Disisi lain, Zachery yang menghilang sedari tadi ternyata ada di lapangan basket. Menonton pertandingan basket antar kelas. Bukan pertandingan resmi. Hanya even kecil yang dibuat oleh kakak kelas 3. Zachery sengaja ikut kesana, tentu saja untuk menggali informasi.
“Hei kak, ini yang tanding kelas mana aja?” Tanya Zachery pada salah seorang kakak kelas di dekatnya.
“Ini kelas 3D sama 3C. Mereka yang paling jago basket di sekolah kita ini.” Jawab kakak kelas itu.
Zachery manggut-manggut mendengar jawaban kakak kelasnya. Dia sebenarnya tidak ingin tahu. Dia hanya ingin memulai perbincangan saja.
“Eh kak, orang yang paling tinggi itu mirip sama kak Fagan ya. Sayang... Padahal dulu aku nge fans banget sama kak Fagan.” Zachery mulai memancing kakak kelas itu.
“Kamu tahu Fagan?” Tanya kakak itu. Zachery menyeringai. Dia tidak salah memilih target ternyata.
“Yahh, siapa yang nggak tahu kak Fagan sih, Dia yang masih SMA bisa membangun kerajaan fashion nya sendiri. Sudah gitu orangnya keren, jago olahraga juga. Aku juga ingin jadi seperti itu.” Ucap Zachery lancar. Tidak sia-sia dia memperlajari latar belakang para korban hilang. Sekarang informasi itu sangat berguna.
“Kamu benar...” Jawab kakak itu. Dia tampak menerawang.
“Kakak kenal dekat dengan kak Fagan?” Tanya Zachery lebih lanjut. Dia ingin mendapatkan informasi sebanyak mungkin.
“Ya, lumayan lah. Kita dulu satu kelas. Dia anaknya asik. Meski jenius, dia tetep pinter gaul dan dekat sama semua orang. Sayang banget akhirnya ada insiden itu.” Kakak itu berkata setengah menerawang. Mengingat kenangan tentang temannya.
“Sebenarnya... apa yang terjadi setahun lalu kak? Kenapa mereka bisa menghilang?” Tanya Zachery dengan hati-hati. Dia tahu pertanyaan itu sangatlah sensitif di sekolah ini.
Kakak itu memandang Zachery. Seperti tidak percaya dia berani menanyakan itu. “Hei dek, aku kasih saran ya. Jangan mengungkit tentang kasus anak-anak yang hilang itu di sekolah ini. Jika sampai pihak sekolah tahu. Kamu pasti akan dalam masalah. Mengerti?” Kata kakak itu. Lalu dia berlalu pergi meninggalkan Zachery.
“Ahh!!! Kukira bakal dapat informasi. Sial!!!” Umpat Zachery kesal. Zachery duduk termenung memandang lapangan basket. Dia pikir kalau menanyakan pada murid lain hasilnya pasti sama saja. Sekolahan sudah membungkam mulut mereka. Dia harus mencari cara lain untuk menggali informasi.
******
Rachel duduk terdiam di tempat duduknya. Kelas sudah sepi karena jam pelajaran sudah berakhir 15 menit lalu. Namun Rachel masih belum ingin beranjak dari duduknya. DIa masih teringat kejadian di kantin tadi. Semua orang memandangnya dengan tatapan menyelidik saat dia membahas tentang penghuni asrama. Nina sendiri terlihat panik mendengar pertanyaan itu. Sudah jadi rahasia umum kalau hal itu tabu di bicarakan di sekolah. Pihak sekolah pasti akan langsung menindak siapa saja yang membahas tentang insiden tahun lalu.
Rachel tertunduk lemas. “Harus dengan cara apalagi aku mencari informasi? Kalau bertanya saja sudah mendapat tatapan seperti itu, lalu aku harus bagaimana...”
“Rachel? Kenapa masih disini?” Tanya Dylan yang baru kembali dari ruang guru. Tadi dia dipanggil pak Abraham untuk mengambil jadwal pelajaran tambahan di asrama.
“Ah, nggak papa. Agak nggak enak badan saja.” Jawab Rachel.
Dylan berjalan mendekat ke arah Rachel. “Ayo jalan bareng. Biar ku bantu. Atau mau ku antar ke UKS?” Tanya Dylan.
“Nggak perlu. Nggak parah kok cuma sedikit pusing saja.” Jawab Rachel. Dia beranjak untuk membereskan barangnya. “Ayo pulang.” Ajak Rachel.
Dylan mengangguk. Mereka berjalan pelan menuju asrama. Rachel baru sadar, baru kali ini dia begitu dekat dengan Dylan. Dia sudah tidak lagi merasakan hawa dingin dan perasaan takut saat bertatapan dengan Dylan. Dia sudah terlihat seperti anak-anak sekelasnya yang lain. Hanya sedikit pendiam saja.
“Ada apa? Kamu terlihat stres? Sedang memikirkan sesuatu?” Tanya Dylan. Dia menatap Rachel intens.
“Nggak ada apa-apa kok. Aku memang lemah sejak kecil. Cepat lelah. Makanya sebenarnya aku tidak suka belajar. Karena kalau belajar aku cepat pusing.” Rachel terkekeh dengan kata-katanya sendiri.
“Begitu. Syukurlah. Kukira ada yang mengganggumu.” Kata Dylan. Rachel tidak tahu kalau Dylan bisa seperhatian itu.
Mereka sampai di asrama. Ada Nina dan seorang gadis yang sedang duduk di teras. Rachel tidak mengenali siapa gadis itu. Teman Nina kah?
“Ah, Rachel.” Panggil Nina begitu mereka sudah di depan Asrama.
“Hai.” Sapa Rachel. Dylan hanya mengangguk singkat dan langsung masuk ke dalam asrama.
“Sini Ra, kak Silla udah nungguin kamu dari tadi.” Kata Nina.
“Kak Silla?” Tanya Rachel. Dia tidak ingat kalau mereka saling kenal.
“Iya, ada yang ingin ku bicarakan. Bisa ikut ke kafe depan sebentar?” Tanya gadis bernama Silla itu.
Rachel tampak bingung namun akhirnya mengiyakan ajakan kak Silla. “Aku ganti baju dulu ya kak.” Kata Rachel.
Rachel masuk kedalam dengan sejuta pertanyaan terbit dipikirannya. Ada urusan apa orang yang bahkan tak dikenalnya mencarinya?
“Hei, siapa itu?” Tanya Zachery yang mengamati dari pintu kamarnya.
“Nggak tahu juga. Aku baru melihatnya. Dia bilang mau bicara.” Kata Rachel. Dia berlalu hendak ke kamarnya. Namun Zachery menghentikannya.
“Kamu beneran nggak kenal?” Tanya Zachery. Ekspresinya seketika berubah khawatir.
“Iya nggak kenal.” Jawab Rachel.
“Bahaya dong Rachel. Biar kutemani.” Kata Zachery.
Rachel mendengus sebal. “Dia mau bicara, dan sampai meminta ke tempat khusus. Memangnya dia mau ada orang lain yang mendengar kecuali aku? Yang ditujunya? Udahlah, di depan sekolah aja kok tempatnya. Dan lagi...” Rachel berubah berbisik. “Aku punya barang pemberian ayah. Jadi santai saja.”
Zachery tampak tak mengerti namun akhirnya mengalah. “Bawa handphone mu. Langsung telepon kalau ada yang nggak beres.” Kata Zachery.
“Iya...” JAwab Rachel gemas. Dia tahu Zachery khawatir padanya. Hanya saja, kadang pemuda itu menjadi berlebihan.
Tak berapa lama, Rachel keluar kamarnya dengan setelan santai namun tetap sopan. “Ayo kak Silla. Maaf, nunggu lama ya?” Kata Rachel.
“Nggak papa kok. Ayo.” Ajak Silla. Mereka kemudian berjalan menuju kafe yang letaknmya didepan sekolah. Tak begitu besar, namun cukup populer di kalangan anak sekolah. Mereka masuk ke dalam kafe itu dan mencari tempat duduk yang paling ujung. Mereka ingin ketenangan saat berbicara.
“Jadi apa yang mau dibicarakan kak?” Tanya Rachel langsung pada sasaran. Dia tidak pintar basa basi.
Kak Silla tampak menoleh ke sekeliling. Memastikan tidak akan ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. “Tentang yang kamu katakan tadi saat di kantin. Apa kamu mengetahui sesuatu?” Tanya kak Silla. Rachel menjadi semakin bingung.
“Di kantin?” Tanya Rachel.
“Ya. Tentang penghuni asrama yang hilang tahun lalu. Kamu tahu tentang sesuatu kan?” Tanya kak Silla. Matanya menatap Rachel penuh selidik. Rachel menjadi gelagapan mendapat tatapan seperti itu. Bagaimana ini....
******
- to be continue -