah yang membuat mereka bertiga diam.
"kakak... rui mohon..." ujar rui dengan nada sedihnya, menunggu didepan pintu... namun tetap nggak ada jawaban.
zero, yang kesal, nyuekin rui dan buku yang ada di kolong ranjangnya...
namun akhirnya dia bangkit, dan mengambil buku itu. sejenak dia nggak yakin, namun akhirnya ia membuka buku itu (yang bersampul foto zero, ren, dan mikha), dengan acak, dan dia membaca beberapa potongan tulisan disana...
~"aku minta maaf... aku mencintai mu... dan aku juga tidak bisa meninggalkannya.." ujar zero menghentikan langkah mikha.
"namun aku tidak mau berbagi dengannya.. kau milikku seorang..",
"maafkan aku... aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua.. bisakah kita bersama?.." ujar zero yang mulai menangis, melihat seperti itu, mikha iba, dan kemudian menarik zero dalam dekapannya.."~
"huweeeekkkkk.... (muntah)" pikir zero membaca beberapa tulisan itu...
"apaan sih yang ada dipikiran bocah itu, bahkan dia memakai namaku juga, tanpa seijinku pula" ujar zero jengkel kemudian melempar buku itu ke tempat sampah.
namun beberapa jam ia berpikir, akhirnya ia mengambil kembali buku itu.
"walaupun ini pelanggaran, tapi rui menulisnya dengan baik, yah tidak seharusnya aku mengejeknya.." pikirnya sambil mengelap dan merapihkan buku itu, dengan maksud mau di kembalikan.
keesokan paginya,...
"rui, didalamkah?" panggil zero sambil mengetuk pintu kamar rui, namun tak ada jawaban, dan ketika pegang ganggang pintu, ternyata nggak di kunci..
"aku masuk ya..." ujar zero nyelonong masuk.
namun benar saja, kamar itu kosong, nggak ada siapapun..
zero memandang sekeliling, sambil berjalan ke arah meja belajar rui, dan meletakkan bukunya (namun untuk berjaga-jaga kalau mamanya masuk, ia menyimpan buku itu dibawah bantalnya.
tidak sengaja, ia melihat laptop yang masih menyala dan disana ada foto yang mungkin sedang diedit rui, dan sekali lagi, itu foto ren dan mikha. penasaran melanda, zero pun kemudian membuka folder penyimpanan itu... banyak sekali foto mikha, ren, dan zero...
"apa yang kau lakukan!" teriak rui yang baru masuk kekamarnya (rui baru balik dari market), langsung mendorong kakaknya menjauh dari laptopnya dan menutup laptopnya.
"kenapa bisa kau punya itu semua?" tanya zero
"ini milikku, mereka memperbolehkanku.."
"tapi tidak denganku... hapus semua foto yang ada akunya.."
"nggak mau.."
"aku bilang hapus..."
"nggak mau! kenapa kakak begitu bersikeras! apa ini kakakku? kak zero tidak seperti ini.. kau bukan kakakku!" teriak rui yang marah sambil menangis. sementara itu, mama dan papa yang mendengar pertengkaran kami langsung menuju TKP.
"ada apa ini,,, pagi-pagi sudah ribut-ribut..." ujar papa.
"pa, ma, aku nggak tau dia siapa... dia bukan kak zero yang aku kenal... kembalikan kakakku, kak zero yang dulu... aku nggak mau punya kakak sepertinya.. " kata rui tiba-tiba yang membuat seisi ruangan itu terdiam..
"rui, kamu bicara apa nak.. di kakakmu... zero.." ujar mama menenangkan..
"bukan... dia bukan kak zero..."
sementara mama membujuk rui, papa inisiatif membujuk zero.
"zero... maafkan sikap rui, tapi ada apa? tidak biasanya kalian bertengkar hebat kayak gini... cerita sama papa..."
"(zero terdiam.. sejenak ia memandang rui yang menangis...). nggak apa-apa kok pa... ini salah zero.." ujar zero kemudian pergi, kembali kekamarnya.
di kamarnya zero merenung... walaupun zero tau kalau dia anak adopsi, tapi mendengar rui bilang seperti itu membuatnya kaget, membatu tak percaya, ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang terluka.. walaupun ia sendiri nggak tau kenapa... rasanya menyakitkan...
dititik inilah zerobi mulai berfikir... kalau dia bukan siapa-siapa di keluarga ini, bahkan setetes darahpun nggak ada hubungan apapun dengan mereka... tak sadar, airmata mulai menetes... dan inilah pertama kalinya zerobi menangis untuk dirinya sendiri...
"zero... papa mau bicara... buka zero.." ujar papa sambil mengetuk pintu kamar zero. berusaha menerobos, namun pintu terkunci.
"zero... zero... kalau pintunya nggak dibuka, papa buka paksa lho ya..." ujar papa, kemudian pergi mengambil kunci cadangan.
"zero.. jawab papa".
"...."
"(tanpa babibu lagi, papa menggunakan kunci cadangannya, dan pintu terbuka)... zero..."
pak fatir melihat sekeliling, zero nggak ada di sana, barang-barang masih ada, namun jendelanya terbuka lebar... perasaan pak fatir bercampur aduk... ia menuju jendela, melihat sekitar...
"mama... ma! zero nggak ada!" teriak papa... mendengar teriakan itu mama bergegas ke kamar zero, rui sejenak terdiam, namun akhirnya ia mengikuti mamanya, ke kamar zero.
"pa... ada apa... apa maksud papa..."
"papa pikir... zero kabur dari rumah..."
"mungkin dia hanya sembunyi... zero, ayo keluar, mari bicara baik-baik" ujar mama kemudian mencari zero di seluruh ruangan itu, namun tak ada apapun, hpnya pun ada di mejanya...
".... tidak mungkin... papa yakin dia kabur... ini lantai dua lho pa... nggak mungkin zero lompat... " merasa khawatir, mama langsung lari ke lantai bawah, mencari di sekitar rumah... namun tak ada jawaban apapun... papa pun mengikuti mama, beliau mencari di luar rumah, menanyakan pada tetangga dan orang yang lewat,.. dan memang ternyata ada beberapa orang yang melihat seorang bocah dengan pakaian piyama lari kearah kota, tanpa menggunakan alas kaki, dan sepertinya anak itu menangis. mendengar itu... pak fatir sejenak membatu, kemudian ia berlari kembali, memberitahu istrinya tentang hal itu, dan istrinya menangis...
"kita harus lapor polisi pa... " ujar mama kemudian masuk kerumah mengambil kunci mobil, dan tancap gas ke kantor polisi.
sementara itu, rui bengong di kamar kakaknya...
"aku nggak salah... kakak duluan yang mulai..." ujar rui yang masih kesal, kembali ke kamarnya. ia duduk di ranjangnya mengambil bantalnya. disanalah ia melihat buku karangannya yang kemarin disita kakaknya.
"kenapa ini disini?" pikir rui, mengambil buku itu, ia membuka buku itu, dan sepertinya masih bagus, nggak ada yang sobek, rusak, ataupun hilang.
"tidak mungkin..." pikir rui...
"kenapa aku mengatakan itu.... rui minta maaf... maafkan rui yang memakai nama kakak sebagai karakter dalam imaginasi rui..." kata rui.
"... benar juga..." ia teringat, ketika tadi ia bertengkar... ia sedikit mendengar papa meminta zero untuk cerita apa masalah mereka hingga sampai bertengkar seperti itu., namun zero tidak menjawabnya kemudian berlalu pergi...
sambil memeluk bukunya itu, rui menangis...
"maafkan rui kak..." lanjut rui, merenungi kesalahannya.
~~INTERMEZZO EXTRA~~
sebelumnya, mohon maaf karena lamaaa nulisnya... lagi moodie sih.. maaf. dan maaf juga... sepertinya kehidupan sekolah zero harus diundur untuk sementara waktu heheheh... mian..
dan terimakasih untuk pembaca sekalian yang masih setia menunggu updatetan cerita ini.. terimakasih banyak... dan terus dukung cerita ini ya... terimakasih...
\(^o^)/
oia lupa,. disini nama zero aku pakai buat yang kekeuh kalo zero hanya satu, tapi saat sama ren dan dr. ardha yang sudah tau kepribadiannya, yang aku pakai nama mereka (zee, zerobi, atau zero), sementara rui dan mikha, ia paham ada perbedaan kepribadian namun belum yakin, karena itu, mereka menganggap 'zero' ya 'zero'.. nggak ada zero lainnya.. jadi intinya,. dalam satu episode ada banyak sudut pandang, termasuk sudut pandang penulis sendiri... maaf ya kalau jadi bingung...
kalau mau ngasih masukan saran atau kritikan yang membangun, boleh kok... pembaca sekalian boleh menulisnya di kolom komentar (btw,.. ini ada kolom komentarnya kan?... ).. okey... itu saja... sampai ketemu di episode selanjutnya... bye bye....