Chapter 16 Part 1

1095 Kata
            Pagi kembali datang di asrama Red Orchid. Keadaan asrama masih terlihat lengang. Belum ada tanda-tanda aktivitas penghuninya. Zachery terlihat berguling-guling di tempat tidurnya. Sudah sudah terbangun, namun masih malas rasanya untuk beranjak dari ranjang.             Dia menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Lalu menghirup aroma yang tertinggal di selimut itu. “Bau Rachel...” Zachery tersenyum lembut mengingat setiap ekspresi yang dibuat Rachel.             Sepertinya kata-katanya kini menjadi kenyataan. Sekarang dia benar-benar jadi menyukai gadis itu. Senyumnya, cara bicaranya, bahkan ekspresi marahnya, semuanya sangat disukai oelh Zachery.             Semuanya karena terbiasa. Sebulan ini mereka selalu bersama. Kehadiran Rachel yang selalu mengisi hari-harinya membuatnya terbiasa dengan sosoknya. Gadis penuh tekad yang punya banyak sekali ekspresi. Sangat menggemaskan.             Zachery duduk bersandar pada kepala ranjang. Dia memandang sekeliling kamar Rachel. Tidak ada yang berbeda. Jendela dan gorden masih tertutup rapat. Semua benda masih terletak pada tempatnya. Zachery tadi malam sempat menaruh gelas di sisi jendela, agar bila ada yang tak sengaja menyentuhnya, gelasnya akan langsung jatuh. Namun gelas itu pun masih utuh. Tak bergeser sedikitpun.             Berarti, tidak ada penyusup tadi malam. Zachery sedikit bernafas lega. Dia bergegas keluar kamar. Tak lupa dia merapikan kembali tempat tidur Rachel. Dia tidak ingin mendapat komplain dari gadis pemarah itu.             Zachery masuk ke kamarnya sendiri untuk bersiap-siap. Sebentar lagi sudah saatnya untuk mereka sarapan bersama di kantin. Ritual baru yang mereka lewati setiap pagi. Semua penghuni asrama memang diwajibkan untuk makan bersama. Alasannya, agar kami menjadi lebih akrab tentunya.             “Zach?” Terdengar ketukan dan namanya di panggil dari luar kamar. Zachery yang sedang menuju kamar mandi pun mengurungkan niatnya. Dia berbalik menuju pintu kamar dan membukanya.             “Ada apa?” Tanya Zachery. Dia hapal betul siapa pemilik suara yang memanggilnya. Rachel...             “Apa ada yang aneh tadi malam? Apa terjadi sesuatu lagi?” Tanya Rachel. Wajahnya terlihat masih sangat kusut karena baru saja bangun dari tidur.             Zachery tersenyum hangat. “Tidak ada apa-apa semalam. Kamarmu baik-baik saja. Jadi tenanglah, oke?” Ucap Zachery.             Rachel menghela nafas lega. “Ya sudah. Aku ke kamarku dulu ya.” Ucap Rachel sambil berlalu pergi. Zachery memandang gadis itu sampai menghilang di balik pintu kamarnya.                                                                                         *******               Rachel dan Zachery berjalan beriringan menuju kelas. Mereka baru saja selesai sarapan bersama di kantin. Anak-anak yang lain sudah lebih dulu menuju kelas. Rachel memang yang paling lambat makannya. Dan Zachery terpaksa harus selalu menunggunya selesai.             “Hei Zach..” Panggil Rachel. Namun pandangan matanya tak terarah. Entah apa yang sedang dia cari.             “Ada apa?” Tanya Zachery. Dia menatap Rachel dengan heran. Gadis itu terlihat begitu bimbang.             “Aku merasa buntu. Kita tidak menemukan apapun di asrama. Padahal itu tempat terakhir yang bisa kita tuju. Bagaimana lagi kita harus mencari petunjuk Zach?” Wajah Rachel terlihat benar-benar keruh.             Zachery berhenti di hadapan Rachel. Dia menengadahkan wajah Rachel agar memandang langsung ke arah matanya. “Dengar. Jangan putus asa, oke?! Kita pasti menemukan jalan. Bagaimanapun caranya. Kita pikirkan sama-sama. Ingatkan masih ada satu ruangan yang belum kita periksa? Kita cari cara agar bisa masuk ke gudang. Ya?! Jangan menyerah.” Pinta Zachery.             Rachel memandang Zachery dengan mata berkaca-kaca. Jelas sekali gadis itu sangat lelah dengan semua ini. Ditambah lagi ada yang menyusup ke dalam kamarnya. Setegar apapun dia, Rachel tetaplah anak perempuan yang belum bisa melindungi diri sendiri. Dia pasti juga merasakan takut.             “Ah!” Tiba-tiba saja Zachery mendapatkan ide. “Hei, kita juga belum menginterogasi teman-teman sekelas kakakmu dan adikku kan? Kalau tahun lalu mereka kelas satu, berarti sekarang mereka duduk di bangku kelas dua. Kita cari informasi sebanyak-banyaknya dari para murid kelas dua, bagaimana?” Usul Zachery.             Wajah Rachel berubah menjadi penuh semangat setelah mendengar ucapan Zachery. “Benar juga.” Jawab Rachel.             “Tapi ingat. Jangan gegabah. Buat seolah-olah kalau kita tak sengaja membicarakan tentang penghuni asrama yang dulu. Jangan sampai membuat orang curiga pada kita. Mengerti?” Kata Zachery mengingatkan.             “Iya. Thanks Zach.” Jawab Rachel.             “Kenapa berterima kasih? Kita partner, ingat?” Tanya Zachery.             “Ya, tapi.. Aku benar-benar putus asa tadi... Pokoknya terima kasih.” Ujar Rachel. Zachery menjawabnya dengan anggukan. Dia senang akhirnya Rachel kembali cerah, tidak tertutup mendung seperti tadi. Mereka memasuki kelas masih dengan senyum yang terus menempel di bibir. Senyum yang membawa pada harapan baru yang hampir saja pupus.                                                                                             ******               Waktu istirahat tiba. Rachel tidak ingin membuang waktu dan ingin segera menuju kantin. Tujuannya adalah untuk duduk di dekat para kakak kelas dan dengan sengaja menyingung tentang penghuni asrama yang hilang. Dia ingin melihat reaksi kakak kelas yang mendengar tentang penghuni asrama lama.             Dia melihat ke arah Zachery, bermaksud mengajaknya ke kantin. Namun pemuda itu sudah menghilang entah kemana. Rachel tak melihatnya pergi. Mungkin tadi saat dia memberekan buku?             “Kenapa? Pangeranmu ngilang ya? Sindir senja yang melihat Rachel celingukan melihat meja Zachery yang kosong.             Rachel tersenyum malu. “Ah, lihat Zach nggak?” Tanya Rachel.             “Dia keluar buru-buru tadi tepat setelah bel. Emang belum pamitan ya?” Goda Senja.             “Nggak lah. Pamit apaan. Ya sudah, ayo ke kantin.” Ajak Rachel sambil menutupi rasa malunya yang kelewat tinggi. Dia tidak suka jika digoda tentang Zachery.             “Oke. Ayo Nin, ke kantin.” Ajak Senja pada Nina yang masih sibuk merapikan bukunya.             “Iya, tunggu sebentar.” Jawab Nina. Dan tak berapa lama akhirnya dia selesai dan menghampiri Rachel dan Senja yang sudah menunggu di depan pintu kelas. “Ayo.” Kata Nina.             Mereka berjalan santai menuju kantin. Mengobrol ringan. Namun Rachel tidak fokus pada obrolan mereka. Dia sibuk menata skenario yang akan dia lakukan di kantin nanti. Dia harus bisa memancing paling tidak satu kakak kelas agar mau buka mulut tentang kasus tahun lalu. Harus. Rachel tidak ingin buang waktu lagi.             Saat mereka sampai di kantin. Keadaan sudah sangat ramai. Rachel mencari stand makanan yang antriannya paling sedikit. Prioritasnya adalah untuk mencari bangku diantara kakak kelas.             Dan begitu lama Rachel sudah selesai dengan pesanannya. Hanya salad dan minuman ringan. Dia lalu mencari tempat duduk yang paling ramai berisi kakak kelas. Tanpa ragu Rachel duduk disana dan menunggu kedua temannya datang untuk memulai aksinya.             “Sini.” Kata Rachel saat dilihatnya Nina dan Senja tak mampu menemukan dirinya.             “Jauh amat Ra pilih tempat duduknya.” Kata Senja begitu mereka sudah duduk disamping Rachel.             “Nggak papa kan. Ganti suasana.” Jawab Rachel sekenanya.             Mereka mulai makan. Sesekali mengobrol ringan. Dan lagi-lagi Rachel tidak meperhatikan obrolan kedua temannya. Dia lebih fokus pada orang-orang di sekitarnya. Rata-rata mereka membicarakan hal-hal yang nggak penting.             Rachel sudah bersiap untuk memulai aksinya. “Eh Nin, kamu ingat nggak sih kalau tahun lalu hampir semua penghuni asrama menghilang?” Tanya Rachel dengan suara yang cukup keras. Dia sengaja mengeraskan suaranya agar orang-orang di sekitarnya mendengar dengan jelas. Dan seketika,sekeliling Rachel menjadi hening. Semua mata tertuju padanya                Rachel menoleh ke sekeliling. Semua orang jadi memperhatikannya. Mampus... Harusnya aku lebih hati-hati kan....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN