Lenora yang kaget lantas memutar badannya 180 derajat. “A-aku haus.” Tangan kirinya langsung menutup lemari es di belakangnya dan segera melipat bibir kala tatapan galak itu mengarah padanya.
“Ini masih pagi, kau ingin sakit?” tanya pria itu lalu melirik ke arah meja makan. “Aku sudah merebus air.” Tangannya menunjuk termos stainless yang ada di sana. Tanpa mendengar lebih dulu jawaban Lenora, lelaki itu duduk di salah satu kursi depan meja makan.
Lenora pun mengikutinya. Namun, gadis itu memilih duduk berseberangan. “Aku tidak suka air panas biasa, a-apa aku boleh membuat teh panas?” tanya Lenora pada lelaki itu yang dibalas hanya dengan dehaman. “Terima kasih.”
Mereka tak banyak bicara. Bahkan pria yang semalam menolong Lenora itu makan dengan sangat tenang. Lenora yang diam-diam memerhatikan jadi ikut lapar. Disusul dengan suara perut cukup kencang, Lenora mendelik dan spontan memegang perutnya sendiri.
“Makanlah kalau memang lapar.”
“A-apa boleh?” Pria itu mengangguk tanpa melihat Lenora, ia setia menatap layar ponsel. “Makasih!” seru Lenora yang langsung mengambil sehelai roti tawar, kemudian merobeknya sedikit, dan dicelupkan ke teh panasnya. Lalu memakannya dengan senyum mengembang.
“Semalam aku yang mengganti pakaianmu.”
Senyum Lenora mendadak sirna. Ditatapnya lelaki yang duduk di seberangnya, dengan sorot mata tak percaya. “Ka-kau? Kau yang mengganti pakaianku?!” Menyilangkan tangan secara otomatis di depan tubuh, Lenora menelan roti tawarnya.
“Tidak perlu berlebihan! Aku tidak bernafsu padamu!”
Lenora yang semula ingin marah itu, mendadak kesal. “Tetap saja aku perempuan, dan kau laki-laki! Aku tidak akan tahu kalau kau akan melakukan yang tidak-tidak selama aku tidur,” jawab Lenora dengan d**a yang masih berdebar-debar. Jadi semalam dia sempat melihat seluruh tubuhku? Padahal aku sudah tidak memakai bra saat aku kabur ... ASTAGA! Dia melihat dadaku?!
Muka Lenora kini memerah. Itu tandanya pria penyelamatnya ini sudah melihat tubuh bagian atasnya yang tidak tertutup apa pun. Sekarang Lenora benar-benar tidak berselera makan, ia malu bukan main. Diremasnya ujung kemeja hitam yang kebesaran di tubuhnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa kau melihatku begitu?” tanya pria itu saat ingin mengambil sehelai roti tawar yang ketiga kalinya. “Hei! Kau kenapa?! Jangan bilang kau sakit?!” serunya sambil berdiri dan meletakkan roti itu kembali ke dalam plastik. Ia mendekati Lenora. “Merepotkan ...,” sambungnya.
Mengangkat tangan di depan, sampai tangannya berhenti di perut rata nan keras pria di sampingnya, Lenora memekik, “Berhenti! Jangan mendekat! Katakan padaku apa kau sudah melihat ... melihat—“ Tiba-tiba saja lidah Lenora kelu. Tangisnya tiba-tiba pecah, dan ia menyimpan wajahnya ke lengan. Lenora menangis di atas meja dengan lengan sebagai penopang kening.
“Melihat apa? Melihat dadamu yang kecil itu?”
“A-APA?!”
“Kenapa? Memang dadamu kecil, jadi tenanglah ... aku tidak bernafsu sedikit pun.” Setelah itu ia kembali duduk ke tempat semula dengan tenang dan lanjut memakan roti tawarnya.
Sedangkan Lenora yang mendengar jawaban pria kekar itu mendadak berhenti menangis. Namun, wajahnya tetap merah padam. Bedanya, bukan karena malu lagi, tapi menahan kesal.
“Bisa-bisanya bilang dadaku kecil, barangmu saja yang kecil,” gumam Lenora geram dan segera melanjutkan sarapannya.
“Kau ingin melihat milikku?” tanya pria itu dengan mudahnya. Begitu Lenora mendelik dan mengarahkan bola mata ke arahnya, ia melirik ke bawah. “Supaya kau tahu ukuran sebenarnya kecil atau besar, nilailah sendiri ... bagaimana? Kau ingin melihatnya?”
Lenora menggigit kasar rotinya saat pria itu bertanya dengan muka datar dan kembali fokus makan setelahnya. Sementara dirinya sudah panas dingin mendengarkan ucapan kotor lelaki dewasa itu. “Menyebalkan!” sembur Lenora menggigit kasar rotinya yang sebelumnya sudah dicelup lagi ke teh panas. Lupa meniup lebih dulu, ia mengaduh kesakitan. Refleks mengipasi lidahnya dengan jari. “Ah, panas!”
“Gadis bodoh.” Meninggalkan Lenora yang masih duduk dengan menatap kepergiannya. Lelaki penolong Lenora itu keluar dari sana melalui pintu yang berada di samping lemari pendingin. Ia memilih duduk di kursi kayu panjang di luar.
“Aku belum tahu namanya, aku juga belum berterima kasih. Apa salah kalau aku berpikiran yang tidak-tidak padanya?” lirih Lenora saat melihat pria itu bersandar pada tembok, karena kursi panjang itu tidak memiliki sandaran. Lama berpikir, akhirnya Lenora memilih menyusul.
Tanpa meminta izin, Lenora duduk di samping pria itu. Membuat lelaki itu menggeser tubuh spontan. “Kenapa kau ke sini?!”
“A-aku ingin mengenalmu, siapa namamu? Aku juga belum berterima kasih karena semalam kamu menyelamatkanku.”
“Memangnya apa pentingnya berkenalan denganmu? Tidak ada untungnya.”
“Aku Lenora,” jawab Lenora tidak nyambung sama sekali. Dia tidak peduli akan tatapan tajam pria itu yang ditujukan untuknya. Tangan kanannya terulur dan melanjutkan, “Lenora Harana.”
Pria itu berdeham tanpa membalas uluran tangan Lenora. “Panggil saja Harold.”
Lenora menyimpan kembali tangannya, dan melemparkan tatapan ke depan, di mana pepohonan menjulang yang menjadi objeknya. “Setahuku panggilanmu Aro.” Baru saja menutup bibir, Lenora tiba-tiba merasakan cengkeramannya di lengan kanan dan kiri yang begitu kuat.
Tubuhnya dibuat tiduran di kursi kayu panjang itu. Sementara pelakunya berada di atas tubuhnya, memberikan tatapan penuh amarah. “Tidak ada seorang pun yang boleh menyebut nama itu selain ibuku. Apalagi kau hanya orang asing, kau mengerti?” tanya Harold penuh penekanan.
Dengan kaku Lenora menggerakkan kepalanya, tanda bahwa dia mengerti. Sesudah itu barulah Harold menyingkir dari tubuhnya. Lenora yang gugup sekaligus takut, duduk dengan hati-hati.
“Sekarang katakan padaku di mana rumahmu? Siang nanti aku harus bekerja, dan sebelum itu aku akan mengantarmu pulang.” Harold menoleh ke kanan di mana Lenora berada, gadis itu masih diam. “Kau tidak mungkin mendadak jadi lupa ingatan, ‘kan?”
“Rumahku, ya ...?” Lenora tidak langsung menjawab karena dia tak punya rumah. Selama ini dia hidup sendiri dan menyewa tempat kost. “Aku tidak punya.”
“Bagaimana bisa?” tanya Harold terperangah. “Jadi, kau ini seorang tunawisma?”
Mendengar itu Lenora melotot. “Bukan! Aku bukan gelandangan!” Bahunya melorot dengan kepala menunduk. “Aku memang tidak punya rumah sendiri, tapi aku menyewa kamar kost.”
“Ya sudah, mari aku antar kau pulang.”
“TIDAK! Ah, ma-maksudku jangan antar aku ke sana!” jerit Lenora yang mendadak panik. Kepalanya semakin menunduk dan ia menggeleng hebat sambil berteriak, “Aku tidak mau! Aku tidak mau kekasihku mengirimku ke lokalisasi! Aku tidak mau menjadi wanita penghibur! Aku masih sayang tubuhku! Tolong jangan kirim aku pulang ke sana!”
Harold yang ingin membuka mulutnya dikejutkan dengan aksi Lenora. Gadis yang tiba-tiba sangat merasa ketakutan itu sampai bersimpuh di depan Harold. “Aku mohon, jangan kirim aku ke sana! Aku mohon padamu, sekali lagi bantu aku! Aku bisa hancur! Aku tidak akan aman jika ke sana!”
“Kau pikir bila bersamaku kau akan aman?” tanya Harold yang membuat Lenora mengangguk, namun Harold segera menggeleng. “Aku tidak sebaik yang kau pikir. Jadi, ayo! Aku antar kau pulang.”