Omong kosong! Hanya itu yang terbersit di kepalaku setelah Pak Revano menyelesaikan kalimatnya. Aku mengembuskan napas kesal dan tanpa menanggapi pembicaraannya segera berlalu dari hadapannya. Apa lagi yang aku harapkan dari bos seperti ini? Tetap menunggunya untuk mengantarku pulang? Tentu saja nggak, lebih baik aku menanggung ongkos pulangku sendiri daripada diantar olehnya. Dia seperti sengaja mempermalukanku dengan membawaku ke tempat ini. Mau apalagi coba? Lihat aja tanggapan adiknya tadi, nggak ada sopan santunnya sama sekali. "Rea!" Aku berjalan semakin cepat saat dia berusaha mengejarku. "Kamu mau ke mana?" Matanya menatapku tajam. Aku memalingkan wajah, menghindari tatapan membunuhnya. Aneh, kok dia yang terlihat marah padaku. "Mau pulang, Pak," sahutku singkat. "Sudah

