Malam itu, Rachel kembali memeriksa buku-buku yang terpajang di rak ruang tamu satu per satu. Dia membuka lembar demi lembar dengan cepat. Memeriksa barangkali ada coretan atau catatan yang terselip di dalamnya. Tinggal separuh rak lagi yang belum diperiksa Rachel.
Gadis itu mendesah panjang. Matanya sudah mulai berair karena kantuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Namun pencariannya tbelum menghasilkan apapun. Dia memang tidak berharap hal ini akan mudah. Tapi Rachel tidak mau putus harapan. DIa melanjutkan pencariannya. Membuka halaman demi halaman buku di rak itu.
Buku-buku yang terpajang di ruang tamu rata-rata adalah buku pengetahuan umum dan buku pelajaran SMA. Ada beberapa buku fiksi juga. Namun Rachel sama sekali tak menemukan sedikitpun coretan atau bekas lipatan di semua buku itu. Well, penghuni asrama ini memang anak-anak pilihan. Tentu saja mereka akan memperlakukan buku dengan baik kan?
Rachel merebahkan dirinya di sofa. Tubuhnya sudah sangat lelah. Matanya juga sudah mulai terasa berat untuk tetap terbuka. “Ayolah sedikit lagi.” Bisik Rachel pada dirinya sendiri. Dia sudah hampir memeriksa semua buku disana. Tinggal satu baris di rak paling bawah. Setelah itu selesai, Rachel bisa berpindah ke tempat lain untuk diperiksa.
“Rachel?” Suara seseorang membuat Rachel terperanjat kaget. Sekarang sudah tengah malam. Siapa yang masih terbangun tengah malam begini? Well, kecuali dirinya tentunya.
“Ah, Juro?” Rachel sedikit memicingkan matanya untuk mengenali si pemilik suara. Karena lampu ruang tengah sudah dimatikan, menjadikan ruangan itu gelap sepenuhnya. Rachel sendiri hanya menyalakan lampu baca kecil di meja dan membiarkan ruangan dalam keadaan gelap. Toh dia tidak benar-benar membaca. Hanya membolak balik halaman buku saja.
“Sedang apa malam-malam begini?” Tanya Juro. Dia berjalan mendekat ke arah Rachel. Ditangannya ada gelas berisi air dingin yang baru saja dia ambil dari lemari pendingin di dapur.
“Ah.. Aku... tidak bisa tidur. Jadi aku keluar membaca buku sambil menunggu kantuk datang.” Jawab Rachel, berbohong tentunya. Karena sebenarnya dia sudah sangat mengantuk.
“Kenapa? Tidak terbiasa dengan tempat baru?” Juro mengambil duduk di kursi di depan Rachel. Memandang Rachel dengan hati-hati. Kesan pertama yang Juro dapatkan dari Rachel adalah, dia gadis yang dingin dan pendiam. Tipe yang sulit didekati. Berbeda dengan Nina yang ceria dan mudah bergaul. Rachel terlihat lebih tertutup dan menyimpan banyak misteri.
“Yah... Begitulah.” Jawab Rachel canggung. Dia merasa tak nyaman karena dia tak terbiasa berbohong.
“Mau kubuatkan minuman hangat? Kudengar minum minuman hangat membuat kita lebih mudah tertidur.” Juro menawarkan bantuannya.
“Ah, tidak perlu. Aku bisa membuatnya sendiri. By the way, thanks sudah menawari. Aku tidak ingin merepotkanmu.” Jawab Rachel.
Juro tertawa kecil mendengar jawaban Rachel. “Tak perlu sungkan begitu. Kita sudah jadi teman satu asrama sekarang. Sudah sewajarnya kita saling membantu kan?”
Rachel tersenyum sesopan mungkin. “Benar. Terima kasih.” Jawab Rachel singkat. Dia benar-benar tak tahu harus merespon seperti apa. Rachel sendiri merasa canggung mengobrol dengan anak laki-laki tengah malam begini. Meski mereka hanya sekedar ngobrol, tetap saja terasa salah baginya.
“Baiklah, aku buatkan s**u hangat ya. Tadi kulihat di dapur sudah penuh dengan berbagai camilan dan minuman. Kamu lanjutkan membaca saja.” Ucap Juro dan dia langsung beranjak menuju dapur. Meninggalkan gelas berisi air dingin miliknya di meja yang belum dia minum.
Juro membuatkan s**u hangat untuk Rachel dengan canggung. Dia tidak pernah melakukan apapun sendiri. Dia anak orang kaya yang selalu di kelilingi pelayan. Semuanya dikerjakan oleh pelayannya. Dia bahkan tidak pernah menuangkan air ke dalam gelasnya sendiri. Juro juga bingung pada dirinya sendiri yang tiba-tiba menawarkan s**u hangat pada Rachel. Sangat bukan dirinya.
Dia menyendok sedikit s**u yang baru saja dibuatnya dan mencicipinya. Sedikit terlalu panas, tapi rasanya okelah. Juro mengambil tutup gelas dan tatakan kecil. Lalu membawa minuman itu ke ruang tamu. Ke tempat dimana Rachel berada.
“Ini. Maaf sedikit terlalu panas. Tunggulah sebentar sebelum meminumnya.” Juro meletakkan gelas berisi s**u itu di depan Rachel.
“Terima kasih. Maaf merepotkanmu.” Ucap Rachel.
“Sudah kubilang kan tak perlu sungkan.” Kata Juro. Pemuda itu tersenyum hangat. Dia mengamati Rachel dengan seksama. Bulu matanya yang lentik, senyumannya yang terkesan malu-malu, Pipinya yang bersemu merah dengan cantiknya. Gadis itu memiliki pesonanya sendiri.
“Iya. Kamu juga, kalau butuh bantuan, bilang saja ya. Kalau aku bisa, aku pasti akan membantu.” Ucap Rachel tanpa sadar. Rachel bukanlah anak yang mudah akrab dengan orang baru. Namun entah bagaimana Juro berhasil membuatnya merasa dekat.
“Tentu. Sekarang minum susunya, lalu tidur. Sudah sangat larut.” Ucap Juro.
Rachel mengambil gelas yang terasa begitu hangat itu. Meneguk habis isinya dalam sekali minum. “Enak. Terima kasih.”
Juro menatap Rachel dengan ekspresi tak terbaca. Entah apa yang sedang ada dipikirannya. “Ayo tidur. Sudah larut. Besok kita harus bangun pagi kan.”
Rachel mengangguk dan beranjak dari duduknya. Mereka berjalan menuju kamar masing-masing. Rachel berhenti di depan pintu kamarnya dan berbalik memandang Juro. Pemuda itu pun masih diam berdiri di depan pintu kamarnya. Memandang Rachel.
“Selamat malam.” Kata Rachel dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya.
“Malam.” Balas Juro. Dia masih tetap berdiri di tempatnya. Menatap pintu kamar Rachel yang sudah tertutup rapat. Juro berpikir dalam. Ada yang terasa aneh di dalam dadanya. Perasaan berdesir yang sangat aneh.
*******
“Mengantuk lagi?” Tanya Zachery. Mereka sedang istirahat siang, dan lagi-lagi Zachery duduk di meja Rachel tanpa permisi.
“Iya, tadi malam aku membaca buku di ruang tamu lagi.” Jawab Rachel.
“Sudah kubilang kan, jangan memaksakan dirimu. Dan berhati-hatilah” Kata Zachery. Dia mulai khawatir dengan kekeras kepalaan Rachel.
“Iya, tapi aku tidak bisa diam saja Zach. Satu hari pun sangat berharga buatku.” Rachel bersikeras.
“Aku tahu. Tapi, jangan bergadang berturut-turut. Setidaknya nanti malam tidurlah lebih awal. Ya? Tidak baik untuk kesehatanmu Rachel.” Pinta Zachery.
“Baiklah, lagipula tinggal satu baris rak saja yang belum kuperiksa diruang tamu. Setelah itu aku bisa memeriksa yang diruang belajar.” Kata Rachel.
Zachery menepuk puncak kepala Rachel dengan sayang. “Kan ada aku. Nanti malam biar aku yang memeriksa. Kamu tidurlah yang nyenyak. Tinggal baris terakhir kan?”
Rachel mengangguk bersemangat. “Oke. Makasih ya.”
Zachery menarik Rachel agar berdiri dari tempat duduknya. “Sekarang ayo ke kantin. Mumpung jam istirahat belum habis. Aku lapar.”
“Dasar kau. Selalu saja menarik orang sesuka hati. Emang nggak bisa apa ke kantin sendiri?” Ucap Rachel gusar.
“Ayolah, memangnya kamu nggak lapar? Tadi pagi juga makannya sedikit gitu.” Kata Zachery.
“Memang porsiku segitu. Dan aku agak mengantuk, jadi nggak begitu lapar.” Kata Rachel tak semangat. Dia memang tidak begitu suka keadaan kantin yang sangat ramai saat jam makan siang.
“Sudahlah ikut saja. Kamu nanti tinggal duduk biar aku yang antri.” Zachery tetap menyeret Rachel agar mengikutinya ke kantin. Sebenarnya Zachery hanya ingin agar Rachel makan dengan teratur. Meski itu berarti harus menyeret gadis itu.
“Iya-iya, sudah nggak usah narik dong. Aku bisa jalan sendiri.” Rachel mulai merasa malu karena anak-anak di sekitarnya mulai memperhatikan mereka.
Zachery menyeringai dengan sangat tampan mendengar kata-kata Rachel. “Kenapa malu? Semua anak di sekolah ini sudah tahu kalau aku sedang mengejar cintamu Rachel.”
Wajah Rachel memerah karena malu. Dia melepaskan tangannya dengan paksa dari gandengan Zachery. “Ini salahmu. Kenapa kamu membuat gosip seperti itu huh?!”
“Kenapa ya? Karena menyenangkan digosipkan dengan gadis yang manis?” Zachery mengedip pada Rachel. Membuat gadis itu salah tingkah.
“Jangan bercanda. Ayo sana pesan makanan. Aku akan duduk disini.” Rachel mendorong Zachery menjauh saat mereka sudah tiba di kantin. Rachel duduk di kursi yang masih kosong. Dan menunggu Zachery datang membawa pesanannya.
Rachel duduk dalam diam. Mengamati sekitarnya. Anak-anak terlihat ramai menyantap makanan atau sekedar mengobrol dengan temannya. Suasananya begitu ramai, begitu berisik.
“Rachel?” Juro yang entah muncul darimana menyapa Rachel yang duduk sendirian di kantin. “Kamu sendiri?”
Rachel tersenyum melihat bahwa Juro lah mengajaknya bicara. “Tidak, aku bersama Zachery. Dia sedang mengantri pesanan kami.” Jawab Rachel.
Juro duduk di kursi kosong di hadapan Rachel. Dia kelihatannya baru selesai makan siang. “Jadi benar ya, gosip yang mengatakan kalau kalian berdua dekat?” Tanya Juro penasaran.
Rachel gelagapan mendapat pertanyaan tiba-tiba seperti itu. “Ah, tidak bukan seperti itu...”
“Bukan begitu, tapi aku yang sedang mengejar cinta Rachel.” Zachery yang baru datang langsung menyahut pertanyaan Juro tanpa permisi.
“Ah Zach, sudah datang. Maaf aku duduk di kursimu.” Ucap Juro sambil beranjak berdiri.
“Tidak apa-apa? Mau gabung? Aku bisa menarik kursi sebelah kesini.” Tawar Zachery sopan.
“Tidak perlu, aku baru saja makan. Aku hanya berhenti karena melihat Rachel sendirian.” Jawab Juro. “Ya sudah, aku duluan ya. Selamat makan.”
Zachery duduk di depan Rachel dan memandang gadis itu dengan seksama. “Sejak kapan kamu jadi dekat dengan Juro?” Tanya Zachery setengah menyelidik.
“Dekat apanya, dia hanya menyapa.” Jawab Rachel.
“Mengakulah, pasti ada yang terjadi tanpa sepengetahuanku kan?” Tanya Zachery tak mau menyerah.
Rachel tahu Zach tak akan berhenti menginterogasinya sampai Rachel menceritakan semuanya. Dia memilih mengalah dan bercerita. “Tidak ada yang istimewa. Tadi malam dia mendapatiku masih membaca buku sampai larut. Lalu dia menemaniku ngobrol sebentar dan membuatkanku s**u hangat. Itu saja. Tidak lebih.” Tutur Rachel sejelas mungkin. Dia tidak ingin Zachery terus menanyai tentang hal itu.
Zachery memicingkan matanya. “Dia tidak mencurigai apapun kan? Aku kan sudah bilang untuk berhati-hati. Kita belum tahu siapa sebenarnya penghuni asrama yang lain. Jadi jangan memperlihatkan gelagat yang mengundang curiga orang lain ya.” Zachery terlihat khawatir.
“Tidak kok. Aku bilang aku nggak bisa tidur jadi baca-baca buku. Nggak kerasa udah malam aja. Dan dia kelihatannya percaya.” Jawab rachel.
“Baguslah. Sekarang lebih berhati-hati ya. Kita mencari petunjuk pelan-pelan saja. Agar terlihat natural dan tak mengundang curiga. Oke?” Kata Zachery.
“Iya. Jangan menceramahiku terus Zach.” Rachel mulai gusar.
Zachery tertawa ringan. Wajah Rachel yang cemberut terlihat sangat menggemaskan baginya. “Baiklah, ayo makan makananmu.”
******
Zachery duduk menghadap laptopnya dengan serius. Sepulang sekolah dia langsung mengunci dirinya di dalam kamar. Dia ingin memeriksa email yang diterima dari pamannya pagi ini. Email tentang latar belakang penghuni asrama itu.
Setelah menunggu loading yang tak begitu lama, email itu pun terbuka dan Zachery bisa melihat barisan-barisan kata yang dilengkapi foto yang dikirim pamannya.
Yang pertama ada Nina Arina. Dia anak pertama dari pasangan suami istri pemilik restoran di pinggiran kota. Restorannya tidak besar tapi mereka cukup menghasilkan uang. Intinya, mereka bukan orang miskin. Dan keluarganya cukup harmonis. Nina juga bukan anak yang bermasalah dan selalu berprestasi sejak kecil.
Yang kedua adalah Juro Nicodeme. Juro anak satu-satunya dari keluarga konglomerat pemilik perusahaan LESSE. Perusahaan multi nasional yang bergerak di bidang properti dan pusat perbelanjaan. Keluarganya adalah generasi ketiga yang belum mewarisi kekayaan sepenuhnya. Namun itu tak mengubah kenyataan bahwa mereka orang paling kaya no.4 di Indonesia.
“Wah.. Aku tidak tahu kalau Juro sekaya itu. Dia tampak seperti anak SMA biasa.”
Zachery kembali membaca email itu. Yang terakhir adalah Dylan. Dia anak yatim piatu di panti asuhan yang dikelola oleh yayasan Red Orchid. Dia bisa masuk ke solah ini dengan beasiswa penuh dari yayasan. Asal usulnya sebelum masuk panti asuhan tidak diketahui. Dia ditemukan di depan gerbang panti asuhan setahun yang lalu dengan tubuh kurus kering tak terawat dan dalam keadaan pingsan. Kemungkinan dia pingsan karena kelaparan.
Zachery memandang foto Dylan dengan seksama. Wajahnya selalu terlihat dingin dan kosong. Sejauh ini, Dylan lah yang paling mencurigakan di mata Zachery. Setidaknya mereka harus waspada dan tidak menunjukkan gelagat mencurigakan, terumatam di depan Dylan.
*******
-To be continue-