Chapter 10 'Till I Meet You Again

1558 Kata
“Ryan, antarkan kedua tamu ini menemui Pak Tri.” Hati Amy berdebar. Andri menoleh heran kepada Amy yang tiba-tiba terlihat gelisah. “Kamu pen pipis?” tanya Andri. Amy menyodok pinggang temannya. Andri menerima kembali surat undangan, lalu sedikit menjauh dari loket untuk memberi kesempatan kepada pengunjung yang baru datang. Beberapa detik kemudian, seorang pemuda tinggi, badannya tidak terlalu kekar namun tegap, berseragam serta topi warna biru, dan bersepatu keds menghampiri mereka. Di d**a kirinya tertera badge OB. d**a kanannya memuat nama Ryan. Andri mengernyitkan dahi. Nih anak, OB tapi ganteng, batin Andri. “Mbak Amy dan Mas Andri, perkenalkan nama saya Ryan. Silahkan ikuti saya,” ucapnya sopan sambil mengulurkan tangan kepada Andri. Andri membalas jabat tangan Ryan, lalu mengangguk dan menarik lengan baju Amy. Ryan menyerahkan kalung tanda tamu seraya menunjukkan arah jalan mereka. Mereka melangkah berjajar melewati pintu masuk tanpa perlu periksa tiket. Amy bisa mengamati bahwa pintu masuk dijaga beberapa petugas. Mereka sekaligus bertugas membantu pengunjung memasang gelang tiketnya. Setelah pintu masuk itu, ada lorong dengan akuarium ikan koi di kanan kiri. Suasana terasa lembab, namun penampilan ikan penghuninya sangat menawan. “Bagaimana perjalanan? Lancar?” tanya Ryan sambil mengarahkan mereka ke tangga menuju lantai dua. Amy melihat, bagian ini terletak di sisi kiri loket tiket. “Lancar, Alhamdulillah. Kalau jalan sama Amy sih, saya tidak pernah khawatir harus mengurus orang mabuk darat,” jawab Andri. Langsung berhadiah sodokan siku di pinggangnya lagi. Andri tertawa. Ryan ikut tertawa melihat keakraban kedua tamunya itu. “Saya tadi melihat papan nama Manajer di lantai satu?” tanya Amy. “Ruang kerja Pak Tri sebenarnya di lantai satu, di belakang loket tiket tadi. Mbak Amy benar. Tetapi saat ini Pak Tri menunggu Anda berdua di lantai dua,” jelas Ryan. “Mas Ryan, jangan panggil gitu deh. Sepertinya kita seumuran. Langsung panggil nama saja,” tolak Andri. Ryan tersenyum. “Itu nanti saja kalau sudah selesai bertemu Pak Tri,” jawab Ryan. Amy menggelengkan kepala. OB banget. Tak urung, mata Amy mengamati langkah mantap Ryan. Kaki panjangnya memungkinkan Ryan melangkah jarang-jarang untuk mengimbangi langkah Amy dan Andri yang tingginya hanya sebahu Ryan. Entahlah. Mungkin pemuda ini tingginya 185 cm? “Di tempat ini, apa ada syarat tinggi badan tertentu untuk menjadi pegawai?” tanya Andri, seolah bisa membaca pikiran Amy. “Standar. Kalau perempuan minimal 155, laki-laki minimal 160.” “Oh, saya kira harus setinggi kamu, Ryan,” gurau Andri mencoba berakrab ria. “Enggak,” jawab Ryan. Ia membuka pintu besar bertuliskan kantin karyawan. Ia menahan pintu itu hingga Andri dan Amy lewat. Setelah itu ia arahkan mereka menuju beranda samping kantin. Pak Tri sudah duduk sambil tersenyum menyambut mereka. “Ah, ini dia yang saya tunggu. Ini pasti Andri. Amy, apa kabar?” sapa Pak Tri sambil menyalami Andri dan Amy. “Pak Doni, Pak Imam, Pak Hari, perkenalkan Andri dan Amy, yang akan menjadi partner baru kita.” Amy dan Andri berkenalan dengan tiga pria berpakaian rapi. “Pak Doni ini kepala divisi Promosi dan Humas. Pak Imam divisi keuangan dan kepegawaian. Pak Hari divisi pengelolaan Happyland I. Kalian berlima mungkin akan sering bertemu,” ucap Pak Tri. Mereka tertawa bersama, membuyarkan suasana kaku. Amy mengenali pak Hari dan Pak Imam sebagai peserta Family Gathering. “Ryan, tolong sampaikan ke dapur. Kami siap makan siang,” kata Pak Tri. “Saya permisi dulu Mas Andri, Mbak Amy,” ucap Ryan. Andri dan Amy menatapnya sambil mengangguk. Ryan pamit. Sekali Ryan menoleh untuk memastikan matanya tidak salah lihat kalau Amy masih memakai gelang tali pemberiannya. Hati Ryan berbunga-bunga. Sambil makan siang, Pak Tri mengulang penjelasan yang sudah pernah didengar oleh Amy dan Andri dari Bos. Ketiga kepala divisi mendengarkan dengan penuh minat. Selesai makan siang, mereka mengajak Amy dan Andri menuju ruang yang telah disiapkan untuk tempat kerja mereka. Ruangan itu berseberangan dengan loket masuk, diapit oleh ATM centre dan toko oleh-oleh. “Nah, ini ruang kerja Mas Andri dan Mbak Amy. Sudah kami cat dan sediakan furniture sesuai panduan dari atasan kalian. Semoga membuat kalian betah dan mengobati kangen rumah. Sementara, garasi armada ada di sebelah musholla mes, di belakang kompleks kantor dan ATM centre ini. Yah, memang mendadak sekali, tetapi semoga menjadi jalan kita semua bisa maju bersama.” “Ini bagus sekali, Pak. Sangat mirip dengan markas kami,” puji Andri. “Ini kuncinya. Saya sudah buat masing-masing satu untuk kalian. Kunci ketiga ada pada saya, jadi murni ruangan ini menjadi milik kalian berdua. Silahkan dikelola sesuai apa yang biasa kalian kerjakan,” titah Pak Tri. Andri dan Amy kembali mengangguk. “Nah, sekarang tentang tempat tinggal. Mungkin sudah diinformasikan ya, jika Andri bisa tinggal di mes, sedangkan Amy harus ke tempat kos. Mari kita ke mes dulu, baru nanti sore biar Ryan mengantar kalian ke tempat kos Amy.” Amy memicingkan mata. Sedikit-sedikit Ryan. Apakah OB hanya Ryan seorang? Batinnya. Mereka mengunci kembali ruangan travel, lalu mengikuti langkah Pak Tri menuju mes karyawan yang berlokasi di belakang deretan ruang kantor Amy. Mes itu berupa kamar besar berisi dua tempat tidur susun. Ada sepuluh kamar, masing-masing dihuni empat orang. Tersedia kamar mandi dalam dan almari untuk masing-masing ruang. “Biasanya, anak-anak pulang di hari libur masing-masing. Makanya lemari yang disediakan tidak terlalu besar. Oh iya, kami buka 7 hari seminggu. Jadi hari libur setiap orang tidak selalu sama. Untuk kalian, terserah saja mau diatur bagaimana. Happyland I biasanya sepi di hari Selasa dan Rabu.” “Siap, Pak,” jawab Andri. Mereka memutuskan kembali ke ruang kantor untuk travel. Pak Tri menelepon Ryan untuk membantu mengangkat barang-barang. “Besok kamu dan Setya bantu Andri menata ruangan ini. Kalian bebas tugas harian. Bantu sampai selesai, ya. Nanti sore, kamu antar mereka ke tempat kos Amy.” Ryan menyanggupi. Setelah itu, Pak Tri kembali ke kantornya. Ryan membantu Andri, Amy, dan Han memindahkan peralatan kantor dari mobil. Amy mengamati bahwa Ryan sangat cekatan, ringan tangan, dan tulus membantu mereka. Tetapi bisa saja itu semata karena melaksanakan perintah langsung dari orang nomor satu. “Kita antar Amy ke tempat kosnya dulu, ya, Ndri. Keburu gelap,” ucap Ryan. Semua setuju. “Memangnya, kalau sudah gelap kenapa?” tanya Amy mulai khawatir. Ryan membukakan pintu jok tengah bagian kiri untuk Amy. Ia sendiri memutari mobil untuk duduk di jok tengah sisi kanan. Ia tersenyum. “Kenapa? Takut?” tanya Ryan. Amy menatap Andri. Yang ditatap segera memutar badan menghadap teman akrabnya. “Am, aku hanya bercanda,” ucap Andri. “Kamu!” keluh Amy. Tetapi wajahnya tetap tegang. Ryan menatap kedua teman barunya. “Apa yang terjadi?” tanyanya. “Saat Bos kami mendeskripsikan rumah kos Amy, yang fasilitasnya bagus tetapi harganya murah, aku keceplosan omongan jika rumah itu berhantu. Rupanya Amy sangat terpengaruh candaanku.” Andri dan Han tertawa. Ryan tersenyum seraya menoleh menatap Amy. Ryan merogoh tasnya, mengeluarkan sebatang cokelat untuk Amy. “Biar hati lebih rileks,” ucapnya. Amy menatap cokelat itu, lalu wajah pemberinya. Amy menerima. Ia membuka bungkusnya, tak lupa mengucapkan terima kasih. Amy menikmatinya dalam diam. Ryan menyibukkan diri memberikan arah kepada Han.   Sekitar sepuluh menit perjalanan, mereka tiba di sebuah kompleks perumahan yang sepertinya kelas menengah. Rumah kos itu terletak di bagian depan kompleks, berupa bangunan besar bertingkat tiga. Ryan turun terlebih dahulu, membukakan pintu Amy, kemudian melangkah masuk ke rumah kos. “Permisi, Bu. Saya mengantar calon anak kos, untuk kamar yang sudah dipesan Pak Tri,” ucapnya. Ibu pemilik rumah kos langsung tanggap. Setelah berkenalan, ia mengajak mereka ke lantai dua, kamar di bagian depan, yang memiliki akses ke balkon. “Istimewa, Am. Bisa menikmati balkon sendirian. Serasa tinggal di hotel,” ucap Andri. “Yang kos di sini Mbaknya?” tanya Ibu Kos. “Betul sekali, Bu,” jawab Andri. Ibu kos manggut-manggut. Ia berkeliling kamar itu, menunjukkan kamar mandi luas yang pakai bath tub, lemari, dapur mini, kulkas mini, meja makan mini, juga pintu akses ke balkon istimewa. “Sebenarnya, kamar ini didesain untuk tempat tinggal pemilik rumah beserta istrinya, tetapi untuk saat ini belum akan ditempati. Jadi dikoskan. Saya sih hanya pengelola di sini. Manut,” cerita ibu kos. “Jadi, berapa uang kos yang harus saya bayarkan setiap bulan, Bu?” tanya Amy sudah khawatir dengan angka yang tak terjangkau.   “Oh, tidak perlu. Sudah dibayar lunas di muka untuk dua tahun oleh Pak Tri. Mbak Amy tinggal menempati saja.” “Begitu ya,” ucapan Amy terdengar menggantung. “Mbak Amy bisa berlangganan makan juga, seperti anak kos yang lain. Saya yang masak. Boleh juga memasak sendiri.” Amy manggut-manggut. Ibu Kos pamit ke bawah lagi. “Cukup, Am? Kita bawa barang-barangmu?” tanya Andri. Amy mengangguk. Andri dan Han segera keluar. Amy sudah bergerak hendak turun, tetapi Ryan menarik tangannya. “Kamu istirahat saja di sini. Kulihat barangmu tidak banyak. Kami bertiga bisa.” Amy menatap kedua mata teduh Ryan bergantian. Saat Ryan tersenyum, ia anggukkan kepala. Ryan menyusul Andri dan Han. Amy melangkah ke balkon, menatap mereka bertiga yang masing-masing menenteng satu tas milik Amy. “Am, aku numpang mandi ya,” ucap Han. Amy mengangguk. Terbiasa sebagai sopir travel, Han sudah membawa travel pack, termasuk peralatan mandi. Andri dan Ryan duduk di kursi balkon mengobrol tentang mes. Amy duduk di atas tempat tidur, merasa canggung sebagai satu-satunya perempuan. Melihat Han sudah segar, Andri ikut berhasrat mandi. Jadilah waktu mereka menunggu menjadi lebih lama. “Mas, Mbak. Welcome snack,” ucap Ibu Kos seraya menghidangkan empat piring nasi goreng dan empat gelas es jeruk di atas meja. “Wah, istimewa,” sambut Han. Ibu Kos tertawa senang. Sambil mengobrol akrab, mereka makan malam. “Melihat situasi ini, aku yakin tidak ada hantu di sini, Am,” ucap Andri. Amy hampir melempar sendok ke kepala Andri. “Aku lho sudah lupa. Malah diingatkan lagi,” protes Amy. Mereka tertawa. Menjelang jam tujuh malam, ketiganya pamit. Han juga pamit mau langsung kembali ke Tanah Kebar setelah mengantar Andri dan Ryan ke mes. Amy memberesi piring dan gelas, hendak membawanya turun sekalian melepas mereka. Ryan melangkah di belakang Amy, merogoh tas meninggalkan sebatang cokelat baru di atas tempat tidur gadis itu.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN