Bab. 9

619 Kata
Sesampainya di kamar, Dirga menghubungi salah satu asisten kepercayaannya. Lelaki itu mengambil ponselnya dan segera memencet nomer dia tuju. Hanya menunggu satu dering saja dan.... "Halo, selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang asisten, "Roni, apa kamu masih ingat dengan istri saya, Nyonya Cahaya?" tanya Dirga. "Masih, Tuan. Dan dari kabar yang saya dengar, beliau sudah kembali dari luar negeri." Dirga terkejut dengan penuturan asisten pribadinya. "Kamu, masih mengawasinya?" "Tidak sepenuhnya, hanya mendengar dari seseorang jika Nyonya sudah kembali setelah menghilang bertahun tahun," "Kau, tahu tempat tinggalnya sekarang?" tanya Dirga lagi, "tidak, Tuan. Apa anda membutuhkan sekarang?" tanya Roni, asisten pribadi Dirga. "Ya, cari tahu di mana dia tinggal sekarang. Dan... Dengan siapa dia tinggal," setelah Roni mengatakan menyanggupi perintah atasannya, Dirga mengakhiri panggilan tersebut. Setengah jam kemudian, ponsel Dirga berdering. Lelaki itu segera mengangkatnya. "Saya sudah dapat alamat tempat tinggal Nyonya Cahaya, Tuan. Tapi...." Roni menjeda ucapannya. "Tapi apa, Roni?" Dirga mengeram kesal. "Kirimkan alamatnya sekarang padaku!" Dirga lanjut memerintah. Panggilan pun terputus, dan muncul notif pean masuk. Dirga membuka pesan itu lalu membacanya. *** Keesokan harinya, Dirga sudah melihat makan tersaji di atas meja makan. Lelaki itu lalu mengedarkan pandangan mencari seseorang. Dan benar saja, orang yang dia cari keluar dari kotak besi sambil mendorong kursi roda yang di duduki sang ibu. Cahaya lalu membawa mantan ibu mertuanya keluar. Namun, sebelum langkahnya menjauh, suara Dirga terlebih dahulu menghentikan langkahnya. "Apa Mama Ku sudah kamu beri makan?" tanya Dirga, "sudah, Tuan. Baru saja. Ini saya mau ajak nyonya bear berjemur di teras," ucap Cahaya, Dirga mengangguk. "Dan kamu, apa kamu sendiri susah makan?" Dirga kembali bertanya, "saya nanti saja setelah anda," sahut Cahaya. Dirga mengangguk lalu mengibaskan tangannya, meminta Cahaya agar segera keluar. Setelah memastikan Cahaya keluar, Dirga menghubungi Roni kembali. Lelaki itu bertanya apakah ada rapat atau pertemuan penting siang ini, dan Roni mengatakan ada pertemuan siang nanti. Dirga berpikir keras, bagaimana caranya kesana. "Apa sore saja aku kesananya?" Dirga bermonolog dengan dirinya sendiri, padahal rasanya sudah tidak sabar untuk melihat sosok gadis kecil yang dia lihat kemarin. Usai menghabiskan sarapannya, Dirga meraih tas kerjanya dan jasnya. Lalu keluar dan mendapati sang ibu dan mantan istrinya hanya terdiam. Mendengar suara sepatu mendekat, Cahaya mengangkat wajahnya. Dirga berjongkok di depan sang ibu sambil memegang tangan wanita yang sudah melahirkannya itu. "Ma, Dirga berangkat ke kantor dulu." Pamitnya yang kemudian sedikit berjinjit dan mengecup kening sang ibu. Dirga sempat melirik sebentar kearah Cahaya. Wanita itu hanya menunduk tanpa mau menatapnya. Dirga menghela napas berat, lalu perlahan bangkit. "Saya pergi dulu," katanya, "umm, tunggu, Tuan," Cahaya memegang lengan Dirga dan sedikit menahannya. Lelaki itu menoleh dan menatap wajah Cahaya dan tangan mereka bergantian. Cahaya yang menyadari tatapan Dirga pun segera melepaskan cekalan tangannya lalu kembali menunduk, "maaf," katanya. "Ada apa?" Dirga bertanya sambil berpura-pura membenahi jasnya. "Saya nanti siang mau ijin keluar sebentar...." "Kalau kamu keluar, siapa yang...." "Saya akan mengajak Nyonya Besar keluar juga, jadi anda tidak usah khawatir jika saya meninggalkan dia. Maksud saya, saya tidak akan meninggalkan ibu anda sendiri di rumah. Jadi, boleh 'kan, saya ijin keluar sebentar?" tanya Cahaya, wanita itu juga meralat ucapannya. Dirga menatap Ibu dan mantan istrinya, "apa dia mau bertemu dengan putriku seperti janjinya semalam?" gumam Dirga di dalam hati. "Baiklah, kau boleh keluar. Tapi, ingat waktu dan jaga Mama ku," kata Dirga yang seketika membuat senyum di bibir Cahaya tersungging. "Baik, Tuan. Terima kasih atas ijinnya, dan saya tidak akan melupakan pesan anda," Cahaya mengangguk anggukkan kepalanya sambil berkata masih dengan senyum di bibirnya. Senyum yang sebenarnya sangat Dirga rindukan. Dirga melangkah pergi meninggalkan kamar ibunya dan segera pergi ke kantor menaiki mobilnya. Pria itu tersenyum saat mengingat dengan sebuah rencana yang telah dia siapkan sejak semalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN