Chapter 10

2061 Kata
            Rachel berjalan pelan menuju asrama setelah selesai jam pelajaran terakhir. Langkahnya gontai bagai tak bertenaga. Dia memejamkan mata. Menikmati hembusan angin segar yang bertiup menerpa wajahnya. Banyak pohon rindang yang tumbuh mengelilingi sekolah itu, sehingga walaupun di tengah kota, di dalam sekolah tetaplah terasa asri dan segar. Sekali lagi, SMA Red Orchid selalu memperhatikan kenyamanan belajar bagi siswa siswinya.             “Hhhuuuaaaaahhhhhh” Rachel menguap panjang. Matanya sudah hampir tak bisa dibuka lagi. Rasa kantuk benar-benar membuat Rachel ingin segera memejamkan matanya.             “Hei, mana ada gadis canti yang menguap keras-keras seperti itu hah? Sangat tidak sopan.” Zachery yang entah datang dari mana langsung merangkul Rachel yang terlihat tak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri.             “Aku ngantuk banget...” Jawab Rachel sambil menguap sekali lagi. Dia sama sekali tak sungkang dengan Zachery. Karena baginya, Zachery lebih seperti kakaknya daripada teman laki-laki.             “Apa yang kau lakukan tadi malam? Sampai matamu bengkak begini.”             “Aku membaca buku diruang tamu sampai pagi. AKu mencari kalau-kalau ada coretan atau catatan kecil yang ditinggalkan penghuni sebelumnya. Namun aku baru memeriksa separuhnya dan ternyata hari sudah hampir pagi. Aku juga tak menemukan apapun.” Jawab rachel lesu. Dia benar-benar ingin segera berbaring di kamarnya.             Zachery menggelengkan kepalanya. Gemas dengan tingkah laku Rachel. “Sudah kubilang kan. Jangan memforsir dirimu. Berlakulah sewajarnya. Kalau kamu seperti itu, bukan hanya tubuhmu yang tidak akan kuat. Kamu juga akan mengundang curiga orang-orang disekitarmu. Kita belum tahu yang jadi teman satu asrama kita ini orang-orang baik atau tidak, jadi berhati-hatilah.”             Rachel memandang Zachery dengan mata mengantuk. Dia mengangguk menegrti dengan maksud ucapan Zachery. “Maaf. Aku tak bermaksud membuatmu khawatir.”             Zachery mendenguskan nafas keras-keras. “Tidak apa-apa. Lain kali ajak aku kalau kamu mau melakukan apapun. Lebih aman kalau bersama kan?”             “Iya baiklah.” Jawab Rachel patuh.             “Ayo jalan dengan cepat lalu istirahatlah sebentar. Nanti jam 7 malam pak Abraham akan ke asrama. Untuk menentukan kelas tambahan untuk kita. Pastikan mata pandamu itu sudah hilang ya.” Ucap Zachery.             “Iya...” Rachel menyahut sekenanya. Dia benar-benar ingin tidur. Zachery terus membantunya berjalan sampai di depan pintu kamar Rachel. Dan Rachel langsung merebahkan dirinya di ranjang tanpa mengganti baju terlebih dahulu. Matanya sudah tidak mau terbuka lagi.                                                                                             *******               Zachery duduk di meja belajar yang ada dikamarnya. Dia membuka laptop dan menyalakan panggilan video dengan seseorang. Obrolannya dengan Rachel tadi membuatnya mengingat kalau ada yang harus dilakukannya.             “Paman, maaf mengganggu. Aku mau minta tolong.” Ucap Zachery sopan. Orang yang disapa dengan sebutan paman itu terlihat sudah paruh baya. Dia mengenakan seragam kepolisian.             “Tak perlu sungkan begitu Zach. Apa saja yang bisa paman lakukan untukmu pasti akan dengan senang hati paman kerjakan. Katakanlah, apa yang kamu butuhkan.” Jawab sang paman dengan sangat ramah. Kelihatannya hubungan mereka cukup dekat.             “Ada beberapa orang yang aku ingin cari tahu backgroundnya. Apa paman bisa membantu?” Tanya Zachery.             “Tentu saja Zach. Siapa saja orangnya?” Jawab orang yang di sebut paman oleh Zachery itu.             “Ada 3 anak. Mereka penghuni baru asrama Red Orchid. Yang pertama bernama Dylan. Yang kedua Nina arina. Dan yang ketiga Juro Nicodeme.” Ucap Zachery dengan lambat. Untuk memastikan pamannya menangkap semua nama yang dia ucapkan.             “Jadi kamu benar-benar masuk ke asrama itu Zach? Apa tidak terlalu beresiko? Bagaimana kalau mereka mengetahui identitasmu yang sebenarnya?” Tanya paman itu dengan nada penuh kekhawatiran.             “Tenanglah paman. Aku akan hati-hati. Aku tidak bisa diam saja sedangkan adikku entah berada dimana.”             Paman itu terlihat mendesah panjang. “Baiklah. Tapi berjanjilah untuk berhati-hati. Jangan gegabah dalam bertindak. Dan selalu beritahu paman bila kamu butuh pertolongan oke? Paman tidak bisa mencampuri urusan di dalam sekolah itu, tapi kalau ada orang yang meminta tolong dari dalam, paman punya alasan untuk memaksa masuk kesana. Mengerti?”             “Iya paman. Zach berjanji. Sekarang, bisa tolong cari tahu background anak-anak itu?” Tanya Zachery sekali lagi.             “Tentu. Akan paman kirim via email jika sudah ada hasilnya ya. Tidak akan lama. Mungkin 1 atau 2 jam lagi.” Jawab Paman itu.             “Oke. Aku tunggu paman.” Zachery melambaikan tangan kemudian memutus sambungan video call itu.             Zachery melepas baju seragamnya dan hanya mengenakan celana boxer. Meski AC sudah menyala, entah mengapa Zachery masih merasa kepanasan. Dia merebahkan dirinya di atas kasur. Memandang langit-langit dengan tatapan kosong. Pikirannya menerawang jauh.               “Ayo jujurlah pada kakak, sebenarnya apa yang membuatmu ingin masuk ke asrama itu? Kenapa kamu tega meninggalkan kakak untuk hidup sendirian dirumah hah?” Tanya Zachery pada Diana. Adiknya memang tomboy dari dulu, dan yang paling menjadi masalah adalah dia paling sulit mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikirannya. Dia lebih sering memendam semuanya sendiri. Makanya Diana tidak punya banyak teman.             Dan tiba-tiba, adiknya yang tidak pernah meminta dan mengungkapkan apapun itu, bilang kalau dia ingin masuk asrama Red Orchid. Ada sesuatu yang benar-benar dia inginkan yang hanya bisa dia dapatkan dengan cara masuk ke asrama Red Orchid. Tapi Diana tidak bilang hal apa yang dia inginkan itu.             “Kakak tidak perlu tahu. Kalau aku sudah berhasil, aku baru akan beritahu kakak.” Ucap Diana penuh senyum. Dia terlihat sangat bersemangat dan berseri-seri. Zachery begitu senang melihat adiknya sebahagia itu.             “Ayolah Diana. Kakak penasaran. Ya.. beritahu kakak ya...” Pinta Zachery.             Diana memandang Zachery lama. Menimbang-nimbang sebaiknya dia memberi tahu kakaknya atau tidak. “Baiklah.. tapi janji jangan tertawa ya.” Ucap Diana.             “Kakak janji. Ayo cepat katakan.”             “Aku... Ingin belajar Interior design kak.” Jawab Diana lirih. Dia malu mengungkapkan keinginannya pada kakaknya.             “Interior design? Kenapa tiba-tiba?” Tanya Zachery. Setahunya, Adiknya tidak suka hal-hal berbau seni. Dia lebih suka akademis dari pada seni.             “Waktu studi tour terakhirku di sekolah menenah, Kami berkunjung ke sebuah rumah yang dari luar terlihat sama dengan rumah kebanyakan. Namun, saat kami masuk ke dalam... Isinya... sungguh membuat takjub. Setiap ruangan dibuat dengan konsep yang berbeda. Semuanya dibangun dengan totalitas penuh untuk membawa atmosfer yang diinginkan oleh si pemilik rumah. Aku... sangat terkesan dengan rumah itu kak.” Diana terlihat menerawang. Mengingat kembali kenangan saat mengunjungi rumah itu.             “Kalau aku juga bisa membangun rumah seperti itu. Rumah yang benar-benar membuat kita nyaman tinggal di dalamnya. Rumah yang sesuai bayangan kita untuk melukis kenangan di dalamnya. Rumah yang benar-benar membuat kita merasa berada di... rumah...” Diana berbicara dengan mata yang berbinar-binar dengan indahnya. Zachery baru kali ini melihat binar mata secemerlang itu dimata adiknya.             “Aku sudah mencari tahu kemana-mana. Tapi tidak ada tempat kursus atau tempat belajar yang ada pelajaran Interior designnya. Dan aku tidak sabar kalau harus menunggu sampai di Universitas untuk belajar Interior Design. Dari situ aku menemukan Red orchid dormitory. Karena di asrama ini, semua pelajaran yang diinginkan siswanya akan dipenuhi. Mereka bahkan akan mengundang langsung para ahli di bidangnya untuk mengajari anak-anak red orchid dormitory.” Diana memandang kakaknya dengan penuh semangat.             “Itu alasannya kakak. Jadi beri dukungan padaku untuk masuk kesana ya.” Mata Diana berbinar penuh harap.             Zachery merangkul adiknya penuh sayang. “Tentu saja kakak mendukungmu cantik. Tidak ada yang lebih berharga dari impianmu sendiri. Jadi kejarlah, gapailah mimpimu. Kakak akan selalu mendukungmu.”             “Terima kasih kakak.” Diana mengecup pipi Zachery pelan. Mereka memang cukup dekat sebagai kakak beradik.               Mata Zachery basah oleh air mata yang tak dia sadari sudah mengalir dari tadi. Dia selalu tak bisa menahan diri jika mengingat adiknya. “Diana... Adikku...”             Zachery tergugu. Menangis dalam diam. Menahan agar isakannya tak terdengar sampai keluar kamar. Hatinya tersiksa. Bayangan tentang kemungkinan terburuk yang mungkin menimpa adik kesayangannya benar-benar menyayat hati.                                                                                                 ******             “Tuan muda.” Suara Vincent terdengar di sambungan telepon tuan mudanya. Vincent memang orang kepercayaannya. Dia tahu benar, kalau Vincent tidak akan pernah mengkhianatinya. Meski apapun yang dia perbuat.             “Bagaimana dengan tugas yang kuberikan padamu? Sudah tahu siapa saja mata-mata kakek?” Tanya tuan muda itu.             “Saya sudah menemukan 2 orang tuan muda. Yang satu ada diantara staf tata usaha sekolahan. Satu lagi adalah teman sekelas anda. Jadi tolong bersikaplah yang baik jika ada di kelas dan dilingkungan kantor staf. Dan saya juga yakin mereka pasti akan membuntuti anda. Jadi lebih baik untuk terus menjaga sikap tuan muda.” Vincent menjelaskan dengan hati-hati. Dia tidak ingin membuat tuannya marah lagi.             “Bagaimana dengan di asrama? Apakah ada mata-mata disana?” Tanya tuan muda itu lagi.             “Sejauh yang saya tahu, tidak ada tuan muda. Tapi saya akan terus mencari tahu siapa lagi yang menjadi mata-mata tuan besar. Karena tidak mungkin tuan besar hanya mengirim dua mata-mata untuk mengawasi tuan muda.” Jawab Vincent.             “Baiklah.” Dan tuan muda itu menutup teleponnya. Dia menyeringai dengan mengerikan. Seringai yang seharusnya tidak terkembang di wajah anak semuda itu.             “Mencoba memata-mataiku huh? Ingin mati ya?”                                                                                                 *******             Hari sudah menjadi gelap. Sekolah bergengsi itupun sudah sepi dari lalu lalang manusia. Hanya ada satpam dan segelintir staf yang masih bertahan karena tuga syang belu selesai.             Anak-anak penghuni asrama tampak bercengkerama di teras. Mereka menunggu kedatangan pak Abraham. Penanggung jawab asrama sekaligus guru mereka. Anak-anak terlihat menyukai guru itu. Karena beliau tampak benar-benar peduli dengan siswanya. Tidak hanya bekerja untuk memenuhi kewajiban saja.             “Kalian sudah menunggu?” Tanya pak Abraham begitu dia melangkahkan kaki memasuki area srama. Anak-anak terlihat berdiri untuk menyambut kedatangan pak Abraham.             “Nggak lama kok pak. Lagian kita bersantai gini. Nggak kerasa.” Jawab Zachery.             “Ayo masuk, kita bicara di dalam saja.” Ajak pak Abraham. Semua anak mengangguk patuh dan langsung masuk menuju ruang tamu. Pak Abraha duduk di paling ujung dan anak-anak memposisikan dirinya di kursi terdekat.             “Bagaimana, sudah menentukan ingin mempelajari apa?” Tanya pak Abraham langsung ke pokok pembicaraan mereka.             “Sudah pak. Saya ingin belajar bisnis.” Juro yang paling pertama menjawab pertanyaan pak Abraham.             “Bisnis? Kamu memang sudah pasti akan meneruskan bisnis keluarga mu kan.” Jawab pak Abraham ringan. Dia segera mengeluarkan buku catatannya dan mencatat minat Juro.             Zachery tampak mengangkat alisnya. Jadi Juro adalah anak pebisnis? Seterkenal apa dia sampai pak Abraham tahu tentang dirinya?             “Selanjutnya siapa?” Tanya pak Abraham.             “Saya ingin belajar melukis pak.” Dylan berkata pelan namun tegas. Semua orang dibuat terkesima olehnya. Karena, jarang ada penghuni Asrama Red Orchid yang tertarik di bidang seni. Sekalipun ada, mereka lebih cenderung pada sesuatu yang lebih valuable, seperti arsitek mungkin?             “Yakin Dylan?” Tanya pak Abraham.             “Sangat yakin pak. Melukis adalah hal yang sangat ingin saya pelajari.” Jawab Dylan penuh tekad.             “Baiklah bapak catat ya. Selanjutnya?”             “Saya ingin belajar menjadi penyidik pak. Seperti detektif itu.” Kata Zachery.             Pak Abraham menautkan alisnya. “Kukira kamu lebih tertarik ke bisnis daripada hukum Zach. Memang orang tidak bisa dinilai dari luarnya ya.”             Zachery terkekeh mendengar penuturan pak Abraham. Dia memang selalu memasang topeng humoris dan easy going. Agar lebih mudah membaur dengan anak-anak SMA.             “Selanjutnya?”             “Saya ingin belajar Interior design kak.” Jawab Nina. Dan kata-katanya berhasil membuat Zachery membeku sesaat. Dia mengingat adiknya lagi.             Bukan hanya Zachery, pak Abraham pun tampak terkejut mendengar jawaban Nina. Namun dia langsung menutupinya dan bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa. “Baiklah bapak catat. Sekarang tinggal kamu Rachel. Apa yang ingin kamu pelajari?”             Rachel masih bimbang sedari tadi. Hal yang paling diinginkannya? Yang paling diingin dilakukannya adalah bermain piano. Itu adalah impian seumur hidupnya. Tapi... Kakaknya yang lebih penting sekarang. Dia datang kesini untuk mencari kakaknya. Piano bisa menunggu nanti.             “Saya juga ingin menjadi penyidik pak. Sama seperti Zachery.” Jawab Rachel.             Zach menangkap nada getir di suaranya. Dia tahu, bukan itu yang diinginkan rachel. “Hei Rachel. Aku bisa memberi tahumu semua pengetahuan tentang penyelidikan yang kuterima. Jadi kamu bisa memperlajari hal lain.” Ucap Zachery lantang. Dia tidak ingin Rachel menyesal nantinya.             Dia memandang Zachery dengan kebimbangan yang tergambar jelas di kedua bola matanya. Dia sangat ingin meneriakkan kata piano sekarang juga. Membayangkan belajar piano dari ahlinya secara langsung... Benar-benar tawaran yang sangat menggiurkan.             “Tidak. Aku memang punya banyak mimpi, tapi yang paling saya inginkan adalah menjadi penyidik pak.” Ucap rachel penuh keyakinan setelah pergulatan batin di dadanya.             “Baiklah Bapak catat. Bapak akan menyerahkan catatan ini pada kepala sekolah. Dan paling tidak, minggu depan kalian sudah bisa mulai pelajaran eksklusif kalian.” Ucap pak Abraham.             “Terima kasih pakl.” Jawab mereka serentak.             “Sekarang istirahatlah. Sampai jumpa besok.” Pak Abraham pamit dan berlalu pergi meninggalkan asrama. Satu per satu anak-anak itu pun kembali ke kamarnya masing-masing. Hari sudah beranjak larut. Waktunya untuk beristirahat melepas penat.                                                                                             ****** -to be continue-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN