Chapter 8

1699 Kata
            Rachel terlihat sedang mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke asrama. Dia memasukkan baju-bajunya dan barang-barang pribadinya ke dalam koper. Mengepak buku-buku pelajarannya ke dalam kardus. Dia hanya membawa barang seperlunya saja. Toh setiap minggu dia bisa kembali ke rumah.             “Rachel, ayo ke depan sebentar. Papa ingin berbicara denganmu.” Suara mama Rachel terdengar dari balik pintu kamarnya. Rachel selalu mengunci pintu kamarnya. Karena dia tidak ingin orang lain tahu keadaan kamarnya yang penuh tempelan artikel. Dia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.             “Iya ma, sebentar lagi Rachel keluar.” Jawab Rachel sambil mengepak barang-barangnya. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya dan menuju ruang keluarga.             “Ada apa pa?” Sapa Rachel begitu dia tiba di ruang keluarga. Tampak mama dan papanya sedang berbincang berdua disana.             “Duduk sini nak.” Ajak mamanya yang meminta Rachel untuk duduk di sebelahnya. Rachel menurut dan dengan segera duduk di sebelah mamanya. Sang mama langsung menyambutnya dengan rangkulan hangat.             “Jadi, besok kamu akan mulai tinggal di asrama?” Tanya papanya memulai pembicaraan.             “Benar pa.” Jawab Rachel singkat.             “Berhati-hatilah. Papa sudah berdiskusi dengan beberapa detektif. Memang dengan masuk kedalam sana, akan lebih efektif untuk mencari informasi, tapi juga sangat berbahaya. Jadi kamu harus waspada Rachel.” Darius terlihat khawatir. Dia tidak rela melepas putri bungsunya ke tempat hilangnya Raymond. Baginya, tempat itu lebih berbahaya daripada sarang harimau.             “Rachel tahu pa. Rachel akan berhati-hati.” Jawab Rachel patuh. Tanpa diberitahupun Rachel pasti akan bertindak dengan hati-hati.             Darius mengambil koper besar yang sedari tadi tergeletak di lantai. Dibukanya koper itu dengan sekali tekan. Dan terlihatlah isi koper itu. Ada jam tangan, bolpoin, ikat pinggang, cincin, bando, sepatu, dan banyak aksesoris perempuan lainnya.             “Apa itu pa?” Rachel tahu itu semua pasti untuknya. Tapi untuk apa papanya memberikan semua itu sedangkan Rachel sudah punya banyak sekali aksesoris.             Darius mengambil bolpoin, dan memperlihatkannya pada Rachel. “Ada 4 tombol disini dengan fungsi yang berbeda-beda. Tombol hitam ini berfungsi sebagai bolpoin biasa. Tombol merah akan mengeluarkan pisau kecil jika kamu menekannya. Tombol biru akan mengeluarkan jarum suntik yang sudah dilengkapi dengan obat bius. Dan tombol putih berisi anak panah kecil, jadi pastikan kamu membidik sasaranmu dengan tepat sebelum menekan tombolnya.”             Rachel ternganga mendengar penjelasan papanya. Rachel tahu papanya tak akan membiarkannya pergi tanpa persiapan, tapi sampai menyiapkan alat menakjubkan seperti ini? Well, Rachel tak pernah menyangkanya.             Darius meletakkan kembali bolpoin itu, kemudian mengambil kacamata dengan bingkai berwana coklat muda. “Kacamata ini dilengkapi dengan kamera kecil yang akan terhubung dengan laptop papa. Semua yang kamu lihat akan direkam dengan ini. Jadi selalu gunakan kacamata ini kemanapun kamu pergi.”             Rachel benar-benar takjub. Baru dua barang yang dijelaskan oleh papanya. Namun dia merasa itu saja sudah sangat cukup untuk melindungi dirinya. Papanya benar-benar menakjubkan.             “Lalu sepatu ini, dilengkapi dengan tenaga turbo. Kalau kamu harus melarikan diri, atau menendang lawan. Aktifkan tenaga turbo dengan menekan tombol di bagian dalam sepatu.”             Darius menyerahkan koper itu pada Rachel. “Ku pikir tiga benda itu yang paling penting, yang lain memiliki fungsinya masing-masing. Di dalam sudah ada penjelasan dari masing-masing benda. Bac baik-baik agar kamu bisa memaksimalkan fungsinya.”             “Baik pa.” Jawab rachel masih dengan wajah takjub dengan benda-benda yang diterimanya.             “Untuk bolpoin, kacamata dan sepatu. Harus kamu pakai setiap hari. Mengerti?!” Darius berbicara dengan nada memerintah. Nada bicara yang sangat jarang dia gunakan pada anak-anaknya.             “Iya papa. Rachel sudah mengerti. Dan terima kasih sudah menyiapkan semua ini untuk Rachel.” Rachel merasa bersyukur dengan perhatian oang tuanya. Meski setahun ini mereka mengabaikan Rachel. Dia tahu, orang tuanya begitu karena terluka dengan hilangnya kakaknya. Bukan bermaksud benar-benar tidak mempedulikan Rachel.             Darius bangkit dan berpindah duduk di sebelah Rachel. Dipeluknya putri bungsunya yang sebentar lagi akan pergi menantang bahaya. “Jaga dirimu Rachel.” Darius memeluknya semakin erat. Begitupun Widya, yang tak kuasa menahan tangisnya melihat papa dan anak yang saling berpelukan. Mereka bertiga saling memeluk dalam tangis. Tangis yang penuh kekhawatiran, namun juga penuh harapan.             “Jadi besok pagi kamu akan langsung ke asrama?” Tanya Widya begitu tangis mereka mereda. Semua sudah tampak lebih tenang setelah menumpahkan emosi mereka.             “Tidak ma, besok berangkat sekolah seperti biasa. Sore harinya baru kami akan memasuki asrama.” Rachel menjelaskan.             “Papa dan mama tidak bisa mengantar Rachel. Kami harus berangkat ke bandara pagi-pagi, dan baru akan kembali minggu depan. Kami sudah menunda semua pekerjaan demi menemani kamu sebelum kamu masuk asrama. Maaf ya sayang.” Darius tampak menyesal, tapi dia ingin rachel mengerti keadaan mereka.             “Tidak apa-apa pa. Rachel bisa sendiri. Biar nanti supir yang mengantar dan membantu membawa barang bawaan Rachel.” Rachel tersenyum hangat. Sudah sangat lama dia tidak mengobrol panjang lebar dengan orang tuanya. Mereka terlalu sibuk, dan mereka juga bukan orang yang mudah mengungkapkan perasaan. Jadi biasanya mereka hanya mengobrol seperlunya saja.             “Jaga diri ya.” Widya sekali lagi memeluk putri kecilnya. Masih ada beban berat di dadanya untuk melepaskan rachel.             “Jangan khawatir mama. Rachel akan baik-baik saja.”                                                                                        *******               Zachery berbaring di ranjangnya dengan pikiran yang masih mengembara. Dia sudah selesai mengepak barang-barang yang akan dibawanya. Tidak banyak. Hanya beberapa baju dan buku-buku.             Dia ingat kalau dia belum mengabari ibunya tentang perpindahannya ke asrama. Segera diambilnya handphone di nakas di samping tempat tidur, dan melakukan panggilan internasional.             Tuttt tutt tuttt Lama tak ada jawaban. Zachery melirik jam dinding yang tergantung rendah di dinding kamarnya. “Seharusnya disana sekarang sudah pagi.” Tuutt tuutt tuutt             “Hallo...” Terdengar suara disambungan telepon Zachery.             “Ibu, apa kabar?” Tanya Zachery penuh rindu. Mungkin sudah seminggu  mereka tidak saling telepon. Hanya terkadang berbalas pesan singkat saja.             “Dasar anak bandel. Baru sekarang kamu telepon ibu huh?” Ibunya mulai mengomel pada Zach yang sangat jarang menghubungi.             “Maaf ibu, Zach sibuk. Ibu juga, kenapa tidak menelepon Zach duluan?”             “Anak ini!! Ibu ingin kamu yang menelepon duluan.”             “Hahahaha... Baiklah-baiklah Zach akan sering menelepon.” Jeda sejenak. Mereka saling menunggu lawan bicaranya untuk berbicara.             “Ibu.. Besok Zach akan pindah ke Red Orchid Dormitory...”             Sunyi. Tak ada jawaban dari seberang telepon. Zachery tahu, pasti ibunya sedang menahan tangis karena mengingat Diana. Putri kesayangannya yang sudah setahun ini tak ada kabarnya.             “Berhati-hatilah Zach.” Jawab sang ibu setelah lama terdiam. Suaranya terdengar serak. Kentara sekali beliau habis menangis.             “Tentu ibu. Tak perlu khawatir, Zach pasti akan menjaga diri. Dan... Zach pasti akan membawa Diana pulang.” Zachery berkata dengan penuh tekad. Terdengar isak tangis di seberang sana. Hati Zachery ikut perih mendengar tangisan ibunya. Tapi dia tidak bisa memeluk atau mengusap air matanya. Mereka terpisah jarak yang sangat jauh.             “Ibu tutup dulu ya Zach.” Dan sambungan telepon langsung terputus. Zachery tahu, ibunya pasti akan menangis tanpa henti. Menumpahkan semua perih yang menyerang hatinya.             Sabarlah ibu... Aku pasti akan membawa Diana kembali. Apapun caranya...                                                                                         ********             Malam itu, ruang kelas 1A kembali gelap. Lampu di kelas itu kembali bermasalah. Padahal bohlamnya belum lama diganti. Pak satpam lagi-lagi harus menggantinya dengan bohlam yang baru.             “Pak udin, ayo temenin saya ke kelas 1A buat ganti bohlam. Barusan saya patroli lampu disana mati lagi.” Ujar pak Slamet. Wajahnya sedikit pucat.             “Biar nanti aja pas giliran aku patroli. Lagian kenapa lu, wajagnya pucet gitu.” Tanya pak Udin.             “Saya rasa ada yang nggak beres dengan kelas itu pak. Lebih baik jangan dibiarkan dalam keadaan gelap terlalu lama. Ayolah pak, kita ganti bohlamnya.” Pak Slamet berikeras ingin mengganti lampunya sekarang.             “Nggak beres gimana maksudnya met? Jangan nakut-nakutin ah.”             “Sebenernya... kemarin dulu, pas lampu kelas itu mati. Aku ngeliat bayangan orang di kelas itu. Tapi pas aku cari-cari pake senter. Kelasnya kosong.” Jelas pak Slamet.             “Alah.. Salah lihat paling kamu met.” Kata pak udin.             “Iya, awalnya saya pikir juga salah lihat, tapi tadi, pas saya patroli...”Slamet menggantungkan kalimatnya, menambah kesan horor pada yang mendengarkannya. “Saya melihat lagi bayangan itu di kelas 1A. Kelasnya gelap, padahal lampunya belum lama diganti. Saat saya senteri, kelasnya kosong, nggak ada apa-apa. Tapi jelas tadi saya lihat ada orang yang berdiri di dekat jendela pak.”             Semua orang mulai merinding mendengar cerita pak Slamet. Bukan tak mungkin kalau sekolah itu jadi berhantu. Karena ada 4 anak yang menghilang di sekolahan itu.             “Ya udah ayo kita periksa bareng. Jangan lupa ambil bohlam baru.” Ajak pak Udin yang tak mau berlama-lama dengan perasaan tak tenang setelah mendengar cerita pak Slamet.             Dua satpam itu berjalan beriringan menuju kelas 1A. Mereka berdua memegang senter besar yang selalu diedarkan ke segala arah, untuk menerangi jalan mereka dan memeriksa keadaan sekeliling. Mereka sudah semakin dekat dengan kelas 1A. Perasaan ngeri langsung menjalar pada dua orang satpam itu.             Mereka berjalan perlahan. Mengarahkan cahaya senter pada jendela kelas 1A. Menyinari ke segala penjuru kelas. Dan benar saja, cahaya senter pak Slamet menangkap bayangan seseorang yang duduk di salah satu bangku siswa.             “Itu, lihat kan tadi pak.” Kata pak Slamet. Tangannya mulai gemetar.             “Iya met, keliatan tadi.” Mereka semakin mendekat. Mengarahkan cahaya senter ke segala arah. Namun bayangan itu sudah tak ada disana.             “Ayo cepet pak kita ganti lampunya. Serem.” Ajak pak Slamet. Mereka segera membuka kunci pintu kelas itu dan masuk kedalam. Mereka menyenteri segala penjuru ruangan, namun kelas itu benar-benar kosong. Kalau memang yang mereka lihat tadi manusia, harusnya orang itu masih ada disana kan? Karena pintu dalam keadaan terkunci dan tak ada jalan keluar lain dari kelas itu.             Pak Slamet naik ke atas meja dan segera mengganti lampunya. Sedangkan pak udin masih tetap menyenteri ruangan itu. Mencari-cari jika ada seseorang yang bersembunyi disana. Tapi nihil. Kelas itu kosong.             “Sudah selesai pak. Ayo kembali ke pos aja.” Kelas kembali terang benderang setelah pak Slamet mengganti bohlamnya lagi.             “Ayo met. Merinding gue disini.” Jawab pak udin.             Mereka segera mengunci pintu dan bergegas pergi menjauh dari kelas itu. Perasaan merinding terus mengikuti mereka.             “Ahh... Aku tidak suka terang....”             Terdengar sayup-sayup suara dari dalam kelas 1A. Kedua satpam yang belum terlalu jauh itu masih bisa mendengarnya dengan jelas. Mereka dengan reflek menoleh ke arah sumber suara. Namun tidak ada siapa-siapa disana.             “AHHHHHH....” Kedua satpam itu berteriak ketakutan dan segera berlari menjauh dari sana.                                                                                         ******* -to be continue-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN