Kencan

1090 Kata
Malam itu akhirnya menjadi titik balik bagi mereka. Setelah segala emosi yang meluap, amarah, kecewa, ketakutan, perlahan mereda, yang tersisa hanyalah kehangatan. Nariah kini terbaring tenang di atas ranjang. Wajahnya terlihat jauh lebih damai. Sisa-sisa penyatuan mereka masih terasa dan membekas. Rasa lelah yang membuat hatinya bahagia, lelah akibat penuntasan hasrat keduanya setelah tertunda dalam jangka waktu yang cukup lama. Kini keduanya menyatu indah dan intim malam ini. Ia sedikit bergerak, lalu tanpa sadar mendekat ke arah Dorman. Mencari kehangatan mencari rasa aman. Dorman yang masih terjaga menatapnya dalam diam..Tangannya perlahan mengusap rambut Nariah. Lembut, hati-hati, seolah takut membangunkannya. Namun juga takut jika semua ini hanya mimpi. “Tidurlah…” bisiknya pelan. Nariah benar-benar tertidur lelap, napasnya teratur. Dorman mencium kening istrinya. Tenang, Untuk pertama kalinya sejak ia pergi dari rumah, Ia merasa aman. Benar-benar aman. Di sisi lain, bayi mereka masih tertidur nyenyak di ranjang kecil. Melengkapi suasana hangat malam itu. Dorman menatap kedua orang yang paling berarti dalam hidupnya. Dan di tengah dinginnya malam kota… Di dalam kamar sederhana itu Akhirnya mereka menemukan kembali arti rumah… Bukan pada tempatnya… Tapi pada siapa yang ada di dalamnya. Pagi itu terasa berbeda. Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela apartemen kecil itu, menghangatkan ruangan yang semalam dipenuhi ketegangan. Kini… Semuanya terasa lebih tenang. Lebih damai. Di dapur kecil, Nariah sedang berdiri di depan kompor. Wajahnya tampak segar. Merona alami. Bekas tangis semalam seolah telah hilang, tergantikan oleh ketenangan yang baru. Rambutnya yang masih sedikit basah terurai sederhana, menempel di bahu. Sesekali ia menyelipkannya ke belakang telinga sambil mengaduk masakan. Aroma sarapan mulai memenuhi ruangan. Sederhana. Namun hangat. Seperti perasaannya saat ini. Sesekali, Nariah melirik ke arah kamar. Memastikan bayinya masih tertidur. Dan… Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya. Langkah kaki terdengar dari belakang. Pelan. Namun cukup membuat Nariah menoleh. Di sana— Dorman berdiri. Masih dengan wajah sedikit lelah, namun tatapannya jauh lebih lembut dari sebelumnya. Ia terdiam sejenak. Menatap Nariah. Seolah menikmati pemandangan sederhana itu. Istrinya. Memasak. Di pagi hari. Hal yang dulu mungkin biasa… Namun kini terasa begitu berharga. “Nariah…” panggilnya pelan. Nariah menatapnya. Ada sedikit canggung. Namun tidak lagi dingin. “Iya, Mas…” jawabnya lembut. Dorman melangkah mendekat. Tidak banyak bicara. Ia berdiri di dekat Nariah. Lalu perlahan… Tangannya meraih tangan wanita itu. Menggenggamnya hangat. Nariah sedikit terkejut. Namun tidak menarik diri. “Terima kasih…” ucap Dorman lirih. Kalimat sederhana. Namun penuh makna. Nariah menunduk pelan. Senyumnya tipis. “Udah, nanti gosong…” ucapnya pelan, mencoba mencairkan suasana. Dorman tersenyum kecil. Namun tangannya tidak melepas. Justru menggenggam lebih erat. Seolah memastikan, bahwa kali ini… Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dorman yang biasanya sibuk dan selalu terburu-buru, kali ini justru duduk santai di ruang tengah setelah sarapan. Tatapannya sesekali mengarah ke Nariah yang sedang membereskan meja. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Lebih tenang. Lebih… hadir. “Nariah,” panggilnya. Nariah menoleh. “Iya, Mas?” Dorman terdiam sejenak, seolah menyusun kata. Lalu tersenyum tipis. “Hari ini… aku gak kerja.” Nariah sedikit terkejut. “Loh… kenapa?” tanyanya pelan. Dorman mengangkat bahu ringan. “Mau izin aja… sekali ini,” jawabnya. Lalu pandangannya beralih ke bayi mereka yang mulai terbangun. Matanya melembut. “Aku pengen…” ia berhenti sejenak. “…habisin waktu sama kalian.” Kalimat itu sederhana. Namun cukup membuat Nariah terdiam. Hatinya terasa hangat. “Jalan-jalan… ke taman… terus ke mall mungkin,” lanjut Dorman. Nada suaranya terdengar sedikit canggung. Seperti seseorang yang tidak terbiasa mengungkapkan keinginan seperti itu. Nariah menatapnya. Ada haru di matanya. “Serius, Mas?” tanyanya lirih. Dorman mengangguk. “Iya. Kita bertiga.” Senyum Nariah perlahan terukir. Tulus. Hangat. “Yaudah… nanti aku siapin,” jawabnya lembut. Tak lama… Suasana apartemen itu berubah. Lebih hidup. Lebih ceria. Nariah sibuk menyiapkan perlengkapan bayi. Sementara Dorman, untuk pertama kalinya… Terlihat ikut membantu. Meski sedikit kikuk. Sesekali ia menggendong bayi mereka, membuat Nariah tersenyum melihatnya. Beberapa saat kemudian… Mereka pun berangkat. Di dalam mobil Suasana terasa ringan. Berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi jarak. Tidak ada lagi dingin. Saat sampai di taman bermain… Udara segar menyambut mereka. Anak-anak berlarian. Suara tawa terdengar di mana-mana. Dorman menggendong bayi mereka. Sementara Nariah berjalan di sampingnya. Sesekali mereka saling melirik. Dan tersenyum kecil. Seolah tanpa sadar— Mereka sedang membangun kembali sesuatu yang sempat retak. Setelah puas di taman… Mereka melanjutkan ke mall. Sekadar berjalan. Melihat-lihat. Dan menikmati kebersamaan yang sederhana. Namun bagi mereka— Hari itu terasa istimewa. Karena untuk pertama kalinya… Bukan masalah yang menyatukan mereka. Melainkan… Kebahagiaan kecil… Yang mereka pilih untuk jaga bersama. Dengan cara yang lebih benar. Di taman, Dorman duduk di bangku sambil menggendong bayi mereka. Sesekali ia tersenyum sendiri melihat wajah kecil itu. Nariah duduk di sampingnya. Angin pelan meniup rambutnya. Suasana sederhana… tapi begitu hangat. “Kayak mimpi ya…” ucap Nariah pelan. Dorman menoleh. “Kenapa?” Nariah tersenyum tipis. “Baru sekarang… kita jalan bareng kayak gini.” Kalimat itu membuat Dorman terdiam sejenak. Ada rasa bersalah yang kembali menyelip. Namun kali ini… Ia tidak ingin tenggelam di dalamnya. Ia ingin memperbaiki. “Maafin aku ya…” ucapnya pelan. Nariah menatapnya. Lalu menggeleng kecil. “Cukip Mas, Enggak usah minta maaf lagi, kita mulai dari awal. Anggap saja ini kencan pertama kita.” Jawaban itu sederhana. Namun penuh penerimaan."Iya, setiap minggu, aku akan ajak kamu jalan," Dorman tersenyum kecil. Tangannya perlahan meraih tangan Nariah. Menggenggamnya hangat. Dan kali ini Nariah tidak canggung. Tidak ragu, justru membalas genggaman itu erat Di mall, mereka berjalan berdampingan. Seperti pasangan baru, sesekali Dorman mencuri pandang ke arah Nariah. Melihat wanita itu tertawa kecil saat memilih barang bayi. Hatinya terasa penuh. “Cantik…” gumamnya tanpa sadar. Nariah menoleh. “Hm?” Dorman langsung pura-pura melihat ke arah lain. “Enggak…” Nariah tersenyum geli. Pipi meronanya semakin jelas. Untuk pertama kalinya… Ada rasa seperti sedang kencan. Bukan sekadar suami istri karena keadaan. Tapi dua orang yang sedang belajar mencintai dengan cara yang benar. Tak terasa menjelang sore, mereka duduk di salah satu sudut mall. Menikmati minuman. Bayi mereka tertidur pulas di stroller. Dorman menatap Nariah lama. “Nariah…” panggilnya. “Iya?” Dorman menarik napas pelan. "Aku ...mau ...kita terus bersama, apapun yang terjadi. Jangan pergi lagi..." Kalimat itu menggantung. Namun maknanya dalam. Nariah menatapnya. Matanya berkaca-kaca. Namun kali ini bukan karena sedih. “Iya, Mas…” jawabnya lembut. Dan di antara keramaian mall… Di tengah suara orang-orang yang berlalu-lalang… Mereka menemukan satu hal yang paling penting, Kesempatan kedua. Bukan untuk mengulang kesalahan… Tapi untuk memperbaiki… Dan menjaga apa yang hampir hilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN