Bercerai?

1109 Kata
Sementara itu, di kampung halaman, suasana antara keluarga Dorman dan keluarga Nariah masih belum benar-benar membaik. Luka lama rupanya belum sepenuhnya sembuh. Ibu Dorman masih menyimpan rasa kecewa yang dalam. Baginya, apa yang terjadi dulu adalah sebuah penipuan besar. Ia merasa anaknya telah dijebak dalam pernikahan tanpa kejujuran. "Berani sekali mereka mempermainkan keluarga kita, kita seperti membeli kucing dalam.karung!"Ibu Dorman nampak berapi-api, nafasnya memburu. Amarahnya sungguh sangat memuncak. Di ruang tamu rumah sederhana itu, suara perdebatan kembali terdengar. "Kami tidak pernah diberi tahu kalau Nariah sudah hamil sebelum menikah! Ini jelas tidak adil untuk anak saya!" ujar ibu Dorman dengan nada tinggi, matanya memerah menahan emosi. Ayah Nariah hanya bisa menunduk, wajahnya penuh rasa bersalah. "Kami… kami hanya ingin menyelamatkan anak kami, Bu. Kami takut tidak ada yang mau menerimanya jika semua terbongkar," ucapnya lirih. Namun, jawaban itu justru membuat hati ibu Dorman semakin tersulut. "Tapi kenapa harus anak saya yang jadi korban?!" Suasana semakin memanas. Beberapa tetangga yang mendengar hanya bisa saling berpandangan, tak berani ikut campur. Di sisi lain, ibu Nariah juga tidak tinggal diam. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, "Anak kami juga korban, Bu… Dia tidak pernah menginginkan semua ini terjadi. Apa salahnya jika sekarang dia mencoba memperbaiki hidupnya?" Kedua belah pihak sama-sama terluka, sama-sama merasa benar. Tidak ada yang benar-benar ingin mengalah. "Lihat saja, aku akan suruh Dorman menceraikan anak kalian, Aku enggak terima ditipu kayak gini!" "Terserah, jika itu yang ibu mau, saya terima, asalkan itu keputusan dari suami Nariah sendiri. Dia yang harus menyerahkan Nariah pada kami, dan menjatuhkan talak, bukan kalian."Ibu Nariah dengan suara gemetar. "Baik, baiklah....Aku yakin, Dorman juga enggak sudi punya istri yang sudah ternoda dan pembohong."Dua keluarga yang sedang berseteru itu kini berpencar. Pergi ke rumah masing-masing dengan perasaan yang sangat penuh dengan amarah dan kebencian. Bisik-bisik tetangga di kampung semakin hari semakin kencang. Nama Nariah mulai menjadi bahan perbincangan di warung, di pos ronda, bahkan di setiap sudut gang kecil desa itu. "Katanya waktu di luar negeri dia hidup nggak bener…" "Makanya pulang-pulang langsung nikah, eh ternyata sudah hamil duluan…" Ucapan-ucapan itu beredar tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya. Tidak ada yang benar-benar mengetahui apa yang telah dialami Nariah, tetapi semua seolah merasa berhak menghakimi. Beberapa tetangga bahkan mulai memandang sinis keluarga Nariah. Ibunya sering merasa malu keluar rumah, sementara ayahnya lebih banyak diam, menahan beban yang semakin berat di pundaknya. Suatu sore, ibu Nariah duduk di teras rumah dengan mata sembab. Ia baru saja pulang dari warung, mendengar langsung bagaimana orang-orang membicarakan putrinya dengan nada merendahkan. "Sakit sekali rasanya… anak kita dihakimi seperti itu," ucapnya lirih pada suaminya. Sang suami hanya menghela napas panjang. "Biarkan saja, Bu. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang penting kita tahu anak kita bukan seperti yang mereka katakan." Namun, tetap saja… kata-kata itu seperti pisau yang melukai perlahan. Di sisi lain, kabar itu sampai juga ke telinga keluarga Dorman. Ibu Dorman semakin yakin bahwa kecurigaannya selama ini benar. "Lihat? Apa yang saya bilang! Perempuan itu memang tidak benar!" ujarnya dengan nada kesal. Namun kali ini, Dorman yang sedang menelepon ibunya tidak tinggal diam. "Bu, cukup," suaranya tegas, berbeda dari biasanya. Ibunya terdiam sejenak, terkejut mendengar nada bicara anaknya. "Nariah bukan seperti yang orang-orang katakan. Dia korban, Bu. Saya tahu semuanya sekarang. Jadi tolong… jangan dengarkan omongan orang lagi." Ada keheningan di seberang telepon. Dorman melanjutkan dengan suara lebih tenang, namun penuh penekanan. "Saya hidup sama dia, Bu. Saya lihat sendiri bagaimana dia sekarang. Dia istri yang baik, ibu yang baik. Itu yang lebih penting." Perlahan, kata-kata Dorman mulai menggoyahkan hati ibunya, meski belum sepenuhnya menghapus luka lama. Di kampung, gosip mungkin tidak akan berhenti begitu saja. Tapi di kota, Dorman memilih untuk berdiri di samping Nariah, melindungi, menerima, dan mencintainya apa adanya. Karena bagi Dorman, masa lalu bukanlah untuk dihakimi… melainkan untuk dipahami dan dijadikan pelajaran menuju masa depan yang lebih baik. ***** Di balik kebahagiaan yang mulai mereka bangun, ternyata masih ada rahasia yang belum sepenuhnya terungkap. Nariah memilih bungkam. Ia belum memiliki keberanian untuk menceritakan seluruh kejadian yang sebenarnya kepada Dorman—tentang luka terdalam yang ia alami di masa lalu. Setiap kali Dorman mencoba menyinggung masa lalunya dengan hati-hati, Nariah selalu mengalihkan pembicaraan. Senyumnya tetap ada, sikapnya tetap lembut, tetapi matanya sering kali menyimpan ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Dorman bukan tidak menyadari itu. Ia tahu ada sesuatu yang masih disembunyikan oleh istrinya. Ada bagian cerita yang belum selesai. Namun, ia memilih diam. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena ia belajar untuk menghargai batas luka seseorang. Suatu malam, saat Nariah tertidur di sampingnya, Dorman menatap wajah istrinya yang terlihat tenang. Tangannya perlahan mengusap kepala Nariah dengan lembut. "Kamu pasti menyimpan banyak sakit sendirian…", batinnya. Ia menghela napas panjang. Hatinya memang masih dipenuhi tanya. Kadang muncul rasa ingin tahu yang begitu besar, bahkan sesekali disertai keraguan. Tapi setiap kali ia melihat bagaimana Nariah memperlakukannya dengan tulus, semua itu perlahan luluh. Pagi harinya, saat mereka duduk bersama di ruang kecil rumah mereka, Dorman akhirnya berbicara dengan suara tenang. "Nariah, aku nggak akan memaksamu cerita kalau kamu belum siap," ucapnya pelan. Nariah terdiam, menunduk. "Tapi aku mau kamu tahu… aku ada di sini. Kapan pun kamu siap, aku akan dengar. Tanpa menghakimi." Air mata Nariah menetes tanpa suara. Ia tidak menjawab, tetapi genggaman tangannya pada tangan Dorman semakin erat. Itu sudah cukup bagi Dorman. Ia sadar, menerima seseorang bukan hanya tentang masa kini, tapi juga tentang bersabar menghadapi masa lalu yang mungkin belum selesai. Dan untuk Nariah… mungkin yang ia butuhkan bukan pertanyaan, melainkan waktu dan keyakinan bahwa ia benar-benar aman untuk akhirnya membuka semuanya. Perlahan, Nariah memeluk punggung Dorman sambil menangis."Maaf, aku sudah buat abang jadi bertanya-tanya." Perlahan Dorman melepaskan pelukan Nariah di pinggangnya. Dia berbalik menghadap Nariah dan mengelus wajah mungil Nariah."Aku akan menunggu, sampai kamu siap menceritakan semuanya." "Aku siap Mas,"lirih Nariah sambil berkaca-kaca. Dorman terbelalak, sambil mengerutkan dahinya. "Mas, semua bermula saat aku bekerja di luar negeri. Dan aku bertemu Rendi, dan kami jatuh cinta. "Nariah menatap sendu Dorman. Ekspresi Dorman nampak marah mendengar nama Rendi. Tangan Dorman mengepal. "Lanjutkan."Suara dingin Dorman. "Kami ...akhirnya menikah, secara sirri, karena sulit mengurus administrasinya di luar negeri. Kami menikah dan bapakku menikahkan secara virtual. Tapi...."Kata-kata itu menggantung. "Tapi apa?"Dorman mengernyitkan keningnya. "Ini salahku, yang cepat percaya pada laki-laki, tanpa menyelidiki dulu dia siapa, ternyata dia ...sudah beristri di Indonesia. Hingga istrinya menelpon dan meminta dikirim uang, karena anak Rendi sakit." "Pernikahan kami hanya dua bulan, aku menyerah.sehingga memutuskan merahasiakan pernikahan ini, pada orang-orang kampung. Karena istri Rendi adalah tetangga kampungku mas. " "Hingga setelah berpisah aku baru tahu kalau hamil. Tanpa Rendi tahu, aku mengandung sampai akhirnya bertemu denganmu." "Nariah....Aku...minta maaf."Dorman."Sudah..." "Cukup mas. Kita mulai dari awal lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN