Jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku menarik napas gelisah. Biasanya setelah meeting sore selesai, anak marketing pasti langsung meninggalkan kantor. Aneh, hari ini semuanya kompak tidak beranjak dari depan komputer masing-masing. Padahal aku sudah berencana setelah meeting tadi ingin langsung absen dan meninggalkan kantor, meninggalkan bos gila yang semakin hari semakin mengancam jiwaku. Sejujurnya aku sudah muak berada di kantor hingga jam segini. Apalagi mendadak wajah Pak Revano seperti berputar-putar di kepalaku dengan senyum sinisnya. Astaga! Aku jadi merinding dibuatnya. "Mbak, kok belum pulang?" bisikku pada Mbak Lana. Dia menoleh sekilas dan kemudian kembali sibuk dengan komputernya. Ini aneh sekali, kenapa sepertinya hanya aku yang nggak memiliki peker

