Keesokan paginya, Safia membuka mata. Wanita itu melirik bantal yang ada disamping. Kosong. Matanya menyapu ruangan. Tidak ada Jevin.
'Sudah bangunkah dia? Atau dia tidak tidur disini?' Safia membatin.
Safia menggeliat beberapa kali. Memutar kepala ke kiri dan kanan guna melemaskan otot. Lantas matanya melirik jam kotak digital di nakas. Sudah pukul lima kurang lima menit.
Bergegas Safia menuju kamar mandi yang ada dalam kamar. Wanita itu membersihkan badan dengan berendam air hangat di bathtub. Ada sekitar dua puluh menit dirinya memanjakan diri di air hangat dan wangi itu.
Setelah mandi dan berganti pakaian biasa, Safia bergegas menggelar sajadah guna melaksanakan kewajiban dua rakaatnya. Walau sedikit telat, tetapi pikirnya tidak mengapa. Dari pada tidak sama sekali.
Di sujud terakhir, wanita itu memohon kepada Allah agar pernikahannya ini langgeng dan senantiasa diberkahi. Dalam doa, wanita itu juga berharap agar cintanya pada Jevin mendapat sambutan. Tidak lupa ia berdoa agar persahabatan dengan Embun tetap berjalan harmonis seperti dulu kala. Safia mendoakan semoga Embun lekas mendapat pengganti Jevin. Seorang lelaki yang baik untuk sahabatnya.
Usai salat Safia turun menuju dapur. Dia ingin membuat sarapan. Dengan bahan seadanya, dia berniat membikin nasi goreng saja. Namun, di ruang keluarga dia mendapati sang suami masih tertidur di sofa. Tampak tangan Jevin masih memegang remot televisi.
Safia mendekati suaminya. Penuh kehati-hatian dia mengambil remote itu, lantas menaruhnya di atas meja. Entah mengapa tangannya ingin menyentuh wajah pria di hadapannya itu. Sungguh Safia terpesona melihat Jevin yang terlelap damai. Wajah Jevin terlihat begitu tampan di matanya. Pelan, dia mengusap muka Jevin. Membelai sejenak pipi tegas itu.
"Jevin ... bangun! Sudah siang," bisiknya lembut.
Jevin masih terlelap. Safia tersenyum. Sekali lagi ia membangunkan Jevin dengan bisikan lembut. Merasakan sentuhan di wajah dan semilir hawa di telinga membuat Jevin terbangun. Pria itu membuka mata.
Mata Jevin mengerjap perlahan. Sosok wajah manis imut berambut basah menyunggingkan senyum manis untuknya. Jevin merasa terpikat. Tanpa sadar dia memegang tangan Safia. Pasangan suami istri itu saling tatap menatap. Namun, beberapa menit kemudian, Jevin segera melepas genggaman tangannya pada Safia. Wajah Embun tiba-tiba menyapa pikirannya. Lalu tanpa bicara Jevin pergi naik ke atas menuju kamarnya.
Safia menghela napas melihat itu. Akan tetapi, dia tidak berpikiran buruk. Jevin dan dirinya perlu penyesuaian, pikirnya. Kini langkahnya menderap ke dapur. Kembali ke niat utama yaitu membuat sarapan.
Begitu sampai dapur Safia membuka lemari pendingin. Dia mengambil dua butir telur dan potong sosis. Tidak ada sayuran. Dengan cekatan Safia meracik bumbu dan mulai memasaknya.
Tidak sampai setengah jam, nasi goreng Safia telah siap. Saat dirinya tengah menyiapkan makanan di meja Jevin datang mendekat. Pria itu mengenakan pakaian rapi walau tidak terlalu formil. Tanpa bersuara Jevin menarik kursi.
"Terima kasih," ucap Jevin pelan ketika menerima secangkir teh manis yang disodorkan Safia.
Pria itu menyesap minumannya pelan. Cangkir Jevin taruh kembali di meja usai dua kali meneguknya. Lantas dia membalikkan piring yang tersedia di meja. Dalam diam Jevin menyodorkan piring itu ke arah istrinya.
Safia menerima piring itu dengan senyum tipis. Dia lekas menuangkan dua centong nasi goreng ke dalam piring tersebut.
"Silahkan dinikmati," ujar Safia sembari menyodorkan kembali piring tersebut.
Jevin menerimanya. Pelan dia mulai menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut. Jevin mengecap dan mengunyah perlahan.
Wuekkk
Jevin memuntahkan makanan dari dalam mulut ke piring sarapannya. Suami Safia itu mengibaskan tangan ke mulutnya. Lalu gegas dia meneguk segelas air putih di sebelah kanan piring nasi gorengnya.
"Aku sudah sarapannya," ujar Jevin kemudian. Mulutnya masih terbuka. "Sekarang aku mau pergi dulu menemui teman. Kamu di rumah saja, ya," pamit Jevin disertai perintah. Pria itu beranjak pergi tanpa menunggu Safia bicara.
Safia sendiri hanya mampu memandang kepergian suaminya dengan hati yang bingung. Dia mengambil sesendok nasi goreng buatan tangannya. Kemudian dia mulai mengunyah makanan tersebut.
"Emm ... enak kok," gumamnya pada diri sendiri. "Tidak ada yang salah. Semuanya pas. Kenapa Jevin memuntahkan makan ini tadi?" Safia mengerutkan kening.
Karena tidak kunjung menemukan jawaban, Safia hanya bisa angkat bahu tidak peduli. Sendiri wanita mungil itu menikmati sarapannya.
***
Jevin dan Safia mengambil cuti selama seminggu untuk acara pernikahannya. Hari-hari libur itu dihabiskan Safia berdiam di rumah seorang diri. Jevin sering pergi tanpa mau mengajaknya. Siang ini Safia tengah sibuk mempersiapkan menu makan siang. Jevin sedang pergi entah ke mana dan belum pulang juga dari tadi pagi.
Ketika dia sedang menata makan siang, bel rumah berbunyi. Wanita itu tersenyum senang. Karena dipikirnya Jevin yang pulang. Namun, saat pintu ia buka yang muncul adalah wajah Ibu Jenni. Sosialita cantik itu melempar senyum manis untuknya.
"Mama," sapa Safia sopan. Karena melihat sang mertua merentangkan kedua tangan, Safia lekas menghambur dalam pelukan mama Jevin itu.
"Apa kabar, Sayang?"
"Baik," sahut Safia mengurai pelukan. "Ayuk masuk, Ma!" ajak Safia hangat.
Kedua wanita beda generasi itu berjalan beriringan ke dalam rumah.
"Masak apa, Sayang?" tanya Bu Jenni sambil berjalan menuju meja makan.
"Mama lihat sendiri saja. Makan siang bareng ya, Ma."
Bu Jenni menganguk semangat. Namun, seketika matanya terbelalak melihat hidangan di meja makan.
"No ... no ... no!" seru Bu Jenni sembari menggeleng tegas. "Balado telur, kari ayam, sama sambal goreng ati. Oh tidak, Nak!" sesal wanita itu dan mendesah panjang.
"Kenapa, Ma?" tanya Fia bingung. Gadis itu memincing.
"Jevin mana mau makanan serba pedas seperti ini, Fia" jawab Bu Jenni sambil tersenyum. Dipeluknya lengan sang menantu dengan penuh kasih. "Jevin itu tidak bisa makan makanan pedas. Sama persis seperti Papanya," lanjut Bu Jenni menerangkan, "makanan favorit Jevin itu adalah semur ayam dan sop buntut," lanjut Bu Jenni lagi.
"Oh ...." Safia manggut-manggut mendengar penuturan sang mertua.
'Pantas Jevin memuntahkan nasi goreng buatanku kemarin," batin Safia. "Aku pikir Jevin suka pedas jadi kutambahkan lima biji cabe setan ke dalam bumbunya.' Safia tersenyum geli mengingatnya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri begitu?" tegur Bu Jenni melihat tingkah sang menantu. "Pasti ingat kejadian malam-malam indah kalian, ya?" goda Bu Jenni.
"Ih ... enggak, Ma." Safia menyangkal. Memang kenyataannya tidak ada malam indah yang seperti dituduhkan. Jevin selalu tidur di bawah dan Safia tidak bisa memprotes.
"Kalo iya juga gak papa," tukas Bu Jenni yang hanya ditanggapi senyuman kecut oleh Safia. "Terus sekarang di mana anak itu?" tanya Bu Jenni kemudian.
"Tadi dia bilang mau ke luar sebentar," jujur Safia, "nanti juga pulang, Ma." Safia melanjutkan.
"Oh ... ya bagaimana malam pertama kalian?" Kembali Bu Jenni mengulik soal tadi. Wanita itu tersenyum menggoda. Safia tersenyum kikuk dan menggigit bibir bawahnya.
"Jangan bilang kalian tidak tidur sekamar ya!" ujar Bu Jenni sengit melihat gelagat kikuk Safia
Safia menyeringai kecut. Wanita itu diam saja tidak menjawab, tetapi sudah cukup memberi jawaban pada Bu Jenni lewat gesturnya.
"Kenapa?" tanya Bu Jenni serius. Matanya lurus menatap Safia.
"Gak tau, Ma," balas Safia dengan menggeleng bingung.
Jevin terbiasa tidur di bawah AC tujuh belas atau enam belas derajat, Fi." Bu Jenni bertutur. "Kamu kuat dinginkan?" tanya wanita itu menatap Safia lembut. Safia menganguk pelan. "Harusnya itu memudahkan kalian untuk memadu kasih," ujar Bu Jenni sembari membenarkan anak rambut Safia yang menutupi pipi.
Safia hanya mampu tersenyum menanggapi penuturan sang mertua. Tiba-tiba ponsel di saku kulotnya bergetar. Lekas Safia rogoh. Wanita itu membaca dalam hati pesan WA dari Jevin untuknya.
"Jevin bilang akan pulang sore, Ma." Safia mengabarkan. "Jadi kita tidak perlu menunggu dia untuk makan siang," tutur Safia dengan nada penuh kekecewaan. Sudah beberapa kali ia harus makan siang seorang diri. Untung kali ini sang mertua datang. Jadi ada teman makan.
Melihat sang menantu bermuram durja, Bu Jenni menghela napas. "Jevin ...." Wanita itu menggumam kesal. "Awas kamu ya!" ancamnya kesal.
***