Rachel duduk termenung di teras asrama. Tatapannya begitu sendu. Langit sudah mulai kemerahan di barat sana. Rachel seperti tidak menyadari keadaan sekitarnya. Tak menyadari berapa lama waktu telah berlalu. Masih setia dengan lamunannya yang entah mengembara kemana.
Sudah seminggu berlalu sejak mereka menempati asrama itu. Namun Rachel belum menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan kakaknya. Asrama itu begitu bersih, begitu rapi. Tidak ada sedikitpun jejak tentang penghuni sebelumnya. Seolah pihak sekolah sudah memprediksi akan ada orang yang datang mencari peyunjuk kesana.
Rachel mendengus sebal. Dia sedang sendirian di asrama. Anak-anak yang lain belum kembali ke asrama. Ini hari minggu, jadi mereka bebas keluar. Sebenarnya Rachel juga pulang ke rumah tadi. Tapi karena dia mendapati rumahnya kosong, tak ada papa dan mamanya, dia segera kembali ke asrama. Tidak ada bedanya kan? Dirumah atau disini, dia sama-sama sendirian.
Hari sudah mulai gelap saat Rachel bangun dari duduknya. Keadaan asrama juga masih gelap. Rachel masuk ke dalam dan menyalakan semua lampu. Agak menyeramkan juga malam-malam di asrama sendirian. Teman-temannya yang lain belum juga kembali ke asrama.
Rachek mengambil sweater dari kamarnya dan berjalan keluar asrama. Tak lupa dia mengunci pintu kamar dan pintu depan. Setiap anak sudah diberi masing-masing satu kunci pintu depan agar mereka lebih mudah saat mau keluar atau masuk asrama.
“Mau kemana nak Rachel?” Tanya pak satpam yang melihat Rachel berjalan menuju gerbang depan sekolah.
“Mau cari makan pak. Hari minggu kan kantin nggak nyediain makanan.” Jawab Rachel sopan. Semua satpam sudah hapal semua penghuni asrama.
“Oh, iya. Itu jalan ke kanan dikit ada warung makan nak. Kalau mau yang enakan ada restoran kecil juga di ujung jalan. Agak jauh tapi nak. 10 menitan kalau jalan kaki.” Jawab pak Slamet.
“Iya makasih kak. Nggak papa jauh dikit sekalian jalan-jalan. Teman-teman belum ada yang balik kok. Takut sendirian di asrama.” Ucap Rachel.
“Ya sudah, hati-hati ya nak. Kalau ada apa-apa telepon kesini ya. Sudah tahu kan nomor telepon pas satpam kan?” Tanya pak Slamet. Dia terlihat sangat arif sebagai orang tua.
“Sudah pak. Rachel pergi dulu ya.” Rachel mengangguk singkat dan mulai berjalan menyusuri jalanan yang lumayan ramai.
Area sekolah itu memang bukan di pusat kota. Namun banyak kos-kosan tempat tinggal anak-anak SMA Red orchid yang membuat daerah itu hidup dan ramai. Banyak kedai dan kios kecil berjajar sepanjang jalan. Aneka penjual jajanan dan toko-toko keperluan sehari-hari juga menjamur disana-sini. Suasananya juga menyenangkan. Baru kali ini Rachel keluar area sekolah saat malam. Dia tidak tahu kalau rasanya lumayan membuat rileks.
Tak terasa Rachel sampai di ujung jalan. Ada restoran kecil yang terlihat sangat cozy. Tanpa ragu Rachel langsung masuk ke dalam dan mengambil duduk di dekat jendela. Dia masih ingin mengamati kota itu. Ada pelayan yang menghampirinya dan memberikan daftar menu padanya.
Dia memesan mie goreng seafood kesukaannya dan lemon tea. Pelayan memintanya menunggu sebentar sementara makanannya disiapkan. Rachel mengangguk mengerti dan kembali melihat keluar jendela. Menikmati pemandangan malam yang terlihat semakin ramai.
Ada 2 orang yang memasuki restoran itu. Rachel melihat ke arah pintu dengan reflek. Dan pandangannya bertemu dengan pengunjung baru itu. Dia mengenali salah satunya adalah teman sekelasnya. Namanya Roby kalau tidak salah. Well, Rachel memang tidak pernah benar-benar mengobrol dengan teman sekelasnya kecuali Zachery, Nina, dan Senja. Dia memang tidak berniat mencari teman.
“Hei Rachel kebetulan banget. Sendirian? Kita gabung ya?” Kata Roby. Dan tanpa permisi mereka sudah duduk di hadapan Rachel.
Rachel hanya bisa tersenyum. Tidak mungkinkan dia menolak mereka yang sudah duduk di hadapannya.
“Kenali rachel, ini Andre dari kelas B. Dia satu kosan denganku.” Kata Roby. Dan Anak bernama ANdre itu mengulurkan tangannya pada Rachel untuk berjabat tangan.
“Andre.” Kata anak itu dengan sopan.
“Rachel.” Kata Rachel sembari tersenyum.
Pelayan kembali menghampiri meja itu dan membawakan buku menu. Kedua pemuda itu memesan makanan yang mereka inginkan. “Kamu udah pesan Rachel?” Tanya Roby.
“Sudah.” Jawab Rachel singkat.
“Sudah mbak, itu saja.” Kata Roby pada pelayan. Pelayan itu mengangguk dan segera berlalu pergi.
“Tumben sendirian Rachel, biasanya bareng Zachery kemana-mana.” Goda Roby. Sudah buka rahasia lagi betapa dekatnya Rachel dan Zach di kelas A.
“Ah, Zach sedang pulang ke rumah. Aku sendirian di asrama jadi keluar jalan-jalan sebentar.” Jawab Rachel. Pipinya bersemu merah karena malu bila ditanya tentang Zachery. Salahkan Zach yang sengaja membuat gosip tentang mereka berdua.
“Oh iya, gimana rasanya tinggal di asrama Red orchid?” Kali ini Andre yang bertanya.
“Ehm.. sama saja sih. Kami belum mulai kegiatan kelas tambahan. Jadi sepulang sekolah hanya mengobrol saja. Tak ada yang istimewa.” Jawab Rachel.
“Oh, gitu. Eh, pernah dengar yang aneh-aneh nggak pas malem? Aku pernah dengar ada gosip sih tentang sekolah kita.” Roby berbicara dengan nada rendah. Sengaja menambah kesan seram pada ceritanya.
“Gosip apaan?” Tanya Rachel penasaran. Meski dia sebenarnya sedikit takut.
“Yah, katanya ada salah satu satpam yang pernah melihat bayangan orang gitu di dalam kelas. Padahal kelas dalam keadaan terkunci dan mereka sudah memastikan semua ruangan kosong sebelum menguncinya. Terus gimana ceritanya coba bisa ada orang di dalam kelas?” Roby memulai ceritanya.
“Salah lihat kali satpamnya?” Timpal Andre yang tidak begitu percaya dengan cerita mistis.
“Nggak. Soalnya si satpam ngeliatnya nggak cuma sekali. Tapi berkali-kali. Masa salah lihat berkali-kali kan?” Roby bersikukuh mempertahankan pendapatnya.
“Mungkin orang beneran? Menyusup ke kelas gitu?” Rachel ikut nimbrung dalam pembicaraan.
“Lah, kalo begitu jadi gawat dong. Kan nggak mungkin orang dengan niat baik pake acara menyusup segala. Lagian buat apa ada orang menyusup ke kelas? Nggak ada apa-apa juga disana.” Sanggah Roby.
“Jadi menurutmu, setan gitu?” Tanya Andre.
“Iya lah. Apalagi? Lagian...” Roby berhenti, memberi isyarat pada Rachel dan Andre untuk mendekat. “Kalian masih ingat kan dengan kasus penghuni asrama yang hilang setahun lalu? Mungkin saja kan hantu mereka bergentayangan sekarang?” Lanjut Roby setengah berbisik. Dia tidak ingin gosip seperti itu tersebar keluar sekolah.
Rachel terperanjat mendengarnya. “Mereka kan hilang bukan mati. Jangan sembarangan bicara begitu.” Kata Rachel sambil menahan emosi. Dia tidak suka mendengar orang bilang kalau kakaknya sudah meninggal.
“Aku nggak sembarangan bicara Rachel. Nyatanya sudah setahun nggak ada kabar apa-apa kan?” Lanjut Roby. Dia tidak menyadari perubahan ekspresi Rachel.
“Jangan bicara seperti itu!” Rachel tanpa sadar meninggikan suaranya. Hatinya terasa nyeri mendengar apa yang dikatakan Roby.
Kedua temannya itu terkejut mendengar Rachel yang setengah berteriak. Pengunjung lain pun jadi menoleh ke arah mereka. Rachel yang menyadari kesalahannya jadi tertunduk malu.
“Maaf. Aku... hanya.. tak suka cerita horor. Maaf ya.” Ucap Rachel.
“Tidak apa-apa.” Jawab Roby.
Mereka jadi terdiam dalam situasi yang canggung. Tidak ada yang mencoba memulai pembicaraan. Untunglah tak berapa lama pelayan datang membawakan pesanan mereka. Mereka makan dalam diam. Roby dan Andre saling melirik tapi tak ada yang mencoba bicara. Benar-benaar canggung.
*******
Rachel berjalan pelan kembali ke asrama. Air mata membanjiri kedua pipinya. Kata-kata Roby yang mengungkapkan bahwa anak-anak penghuni asrama yang hilang pastilah sudah meninggal, benar-benar menusuk tepat dijantungnya. Perih sekali rasanya. Sampai tangispun sudah tak mampu lagi di bendungnya.
“Kakak... Kumohon bertahanlah... Rachel sedang berusaha mencari kakak. Jadi kakak harus bertahan sampai Rachel menemukan kakak...” Rachel tersedu di sepanjang jalan itu. Air matanya tak mau berhenti mengalir.
Rachel terduduk di tengah jalan. Tangisnya pecah semakin deras. Bayangan akan kehilangan kakaknya benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. “Kakak....”
Sebuah motor berhenti tepat disamping Rachel. Si pengendara turun dan melepas helmnya. Terlihatlah wajah Zachery yang di balut kecemasan.
“Rachel? Ada apa?” Tanya Zachery cemas. Dia melihat gadis itu berjalan sendirian dari jauh. Namun tiba-tiba Rachel terduduk lemas. Zachery sampai harus mempercepat laju motornya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Rachel menengadahkan wajahnya dan didapatinya Zachery berada di depannya. Gadis itu segera bangkit dan memeluk Zachery dengan erat. Menangis sekencang-kencangnya dibalik d**a Zachery.
“Hei, ada apa?” Tanya Zachery. Dia memeluk gadis itu dengan protektif. Dia membelai rambut Rachel perlahan. Berusaha menenangkan gadis yang kelihatan sangat terguncang itu.
“Kakak... Kakakku masih hidup kan... Kita pasti menemukan kakak kan?” Ucap Rachel disela isak tangisnya.
Zachery mempererat pelukannya. Bahkan dia yang merupakan orang dewasa pun tak bisa menahan sakitnya kehilangan orang yang kita sayangi. Apalagi Rachel yang masih sangat belia itu.
“Tenanglah Rachel. Kita pasti akan menemukan mereka. Jadi berhentilah menangis oke? Kamu sudah mulai sesenggukan.”
“Tapi... dia bilang tidak mungkin para korban hilang masih hidup. Sudah satu tahun... Dia bilang tidak mungkin mereka masih hidup...” Rachel terdengar meracau.
“Dia siapa Rachel?” Zachery mulai cemas. Dia melepaskan pelukannya dan memaksa Rachel untuk memandangnya. “Katakan dia siapa?” Tanya Zachery sekali lagi. Rachel kelihatan tidak dalam kesadaran penuh.
“Dia... dia...” Rachel terlihat linglung. Dia hanya diam dan memandang Zachery dengan tatapan nelangsa.
Zachery merasa begitu iba melihat keadaan Rachel yang seperti itu. Dia menarik Rachel ke dalam pelukannya lagi. “Menangislah sepuasmu. Lepaskan semua rasa sakitnya.” Bisik Zachery.
Rachel kembali sesenggukan. Menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat Zachery. Dia terus menangis sampai tenggoroknya terasa sangat sakit. Zachery sendiri sudah tak mempedulikan orang-orang yang melihat mereka berpelukan di tengah jalan. Yang paling penting baginya sekarang adalah menenangkan Rachel.
*******
“Sudah tenang?” Tanya Zachery pada Rachel yang sudah tak lagi terisak. Zach membawa Rachel ke taman kota tak jauh dari sekolah.
“Maaf..” Kata Rachel. Dia memandang baju Zachery dan basah karena air matanya.
“Bukan masalah. Ini, kompres matamu dengan ini.” Zachery menyerahkan kantong plastik berisi es pada Rachel. Mata Rachel memang terlihat sangat bengkak.
Rachel menerimanya dan langsung menempelkan pada matanya. Sensasi rasa dingin menjalar dengan cepat di matanya. Terasa begitu menyegarkan.
“Tadi.. Aku bertemu dengan Roby di restoran.” Rachel mulai bercerita. Dia tetap memejamkan mata sambil mengompresnya.
“Roby siapa?” Tanya Zachery.
“Roby anak kelas kita. Lupa?”
“Oh, benar, ada anak bernama Roby dikelas A.” Jawab Zachery.
“Kami mengobrol macam-macam sampai akhirnya dia membahas cerita horor tentang pak satpam yang melihat hantu di sekolah. Dan Roby bilang... Itu adalah hantu penghuni asrama yang hilang setahun lalu.” Kata-kata Rachel kembali penuh emosi. Zachery menyadari itu dan menggenggam tangan Rachel.
“Pelan-pelan saja.” Kata Zachery.
“Aku terbawa emosi dan bilang kalau mereka hanya hilang, tidak meninggal. Tapi Roby bilang, tidak mungkin orang yang sudah menghilang selama setahun masih hidup sampai sekarang... Aku jadi... Jadi...” Rachel sudah hampir menangis lagi. Zachery segera menghentikannya.
“Sudah jangan lanjutkan lagi. Aku sudah mengerti apa yang ingin kamu katakan.” Ucap Zachery. Rachel menurut dan tidak melanjutkan bicaranya. “Selesaikan mengompres matamu lalu kita kembali ke asrama. Malam sudah mulai larut.” Lanjut Zachery.
Rachel menyandarkan punggungnya pada bangku taman. Memposisikan dirinya senyaman mungkin dan terus mengompres matanya. Zachery terus memperhatikan Rachel. Memandang gadis itu dengan penuh rasa sayang. Saat itu Zachery menyadari, ada perasaan lain yang muncul di hatinya. Perasaan yang tak seharusnya dia rasakan. Perasaan berdebar yang sangat tidak tepat waktu. Dia tak punya waktu untuk romansa. Dia hanya ingin berfokus untuk menemukan adiknya... Diana...
******
- to be continue-