Aku mematung saking terkejutnya. Di sisi lain aku merasa kalah telak karena berhasil dipermalukan seperti ini oleh Revano. Oh...tidak, bukan dipermalukan, mungkin lebih tepatnya diberi pelajaran atas kesoktahuanku. "Katanya Mas Revan bakal sendirian ke sini, kok malah...," Dinda menggantung ucapannya sambil melirik ke arahku sekilas. Sial! Tatapan mata adik Revano ini membuatku merasa tidak nyaman. Dia menatapku dari ujung kepala hingga kaki, seolah ada yang salah dari penampilanku. "Tiba-tiba berubah pikiran," sahut lelaki di sebelahku masih dengan merangkul dua anak kembar yang terlihat tidak mau melepaskan diri dari pelukannya. "Ben belum sampai juga?" tanya Revano. Kali ini aku benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan dua kakak beradik ini. Apalagi ditambah tatapan mata Dinda

