"Kenapa Bapak selalu melibatkan saya ke hal yang sebenarnya bukan urusan saya?" tanyaku saat mobil Pak Revano sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya. Di hari yang sama, berturut-turut dia mengajakku ke sana. Aku menyeka anak rambutku agar terkesan dramatis. Napasku kuhela dengan panjang tanda aku bosan dengan keadaan yang terjadi padaku kali ini. "Bukan urusan kamu?" Keningnya berkerut tapi tatapan matanya tetap mengarah ke jalan raya. Berbagai macam cara sudah kulakukan untuk menolak permintaannya. Bahkan aku sempat berpikir untuk melompat dari mobilnya seperti adegan dalam penculikan. "Iya. Ini di luar pekerjaan kantor, Pak." Aku bersiap menghadapi tatapan matanya dengan lebih dulu melototkan mataku. "Siapa bilang?! Justru saya bawa kamu supaya bisa sekalian cari nasabah

