Sah ...." Para hadirin berseru menjawab.
"Alhamdulillah ...."
Seru keluarga Jevin dan keluarga Safia bahagia. Safia sendiri merasa hatinya menghangat melihat senyum bahagia di wajah ibu serta adik kembarnya. Berbeda dengan Jevin, pemuda itu seketika membeku saat menangkap sosok Embun hadir di acara itu. Jevin menunduk melihat Embun menitikkan air mata.
"Barakallahu laka wa Baraka alaika wa jama'a bainakuma fi Khair!"
Masjid pun bergema oleh suara doa seluruh hadirin. Hati Safia terasa sejuk mendengarnya. Kemudian matanya pun menangkap sesosok gadis yang tengah mengusap air mata menyaksikan upacara sakral tersebut. Embun datang di acara pernikahan pacarnya itu.
Acara semakin berlanjut. Sang juru kamera menyuruh Safia dan Jevin untuk foto bersama. Lelaki itu menyuruh kedua mempelai untuk berdiri saling menempel sambil menunjukkan buku nikah mereka. Pengantin baru itu hanya menurut saja. Lalu ketika sang photografer menyuruh sang mempelai pria untuk mencium kening istrinya, Jevin dan Safia terlihat begitu gugup dan canggung.
"Ayo Jevin buruan cium bini, Lo!" perintah Yuki yang turut menjadi saksi pada acara sakral itu.
Jevin memandang Safia dan Safia hanya bisa menunduk. Hati-hati, Jevin menunduk menempel bibirnya di kening istrinya. Safia memejamkan mata. Sang juru kamera membidik momen itu dengan baik. Usai Jevin mencium dahi Safia, kini sang istri mencium punggung tangan Jevin. Bukti tanda bakti sebagai seorang istri.
BRUGHH
Embun tak kuasa melihat adegan romantis nan sakral itu. Tubuh gadis itu lemas dan limbung. Dirinya jatuh ambruk dan pingsan. Melihat itu Jevin segera berlari menolongnya. Namun, tangannya segera ditepis Yuki.
"Lo urusin bini lo aja," cegah Yuki sudah sigap menangkap tubuh lemas Embun. "Dia biar gue yang urus," lanjut Yuki begitu peduli pada Emun.
Cowok itu mengangkat tubuh Embun perlahan, membawanya pergi ke luar masjid. Jevin sendiri hanya mampu menarik napas yang terasa begitu sesak di d**a.
Tubuh lemas Embun dibawa Yuki ke rumahnya yang berjarak tidak jauh dari masjid itu. Hanya sekitar dua ratus meter. Begitu sampai rumah, tubuh tinggi semampai itu ia rebahkan di sofa ruang tamu.
"Gila ... berat juga ni cewek," gumam Yuki dengan napas terengah-engah. Setelah napasnya mulai teratur pemuda itu masuk ke kamar bundanya. Kotak obat ia ambil untuk kemudian kembali menemui Embun. Sebuah minyak angin ia oleskan di tangan, lalu ditempelkannya di hidung Embun. Embun merespon. Gadis itu membuka mata.
"Syukurlah lo sadar," lega Yuki senang. Dengan sigap ia berlari ke dapur, gegas mengambil air putih untuk Embun.
"Di mana ... aku di mana?" tanya Embun usai meneguk air yang disodorkan Yuki.
"Lo di rumah gue," sahut Yuki santai sembari menaruh gelas ke meja.
Embun termenung beberapa saat. Gadis itu mencoba mengingat kejadian sebelum dirinya jatuh pingsan. Setelah mengingatnya, Embun terisak sedih. Hatinya sungguh terluka. Yuki yang bingung mau menghibur bagaimana, akhirnya hanya bisa memeluk gadis itu.
"Temenmu sungguh kejam, Ki," umpat Embun tertahan. Air matanya terus saja menderas.
"Safia gak kejam, Bun. Dia hanya menjalani takdirnya saja," bela Yuki pelan. Pemuda itu mengelus punggung Embun berusaha menenangkan diri gadis yang ia sukai itu.
"Tidak! Safia jahat. Dia bilang menolak perjodohan itu. Kenapa justru kini dia menerimanya?" protes Embun masih tidak terima. Gadis itu mengurai pelukan.
"Bun ...." Yuki menatap serius ke Embun. Dia meraih jemari Embun. "Jodoh itu tak usah dikejar-kejar. Tak usah dipaksa-paksa. Bila saatnya pasti akan datang juga. Contohnya Fia. Fia sendiri pasti juga tidak pernah membayangkan akan bersanding dengan kekasih sahabatnya," tutur Yuki mencoba menasihati. "Dan perlu kamu ingat, Jevin bukan satu-satunya cowok di dunia ini. Ada banyak pemuda yang siap membahagiakan dirimu," lanjut Yuki serius. "Contohnya pemuda tampan di hadapanmu ini." Yuki menaikkan satu alis.
Embun hanya bisa menggeleng. Omongan Yuki sama sekali tidak digubrisnya.
***
Usai ijab qobul di masjid, acara makan-makan dan pesta kecil-kecilan di lanjutkan di rumah Safia. Semua yang hadir tampak bahagia. Hanya kedua mempelai saja yang terlihat datar. Jevin sendiri memutuskan masuk kamar usai para tamu pulang.
Pemuda itu lekas menyuruh supir untuk menjemputnya. Memang sebelum acara dimulai, pemuda itu sudah mengajukan permintaan bahwa usai acara Safia harus bersedia dibawa ke rumahnya pribadi. Rumah yang dibelikan Bu Jenni sebagai hadiah pernikahan anaknya.
Seperti biasa Safia tidak menolak dan keluarganya pun mengabulkan. Maka
sesuai kemauan Jevin, Safia langsung diboyong ke rumah baru mereka. Rumahnya terletak di daerah bilangan Pondok Indah. Hunian itu berlantai dua dengan gaya minimalis modern. Namun, luasnya tidak sebesar rumahnya Jevin terdahulu.
Begitu mereka sampai Jevin segera membuka kunci pintu, lantas memasuki rumah baru itu. Dan Safia berjalan pelan di belakangnya. Keduanya telah berganti pakaian biasa.
Ketika Jevin menaiki anak tangga, Safia terus mengikuti. Keduanya telah sampai di kamar inti. Sebuah kamar yang cukup nyaman dengan nuansa serba putih. Kelopak mawar menghiasai ranjang besar itu.
"Aku mau membersihkan badan di bawah. Kamu bisa mandi di sini saja," ujar Jevin datar.
Safia menganguk kecil. Tangan gadis itu tengah memindahkan baju-baju dari koper ke lemari besar. Melihat anggukan Safia, Jevin lekas turun. Dirinya bergegas menyalakan shower begitu masuk kamar mandi bawah. Otaknya yang pusing ia aliri dengan air yang dingin. Sedikit menyejukkan pikiran.
Ada satu jam pemuda itu berdiam di kamar mandi. Lalu setelah merasa sudah segar dan tenang, Jevin melangkah menuju walk in closet yang masih terletak satu ruangan. Diambilnya sebuah piyama berwarna abu-abu. Usai menyisir rambutnya, dia beranjak ke luar.
Tampak Safia tengah menyiapkan makanan di meja makan. Pemuda itu mendekat. Tanpa bicara ia duduk.
"Kulkas masih kosong jadi aku pesan makanan saja," ujar Safia walau tidak ditanya.
Gadis itu mengangsurkan sepiring nasi goreng seafood special. Jevin mengucap kata terima kasih walau terdengar lirih. Lalu keduanya menikmati santapan makan malam dalam diam.
Makan malam usai, Jevin menderap langkah menuju ruang keluarga. Pemuda itu menyalahkan televisi. Sementara Safia sibuk membereskan meja. Wanita itu segera mencuci peralatan makan yang kotor. Baru setelah semua rampung, ia mendekati pria yang kini resmi menjadi suaminya.
Safia dan Jevin duduk dalam satu sofa. Namun, jarak mereka cukup jauh. Dua jam berlalu keduanya lewati tanpa pembicaraan.
"Masuklah! Nanti aku nyusul," suruh Jevin melihat Safia beberapa kali menguap. Dan seperti biasa Safia menganguk patuh.
Rasa kantuk membuat wanita itu berjalan lemah menaiki anak tangga. Segera ia lemparkan tubuhnya ke ranjang empuk itu begitu masuk kamar. Mata terpejam, tetapi segera ia buka ketika mengingat sesuatu.
Malam ini adalah malam pertamanya. Mengingat itu Safia menjadi gugup. Gadis itu menatap tampilan di cermin. Baju tidur panjang membungkus tubuh indahnya. Haruskah ia berganti baju yang sedikit terbuka. Agar Jevin sedikit tertarik padanya. Safia mengerutkan keningnya berpikir. Namun, cepat ia menggeleng.
"Aku tidak mau anggap terlalu agresif," gumamnya sendiri. Gadis itu termenung di meja rias.
Jevin sendiri pun merasa kantuk. Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk tidur. Ketika dia membuka pintu kamar, didapatinya Safia tengah menyisir rambut menghadap cermin.
"Kenapa Ac-nya tidak dinyalain?" tanya Jevin datar tanpa ekspresi.
"Emmm ... aku tidak biasa tidur dengan AC yang menyala," jawab Safia pelan.
"Kenapa? Bukankah kamu sudah terbiasa, saat bekerja di kantor?"
"Emmm ... iya sih," sahut Safia lirih. "Tapi, kulit kita butuh bernapas. Seharian terkena udara AC di kantor membuat kulit kita kering. Jadi aku lebih suka tidak menyalakan AC saat tidur" terang Safia disertai seringai kecil.
"Oh ...." Jevin menaruh kembali remote AC yang hendak ia hidupkan, "ya sudah ... aku keluar sebentar. Kamu tidur saja dulu."
Jevin ke luar kamar tanpa memedulikan tanggapan Safia. Safia terdiam melihat itu. Pelan dia merangkak ke atas ranjang, lalu berusaha memejamkan matanya.
Dua jam menunggu, tapi Jevin tak kunjung masuk. Safia lelah menunggu. Akhirnya, wanita itu terlelap tidur.
***
Bersambung