Chapter 14

1288 Kata
            Rachel tampak melamun saat jam pelajaran matematika pagi itu. Dia sama sekali tak bisa fokus pada pelajaran. Pikirannya masih berada pada jendelanya yang terbuka sendiri pagi itu. Dia ingin hari ini cepat berlalu agar dia bisa segera meminta pihak sekolah untuk melihat cctv di sekitar asrama.             “Rachel.”             “Rachel...”             “Rachel...” Pak Abraham sampai harus memanggil 3x agar Raachel keluar dari lamunannya.             “Ah.. I.. Iya pak....” Jawab Rachel tergagap.             “Masa melamun saat jam pelajaran. Ayo maju ke depan. Kerjakan soal yang ada di papan.” Kata pak Abraham.             “Baik pak.” Jawab Rachel. Dia merasa sangat malu ketahuan tidak fokus saat pelajaranh. Dia maju ke depan dengan kepala tertunduk. Ini adalah kelas A. Kelas dimana semua anak serius dengan pelajaran. Namun dia malah tertangkap basah sedang melamun. Sungguh memalukan.             Rachel membaca soal yang tertulis di papan tulis. Dia sudah pernah mempelajari tentang soal itu di buku kakaknya. Dan untungnya dia masih mengingat cara menyelesaikan soal itu. Rachel mulai menulis jawabannya dengan percaya diri. Beruntung dia punya daya ingat yang baik dan pemahaman yang di atas rata-rata. Kalau tidak, dia pastis edang dipermalukan sekarang.             “Hemm. Baguslah. Kalau sampai kamu nggak bisa jawab, pasti bapak akan marahin kamu.” Kata pak Abraham saat Rachel sudah selesai mengerjakan soal.             “Terima kasih pak.” Jawab Rachel.             Rachel kembali ke tempat duduknya. Dia bisa melihat Zachery yang geleng-geleng kepala dengan sengaja. Well, Rachel tahu tak seharusnya dia bersikap seperti ini. Tapi yang terjadi tadi pagi benar-benar menyita perhatiannya. Dia ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi.                                                                                 ******               “Hei Rachel, ayo ikut kami ke kantin.” Tiba-tiba saja, Senja dan Nina menyeret Rachel untuk mengikuti mereka.             “Ah, tapi aku... Nggak begitu lapar.” Jawab Rachel. Meski bukan itu alasan sebenarnya. Rachel sebenarnya ingin segera menemui penanggungjawab yang mengawasi cctv asrama. Dia tidak sabar jika harus menunggu pulang sekolah.             “Jangan gitu dong Rachel. Masa setiap hari sama Zachery melulu. Ayo skeali-kali sama kita. Ya.. ya...” Pinta Senja.             Rachel tidak tega untuk menolak lagi. Dia melirik Zachery untuk minta pendapat. Zachery yang mengerti isyarat Rachel mengangguk mempersilahkannya untuk pergi bersama anak-anak perempuan.             “Yaelah, pake minta izin ke Zachery segala. Kalian beneran pacaran ya?” Tanya senja. Mereka berjalan beriringan menuju kantin sekolah.             “Nggak kok.” Jawab rachel.             Mereka sampai di kantin lebih awal dari dugaan. Antrian masih belum begitu panjang. Rachel lebih memilih makanan ringan dan jus buah, dan teman-temannya mengantri untuk mengambil nasi. Tentu saja Rachel selesai lebih dulu. Dia mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka bertiga.             “Lama nunggu ya?” Tanya Nina begitu mereka tiba di meja yang dipilih Rachel.             “Nggak kok. Ayo duduk.” Jawab Rachel.             Mereka mulai makan dengan tenang. Sesekali mengobrol ringan tentang pelajaran. Senja anaknya rame sehingga mudah mencairkan suasana meskipun yang diajak bicara orang yang kaku sekalipun.             “Hei ayo cerita sama kita. Katanya tadi malam kamu kencan sama Zachery ya?” Tanya Nina tiba-tiba. Mata Rachel membulat sempurna mendengar pertanyaan itu.             “Kencan apanya. Nggak kok. Lagian, kalian dengar darimana sih.” Tanya Rachel tak nyaman.             “Satu sekolahan sudah tahu kali Ra.” Ucap Senja. “Banyak yang lihat kalian lagi duduk berdua di taman. Pakai acara peluk-pelukan segala.”             Rachel terkejut mendengarnya. Tadi malam dia dikuasai kesedihan sehingga tidak sadar akan sekitarnya. Keadaan taman juga cukup gelap jadi Rachel pikir tidak ada yang melihat mereka. Ternyata....             “Ah... Ya... Tadi malam memang aku jalan sebentar sama Zachery. Tapi, kita nggak sengaja ketemu, bukan janjian!” Jawab Rachel agak panik. Dia tidak ingin gosip tentang dirinya dan Zachery bertambah parah.             Senja dan Nina tersenyum senang. “Janjian juga nggak papa kok Ra. Kasian juga kan Zachery ngejar cintamu sudah berbulan-bulan.” Kata Senja. Dia memang pendukung nomor 1 Zachery untuk mengejar cinta Rachel.             “Tapi kita beneran nggak pacaran kok. Temen doang.” Rachel bersikeras. Dia tidak ingin ada kesalah pahaman.             “Baiklah-baiklah kami percaya. Kami tunggu kabar baiknya. Kasihan Zachery kan Ra.” Sekarang giliran Nina yang berkomentar. Mereka berdua bernar-benar paling jago jika menyangkut masalah mencampuri urusan orang.             Tiba-tiba, Juro datang menghampiri tiga gadis itu. Dan Senja, yang belum pernah bertemu Juro, sangat terpesona dengan parasnya.             “Hei.” Sapa Juro.             “Hai Juro.” Sapa Nina dengan segera. Juro mengangguk sopan dengan senyum yang terus menempel dibibirnya.             “Rachel, gimana badanmu? Sudah enakan?” Tanya Juro. Rachel yang ditanya menjadi gelagapan karena dia tidak ingat kapan dia sakit?             “Ah, iya. Sudah sehat kok.” Jawab Rachel. Untunglah dia ingat semalam Zachery bilang pada Juro kalau dia nggak enak badan.             “Syukurlah.” Kata Juro. “Ini, aku beli minuman hangat untukmu. Jangan lupa diminum ya.” Juro menyodorkan 1 cup berisi teh lemon hangat kepada Rachel.             “Rachel aja yang dapat nih?” Tanya Nina blak-blakan. Dia dan senja memang paling senang menggoda orang.             “Ah, maaf. Aku hanya punya satu cup. Mau aku belikan juga?” Tanya Juro sopan.             “Nggak usah lah. Cuma bercanda kok.” Jawab Nina.             Lagi-lagi pemuda itu tersenyum hangat. “Kalau begitu aku ke kelas dulu ya. Bye.” Kata Juro.             Sepeninggalan Juro, Nina dan Senja kembali menatap rachel dengan penuh minat. “Apa lagi sekarang?” Tanya Rachel yang mulai terbiasa dengan tatapan mereka berdua.             “Sejak kapan kamu dekat dengan Juro Ra?” Tanya Nina.             “Dekat apanya. Kita cuma teman satu asrama kok. Sama seperti aku dan kamu kan Nin.” Jawab rachel.             “Tapi yang aku lihat nggak gitu deh. Juro memberi perhatian lebih ke kamu Ra.” Kata Senja.             Rachel jadi teringat chat dari Zachery semalam. Kalau Juro tertarik padanya. Apa benar? Tapi... Bagaimana bisa?             “Nggak lah. Dia begitu karena tahu aku lagi nggak enak badan. Itu aja kok.” Jawab rachel mengelak. Kedua temannya itu tampak tak percaya.             “Well well, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya.” Ucap senja penuh minat. Dia menjadi sangat peka kalau itu urusan asmara teman-temannya.             Rachel jadi termenung. Dari semalam dia memang merasa sikap Juro terhadapnya sedikit berubah. Tapi Rachel tidak menyadari kalau... Juro... Tertarik padanya?                                                                                     *******               Sepulang sekolah, Rachel buru-buru menyeret Zachery untuk segera menuju ruang staf penanggung jawab cctv. Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin tahu siapa yang berani menyusup ke dalam kamarnya.             “Pelan-pelan Rachel.” Kata Zachery. Namun rachel tak mengindahkannya. DIa terus menarik tangan Zachery agar berjalan lebih cepat.             “Hei, apa kamu ingin mengumumkan pada semua orang kalau kita sudah pacaran?” Tanya Zachery.             Rachel memandang Zachery tajam. “Sekarang bukan saatnya bercanda Zach.”             Zachery mengendik tak peduli. “Tapi kalau kamu menggandeng tanganku sepanjang jaaln begini. Besok pasti gosip tentang kita akan menjadi semakin heboh.”             Rachel dengan sebal melepaskan tangan Zachery. Dia berjalan mendahului. “Cepatlah Zach.”             “Baiklah.” Zachery mensejajari langkah Rachel yang setengah berlari. Mereka akhirnya sampai di ruang staf cctv. Zachery menjelaskan kronologis kejadiannya pada petugas agar mereka diperbolehkan melihat rekaman cctv.             Si petugas setuju dan mempersilahkan mereka masuk. Dia memutar ulang rekaman semalam. Rekaman diputar dengan cepat karena tidak ada yang mencurigakan. Sampai mereka tiba pada rekaman pukul 02.30 pagi. Jendela kamar Rachel tiba-tiba terbuka namun tidak ada siapa-siapa di dekat jendela. Kemudian gordennya pun terbuka, sehingga bagian luar kamar menjadi terang karena Rachel tidur dengan lampu dalam keadaan menyala. Tapi benar-benar tidak ada siapapun disana.             Wajah Rachel menjadi pucat paci. “Kalau tidak ada siapa-siapa, apa... hantu?”             “Kamu yakin bukan kamu yang membuka jendela nak?” Tanya pak petugas.             Rachel menggeleng. “Saya baru terbangun jam 6.30 pak. Dan jendela serta gordennya sudah dalam keadaan terbuka. Dan lagi, kalau saya yang membuka, pasti akan terlihat dijendela kan, ada bayangan saya disana.” Jelas Rachel.             Si petugas mengangguk setuju. “Jadi... Apa benar-benar hantu?” Tanya si petugas yang membuat Rachel semakin takut.             “Entahlah pak, kita tidak bisa sembarangan mengambil kesimpulan. Yang jelas, benar-benar ada yang membuka pintu asrama tanpa izin. Bapak bisa membantu kami melaporkan kejadian ini ke pihak sekolah?” Pinta Zachery.             Pak petugas itu mengiyakan. Dan Zachery segera membimbing Rachel keluar dari sana. “Tidak usah terlalu dipikirkan.” Kata Zachery.             “Tapi... Kalau beneran ada hantu gimana Zach?” Tanya Rachel ketakutan.             “Yang penting kan nggak gangguin kamu.” Kata Zachery.             “Aku takut.” Kata rachel. Wajahnya sudah terlihat pucat paci.             “Kalau kamu mau, kita bisa tukeran kamar beberapa hari, gimana? Kamu juga bisa tidur bareng Nina kan?” Kata Zachery menenangkan.             Rachel mengangguk. “Baiklah. Aku akan tidur dengan Nina saja.”                                                                                         ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN