Chapter 9

1815 Kata
            “Selamat datang di Asrama Red Orchid.” Pak Abraham menyambut kelima anak yang mulai hari ini resmi menjadi penghuni Red Orchid Dormitory. “Mulai hari ini kalian sudah bisa tinggal disini dan menikmati semua fasilitas yang sudah disediakan.”             Pak Abraham memandang kelima siswa itu dengan hangat. “Kalian adalah anak-anak cemerlang yang punya masa depan sangat cerah. Manfaatkan semua benefit yang diberikan yayasan pada kalian. Gapailah mimpi tertinggi yang kalian miliki. Bapak akan terus mendampingi kalian semua.”             “Terima kasih pak.” Jawab kelima anak itu serempak. Wajah-wajah mereka terlihat bersemangat. Pak Abraham begitu senang melihatnya.             “Langsung masuk saja dan tata barang bawaan kalian. Untuk kamarnya, kalian boleh memilih sesuka hati. Ah, sebelum itu, kita tentukan dulu ketua asramanya. Untuk formalitas saja. Agar mudah kalau ada apa-apa. Siapa menurut kalian yang cocok?” Tanya pak Abraham.             “Bagaimana kalau si peringkat 1 pak?” Tanya Nina. Dia anak yang paling antusias diantara yang lain.             “Boleh juga. Baiklah, Dylan kamu yang jadi ketua Asrama ya.”             “Baik pak.” Jawab Dylan singkat.             “Oke silahkan masuk ke dalam asrama. Pembagian kamarnya bapak serahkan pada Dylan ya. Dan untuk makan malam akan disiapkan oleh petugas kantin. Mungkin sebenatr lagi siap. Ada pertanyaan?”             “Untuk peraturan di asrama apa saja pak?” Tanya Zachery.             “Pertanyaan bagus. Harusnya bapak sudah jelaskan diawal tadi. Maaf bapak lupa. Untuk peraturan yang paling penting adalah, siswa perempuan dan siswa laki-laki TIDAK boleh tidur sekamar. Ingat ada cctv disana. Jika kalian melanggar, akan langsung dikeluarkan dari Sekolah.”             Rachel tertawa kecil mendengar peraturan itu. Tidak mungkin kan ada orang bodoh yang mau menyerahkan posisi sebagai penghuni asrama untuk ‘tidur sekamar’ dengan lawan jenisnya.             “Jangan tertawa Rachel. Kamu belum tahu apa itu kekuatan cinta kan?” Pak Abraham menegur Rachel yang tertawa mendengar penjelasan pak Abraham. Rachel memang terlihat masih polos dan tidak mengerti bagaimana laki-laki.             “Kedua, tidak boleh keluar malam diatas jam 10. Jika ada anak yang belum kembali ke asrama lewat jam 10 malam, kalian akan mendapat surat peringatan. Jika surat peringatanmu mencapai 5, kamu akan dikeluarkan dari asrama.” Pak Abraham berkata pelan-pelan, agar kata-katanya benar-benar dimengerti.             “Ketiga, akan ada tes evaluasi setiap 3 bulan di sekolah ini. Dan kalian berlima, harus selalu menjadi 5 teratas. Kalau 3 kali berturut-turut nilai kalian jatuh, kalian juga bisa dikeluarkan dari asrama.”             Nina terdengar mendesah mendengar aturan-aturan itu. Masuk ke asrama ini saja sudah sangat sulit. Dan sekarang, untuk mempertahankannya akan menjadi lebih sulit lagi.             “Jangan merasa ini tidak adil atau terlalu berat. Kalian disini mendapatkan semua yang terbaik. Tentu saja pihak yayasan juga menginginkan yang terbaik dari kalian.”Pak Abraham menjelaskan dengan arif.             “Baiklah, sudah mulai malam. Masuklah dan beristirahat. Sampai ketemu di sekolah besok.” Pak Abraham pergi setelah selesai memberi pembekalan pada para penghuni asrama. Anak-anak itu masuk ke dalam asrama. Mereka duduk berkumpul di ruang tamu. Mengobrol santai sambil berkenalan.             “Ah ayo kita saling berkenalan dulu. Sepertinya tinggal Juro yang belum kenal. Karena yang lain berasal dari kelas A. Perkenalkan aku Zachery, ketua kelas A. Salam kenal.” Zachery membuka percakapan dengan lancar. Dia memang pandai mencairkan suasana.             Zachery menepuk bahu Rachel agar memperkenalkan diri. “Aku Rachel, dari kelas A juga. Salam kenal.”             Selanjutnya Nina yang duduk di sebelah Rachel berdiri memperkenalkan diri. “Aku Nina, juga dari kelas A, salam kenal.” Nina berbicara dengan penuh keceriaan. DIa tidak hanya cantik luar biasa, tapi kepribadiannya juga sangat menyenangkan. Bahkan Rachel yang cuek jika di sekolahan tetap tak bisa cauh pada Nina.             “Dia ini bidadari di kelas A.” Zachery menambahkan saat Nina baru saja duduk kembali             “Ah ketua kelas. Selalu saja menggodaku.” Nina tersipu malu karena candaan Zachery. Dan ruangan itu dipenuhi dengan tawa riang anak-anak yang lain yang melihat betapa manisnya Nina saat tersipu malu.             “Ayo Dylan, sekarang giliranmu.” Zachery meminta Dylan yang tak kunjung memperkenalkan diri.             “Saya Dylan. Saya juga dari kelas A. Salam kenal semuanya.” Suara Dylan begitu datar. Tanpa emosi. Dan terkesan dingin. Semua orang terdiam mendengar perkenalan Dylan. Mereka tahu Dylan memang pendiam. Tapi nada bicaranya tadi... benar-benar dingin.             “Ah, maaf. Saya memang tidak pintar bergaul. Maaf kalau suasananya jadi tidak nyaman.” Dylan bur-buru menambahi saat suasana terasa sangat canggung karena perkataannya.             “Hahaha.. Dasar Dylan. Tidak apa-apa. Tapi, berusaha dong biar tambah gaul. Apa perlu aku ajari? Hem?” Zachery lagi-lagi berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba membeku.             “Ah, iya terima kasih.”Jawab Dylan lagi-lagi tanpa emosi.             “Selanjutnya aku kan?” Tanya Juro. “Aku Juro, dari kelas D. Aku belajar mati-matian agar bisa masuk ke asrama ini. Salam kenal dan mohon bantuannya ya.” Juro berkata dengan lancar dan supel. Dia hampir mirip dengan Zachery. Mudah bergaul dan mencairkan suasana.             “Baiklah, sekarang ayo kita bagi kamarnya. Aku sudah lelah, pengen istirahat.” Zachery memandang berkeliling. Ruang tamu ini cukup besar. Di sebelah kanan ada rak-rak buku besar yang berisi berbagai macam buku bacaan.             “Ayo pindah ke ruang tengah.” Ajak Juro. Dan yang lain mengiyakan. Mereka berpindah ke ruang tengah. Disana terhampar karpet bulu yang tebal dan nyaman di tengah-tengah ruangan. Ada televisi dengan ukuran besar lengkap dengan player dan sound system. Ada dua pintu kamar di sebelah kiri. Keduanya kamar tidur, ukurannya sama. Ada 2 pintu lagi di bagian depan, keduanya juga kamar tidur. Di sebelah kanan ada lorong yang menghubungkan ke dapur mini, gudang dan ruang laundry. Dan dibelakang ada 2 pintu lagi, yang satu kamar tidur, yang satu ruang belajar.             Ruang belajarnya sendiri sangat lengkap. Ada 5 komputer siap pakai yang berjajar didinding. Meja bundar besar beserta 5 kursi yang mengelilinginya. 1 layar lcd dan rak-rak buku yang tak kalah besar dari yang diruang tamu tadi. Semuanya sudah disiapkan dengan sangat baik.             “Ayo Dylan, bagi kamarnya.” Kata Nina tak sabar.             “Ehmm...” Dylan tampak berpikir, dia melihat-lihat posisi kamar. “Untuk anak-anak perempuan lebih baik gunakan 2 kamar yang di tengah ya. Untuk alasan keamanan. Kalian pilih sendiri diantara 2 ini.” Kata Dylan. Dan untuk pertama kalinya Rachel melihatnya tersenyum.             “Baiklah, Rachel kamu mau yang mana?” Tanya Nina.             “Aku mau yang sebelah sini saja. Jawab Rachel menunjuk kamar yang terdekat dengannya.             “Baiklah, kalau begitu aku yang satunya. Ayo masuk duluan. Biar anak cowok nentuin kamar mereka sendiri.” Kata Nina. Mereka berdua memasuki kamar masing-masing dan menata barang bawaan mereka.             “Sekarang giliran kita. Tinggal tiga kamar, pilih sesuka kalian.” Kata Dylan.             “Aku mau kamar itu, yang paling dekat dengan Rachel.” Zachery mengedip pada 2 rekannya. Dia memang sudah terkenal di kelas kalau sedang mengejar cinta Rachel.             “Baiklah, bagaimana denganmu Juro?” Tanya Dylan.             “Aku mau kamar yang dekat dengan ruang belajar saja. Aku mungkin akan sering belajar sampai larut malam karena aku tak sepintar anak-anak dari kelas A” Jawab Juro.             “Apa sih. Nyatanya nilai ada diatas ku. Nggak usah merendah gitu.” Ujar Zachery. Dan Juro hanya meresponnya dengan senyum malu.             “Berarti aku pakai kamar sebelah Zach ya. Ayo kita bereskan barang bawaan kita. Setelah ini kita ke kantin sama-sama. Makan malam disana saja kan?” Tanya Dylan. Dia hari ini lebih banyak bicara daripada biasanya.             “Oke.” Jawab Juro dan Zach serempak. Mereka kemudian masuk ke kamar masing-masing dan menata barang bawaan mereka.                                                                                 *******               Rachel selesai menata pakaian dan buku-bukunya dengan cepat. Tidak banyak yang dia bawa. Sdangkan benda-benda yang diberi papanya dia biarkan tetap dalam koper dan ditaruh di bawah ranjang. Disana lebih aman. Karena kopernya memakai password agar bisa terbuka.             Rachel langsung memeriksa kamarnya. Dari bawah ranjang, di dalam lemari, di rak-rak buku, di nakas, di kamar mandi, dan dimanapun temat yang sekiranya mungkin untuk menemukan petunjuk, namun nihil. Kamar itu begitu bersih dan rapi. Bahkan cat temboknya pun baru. Tidak ada bekas dari penghuni sebelumnya yang tersisa di kamar itu.             Rachel mehempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dia begitu bersemangat saat akan memasuki asrama. Berharap ada petunjuk yang tertinggal disini. Tapi melihat begitu bersihnya tempat ini... sepertinya pihak sekolah sudah menghilangkan semua jejak yang mungkin masih tertinggal. Rachel jadi merasa buntu.             Tapi... terlalu dini untuk berputus asa. Masih banyak ruangan yang belum dia cari. Masih ada banyak hal yang belum dia gali. Jadi harus bersabar. Sedikit demi sedikit...             Terdengar dering telepon dari handphone Rachel. Dengan segera Rachel mengambil handphonenya yang tergeletak di atas nakas. Terlihat nama Zachery di layar.             “Hallo.” Terdengar suara Zachery begitu Rachel mengangkat teleponnya.             “Ada apa?” Balas Rachel.             “Well, aku baru saja mencari petunjuk ke setiap sudut kamar, tapi tak ada apapun yang kutemukan. Semuanya terlihat bersih dan baru.” Ucap Zach lirih. DIa tak ingin suaranya sampai terdengar keluar kamar.             “Yahh.. Sama denganku disini. Aku juga mencari dan hasilnya nihil. Apa menurutmu kamar yang lain juga begitu?” Tanya Rachel juga dengan berbisik.             “Pastinya. Semua dinding kelihatannya dicat ulang. Dan barang-barang milik penghuni lama sudah disingkirkan semua.” Jawab Zachery.             “Benar. Pihak sekolah pasti juga berhati-hati. Tapi, kalau ingin memastikan, aku bisa main ke kamar Nina. Dan kamu juga masuk ke kamar Dylan dan Juro. Pura-puralah mau pinjam apa atau bagaimana, terserah alasanmu saja.” Usul Rachel.             “Baiklah, tapi tidak usah terburu-buru. Kita buat senatural mungkin ya.” Jawab Zachery.             “Oke.” Sahut Rachel.             “Ya sudah, aku tutup dulu. Sebentar lagi kita ke kantin kan untuk makan malam. Bye.” Sambungan telepon akhirnya terputus.             Dan tak berapa lama satu per satu anak keluar dari kamarnya masing-masing. Nina dan Rachel sudah berganti baju dengan yang lebih nyaman. Mereka bersama berjalan keluar ke kantin sekolah. Letak asrama dan kantin tidak begitu jauh. Hanya perlu melewati pagar tanaman yang memisahkan area sekolah dan area asrama. Lalu masuk lurus ke daalm dan mereka akan sampai ke area kantin.             “Selamat malam pak.” Sapa Zachery pada pak satpam yang kebetulan sedang berpatroli keliling sekolah.             “Eh anak-anak. Sudah mulai tinggal di asrama ya?” Tanya pak satpam.             “Iya pak.” Jawab mereka berlima serempak.             “Ya sudah, semoga betah ya. Kalau ada apa-apa bisa bilang sama pak satpam di pos jaga depan. Nggak usah sungkan ya nak. Mulai besok juga akan ada staf dan penjaga UKS yang akan berjaga malam bergantian. Jadi nggak usah takut malam-malam jauh dari orang tua.” Pak satpam tampak mengkhawatirkan anak-anak itu. Bagaimanapun juga sebagai orang tua, melihat anak-anak yang tinggal jauh dari orang tuanya tetaplah membuat khawatir.             “Baik pak, terima kasih. Kami mau mau ke kantin dulu pak. Makan malam.” Jawab Zachery sekalian pamit kepada pak satpam.             “Iya nak. Makan yang banyak ya.” Jawab pak satpam.             Mereka kembali melanjutkan menuju kantin sekolah. Nina dan Rachel sudah tampak akrab. Dylan juga terlihat lebih banyak bicara dari biasanya. Yang jelas, suasananya tidak canggung dan cenderung menyenangkan.             Kantin terlihat terang benderang. Setidaknya ada 3 staf kantin yang masih bekerja malam itu. Makanan sudah terhidang diatas meja. Menunggu para penghuni asrama untuk menyantapnya. Mereka duduk mengelilingi meja yang telah disiapkan. Menu yang terhidang sangat berbeda dengan yang biasa ada disiang hari. Ini sih sudah seperti hidangan restoran bintang lima. Benar-benar menggoda selera makan.             “Wah.. Aku nggak tahu kalau makanannya se eksklusif ini.” Kata Nina yang sudah sangat ngiler melihat makanan yang terhidang di depannya.             “Ayo mulai makan. Nggak enak kalo udah dingin.” Ujar Zachery.             Mereka makan dengan lahap. Diselingi obrolan dan candaan khas anak SMA. Terasa begitu damai dan nyaman. Meski dalam hati Rachel dan Zachery tertanam rasa tak sabar ingin mengobrak abrik asrama untuk menemukan petunjuk dimana siswa-siswa yang hilang itu berada.                                                                                     *******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN