Sore hari, saat semua orang sudah selesai beraktivitas. Pak Abraham datang ke asrama bersama beberapa orang yang belum dikenali oleh anak-anak penghuni asrama. Pak Abraham meminta semua anak untuk berkumpul diruang tamu. Dan memulai pertemuan sore itu.
“Selamat sore semuanya. Bagaimana keadaan kalian, sehat?” Tanya pak Abraham mengawali pidatonya.
“Sehat pak.” Jawab semua anak serempak.
Pak Abraham tersenyum memandang kelima anak pilihan itu. “Hari ini, Bapak akan memperkenalkan kalian pada guru keterampilan khusus kalian.”
Pak Abraham berdiri dari duduknya agak bisa bergerak lebih bebas. Yang disebelah kanan saya ini adalah Bapak Santoso. Beliau adalah pelukis handal yang lebih cenderung pada aliran lukisan ekspresionesme. Yang saya rasa akan cocok dengan karakter Dylan. Dan mulai besok, beliau akan mengajar kelas lukis untuk Dylan.
Pak Santoso berdiri untuk memberi salam. Dia berusia sekitar 50 tahunan dengan rambut panjang yang mulai memutih. Pembawaannya tenang dan berkharisma khas seniman. Dylan ikut berdiri dan menghampiri pak Santoso. “Mohon bimbingannya pak.” Kata Dylan sambil salim dengan pak Santoso.
Pak Abraham tersenyum senang melihat sikap Dylan. Sudah sangat jarang anak muda yang masih menjaga sikap di depan orang tua seperti itu. “Selanjutnya ada ibu Silvia. Beliau akan mengajari tentang Interior desain. Beliau adalah interior desainer di salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia. Jadi Nina, belajarlah sebanyak mungkin dari beliau.” Kata Pak Abraham.
Nina berdiri dengan penuh semangat. Dan segera menghampiri bu Silvia yang tersenyum ramah menyambut Nina. “Ibu, saya sudah lama menggemari karya-karya bu Silvia. Nggak nyangka banget sekarang saya bisa belajar dari bu Silvia.” Ucap Nina lalu dia mencium tangan ibu Silvia dengan penuh hormat.
“Wah... Ibu tidak menyangka ada anak muda lain yang menjadi penggemar saya.” Kata bu Silvia. Ada sedikit semburat kesedihan dimatanya.
Zachery tertegun mendengar penuturan bu Silvia. Apa bu Silvia juga yang dulu mengajari Interior Desain pada Diana? Apa bu Silvia mengenal Diana? Berbagai pertanyan muncul di benak Zachery. Namun dia tak boleh gegabah. Dia tidak tahu siapa saja yang bisa dipercaya dan yang tidak bisa dipercaya.
“Baiklah, selanjutnya, yang disebelah bu Silvia adalah pak Malik. Beliau adalah mantan penyidik handal di kepolisian kota ini. Sekarang pak Malik sudah memasuki masa pensiun. Namun ketajaman intuisinya tidak perlu diragukan. Dan pak Malik akan mengajari Zachery dan Rachel di bidang penyelidikan nanti.”
Zachery dan Rachel berdiri bersamaan. Mereka menyalami pak Malik dengan penuh rasa hormat. Pak Malik memang terlihat sudah mulai menua. Namun sorot matanya masih sangat tajam dan jeli.
“Selanjutnya adalah ibu Anastasia. Beliau akan mengajari kelas karakter untuk kalian berlima.” Kata pak Abraham kemudian.
“Mohon bimbingannya bu.” Kelima anak itu berkata bersamaan.
“Sama-sama. Ayo kita belajar bersama.” Jawab ibu Anastasia. Dia perempuan blasteran yang masih cukup muda. Umurnya sekitar awal 40an. Rambut coklat gelap dan mata birunya membuat ibu Anastasia terlihat begitu mencolok. Dia masih terlihat begitu cantik di usianya yang mulai matang.
“Dan yang terakhir adalah William. Dia pebisnis muda di bidang online shoping yang berhasil melebarkan sayapnya sampai ke luar negeri dalam waktu singkat. Dia juga menjadi pebisnis paling muda yang memiliki omset triliunan per bulan. William akan menjadi mentor Juro. Belajarlah dengan baik padanya Juro.” Kata Pak Abraham.
Juro berdiri dan menjabat tangan William. “Mohon bimbingannya kak.” Kata Juro.
William tertawa lebar. “Aku merasa posisi kita terbalik. Harusnya aku yang belajar darimu tuan muda LESSE.” Kata William. Dia terlihat mengenali Juro sebagai anak tunggal dari keluarga pemilik LESSE.
Juro tampak tidak suka dengan sikap William. Namun dia menekannya dan berusaha tersenyum. “Jangan merendah kak. Saya hanya anak remaja yang belum tahu apa-apa.” Ucap Juro.
William tampak akan mengatakan sesuatu namun pak Abraham sudah lebih dulu berbicara. “Baiklah karena semua sudah berkenalan, sekarang kita makan malam lebih dulu. Bapak sudah meminta staf untuk menata meja makan di halaman depan. Sekali-kali kita makan di luar ruangan ya.” Pak Abraham mengajak semua tamunya dan kelima anak penghuni asrama untuk menuju halaman depan. Disana sudah siap meja makan panjang dengan hidangan yang sudah tersusun rapi di sepanjang meja.
Semua orang mengambil duduk. Pak Abraham mempersilahkan untuk segera mulai makan malam. Karena hari sudah mulai larut. Semua orang makan dengan nikmat. Makan di luar ruanagan memang membuat selera makan meningkat. Udara segar yang menerpa dengan lembut menambah suasana nyaman.
Para orang tua saling mengobrol ringan. Sedangkan anak-anak SMA itu lebih banyak diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Lagipula tidak sopan kan bila ikut campur pada pembicaraan orang dewasa.
“Oh, iya untuk jadwal pelajaran akan di atur oleh masing-masing pembimbing. Jadi kalian berkoordinasilah dengan pembimbing kalian ya. Karena ekstrakurikuler sekolah juga mulai aktif, jadi aturlah jadwal kalian dengan baik.” Kata pak Abraham saat mereka sudah selesai makan malam.
“Baik pak.” Jawab kelima anak itu.
“Bagus. Pertemuan hari ini sampai disini dulu ya. Karena hari sudah larut, selamat beristirahat. Dan untuk para pembimbing yang sudah bersedia hadir. Kami ucapkan banyak terima kasih.”
Dan begitulah acara pertemuan malam itu selesai. Ada yang tampak begitu puas. Da yang terlihat kecewa dan ada yang menjadi penuh rasa penasaran. Semua menyimpan kesannya sendiri-sendiri.
******
Sepeninggalan pak Abraham dan para mentor. Anak-anak itu berkumpul diruang tengah. Zachery meminta semua anak untuk berkumpul untuk membahas tentang insiden yang dialami Rachel.
“Baiklah, semuanya dengarkan baik-baik cerita kami.” Zachery memulai pembicaraan. “Tadi malam ada yang menyusup ke dalam kamar Rachel.”
Semua orang terlihat terkejut dan panik. “Bagaimana bisa?” Tanya Nina penuh keterkejutan.
“Kamu tidak apa-apa Rachel?” Tanya Juro penuh kekhawatiran.
Rachel mengangguk. “Aku nggak papa. Tapi... Aku jadi takut.” Ujar Rachel. Ketakutan tergambar jelas di wajahnya.
“Tadi sore kami sudah ke ruang staf cctv.” Kata Zachery melanjutkan.
“Lalu bagaimana hasilnya?” Tanya Juro. Dia berubah menjadi sangat aktif jika itu menyangkut Rachel.
“Jendela dan gordennya terbuka sendiri. Tidak tertangkap di cctv ada orang yang berada di dekat kamar Rachel.” Jelas Zachery.
Nina, Juro dan Dylan tampak menahan nafas. Terlalu terkejut mendengar penuturan Zachery. “Jadi... dengan kata lain, itu kerjaan setan gitu?” Tanya Nina ketakutan.
Zachery mengendikkan bahu. “Aku juga tidak tahu pasti. Tapi.. memang tidak ada bukti kalau pelakunya manusia.”
“Apa ada barang yang hilang?” Tanya Dylan.
“Tidak ada. Semua barang masih utuh bahkan tidak ada yang bergeser sedikitpun.” Jawab Rachel. “Hanya saja....”
“Hanya saja apa Rachel?” Juro mendekat ke arah Rachel. Mengambil duduk tepat di samping gadis itu. Kekhawatiran nampak jelas dari sorot matanya.
“Hanya saja, aku... Waktu malam aku tidur tanpa selimut. Namun begitu aku bangun di pagi hari. Selimut menutupi tubuhku sampai d**a. Aku bukan orang yang banyak bergerak saat tidur, jadi... Pasti yang masuk ke kamarku lah yang menyelimutiku...” Terang Rachel panjang lebar. Semua yang ada disana mendadak jadi diam. Suasana berubah menjadi mencekam.
Juro mengepalkan kedua tangannya. Dia dikuasai amarah. Ya, dia memang tertarik dengan Rachel. Dan dia tidak suka sesuatu yang dia inginkan di pegang oleh orang lain.
“Tapi aku tidak apa-apa. Jadi jangan terlalu khawatir.” Kata Rachel yang merasa situasinya menjadi sangat tidak menyenangkan. “Tapi.. Aku jadi takut tidur dikamarku.”
“Tidur denganku saja Rachel.” Kata Nina. “Lebih baik tidur berdua daripada sendirian. Aku juga jadi takut setelah mendengar ceritamu.”
“Benar, akan lebih baik kalau anak perempuan tidur bersama. Entah yang menyusup itu hantu ataupun manusia. Aku yakin dia datang tidak dengan niat baik.” Kata Zachery. Anak yang lain mengangguk menyetujui.
“Bagaimana kalau kita berjaga bergantian?” Usul Juro.
“Kurasa tidak perlu. Aku sudah melapor pada pihak sekolah. Jadi pasti mereka sudah mengambil tindakan. Kita harus sekolah. Tidak baik kalau kita bergadang tiap malam.” Ucap Zachery bijak.
“Tapi aku tetap saja khawatir.” Kata Juro.
“Bagaimana kalau kita beritahu para satpam saja? Agar saat mereka patroli, mereka bisa mengawasi asrama dengan lebih teliti.” Usul Dylan.
“Ide bagus.” Kata Zachery dan Juro bersamaan.
“Biar aku dan Dylan yang ke pos satpam. Juro, kamu temani Rachel dan Nina ya. Sementara ini jangan biarkan anak perempuan sendirian.” Kara Zachery. Dia terlihat sangat mendominasi.
“Baiklah.” Jawab Juro patuh. Dia memang lebih suka tinggal bersama Rachel daripada harus keluar malam-malam begini.
Zachery dan Dylan beranjak menuju ke pos satpam. Mereka berasumsi kiranya bagaimana jendela itu bisa terbuka sendiri tanpa ada seseorang di sekitarnya? Apa mungkin pelakunya memakai trik untuk membuka jendela agar jendela itu terlihat seperti terbuka dengan sendirinya? Atau memang benar-benar hantu lah pelakunya?
“Hahhh Entahlah. Setidaknya Rachel baik-baik saja. Aku sudah sangat bersyukur.” Ucap Zachery. Mereka sudah sampai di pos satpam. Pak Slamet langsung menyapa mereka.
“Ada apa nak? Mau keluar?” Tanya pak Slamet.
“Nggak pak, kami mau lapor sama pak satpam.” Kata Zachery. Dia lalu menceritakan kronologis kejadian kemarin malam pada para satpam yang sedang berjaga. Merek sedikit banyak sudah mendengar dari pihak sekolahan tadi sore. Mereka juga sudah diperintahkan untuk memperketat penjagaan di Asrama.
“Iya tenanglah nak, kami akan patroli lebih sering dan lebih teliti di area asrama. Padahal setiap hari juga kami patroli satu jam sekali, tapi kok bisa kelewatan kita nggak nyadar kalau jendela kamar nak Rachel terbuka sendiri. Bapak jadi merasa bersalah.” Ucap salah satu satpam.
“Nggak papa pak. Yang penting Rachel baik-baik saja. Nggak kenapa-napa.” Ucap Zachery.
“Sampaikan maaf kita sama nak Rachel ya.” Kata pak Slamet.
“Baik pak. Kami permisi dulu.” Jawab Zachery. Mereka kembali berjalan menuju asrama. Kali ini dengan perasaan lebih ringan. Setidaknya para satpam sudah tahu dan akan berpatroli lebih sering. Jadi bisa meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan.
Saat mereka berdua sampai di asrama, Rachel, Nina dan juro masih tetap berada di ruang tengah. Tidak beranjak darisana.
“Kenapa belum tidur?” Tanya Zachery. Dylan masih tertinggal dibelakang untuk mengunci pintu depan.
“Jangan matikan lampunya Dylan.” Kata Rachel saat Dylan hendak mematikan lampu. “Biarkan menyala saja. Aku takut.” Lanjut Rachel.
Dylan menurut dan masuk ke dalam tanpa mematikan lampu. Mereka kembali berkumpul di ruang tengah.
“Sudah malam, sebaiknya kita segera tidur.” Ucap Zachery. Umur memang tidak bisa dibohongi. Dia merasa seperti sedang merawat empat adik sekaligus.
“Ayo tidur Rachel.”Ajak Nina.
“Aku ganti pakai baju tidur dulu, sekalian ambil bantal ya.” Jawab Rachel.
“Aku temani. Jangan sendirian.” Jawab Nina sambil mengikuti Rachel menuju kamarnya.
“Kalian berdua juga tidurlah.” Kata Zachery pada Dylan dan Juro.
Dylan menurut dan langsung masuk ke kamarnya. Sedangkan juro masih setia duduk di tempatnya.
“Aku mau menunggu Rachel dan Nina tidur dulu. Belum tenang rasanya.” Ucap Juro yang membuat Zachery menatapnya dengan tajam.
“Kau benar-benar tertarik pada Rachel?” Tanya Zachery to the point.
Juro mengangguk. “Iya. Dia belum jadi pacarmu, jadi aku masih punya kesempatan kan?” Tantang Juro.
Zachery menyeringai kecil. “Coba saja. Aku yang sudah mengejarnya sebulan lebih pun belum ada kemajuan. Rachel sangat sulit didekati.”
Juro tidak membalas perkataan Zachery. Dia hanya tersenyum simpul mendengar penuturan Zach. Justru itu yang membuatnya menarik kan?
Rachel dan Nina keluar dari kamar Rachel. “Kalian belum tidur?” Tanya Nina.
“Kami akan tidur setelah kalian tidur.” Jawab Juro dengan senyum nya yang khas.
“Ah, Rachel. Boleh aku tidur di kamarmu? Untuk berjaga-jaga siapa tahu siapapun itu yang mencoba membuka jendelamu kembali lagi nanti malam. Akan berbahaya kalau tidak ada orang di kamarmu. Bagaimana kalau dia mengambil sesuatu kan?” Kata Zachery.
Rachel mengangguk dan menyerahkan kunci kamarnya pada Zachery. Kalau Zachery, Rachel percaya padanya seratus persen.
“Baiklah sekarang ayo kita semua tidur. Selamat malam.” Ucap Zachery dan beranjak menuju kamar Rachel. Yang lain mengikuti memasuki kamar mereka masing-masing. Berharap malam ini tidak ada kejadian buruk yang terjadi.
******
-to be continue-