Suasana begitu hening, aku sampai bisa mendengar sayup-sayup suara mesin mobil yang sedang berjalan dan juga embusan angin dari pendingin mobil. Hawa dingin terasa begitu mencekam sampai aku bergidik, entah itu karena kedinginan atau gara-gara ngeri menatap wajah si bos. "Pak..., Mas Bos tahu rumah saya?" tanyaku akhirnya. Aku tidak mengerti arti keheningan yang diciptakannya. Apa dia sedang menerka-nerka di mana rumahku atau berkonsentrasi agar tidak salah jalan? Memangnya dia cenayang, dari tadi nggak menanyakan alamat rumahku. Bisa gitu mobilnya tiba-tiba mendarat sempurna di depan rumahku? "Mas Bos?!" tanyanya sambil mengerutkan kening. "Nggak salah? Sejak kapan kamu menganti nama saya seenaknya," ucapnya tidak senang. Aku nyengir dan kebingungan menanggapi komentarnya. "Lidah

