Kejutan

1394 Kata
"Bang… perutku....sakit sekali," katanya dengan suara lemah namun penuh kepanikan. "Apa? Ayo kita ke RS." Namun Nariah menolak. "Jangan bang, enggak perlu ke Rumah sakit, ke bidan aja."Nariah menjawab dengan nafas terengah-engah. Menahan rasa sakit yang amat sangat menderanya. "Baiklah."Segera Dorman menyalakan motornya membawa Nariah ke bidan terdekat. Nariah tahu jika ini saatnya, dia tak berpikir apa yang akan terjadi, dia hanya berpikir saat ini membutuhkan pertolongan. "Tolong bu Bidan, istri saya kesakita." "Iya, ayo."Sang bidan membantu Nariah berjalan menuju ruang periksa. Namun bidan langsung tahu jika ini sakit karena hendak melahirkan. "Pak, sepertinya ibu mau melahirkan, tolong siapkan baju bayi dan selimutnya." "Apa, melahirkan?" Dorman membelalakkan mata, hatinya seakan berhenti berdetak sejenak."Melahirkan." Bagaimana mungkin? Mereka bahkan belum pernah bersama sebagai suami istri…! Tak lama kemudian, tangisan bayi pecah di udara. Salah satu bidan keluar dengan senyum lelah namun bahagia. "Selamat, Pak. Istri Anda telah melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat." Dorman merasakan dadanya sesak. Kakinya lemas, pikirannya berputar-putar. Ia melangkah ke dalam ruangan, melihat Nariah terbaring lemah dengan bayi mungil dalam gendongan seorang bidan. Matanya beralih ke wajah istrinya yang menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak. "Nariah… apa yang sebenarnya terjadi?" suaranya terdengar serak, hampir berbisik. Nariah menggigit bibirnya, air mata mengalir di pipinya. Ia tahu, tak ada lagi yang bisa disembunyikan. Dorman menatap bayi itu. Bayi perempuan yang baru lahir… namun jelas bukan darah dagingnya. Dengan suara lemah dan mata yang dipenuhi air mata, Nariah akhirnya membuka rahasia yang selama ini ia pendam. "Bang, aku tidak pernah berniat membohongimu… Tapi aku takut. Aku takut kehilangan kesempatan untuk memiliki rumah tangga yang baik," suaranya bergetar. Dorman tetap diam, matanya menatap istrinya dengan sorot tajam namun bercampur kebingungan dan emosi yang ia tahan. Nariah menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Abang...maafkan Nariah yang belum bisa mengatakan yang sebenarnya. Ini terlalu berat buat Aku Bang." Air matanya semakin deras mengalir. Ia terisak, menggigit bibirnya untuk menahan tangis."Jika Abang mau pergi, silahkan, Aku ikhlas. Terimakasih sudah mau menikahiku dan menjaga aibku,"lirih Nariah. Dorman mengepalkan tangan. Ia merasa hatinya seperti dihantam sesuatu yang begitu berat. "Jadi… selama ini kamu tahu,kalau kamu hamil, tapi kamu tetap menikah denganku tanpa memberitahuku?" suaranya rendah, nyaris bergetar. Nariah menunduk, tak sanggup menatap wajah suaminya. "Maafkan aku, Bang… Aku hanya ingin anak ini lahir dalam keluarga yang sah. Aku tidak ingin dia tumbuh tanpa ayah…" Dorman memejamkan mata, mencoba menenangkan dirinya yang tengah dilanda badai emosi. Ia merasa dikhianati, tapi di sisi lain, ia juga merasakan kepedihan yang dialami istrinya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tidak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan ini. Yang jelas, hidupnya baru saja berubah dalam sekejap. Setelah 2x24 jam akhirnya Nariah dan bayinya diperbolehkan pulang. Dua hari setelah persalinan, Dorman membawa Nariah dan bayinya pulang ke kontrakan mereka. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam. Pikirannya penuh dengan kebingungan dan kekecewaan, tapi di saat yang sama, ia juga tidak tega melihat Nariah yang masih lemah setelah melahirkan. Sesampainya di kontrakan, suasana di sekitar kost masih sepi. Para penghuni lain tampaknya sibuk bekerja, sehingga tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka. Dorman sedikit lega karena ia belum siap menghadapi pertanyaan orang-orang. Nariah berjalan perlahan masuk ke dalam, sementara Dorman membantunya membawa perlengkapan bayi yang mereka dapatkan dari klinik. Bayi perempuan itu tertidur nyenyak dalam dekapan ibunya. Dorman menghela napas panjang, lalu duduk di kursi kayu dekat jendela. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya melayang ke berbagai arah. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini. Setelah 25 menit, taksi online yang membawa mereka pun sudah tiba di rumah kontrakan sederhana. Dorman memboyong Nariah menuju rumah mereka. Hening, tak ada percakapan. Entah mulai darimana mereka harus memulainya. Satu satu bulan mereka saling mengenal, lalu menikah. Satu bulan kemudian, sebuah kejutan menghampiri pernikahan mereka. Buah dari kebohongan Nariah. Sementara itu, Nariah duduk di kasur dengan tubuh lelah. Sesekali, ia melirik ke arah suaminya yang masih diam tanpa ekspresi. Ia tahu Dorman kecewa. Dengan suara lirih, ia berkata, "Bang, aku tahu aku salah karena menyembunyikan ini darimu… Aku akan menerima apa pun keputusanmu. Jika Bang Dorman ingin berpisah, aku tidak akan menyalahkanmu." Dorman tetap diam. Ia menatap wajah istrinya yang terlihat lelah dan penuh ketakutan. Lalu, matanya turun ke arah bayi kecil yang terlelap dalam pelukan Nariah. Ia tidak bisa menyangkal bahwa bayi itu tidak bersalah. Anak itu lahir tanpa meminta keadaan seperti ini. Dengan suara berat, Dorman akhirnya berkata, "Aku butuh waktu, Nariah. Aku nggak tahu harus bagaimana sekarang." Nariah menunduk, menahan air matanya. "Aku mengerti, Bang…" Malam itu, mereka berdua terjebak dalam keheningan. Tidak ada lagi kata-kata, hanya suara napas pelan dan sesekali tangisan bayi yang memecah kesunyian. Perasaan Dorman pada Nariah selama pernikahan mereka pun mulai tumbuh, tapi sekarang, hatinya membeku, terkejut yang amat sangat, bukan hal baik bagi pernikahannya, namun sebuah aib dan juga hal buruk, yang bisa saja menjadi duri dalam pernikahan mereka. Terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang menggema di rumah kontrakan Dorman. "Oak oak oak..." "Sssssh, sebentar ya sayang..."Dengan mata setengah terbuka Nariah mengangkat bayinya dan menyusuinya meski Asinya belum banyak. Nampak Nariah sambil duduk dan terkadang terlihat mengantuk. Dorman berusaha tidaj peduli, dia merasa benci pada keadaan yang menimpanya. Bagaimana bisa seperti ini. Pernikahan yanh diimpikannya berbuah kepahitan yang diawali kebohongan. Setelah sang bayi tertidur Nariah terlihat melangkah dan mencoba ke dapur untuk mengambil air minum. Dan nampak Nariah memakan nasi hanya menggunakan kecap saja. Dorman melihat kejadian itu. Hati merasa teriiris, dia seperti orang jahat. "Kamu lapar?Aku gorengin telur ya,"ujar Dorman. "Enggak usah bang, ini sudah cukup."Nariah mengggeleng pelan. Dorman tak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia hanya terdiam melihat istrinya hanya makan malam dengan kecap. "Sepertinya besok aku harus beli keperluan dapur."Batin Dorman. Nariah kembali ke kamarnya tanpa bicara. Dan dia kembali tidur sambil terduduk dengan bantal dibelakang nya. Dorman duduk di sudut kamar, menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk. Setelah berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi keluarganya. Saat panggilan tersambung, suara ibunya terdengar di seberang, penuh semangat. "Dorman? Ada kabar apa, Nak? Bagaimana Nariah?" Dorman menarik napas dalam sebelum menjawab, "Bu… Nariah sudah melahirkan." Hening sejenak. Lalu, suara ibunya terdengar penuh keterkejutan. "Apa?! Maksudmu apa, Nak? Kalian baru menikah sebulan, bagaimana bisa dia sudah melahirkan?" Dorman menutup matanya, merasakan dadanya semakin sesak. "Itulah yang ingin aku jelaskan, Bu. Aku sendiri juga kaget. Ternyata sebelum menikah denganku, Nariah sudah hamil… Tapi dia tidak memberitahuku." Di seberang, ibunya terdiam lama. Kemudian suara ayahnya terdengar, lebih berat dan penuh emosi. "Dorman, kau mau bilang apa? Istrimu melahirkan anak yang bukan darah dagingmu?" "Iya, Yah…" Dorman mengakui dengan suara lemah. Tiba-tiba terdengar suara gaduh di seberang, mungkin keluarganya sedang membicarakan hal ini dengan penuh emosi. Ibunya mulai menangis, ayahnya terdengar marah, dan saudara-saudaranya bertanya-tanya dengan nada bingung. "Bagaimana mungkin kau dipermainkan seperti ini, Dorman?" suara ibunya bergetar. "Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana, Bu… Tapi aku tidak bisa meninggalkan Nariah begitu saja. Dia dalam kondisi lemah saat ini.. Aku hanya ingin berpikir jernih dulu." Ayahnya menghela napas panjang. "Dorman, kami akan mendukung apa pun keputusanmu. Tapi kamu harus berpikir baik-baik. Jangan mengambil keputusan hanya karena kasihan. Hidupmu masih panjang." "Iya, Yah… Aku paham." Setelah beberapa saat berbicara, panggilan pun berakhir. Dorman meletakkan ponselnya dan menatap ke arah Nariah yang duduk di kasur, menunduk dalam diam. Sementara itu, keluarga Nariah sudah mengetahui semua sejak awal. Mereka menerima telepon dari Nariah beberapa hari lalu dan hanya menasihatinya agar menjaga diri. Mereka tidak terlalu terkejut seperti keluarga Dorman. Kini, Dorman dihadapkan pada dilema besar. Ia bisa pergi dan meninggalkan semuanya, atau ia bisa tetap tinggal dan menerima keadaan yang sudah terjadi. Tapi… apakah hatinya cukup kuat untuk menerima kenyataan ini? Dorman menatap Nariah yang duduk di sudut kamar, menangis dalam diam sambil menyusui bayinya. Mata perempuan itu sembab, wajahnya terlihat begitu lelah dan penuh rasa bersalah. Anak kecil dalam pelukannya tampak tenang, matanya tertutup rapat, sesekali tangannya bergerak kecil. Bayi itu begitu mungil dan rapuh, tidak tahu apa-apa tentang dunia, apalagi tentang keadaan orang tuanya. Hati Dorman terasa berat. Ia tahu dirinya terluka, dikhianati, dan dibuat kecewa. Tapi di sisi lain, ia juga melihat seorang perempuan yang telah mengalami begitu banyak penderitaan. Nariah bukan wanita jahat, dia hanya seorang korban yang mencari perlindungan. Dengan napas panjang, Dorman akhirnya mendekat dan duduk di samping Nariah. "Nariah…" suaranya pelan namun tegas. Nariah mendongak dengan mata berkaca-kaca. "A-Aku minta maaf, Bang… Aku tahu aku salah… Aku tidak pantas jadi istri Abang… Aku siap menerima apa pun keputusan Abang…" Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN