Chapter 13 part 1

1022 Kata
            Rachel dan Zachery kembali ke sekolah saat malam sudah sangat larut. Jam di pergelangan tangan Zachery sudah menunjukkan pukul 11 malam. Untung saja hari itu hari minggu. Anak-anak bebas keluar masuk asrama tanpa batasan waktu pada hari minggu.             “Malam Pak.” Sapa Zachery pada satpam yang membukakan pintu gerbang untuknya. Dia masuk ke dalam dan memarkirkan motornya di tempat parkir khusus penghuni asrama.             “Wah nak Rachel. Bapak sampai khawatir dari tadi nak Rachel nggak balik-balik. Nggak tahunya lanjut pacaran ya.” Pak Slamet menggoda Rachel yang baru saja pulang bersama Zachery. Rachel mengenakan jaket milik Zachery yang berhoodie sehingga matanya yang bengkak tidak begitu kelihatan.             “Ah maaf pak. Tadi ketemu Zach di jalan, dan dia ngajakin ke taman. Maaf ya pak udah buat khawatir.” Jawab Rachel.             “Nggak apa apa lah nak. Bapak ngertiin dong. Anak muda yang lagi kasmaran kan pengennya bareng-bareng melulu.” Pak Slamet tak henti-hentinya menggoda Rachel. Zachery terkekeh mendengar candaan pak satpam itu.             “Bapak bisa aja ya. Kasihan tuh Rachel sudah merah semua digodain terus.” Ucap Zachery.             “Hehehe... Santai aja lah nak Rachel. Biasa lah sama bapak. Bapak juga pernah muda kali.” Kata pak Slamet sambil terkekeh.             “Ya sudah pak, kami masuk dulu ya.” Kata Zachery. Dia merangkul Rachel untuk mulai berjalan. Tidak akan ada habisnya jika mereka terus meladeni candaan pak satpam itu.             “Iya. Selamat istirahat ya.” Jawab pak Slamet.             Rachel berusaha melepaskan rangkulan Zachery namun pemuda itu tak mau melepaskannya. “Bersandar saja padaku. Kamu kelihatan sudah tak sanggup berdiri lagi.” Kata Zachery.             Rachel memandang Zachery dengan mata menyipit. “Kamu tidak sedang mencari kesempatan kan?” Tanya Rachel.             Zachery terperangah mendengar pertanyaan Rachel. “Hei, apa kata-katamu tidak keterlaluan? Aku sudah meminjamkan dadaku berjam-jam bahkan bajuku juga basah kuyup. Dan sekarang kamu bilang aku mencari kesempatan? Hah.. benar-benar ya.” Kata Zachery. Nada bicaranya terdengar marah, namun dia sama sekali tak melepaskan rangkulannya.             “Iya iya maaf. Dan.. terima kasih untuk yang tadi.” Rachel tersenyu, tulus.             Zachery ikut tersenyum mendengarnya. “Gitu dong. Kakak ini selalu bisa diandalkan kapan saja. Mengerti?!”             “Iya...” Jawab Rachel sekenanya. Zachery memang tidak bisa dipuji. Karena dia akan menjadi terlalu percaya diri ketika mendengar pujian.             Zachery mengeluarkan kunci asrama untuk membuka pintu. Namun pintu sudah lebih dulu terbuka dari dalam. Dan tampaklah Juro yang membukakan pintu untuk mereka.             “Kalian baru datang?” Sapa Juro. Dia membuka pintu lebih lebar agar Zachery dan Rachel bisa masuk. Juro memandang Zachery yang merangkul Rachel dengan erat. Ada sedikit ketidak sukaan di sinar matanya.             “Iya, aku bertemu Rachel di jalan. Dia kelihatannya tidak enak badan.” Kata Zachery tanpa diminta. Dia tahu, Juro meminta penjelasan tentang rangkulannya dari caranya memandang.             Pandangan mata Juro berubah khawatir. “Kamu sakit Rachel?” Tanya Juro penuh perhatian. Dia menarik lengan Rachel agar menjauh dari Zachery.             “Aku tidak apa-apa.” Jawab Rachel cepat. Dia tidak ingin Juro mengkhawatirkan hal yang tak perlu. Karena nyatanya dia sama sekali tidak sakit.             “Begitu kah? Tapi kamu memang terlihat agak pucat Rachel. Sebaiknya cepat beristirahat ya.” Kata Juro yang di telinga Zachery terdengar kelewat perhatian. Hello, mereka baru kenal seminggu yang lalu kan? Bahkan Zachery saja jarang-jarang berbicara seperti itu pada Rachel.             “Iya, aku mau ke kamar dulu ya.” Jawab Rachel dan dia segera berlalu pergi dari sana. Canggung rasanya terlalu diperhatikan oleh Juro.             “Istirahatlah.” Kata Juro sebelum Rachel menghilang di balik pintu kamarnya. Sekarang Juro beralih menatap Zachery dengan intens. “Kalian benar-benar dekat ya.” Kata Juro dengan senyum yang sangat dibuat-buat.             “Memang kami sangatttt dekat.” Ucap Zachery dengan sengaja. Dia tahu Juro tertarik dengan Rachel. “Kan sudah kubilang, aku sedang mengejar cintanya.” Tambah Zachery.             Juro nampak tidak suka dengan jawaban Zachery. Dia berbalik pergi. Tidak mau membuang energinya untuk bicara dengan Zachery. “Jangan lupa kunci pintunya.” Kata Juro sebelum dia masuk ke kamarnya.             Tinggal Zachery sendirian disana. Zachery mengunci pintu depan dan merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. Dia memandang ruangan sekelilingnya. Entah sudah berapa kali dia dan Rachel memeriksa setiap ruangan di asrama itu. Namun, tak ada satupun petunjuk yang mereka temukan. Tak ada satupun jejak. Tak ada satupun petunjuk. Benar-benar tanpa jejak.             Zachery mendesah panjang. “Bagaimana lagi aku harus mencari. Setiap ruangan dan setiap sudut pada bangunan ini sudah keteliti semua. Tapi tidak ada apa-apa disini. Semuanya bersih dan baru.”             “Apa aku harus benar-benar memeriksa kamar Juro dan Dylan? Tapi ku pikir, kamar mereka pun pasti tak akan jauh berbeda dengan kamarku. Semuanya serba baru.”             “Ah..” Zachery bangun dari posisinya dan duduk tegak di sofa. “Gudang belakang yang selalu terkunci itu... Apa mereka menyembunyikan sesuatu disana?” Zachery tiba-tiba menjadi bersemangat. Memang hanya gudang saja yang belum di periksanya. Karena tempat itu selalu terkunci. Dan tak ada penghuni asrama yang memegang kuncinya. Jadi pasti dipegang pihak sekolah kan?             “Tapi... Bagaimana caranya memeriksa gudang itu? Tak mungkin kan aku merusak pintunya dengan sengaja? Pasti akan menimbulkan kecurigaan. Hemmm... Aku harus mencari cara..”             Zachery bangkit dari duduknya dan beranjak menuju kamarnya. Tak lupa dia mematikan lampu ruang tamu sebelum beranjak pergi.             Zachery mengunci pintu kamarnya. Namun tidak menyalakan lampu. Dia lebih suka tidur dalam keadaan gelap. Zach melepas kaosnya yang basah oleh air mata Rachel dan menggantinya dengan kaos ringan yang nyaman untuk tidur.             Dia segera membaringkan tubuhnya di ranjang. Namun tidak untuk tidur. Dia mengambil handphone nya dan mengirim pesan pada Rachel.             -Sudah tidur?- Zachery mengirim pesan singkat melalui w******p.             -Belum, ada apa?- Balas Rachel.             -Aku baru sadar, ada satu ruangan yang belum kita periksa. Gudang belakang.- Tulis Zachery.             -Tapi gudang itu selalu terkunci kan. Bagaimana kita mau memeriksanya?- Balas Rachel.             -Maka dari itu, ayo kita pikirkan sama-sama bagaimana caranya.- Kata Zachery.             -Baiklah akan kupikirkan. Tapi sekarang aku benar-benar lelah. Aku tidur dulu ya.- Balas Rachel.             -Okay, good night. Ah, satu hal lagi. Sepertinya Juro tertarik padamu.- Tulis Zachery sambil cengengesan. Dia bisa membayangkan bagaimana reaksi Rachel. Dia tidak seperti gadis kebanyakan yang akan merasa senang jika ada cowok yang menyukainya. Rachel justru akan merasa terganggu. Seperti saat Zachery bilang kalau dia sedang mengejar cintanya. Meskipun itu hanya untuk pura-pura.             -Tidak usah bercanda. Selamat malam dan jangan mengirim pesan lagi.- Balas Rachel ketus. Tepat seperti perkiraan Zachery.             Zach tertawa kecil mendapat balasan seperti itu dari Rachel. Namun dia menurut untuk tidak membalas pesan gadis itu. Dia tahu Rachel sangatlah kelelahan secara fisik dan mental.                                                                                         ******* -to be continue-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN