Dorman melanjutkan, "Aku memang kecewa, aku marah. Tapi aku juga nggak tega. Kamu sudah cukup menderita, dan bayi ini nggak bersalah. Aku nggak tahu apakah aku bisa langsung menerima semuanya dengan mudah. Tapi aku akan mencoba."
Air mata Nariah semakin deras mengalir. Ia tidak menyangka Dorman masih mau bertahan, masih mau mencoba menerima dirinya dan anak yang bukan darah dagingnya.
"Terima kasih, Bang… Aku janji akan menjadi istri yang baik… Aku janji nggak akan mengecewakan Abang lagi…"
Dorman mengangguk pelan. "Kita jalani pelan-pelan, Nariah. Aku nggak janji bisa langsung menerima semuanya, tapi aku akan berusaha."
Malam itu, meskipun hati Dorman masih penuh keraguan, ia tahu satu hal: ia tidak akan meninggalkan mereka. Ia memilih untuk tetap tinggal dan memberi kesempatan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk Nariah.
Karena terkadang, keluarga bukan hanya soal darah… tapi juga tentang pilihan untuk tetap bersama dan saling menerima, apa pun yang terjadi.
Dorman memang memilih melanjutkan pernikahannya dengan Nariah, namun sikapnya terlihat dingin, tak banyak bicara pada istrinya. Namun Nariah berusaha untuk memaklumi dan mau bersabar, jika suaminya pasti butuh waktu. Seandainya Nariah mau menceritakan kejadian yang sebenarnya, mungkin Dorman pun takkan berprqsangka buruk tentang Nariah.
Bayangan tentang kehidupan para TKI di luar negeri, membuat Dorman semakin gundah. Pikirannya dan prasangka serta penyesalan memenuhi batin dan Pikirannya saat ini. "Bagaimana bisa, aku tertipu seperti ini, apa dosaku ya Allah."Dorman menundukkan kepalanya, dia menyesali semua yang terjadi padanya.
Dorman menatap langit-langit kamar yang remang-remang, pikirannya masih berputar tentang apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pernikahan yang ia jalani akan menjadi seperti ini. Namun, semakin ia berpikir, semakin ia menyadari satu hal—ini adalah takdirnya.
Ia menoleh ke arah Nariah, yang masih terisak pelan sambil menidurkan bayinya. Wajahnya penuh kelelahan, tetapi ada ketulusan di sana. Nariah bukan seorang wanita yang berniat menipunya. Dia hanya seseorang yang terluka dan berusaha bertahan.
Dorman menghela napas panjang. "Mungkin ini sudah jalan hidupku, Nariah."
Nariah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Bang… aku benar-benar minta maaf. Aku nggak pernah berniat menipu Abang. Aku hanya takut… takut kalau aku jujur, Abang akan meninggalkanku."
Dorman menundukkan kepala, memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku nggak akan bilang aku nggak marah. Aku kecewa, aku bingung… Tapi aku sadar, kamu juga korban. Kamu nggak minta semua ini terjadi padamu."
Nariah menggigit bibirnya, menahan isak tangis. "Abang… benar-benar mau menerimaku? Menerima anak ini?"
Dorman menatap bayi yang tertidur dalam dekapan ibunya. Bayi kecil yang lahir tanpa tahu apa-apa tentang masa lalu orang tuanya. Perlahan, Dorman mengulurkan tangannya, menyentuh pipi mungil bayi itu dengan lembut.
"Aku nggak tahu apakah aku bisa langsung menyayanginya seperti anak sendiri… tapi aku akan mencoba. Setidaknya, aku nggak akan meninggalkan kalian."
Nariah menutup mulutnya dengan tangan, menangis terisak karena terharu. Ia tak menyangka bahwa Dorman masih bersedia bertahan bersamanya, meskipun ia tahu menerima semuanya tidak akan mudah.
Dorman menatap lurus ke depan. Hatinya memang masih ragu, tetapi ia percaya, waktu akan menjawab semuanya.
Saat bayi Nariah menangis, nampak hati Dorman pun terusik, ada rasa kasihan dan bayangan bagaimana bayi itu bisa hadir di dunia ini, tetap menjelma di pikirannya.
*******
1 bulan berlalu, sikap Dorman ternyata masih dingin terhadap Nariah dan bayinya. Setiap malam Nariah berusaha sekuat tenaga memasak makanan untuk suaminya. Meski kadang Dorman tidak makan.
"Bang, makan dulu ya, Aku sudah masak,"ujar Nariah dengan lembut.
"Heum. Aku mandi dulu, nanti aku makan."Dorman dengan nada dingin. Nariah menyambutnya dengan senyuman getir. Dia sadar, ada luka yang masih tersemat di batin suaminya karena kebohongannya. Sehingga Nariah hanya bisa menerima perlakuan suaminya itu.
Selesai mandi dan ganti pakaian Dorman duduk di meja makan. Nampak hidangan yang bisa dianggap mewah baginya, "Kok bisa, padahal aku enggak kasih uang belanja banyak buat dia, kok makanan ini ...lengkap sekali,"bisik Dorman. Seraya menautkan kedua alisnya.
Nariah sibuk menyusui sang bayi, sesekali Dorman menatap wajah lelah Nariah. Tak sekali pun Dorman menemani saat malam Nariah menyusui, atau saat bayi Nariah menangis tanpa henti sampai pagi menjelang. Nariah benar-benar sendirian mengurus bayinya. Dorman hanya menyiapkan air mandi untuk Nariah, dan membawa pakaian kotor ke laundry langganannya selama Nariah dalam masa nifas. Selebihnya Dorman tak ikut serta membantu Nariah istrinya.
"Sudah selesai bang makannya?" Tanya Nariah sambil tersenyum.
"Sudah,"ucap singkat Dorman. "Aku mau tanya."
"Iya bang,"jawab Nariah.
"Darimana kamu dapat uang, untuk memasak makanan sebanyak itu, ada sup ayam, ayam goreng bahkan buah-buahan. bahkan ada tempe dan tahu, aku tidak memberi uang untuk memasak makanan sebanyak itu Nariah,"ujar Dorman.
Nariah tercekat, senyumnya memudar, saat suaminya bertanya hal itu."Euhh, sebenarnya itu harganya murah bang, cukup kok, uang yang abang kasih buat belanja."
"Oh, gitu, baiklah, aku cuma takut sebelum akhir bulan uang belanja kita habis. Karena... kamu harus pintar mengelola uang,"ujar Dorman dengan dingin. Dia berlalu ke kamarnya. Dan menonton televisi.
Nariah makan saat bayinya tidur. Sambil sesekali menatap sang bayi khawatir terbangun. Tak terasa air matanya menetes. Sambil menelan makanan yang dikunyahnya. Saat Dorman menatap di cermin lemarinya, dia melihat Nariah menangis.
"Apa aku sudah keterlaluan ya,"gumam pelan Dorman.
*****
Keesokan harinya 40 hari sudah Nariah melewati masa nifas.
"Bang, nanti ...pulang jam berapa?"
"Biasa, memangnya kenapa nanya-nanya."
"E-engga bang, hari ini ada acara syukuran cukur rambut, anak kita eh anak aku,"
"Loh, kok dadakan, emang kamu udah punya nama buat bayi kamu?"Dorman mengernyitkan keningnya.
"Sudah bang, menurut abang gimana, punya ide enggak?"
"Enggak tahu, dia kan anak kamu bukan anak saya!"
"Deg."Seketika Nariah membeku, dia tidak bisa berucap apa-apa lagi. Dorman benar, bayinya bukan anak Dorman.
"Ya sudah, aku pergi dulu."Dorman menaiki motornya.
"Iya bang, hati-hati."
Sore hari, jam 16:30. Pihak ketua timnya mengatakan jika ada pesta ulang tahun Supervisornya di sebuah Klub karaoke. Dorman pun tak bisa mengelaknya.
Lampu-lampu remang berwarna ungu dan biru bergantian menyinari ruangan karaoke VIP itu. Dentuman musik menggema, diselingi tawa para pria yang sudah setengah mabuk. Di meja panjang, botol-botol minuman berjejer, sebagian sudah kosong.
Dorman duduk di sudut sofa, kemeja kerjanya sedikit terbuka di bagian atas. Di sekelilingnya, para LC dengan pakaian minim hilir mudik, beberapa duduk manja di pangkuan tamu, menuangkan minuman, atau sekadar menggoda dengan senyuman menggairahkan.
“Dorman! Jangan diam saja, ini ulang tahun bos kita!” seru salah satu rekan kerjanya sambil menepuk bahunya.
Seorang wanita LC mendekat, duduk di samping Dorman tanpa permisi. Tangannya perlahan menyentuh lengan pria itu, senyumnya dibuat semanis mungkin.
“Mas kelihatan beda sendiri… lagi banyak pikiran ya?” godanya lembut. Dorman memang paling tampan diantara teman-temannya. Kulitnya sawo matang dan wajahnya yang tegas. dengan tubuh yang atlestis.
Dorman hanya tersenyum tipis. Ia tidak menyingkirkan tangan wanita itu, tapi juga tidak membalas. Pandangannya kosong, seolah pikirannya tidak berada di tempat itu."Biasa aja , aku cuma menikmati pesta ini."jawaban singkat Dorman.
Di kepalanya justru terbayang wajah Nariah.
Wajah pucat istrinya setelah melahirkan…
Tangis pelan bayi mereka di malam hari…
Dan tatapan lelah Nariah yang tetap berusaha tersenyum setiap kali Dorman pulang.
“Mas, minum dulu…”
Gelas disodorkan tepat di depan wajahnya.
Dorman menerima gelas itu, menatap cairan di dalamnya beberapa detik, lalu meneguknya dalam sekali tegukan.
Sorakan teman-temannya terdengar riuh.
“Gitu dong! Baru namanya laki-laki!”
Namun entah kenapa, setelah minuman itu turun ke tenggorokannya, dadanya justru terasa semakin sesak. Satu gelas, dua gelas hingga 4 gelas membuat Dorman mulai sedikit mabuk.
Wanita di sampingnya semakin berani. Ia menyandarkan kepala di bahu Dorman, jari-jarinya bermain di d**a pria itu.
“Kalau capek kerja… harus ada yang nemenin, Mas…” bisiknya menggoda.
Untuk sesaat, Dorman terdiam.
"Nariah, kamu beda banget malam ini,"
"Mas mas, saya bukan Nariah. Saya Selvi,"ujar wanita itu.
"Hahh kamu..."Dorman menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apa kamu..pernah kerja di luar negeri?"Tanya Dorman tiba-tiba. "Apa wanita yang kerja di sana melakukan hal seperti ini?"Dorman meracau.
"Mas mabuk ya, mana pernah aku ke sana mas,"ujar Selvi. "Setahuku tergantung pekerjaan dan orangnya juga mas."
"Aku ... enggak mabuk, cuma agak pusing saja. Apa kamu mau anter aku ke rumahku?"
Tangan Dorman perlahan menahan pergelangan tangan wanita itu. "Mau kemana, ayo ikut aku ke rumah."
Wanita itu sedikit terkejut.
Dorman berdiri, mengambil jaketnya.
“Gue cabut duluan,” katanya singkat pada teman-temannya.
“Lah, serius? Baru juga mulai!”
Dorman hanya tersenyum tipis.
"Iya, gua pengen pulang."
"Lah pinter banget dia. Dibawa pula tuh cewek!" Salah satu teman Dorman menggeleng pelan.
"Mas, kita naik motor?"Tanya Selvi.
"Iya, enggak apa-apa kan?"Dorman sambil menatap sendu wajah Selvi.
"Enggak kok, asal sama mas, aku ikut aja."Selvi memeluk pinggang Dorman dengan erat. Jujur saja, selama ini pelanggan yang paling tampan dan membuat Selvi tertarik baru Dorman. Selvi langsung jatuh hati meski dia harus berganti-ganti pelanggan .