in memorian

2596 Kata
"kau sudah tenang sekarang?" tanya mikha pada akira yang sedang menyeruput teh chamomile. seperti terbalik, mikha yang tamu malah yang menyuguhi akira minum, bak rumah sendiri. "mm.." jawab akira. ".... sebelumnya aku minta maaf, kalau aku terlalu ikut campur. tapi, ini sudah masuk tindak kriminal, kenapa kau diam saja!" kata mikha membuka pembicaraan. "...." tidak menjawab. "....(bingung mau bilang apa lagi..)" untuk sejenak terdiam. "apa kau sudah ke rumahsakit?" "(menggelengkan kepala, menunduk)" "..... apa kau tau siapa dalang dibalik ini semua?" "(menggelengkan kepala)" "sigh (menghela nafas), kalau kau seperti itu, bagaimana aku bisa membantumu?" "apa kau... mungkinkah... kau menjadi phobia dengan laki-laki? apa kau jadi takut padaku?" "...." "apa keberadaanku disini membuatmu takut?" ujar mikha sambil menurunkan nada bicaranya. "... tidak, karna aku mengenalmu sejak lama.." "kau tau, kita berteman sejak kecil, jadi kumohon, cerita padaku dan percayalah padaku.. aku akan membantumu.." "..." "aku minta maaf, jika pernah menyakitimu, tapi aku tidak bermaksud begitu, aku cuma ingin, kita berteman lagi.." "... apa hanya itu?" "tentu saja., memang apa lagi... kita berteman baik sebelumnya, tapi karena aku pindah sekolah dulu, dan karna seojin, kau menjauhiku." "bukan begitu, aku tidak bermaksud menjauhimu, hanya saja.... " "kenapa? apa ada alasan lain kau menjauhiku?" "... sebenarnya..." belum selesai bicara,... dipotong seseorang... "tadaimaaaaa......." kata miyako sepulang kerja. "okaeri..." jawab keduanya. "ohh... kau masih disini? syukurlah... nih aku bawain macaroon buat kalian..." kata miyako meletakkan barangnya, kemudian mengambil piring dan sendok lalu menyandingkannya dimeja. "...." "lhah, kenapa diam aja... ayo silahkan dimakan, itu macaroon kesukaan akira,. akira juga... ayo dimakan, kakak mau mandi dulu ya... ayo jangan sungkan..." katanya kemudian pergi kekamarnya. ".... ehem... apa yang ingin kau bicarakan?" tanya mikha. "...tidak jadi... kamu pulang saja." jawab akira, kemudian naik kekamarnya, meninggalkan mikha yang bengong dengan sikap akira yang tiba-tiba. "... aku pulang dulu, kita lanjutkan besok.." ujar mikha kemudian pergi dengan sedikit kesal. sementara itu di tempat lain... "hah hah hah.. (kehabisan nafas) zero, kembali, ayo belajar!" teriak ren pada zero. zero lagi main kejar-kejaran sama leo, disusul ren, tapi ren kalah.. KO. "bwee..." mengejek ren. kemudian kembali bermain. ketika sedang bermain., terdengar suara dari pintu gerbang. "permisi..." tanya orang itu "siapa ya, ayo kesana..." kata zero mengajak leo, sementara ren masih tepar di sofa, kepanasan. "oh., kau." "apa maksudnya 'oh kau', buka pintunya... ini jadwalmu terapi.." jawab orang itu, yang tak lain dan tak bukan adalah dr. ardha. "nggak mau blweeek.." jawab zero meledek dr. ardha lalu kabur tanpa membuka pintu gerbang. "yaaa!!" teriak dr. ardha. sepertinya hubungan zero dan dr. ardha membaik, sudah seperti kakak adik gitu... tak berapa lama, datang ren, yang membuka pintu gerbang. "..." "trimakasih.." ujar dr. ardha. "kurasa kau semakin dekat dengan zero.." lanjut dr ardha. "bukan urusanmu." jawab ren, menutup gerbang kemudian meninggalkan dr. ardha. di dalam rumah... "oh, dr... silahkan duduk..." sapa pak fatir mempersilahkan duduk. "zeronya lagi main sama leo tuh.." lanjut pak fatir. "iya, tadi saya bertemu dengannya, dan masih seperti biasa. dan ngomong-omong,. bolehkah saya menemui zero., kebetulan, hari ini saya free, jadi saya bisa bicara banyak dengan zero." "oh ya, silahkan, saya juga ada mau ada rapat nanti, silahkan... anggap rumah sendiri... saya tinggal dulu.." ujar pak fatir meninggalkan dr. ardha. setelah itu, dr. ardha menemui zero yang tengah asik dengan leo. "zero... bisa kita bicara sebentar aja.." "..." mlengos (bahasa indonesianya kalau nggak salah itu 'buang muka'), menjauh. "biarkan saja, ntar juga berhenti kalo dah capek." kata ren tiba-tiba. kaget dengan yang dikatakan ren, dr. jadi beralih ke ren. "ren., bagaimana keadaan papa dan mama?" tanya dr. ardha. "kenapa nggak nanya sendiri ke orangnya?" jawab ren ketus. "kau kan sudah dewasa, kau tau dan mengerti kondisi kami kan?.. aku nggak berani menanyakan langsung..." "... mereka baik-baik aja,. mereka ada diluar negri sekarang" "syukurlah kalau mereka baik-baik saja. lalu, kau sendiri gimana? aku dengar, kamu sakit, sakit apa? dah sembuh?" "...." "(hening, karena ren nggak menjawab)" "... (sunyi)" keduanya nggak bicara satu patah katapun... hingga akhirnya zero datang. "kenapa kalian masih disini? ini jadwalku tidur siang.." kata zero tiba-tiba. "bahkan kita belum bicara, apa maksudmu tidur siang... sini duduk dulu, kita bicara..." elak dr. ardha. "zeus, ayo kembali kekamar..." ajak zero ke leo, nyuekin dr. ardha. "... anak itu ya..." ujar dr ardha kesal dengan sikap kebocahan zero. "ren, bisa minta tolong nggak?" "..." "ini ada pulpen rekam, dan ini naskah pertanyaan buat zero... minta tolong ya... tanyain ke zero." "ogah.." jawab ren yang juga meninggalkan dr. ardha. dr. ardha yang melihat sikapnya itu, hanya bisa geleng kepala. dr. ardha sesampainya di rumah... "aku pulang.." kata dr. ardha melepaskan barang-barangnya kemudian rebahan disofa. "kebiasaan deh., mbok yaO taruh ditempatnya." kata seseorang yang memungut barang-barang dr. ardha dan menaruh di tempatnya, sebelum akhirnya ia duduk disamping dr. ardha. "hyung,.. kok masih dirumah? libur juga?" tanya dr. ardha. "tidak, aku dapat sift malam hari ini sampai seminggu kedepan. bagaimana tadi? lancar?" jawab pria itu. "yah... lancar sekali... bahkan mereka mengabaikanku..." keluh dr. ardha. "siapa? zero? atau ren?" tanyanya. "ya mereka berdualah.. padahal aku sempatin kesana, eh, malah gitu... mending tadi kita nge-date aja..." "aigoo... uri ardha... naega bogoshipo?" ujarnya kemudian mencium bibir dr. ardha, kemudian dibalas cium dr. ardha dan terlihat cincin melingkar di jari manis pria itu, sementara cincin serupa terpasang sebagai liontin kalung di leher dr. ardha. sementara itu, ternyata ren belum pulang, ia menghampiri zero yang tengah rebahan, main hp. "ya.. apa kau mau seperti ini terus? kau ingin orang tuamu sedih?" "(meletakkan hpnya), kenapa kau bahas itu?" "apa kau sadar? sikapmu ini... sungguh diluar dugaan. kau mengiyakan apa yang dikatakan om dan tante, tapi begitu mereka berbalik kau seakan tak menggubrisnya." "(terduduk)... kenapa kau campuri urusanku? apa kau suka aku?" kata zero tiba-tiba. "tch... yang benar saja..." jawab ren. "eh, ah, maksudku, bukan begitu..." lanjut ren. ren lupa kalau yang ia hadapi sekarang adalah si anak-anak zero, dia pasti salah paham. "oh.. gitu ya... tidak ada yang menyukaiku... haha" kata zero dengan mata berkaca-kaca. "dengar dulu, aku belum selesai bicara.." "ya, benar aku tidak diharapkan, apa kau ingin aku menghilang?" kata zero memandang ren dengan airmata yang mulai mengalir, menangis. "aku bilang bukan begitu... aku minta maaf, aku nggak bermaksud mengatakan itu." "hiks.. huweee...." mulai menangis. "maaf... sudah, jangan nangis"... mulai iba. "(leo bangun dari tidurnya menghampiri zero yang menangis)" belum selesai menangis, tiba-tiba zero seperti kaget akan sesuatu, dan setelahnya, ia jatuh pingsan. "zero... bangun... zero... bagaimana ini,..."ren bingung, ia bergegas keluar kamar, menuju ruang kerja pak fatir. "om fatir,."panggil ren. "oh, nak ren, ada pa?" "om... zero... zero... dia pingsan..." kata ren mengabari om fatir. om fatir yang mendengarnya, juga tambah panik. ia menelpon 119 dihpnya, sambil mereka menuju kamar zero. tapi begitu sampai dikamarnya, ternyata zero sudah berdiri, didekat jendela, memandang jauh keluar jendela. melihat keadaan dirasa aman, pak fatir membatalkan teleponnya. "zero, kau tidak apa-apa?" tanya pak fatir menghampiri zero dan melihat keadaannya. "mm... aku baik-baik saja.." jawab zero. "kau? bukan zero.." kata ren tiba-tiba. (menyadari perbedaannya). "mm.. aku zero yang lain,. zerobi-yeyo..." "... zero... zero tetap lah zero, putraku." ujar pak fatir, kemudian memeluk zerobi. "siapapun zero, zero tetap putra papa... kata zerobi sambil memeluk papanya itu. "udahan ah.. malu kan pa.." ujar zerobi kemudian melepas pelukannya dengan papanya. "kamu yakin baik-baik aja? ada yang sakit?" "nggak kok pa... zero fine aja.. btw, ada yang mau ku bicarakan sama ren., bicara berdua.." "begitukah? oh, oke.. tapi kamu beneran nggak kenapa-napa kan? yakin?" tanya om fatir yang masih khawatir sama zero, dan zero menjawab kalau dia nggak kenapa-napa sambil menggandeng papanya buat keluar dari kamarnya. begitu papanya keluar, ia menutup pintu dan menguncinya. "ya sudah kalau kamu nggak kenapa-napa, tapi kalau nanti ada apa-apa, bilang ke papa ya.. papa di ruang kerja.." kata papa sebelum meninggalkan kamar zero. "lama nggak bertemu... masih ingat aku...? dan kurasa kau sudah sembuh sekarang, jadi aku nggak berhutang apapun padamu." "huh.. itu yang kau katakan ketika kembali?" jawab ren. "... aku tau semuanya... kenapa kau katakan hal itu pada zero? dia masih anak-anak.. kau pikir yang kau lakukan itu benar?" "aku tidak membenarkan, dan tidak sepenuhnya salah... hanya saja zero yang terlalu negative thingking... dan juga, walaupun aku sudah sembuh, tapi tetap, hutangmu belum lunas, kau harus membayarnya." "kalau aku tetap tidak mau membayarnya, apa yang akan kau lakukan,?" "tetap akan aku pastikan kau membayarnya." "begitu pentingkah? padahal hutangku bukan soal materi, apa artinya itu bagimu? bukan, aku rubah pertanyaannya.. mungkinkah kau menyukaiku?" kata zerobi, mendekatkan tubuhnya, dan membisikkannya ke ren. "(mendorong zerobi menjauh). apa kau gila? aku menyukai wanita." "ohooo... apa yang kau pikirkan? memang kata 'suka' hanya berarti romantis? padahal suka bisa berarti yang lain, hubungan teman, keluarga, atau soulmate, tidak semua berhubungan dengan keromatisan dan cinta..." sanggah zerobi. "...(diam seribu bahasa)" "toh kalaupun kau benar menyukaiku di arah itu, aku tidak masalah., aku bukan tipe yang menggolong-golongkan orang..." "YAAA!!!" "hahahaha... bukankah itu lucu jika kau menyukaiku? padahal ditubuh ini masih ada 2 orang lagi, kau mengatakan hal buruk pada zero, bagaimana kau akan membujuk kedua orang itu?" "aku bilang aku tidak menyukaimu,. aku sangat membencimu! aku membantumu selama ini karena aku merasa itu salahku."ujar ren. "..." "kalau malam itu aku tidak memintamu mengambil dokumen rontgen ku, kau tidak akan terluka seperti itu, dan kau tidak akan kehilangan zeus." "CUKUP!! jangan bicara lagi!" kata zerobi,. mendengar nama zeus disebut, matanya mulai berkaca-kaca. "ah, benar... Zeus... dimana mereka memakamkannya?" lanjut zerobi, sembari menata perasaannya. "soal itu... aku bisa mengantarmu." jawab ren. "tunjukkan dimana mereka memakamkannya..." kata zerobi kemudian mengambil jaketnya dan menyeret ren ke makam zeus. ren membawa zerobi dalam mobilnya, menuju tempat pemakaman zeus, letaknya cukup jauh dari rumah, walaupun begitu, pemakaman itu masih tergolong dalam makam keluarga, jadi tidak kesulitan menemukannya. ketika sampai dipintu pemakaman, ren sebagai pemandu, berjalan di depan zero, tetapi tiba-tiba zero menarik tangannya, menggenggam tangan ren, ren merasakan tangan zero yang gemetar, mata zero pun mulai berkaca-kaca, dan tak berapa lama, air matanya menetes, padahal belum sampai di batu nisannya zeus. akhirnya, ren menggandeng tangan zero hingga didepan batu nisannya zeus. "om fatir dan tante nirina menyepakati zeus dimakamkan disini, kata om fatir, zeus adalah keluarga mereka, jadi harus dimakamkan di makam keluarga juga." kata ren. perlahan, zerobi mendekati batu nisan yang bertuliskan nama zeus berikut dengan tanggal kematiannya... zero tak kuasa menahan air matanya,... ia menangis, terisak, kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya permintaan maaf zero untuk zeus,. karena zeuslah yang selama hidupnya mengajari bagaimana cara untuk bertahan hidup., zerobi memeluk batu nisan itu, ia meminta maaf, karena tidak datang di acara pemakamannya, ia pun bilang bahwa saat itu ia ingin datang di pemakamannya sebagai wujud tanda hormatnya, namun entah kenapa fisiknya sendiri menolaknya, begitu juga dengan zee, walaupun zee seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara, namun jika itu berhubungan dengan zeus, ia selalu menjadi yang pertama, yang akan membelanya... zerobi juga meminta maaf karena ia tidak bisa menyelamatkannya saat itu yang membuat zeus pergi untuk selama-lamanya, di juga meminta maaf karena tidak memberitahu zero kecil (panggilan zerobi ke zero) tentang kematiannya karena takut akan membuat zero kecil trauma, makanya mereka berdua (zerobi dan zee) sepakat tidak memberitahunya. ren yang melihat dan mendengar itu semua membuatnya mulai merasa simpati... ia bingung mau ngapain, akhirnya ia memutuskan pergi meninggalkan zerobi dengan segala penyesalannya itu. namun tak berapa lama ren kembali dengan sebuket bunga yang isinya lili putih dan krisan putih. ren melihat zerobi masih terduduk di samping batu nisan zeus dan tatapannya pun seperti menatap jauh kelangit. ren menghampirinya, ia memberikan buket bunga itu pada zerobi dengan isyarat agar ia sendiri yang menaruhnya di nisan zeus. sejenak, zero memandang bunga itu kemudian menaruhnya diatas batu nisan zeus... "maafkan kami zeus... " ujar zerobi, meletakkan bunga itu. "daripada kau terus-terusan meminta maaf, sudahkah kamu berterimakasih kepadanya?" celetuk ren tiba-tiba. "benar juga...(tidak membantahnya sama sekali) terimakasih zeus... terimakasih banyak atas semua kehidupan yang kau berikan untuk kami.., kau dan yang kau ajarkan pada kami akan selalu terpatri di hati kami., semoga kau bahagia disana... jangan khawatir... aku akan menjaga mereka..." ujar zerobi memberikan ucapan perpisahan. "jika reinkarnasi itu benar ada, aku harap, saat itu, akulah yang akan menjagamu... selamat tinggal zeusku sayang.." lanjut zero kemudian berbalik, berjalan pulang. sementara ren berdiri sebentar disana. "hai zeus, bagaimana kabarmu? mmm... aku minta maaf, saat itu aku meminta zerobi untuk merawatku, dan aku juga minta maaf, secara tidak langsung, akulah yang menyebabkan kematianmu, aku sungguh minta maaf... aku harap kau mau memaafkanku... (terdiam sejenak), oh iya, aku pikir aku sedikit mempercayaimu.. (percakapan di episode 7). walaupun dia sikapnya seperti itu, tapi entah kenapa aku malah merasa seperti menjadi diriku sendiri ketika disampingnya... walaupun aku belum begitu paham dengan kedua kepribadian yang lainnya... dan juga jangan khawatir, dia memang orang yang tertutup tapi sekarang ia memiliki banyak teman, jadi kau bisa tenang disana, aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi setidaknya aku bisa membantunya ketika dia membutuhkan bantuanku... aku tau kau tipe khawatiran (mengingat ketika zeus hidup, ia terus mengikuti/menjaga zero kemanapun ia pergi), jadi aku akan mengunjungimu sesekali.." kata ren dengan batu nisan zeus. "well... aku pulang dulu, kapan-kapan akan berkunjung lagi, dan terimakasih untuk segalanya.. sampai jumpa.." lanjut ren kemudian meninggalkan pemakaman itu. diluar pemakaman, zero yang tengah duduk di tempat tunggu, masih dengan kebengongannya (memandang jauh, entah apa yang dilihatnya). "hei, apa yang kau pikirkan?" tanya ren sambil menyodorkan sebotol air minum mineral. "(mengambil minumannya), tidak ada.." "nggak ada gunanya kau mengingat masa lalu... sekarang inilah kehidupanmu, jangan kau sia-siakan apa yang zeus berikan untukmu... dan jangan sekali-kali berpikir, ini adalah akhir hidupmu..." "..." "dan juga., sampai sekarang aku belum meminta maaf secara resmi padamu.. maafkan aku.." "... tidak ada yang perlu dimaafkan, kita sama-sama salah saat itu... " mulai berpikir dengan kepala dingin. "... walaupun begitu, aku tetap meminta maaf padamu." "oh iya, apa kau mau pergi kesuatu tempat? mumpung kita disini, di distrik Yoko, terkenal sama hutan tropisnya lho, kita bisa bersafari di sekitar sini" kata ren mengalihkan pembicaraan. "....(menenggak minumannya)" "atau kau mau shopping? ke toko suvenir? atau ketempat wisata lainnya?" lanjut ren. "aku ingin pulang..." jawab zerobi. "... oh gitu, ya sudah, ayo kita pulang.." kata ren, kemudian mengambil mobilnya. zerobi bangkit dari duduknya., ia memandang ke arah pemakaman sejenak,. dan berbisik... "bye bye zeus.." bisiknya sebelum ia masuk ke mobil dan meninggalkan tempat itu. --------------++++++--------------- ~INTERMEZZO EXTRRA~ ALOHAAAAAA waine desu... terimakasih kepada pembaca sekalian sudah membaca dan mendukung cerita saya ini... terimakasih....(ᗒᗩᗕ)... sebelumnya, akan saya jelaskan sedikit,. 1. bagi pak fatir, zero tetaplah zero, jadi mau kepribadian apapun, pak fatir tetap memanggil zero dengan 'zero'. 2. tiba-tiba ada pasangan tambahan, dr. ardha dan #sensornamanya (masih rahasia). ini sebenarnya diluar dugaan waine, tapi ntah kenapa kok jadinya nambah. dr.A : sepertinya saya tidak dibutuhkan, saya pergi saja. W : tunggu dok, anda masih dibutuhkan disini,.. (bisik-bisik kepembaca.... sebenarnya dr. A itu Uke yang super duper manis... iya kan A(ayang) dr.A? (menanyakan langsung ke sumbernya)). A dr.A : (nggak menjawab, hanya senyam senyum, mesam mesem( ꈍᴗꈍ)( ꈍᴗꈍ)( ꈍᴗꈍ)( ꈍᴗꈍ)(◠‿・)—☆) dr. A : (langsung menyeret A (ayangnya) menjauh dari waine)... W : (≧▽≦)(≧▽≦)(≧▽≦) 3. mungkin episode ini adalah akhir dari kisah cutinya zero,.. episode selanjutnya kita kembali ke masa sekolah zero,... 4. tanpa disadari, ternyata kakaknya akira juga mengusut kejadian yang menimpa akira. sesudahnya, terimakasih atas dukungan pembaca sekalian... ~#dogezamodeON dukungan anda sekalianlah yang membuat waine jadi semangat menulis. sungguh... terimakasih.. terus dukung dan ikuti cerita ini ya... sampai jumpa di episode selanjutnya.. (semoga imajinasi waine terus tumpah ruah, jadi episode selanjutnya bisa segera terbit, amin...) sekali lagi trimakasih... sampai jumpa di episode selanjutnya... bye bye... (◍•ᴗ•◍)(。•̀ᴗ-)✧
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN