"Kau menangis untukku?" Melihat Isaac yang tiba-tiba terbangun, membuat Rie terkejut hingga kursi yang ia duduki pun bergeser ke belakang. "Aku tahu kau masih mengkhawatirkanku," ucap Isaac lagi yang terdengar percaya diri itu. "Kau sudah bangun. Kalau begitu akan kupanggilkan dokter --" "Tunggu sebentar," pinta Isaac yang berhasil menarik tangan Rie yang hendak beranjak memanggil dokter. "Aku harus memanggil dokter karena ia harus memeriksamu secara menyeluruh." "Aku bilang tunggu dulu. Duduk lah." Suara Isaac yang khas baru bangun tidur tersebut tentu saja membuat Rie tertegun. Isaac juga menolak untuk melepaskan tangannya hingga mau tak mau ia pun menurut untuk kembali duduk. Kali ini Rie memilih untuk memalingkan wajahnya setelah beberapa menit yang lalu ia terus memandangi pri

