Jari jemariku terasa kesemutan karena terlalu lama digenggam dengan erat oleh Revano. Dia tidak memberikan kesempatan padaku untuk melepaskan diri. Sudahlah...sepertinya aku memang harus membiasakan diri dengan menyebut namanya saja tanpa embel-embel lain. "Katanya mau makan di depan kompleks, ini sudah lewat dua kompleks loh," sindirku. "Kamu aja yang pilih mau makan apa, saya bingung," sahutnya. "Atau mungkin makan di rumahmu aja kali ya." Dia mulai ngelunjak. Aku mendelik kesal sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya. "Kenapa nggak makan di rumah Bapak aja?" Ups. Aku salah menyebut namanya lagi. "Kamu, kan, tahu saya tinggal sendirian," sahutnya tidak senang. "Memang apa salahnya kalau tinggal sendiri." Aku membalas ucapannya. Dia menarik napas panjang sebelum menoleh ke

