Di kantor Dirga. Pintu ruangan lelaki itu diketuk dari luar, "masuk!" Katanya dengan setengah berteriak. Pintu terbuka dan menampilkan sosok perempuan berpakaian seksi, "Pak, di luar ada tamu ingin bertemu," ujar wanita itu melaporkan.
"Suruh masuk saja," suruh Dirga tanpa menatap sang sekretaris, wanita berpakaian seksi tersebut mengerucutkan bibir. Ternyata, atasannya itu masih saja tidak mau meliriknya. Setelah kepergian wanita itu, pintu kembali terbuka. Suara sepatu pantofel beradu dengan lantai keramik pun terdengar.
"CK, sepertinya adik kesayanganku sedang sibuk. Lihat saja, kakaknya datang bukannya disambut malah diacuhkan," seorang lelaki melangkah mendekat kearah meja kerja Dirga, lalu menarik kursi dan menduduki nya.
Dirga mengangkat wajah sebentar hanya untuk memastikan siapa yang datang dan kembali fokus pada berkas -berkasnya. Walau dari suaranya saja dia sudah tahu siapa yang tengah bertamu.
"Sepertinya, adik kesayanganku ini sibuk sekali? Mau buat apa uangnya? Istri nggak punya aja...." Gilang menjeda ucapannya saat melihat tatapan tajam yang adiknya layangan kan.
"Ada keperluan apa datang kesini?" tanya Dirga to the point, Gilang menggelengkan kepalanya.
"Hanya melihat keadaan adikku saja," jawab Gilang yang kemudian menyandarkan punggungnya di badan kursi yang dia tempati.
Dirga meletakkan bolpoinnya dengan sedikit kasar, "sekarang sudah lihat keadaanku bukan? Sekarang pergilah,* usir Dirga. Bukannya marah, Gioang malah tertawa, "sabar, apa kamu tidak mau tahu kenapa aku kembali ke sini?" tanya Gilang sambil tersenyum.
Dirga terkekeh, "nggak, aku nggak mau tahu." jawab Dirag yang seketika membuat Gilang kesal. Namun, Gilang tidak menyerah, "aku kesini menyusul istri dan anakku," katanya penuh rasa percaya diri.
Kening Dirga mengernyit, "istri dan anak? Kapan kau menikah?" tawa Gilang akhirnya pecah
"Sudah cukup lama, setelah kalian berpisah dan aku menikah," Gilang tersenyum puas melihat wajah Dirga yang putih menjadi merah, dia tahu jika adiknya tengah menahan marah. Dan Gilang tahu, adiknya pasti tahu siapa yang dia maksud.
Dirga lalu tersenyum, "selamat atas pernikahanmu...yang halu," ucap Dirga menjeda sebentar ucapannya lalu menyeringai di ujung kalimat. Suara besi beradu dengan lantai terdengar nyaring, "dengar, aku tidak pernah halu. Terima saja jika Cahaya sudah menjadi istriku, dan dia juga sudah melahirkan putri yang cantik untukku," ucap Gilang dengan jumawa.
Mendengar kalimat yang Gilang ucapkan, tiba-tiba Dirga teringat dengan ucapan Cahaya semalam tentang alasan wanita itu kembali. Dirga langsung menghubungi Roni, meminta asisten pribadinya itu segera datang.
Dan benar saja, tidak sampai lima menit, Roni datang.
"Ada yang bisa saya kerjakan, Pak?" tanyanya. Dirga menunjuk keberadaan sang kakak dengan cara memberi kode lewat mata. Sang asisten pun mengerti.
"Undur semua jadwal saya siang ini," ucap Dirga yang membuat kaget Roni, "dan titip kakak lelaki saya ini," kata Dirga melanjutkan sebelum sang asisten menyahuti ucapannya.
Dirga menyambar jas, ponsel dan kunci mobilnya. Setelah itu, dia segera melesat meninggalkan ruangannya.
"Dirga! Kamu mau kemana?!" Gilang yang hendak menyusul Dirga dihalangi oleh Roni. Di sepanjang kotak besi yang membawa Dirga ke lantai bawah, lelaki itu terus sibuk mengotak atik ponselnya. Mencari alamat yang kemarin Roni berikan padanya.
Setelah pintu lift terbuka, Dirga segera keluar. Tak dihiraukannya sapaan dari para karyawan dan karyawati yang berpapasan dengan dirinya. Kakinya terus melangkah menuju parkiran di mana mobilnya berada. Setelah memasuki mobilnya, Dirga segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir tersebut. Dan tujuannya sekarang hanya satu, ke tempat di mana mantan istrinya sekarang berada. Dan Dirga sangat yakin, saat ini Cahaya dan ibunya tengah di sana. Di suatu tempat dan menemui seseorang.
***
Di sebuah rumah yang tidak begitu besar dan tidak begitu kecil, seorang wanita yang baru saja turun dari taksi yang ia tumpangi, mendorong kursi roda masuk kedalam rumah itu. Lalu, wanita itu tersenyum saat pintu rumah itu terbuka dan seorang gadis kecil berlari kearahnya.
"Mama!!" pekiknya, wanita itu kemudian menekuk lututnya dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan sang putri kedalam dekapannya. Setelah gadis kecil itu berada di dalam dekapan sang ibu, wajah gadis kecil itu menjadi sasaran rasa rindu sang ibu. Sedangkan wanita lain yang duduk di atas kursi roda, menatap dalam diam sosok gadis kecil yang kini ada di sampingnya.
"Ye, benar 'kan , Mbak, Mama nggak bohong, Mama akhirnya pulang dan ketemu Tasya," gadis kecil itu melompat-lompat sambil berputar sangking senangnya. Pengasuh itu tersenyum sambil geleng-geleng melihat anak asuhnya yang begitu lucu.
"Tasya, nanti pusing, Sayang." Cahaya menahan gerakan putrinya yang begitu aktif, "mbak, Tasya sudah makan siang?" tanya Cahaya pada pengasuh putrinya
"Belum mau, katanya mau tungguin Mama datang dulu, Bu," Pengasuh Anastasya melaporkan, Cahaya tersenyum lalu menarik putrinya dan menatapnya lekat.
"Sekarang Mama udah datang, Tasya sekarang maem dulu ya," bujuk Cahaya, "disuapin Mama, ya," gadis kecil itu ganti membujuk sang ibu. Cahaya tertawa renyah, "kamu benar-benar mirip Papa kamu yang tidak mau kalah," kata Cahaya.
"Ya sudah, Mbak, tolong ambilkan makanan untuk Tasya. Biar dia saya suapi," Cahaya berkata, pengasuh Anastasya pun menurut. Berjalan menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk anak asuhnya.