Pagi tiba begitu cepat. Angin segar berhembus dari sela jendela kamar Rachel yang setengah terbuka. Rachel memicingkan matanya karena silau. Sinar matahari yang menembus masuk ke dalam kamarnya yang tepat mengarah ke matanya.
Rachel sudah terbangun dari tadi. Namun malas rasanya mau meninggalkan ranjangnya yang nyaman. Jam meja di samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 6.30 pagi. Masih awal untuk bersiap masuk sekolah.
Namun tiba-tiba, Rachel terkesiap dan bangun dari posisinya. Dia memandang jendela dengan kebingungan. Dia tidak ingat kalau dia membuka jendela tadi malam. Tapi sekarang, bukan hanya gorden kamarnya yang terbuka lebar, daun jendelanya pun setengah terbuka.
Rachel mendekat ke arah jendela itu. Memeriksanya dengan seksama. Tidak ada bekas di buka dengan paksa. Semuanya terlihat normal. Dia berbalik menuju pintu kamarnya. Barangkali tadi malam dia lupa mengunci pintunya dan ada orang yang masuk ke dalam kamarnya?
Rachel mencoba membuka kenop pintu. Terkunci. Jantung Rachel tiba-tiba berpacu dengan cepat. Perasaan ngeri menjalar ke sekujur tubuhnya. Kalau pintunya dalam keadaan terkunci, bagaimana bisa jendela kamarnya terbuka sendiri? Tadi malam Rachel memang terlalu lelah dan langsung merebahkan dirinya di ranjang. Tapi dia ingat betul, dia melihat kamarnya dalam keadaan normal. Semua jendela masih tertutup sama seperti saat dia meninggalkan kamarnya untuk mencari makan semalam.
Rachel dikuasai rasa takut. Dia segera keluar kamar dan menuju ke kamar Zachery. Dia mengetuk kamar Zachery dengan tidak sabar. “Zach, buka pintunya.” Kata Rachel dengan panik.
Zachery tak kunjung membuka pintu. Sepertinya dia belum bangun dari tidurnya. “Zach, buka pintunya.” Rachel kembali mengetuk. Kali ini lebih keras. Rachel sudah tidak peduli lagi bila anak lain mendengar ketukannya. Dia benar-benar dikuasai kepanikan.
“Ada apa?” Jawab Zachery yang akhirnya membuka pintu kamarnya. Wajahnya terlihat masih sangat mengantuk.
Rachel tidak mengindahkan ekspresi tidak senang Zachery dan menerobos memasuki kamar lelaki itu. Dia menarik Zachery untuk masuk mengikutinya.
“Hei Rachel. Apa kamu tidak pernah diberitahu, sangat berbahaya jika seorang gadis memasuki kamar laki-laki sendirian?” Zachery mendorong Rachel sampai gadis itu terduduk di ranjangnya. Dia mendekat pada Rachel, sampai wajah mereka menjadi sangat dekat.
Rachel sedikit terkejut, namun sedetik kemudian dia mendorong Zachery dengan keras. Sampai pemuda itu terhuyung ke belakang. “Aku tidak ada waktu untuk candaanmu. Dengar! Jendela kamarku terbuka saat aku terbangun pagi ini. Padahal aku yakin aku sudah menutup semua jendela, dan pintu kamarku juga dalam keadaan terkunci.”
Zachery berubah serius setelah mendengar perkataan Rachel. “Kau yakin?” Tanya Zachery.
“Ya. Aku bukan anak yang teledor. Aku yakin sudah menutup semuanya kemarin sore. Jadi bagaimana bisa jendela kamarku terbuka sendiri?” Rachel terlihat sangat ketakutan.
Zachery berjalan cepat menuju kamar Rachel. Dan Rachel sendiri mengikutinya dari belakang. Mereka membiarkan pintu kamarnya terbuka karena peraturan yang tidak memperbolehkan siswa laki-laki dan siswa perempuan berada di dalam kamar berdua.
Zachery memeriksa jendela kamar Rachel. Tidak ada bekas goresan. Dia melongokkan kepalanya keluar jendela. Dari luar pun tidak ada yang terlihat mencurigakan. Zach melihat sekeliling kamar Rachel. Semua terlihat normal.
“Apa ada barangmu yang hilang? Atau ada yang berubah tempat?” Tanya Zachery. Rachel melihat sekeliling kamarnya. Tidak ada benda yang hilang. Dia membuka lemari dan laci-laci. Juga tidak ada barang yang hilang. Semua juga masih berada di tempatnya.
Rachel tiba-tiba teringat dengan koper pemberian ayahnya. Dia segera melihat ke kolong tempat tidurnya. Untunglah masih ada disana. Rachel menarik koper itu keluar dan membukanya. Memeriksa isinya dengan seksama. Semua masih ada dan lengkap.
Rachel memandang Zachery. “Tidak ada yang hilang Zach.” Kata Rachel. “Dan tidak ada tanda-tanda ada orang yang pernah masuk juga.”
Zachery memandang berkeliling sekali lagi. “Kamu tidak apa-apa? Kamu tidak merasa ada yang menyentuhmu pas kamu tidur kan?” Tanya Zachery penuh kekhawatiran.
Rachel berusaha mengingat-ingat. Tapi dia tidak merasa ada yang aneh. Dia terbangun dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai d**a. Seperti biasanya..
Tunggu.
Tadi malam... karena sangat lelah, aku langsung tidur tanpa memakai selimut kan..
“Ada apa Rachel?” Zachery terlihat semakin cemas melihat raut wajah Rachel yang terlihat ketakutan.
“Sepertinya benar-benar ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku.” Rachel gemetar ketakutan. Dia mencengkeram lengan Zachery dengan kuat.
“Apa ada yang salah?” Zachery berkata pelan, tidak ingin membuat Rachel menjadi semakin panik.
“Tadi malam... aku tidur tanpa selimut. Tapi, tadi saat aku bangun, selimut menutupi tubuhku sampai dada.” Rachel bercerita dengan lirih. Dia merasa begitu ngeri.
“Apa mungkin, kamu tanpa sadar menarik selimut saat kamu tidur Rachel? Karena dingin, tubuhmu bereaksi dengan menarik selimut.” Kata Zachery berasumsi. Dia tidak ingin Rachel tenggelam dalam kepanikannya.
“Tidak Zach. Aku sangat tenang jika tidur, bahkan saat membalikkan badanpun aku pasti menyadarinya.” Jawab Rachel. Sebenarnya Zachery sendiripun sangat khawatir. Tapi dia tak mau menunjukkannya pada Rachel. Dia tidak ingin gadis itu menjadi semakin takut.
Zachery mendudukan Rachel di ranjangnya. “Sekarang tenanglah dulu. Yang penting tidak ada barang yang hilang dan kamu baik-baik saja. Kita cari petunjuknya pelan-pelan ya. Ah, kita bisa minta pihak sekolah untuk memperlihatkan cctv di sekitar kamarmu nanti. Jadi, jangan panik, oke?” Kata Zachery. Dia memandang Rachel langsung kedalam matanya. Mengalirkan rasa tenang agar gadis itu tak panik lagi.
Rachel mengangguk patuh. Meski hatinya masih diliputi ketakutan.
“Sekarang bersiap-siaplah. Sudah hampir waktunya kita berangkat.” Kata Zachery. Rachel kembali mengangguk patuh. Zachery beranjak untuk keluar kamar Rachel, namun dia masih sangat khawatir pada gadis itu. Dia menoleh sekali lagi sebelum akhirnya pergi menuju kamarnya.
Rachel duduk termenung sepeninggalan Zachery. Rasa ngeri tak mau pergi meninggalkan dirinya. Sebenarnya apa yang diinginkan orang itu? Untuk apa dia menyusup masuk ke kamarnya? Apa orang itu ingin berniat jahat padanya?
Rachel menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak ada gunanya juga dia memikirkan hal itu. Benar kata Zachery. Jangan tenggelam pada kekhawatiran. Ada hal yang harus dia prioritaskan. “Sudahlah, yang penting aku tidak apa-apa.” Kata Rachel pada dirinya sendiri.
Gadis itu beranjak menuju kamar mandi. Hendak bersiap-siap untuk sekolah. Namun dia keluar lagi dan bergegas mengunci semua pintu dan jendela. Dia tidak ingin ada yang menyusup ke kamarnya lagi. Apalagi jika dia sedang berada di kamar mandi.
Zachery dan Rachel tidak menyadari. Ada seseorang yang berdiri di luar kamar Rachel. Mendengarkan setiap detail pembicaraan mereka. Berdiri dengan sangat mencurigakan.
*******
-to be continue-