Phoebe memang memejamkan kedua matanya, tapi saat ini di dalam kepalanya seperti sedang terjadi perang besar di tengah gurun yang mulai tersapu badai. Benar-benar kacau! Dia mulai berandai-andai, jika saja dia terlahir di keluarga sederhana yang hangat dan saling mendukung, pasti tidak akan ada lagi parasit yang mengganggu hidupnya demi hal-hal duniawi. Namun tunggu dulu, jika dia hidup di tengah keluarga sederhana, lalu bagaimana seandainya jika ada benalu yang ingin memanfaatkannya seperti apa yang selalu dialami olehnya dan beberapa anggota keluarga Breslin selama ini?
Dia tidak ingin menjadi damsel in distress dengan berharap seorang kesatria rupawan dari golongan bangsawan akan datang ke hidupnya bak dongeng klasik yang selalu ia baca ketika masih kecil. Daripada bermimpi seperti remaja berusia belasan, lebih baik dia tetap menjalani kehidupan penuh persona dalam permainan politik di setiap lapisannya dengan nama belakang keluarga Breslin. Nama yang selalu menjadi dilema sekaligus membawa tantangan dalam hidupnya.
Sepasang telinganya tiba-tiba mendengar suara kursi yang sedang bergeser. Dia merasakan ada seseorang yang sedang duduk di depannya. Bagaimana dia bisa tahu dalam keadaan mata terpejam? Apakah dia semacam cenayang? Big no! Itu karena ada aroma maskulin yang sejak tadi menggelitik hidungnya. Dia menarik napas dalam-dalam, sisa aroma pinot noir di hidungnya berpadu dengan aroma maskulin yang baru saja menguasai indra penciumannya, ‘Hmmh, memabukkan. Gawat! sejak kapan aroma Alex jadi sangat memabukkan seperti ini? Sadarkan dirimu, Bee! Kau boleh mengencani siapa pun pria di dunia ini kecuali kakek-kakek, suami orang, Juan, Franz, dan yang terakhir adalah Alex!’ jerit alam bawah sadar Phoebe.
Meskipun tahu jika saat ini dia sedang melakukan “adegan berbahaya” karena terus terlena, tapi otak Phoebe tak ingin berhenti memerintahkan seluruh syaraf di tubuhnya untuk menikmati aroma memabukkan ini lebih lama lagi. Dengan mata terpejam dan tubuh relaks seperti sekarang malah membuat pikiran keruhnya selama beberapa bulan ini menjadi cerah seketika. Dia seolah menemukan hal yang sudah lama dia cari dari lawan jenisnya, “Apa kau mengganti parfummu, Dude? Kenapa aku baru tahu kau punya aroma ini. Saran aja sih, pakai parfum ini kalau kau sudah menemukan gadis pemilik ‘ladang’ spesialmu. Cukup Franz aja yang bikin aku pusing dengan banyaknya ‘ladang’ yang sedang ia garap dalam waktu berdekatan. Kau tahu apa ‘ladang’ yang kumaksud itu, ‘ka-aaargh!”
Phoebe nyaris melompat dari kursi saat baru saja membuka pejaman matanya perlahan. Dia langsung terbelalak ketika melihat seorang pria sedang mengulum senyum ke arahnya, dan yang pasti pria itu bukanlah Alex Ford si Partner In Wine-nya. Jadi, dari tadi ia sedang mengoceh di depan orang asing? Untuk kedua kalinya?! Ditambah tak memerhatikan manner karena cara duduknya sekarang sangatlah tak elegan. Benar-benar memalukan! Bahkan ia sedang membahas gadis pemilik “ladang” dengan gamblangnya?! Oh, my! Phoebe Amaya Breslin. Habislah kau!
Pria di hadapan Phoebe menahan tawa saat ia memerhatikan bahasa tubuh sekaligus mengetahui isi kepala Phoebe berdasarkan reaksinya. Dia sedang salah tingkah bercampur malu dan sedikit geram melihat reaksi pria asing yang terus saja menatapnya dengan tatapan geli ini, tapi ia juga heran kenapa ada pria asing di restoran Alex? Bukankah seharusnya hari ini restoran Alex hanya bisa didatangi olehnya dan si mantan entah apa sebutan yang pantas untuk pria tadi itu?
“Siapa Anda?” tanya Phoebe setelah menormalkan degup jantungnya sambil mengatur duduknya.
“Pelanggan paling istimewa di tempat ini, dan,”—dia menatap Phoebe lekat-lekat— “Priamu? Seperti yang baru aja kau umumkan keras-keras,” ujarnya santai sambil mengedikkan bahu.
“A-apa?!” Phoebe tak percaya dengan kalimat santai dari bibir pria asing ini. Dia bahkan menjawab pertanyaan sopannya dengan gaya bicara seolah mereka sudah kenal akrab. Ia segera mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Alex, tapi nihil karena pria itu sepertinya tertelan bumi.
Seolah tahu dengan apa yang sedang dilakukan Phoebe, si pria asing pun kembali memberikan responnya, “Dia tadi sedang menerima telepon penting yang tak bisa ditunda, sepertinya Alex sedang ada masalah serius juga sepertimu.” Pria asing di depan Phoebe memberikan sebuah informasi yang masuk akal. Pantas saja sedang terjadi kesalah pahaman di sini. Eh, tapi tunggu dulu! Sepertinya ini bukanlah sekedar salah paham yang sederhana.
“Kenapa Anda, eh, kamu bisa berdiri di belakangku tepat saat aku menunjuk ke sana tadi? Apa Alex yang memintamu keluar atau kau memang sengaja keluar karena sangat ingin tahu dengan urusan orang?” tuduh Phoebe setengah bertanya.
“Tuduhan yang sangat berbahaya, Nona. Aku keluar untuk memilih langsung minumanku, tapi kau tiba-tiba saja memilihku lebih dulu dengan menunjuk ke arahku sambil mengklaimku sebagai milikmu di depan banyak saksi mata,” tegas pria asing itu lagi. Wajah adonis dengan tatapan dan seringaian licik yang Phoebe lihat saat ini membuatnya merasa terintimidasi seketika.
‘Gawat! Wajah di atas rata-rata, ditambah suara dalam dan serak yang terdengar seksi, dilengkapi dengan karakter seperti ini artinya sama dengan mimpi buruk! Selamatkan dirimu sebelum terlambat, Bee!’ Otak Phoebe menangkap sinyal bahaya. Ia dibuat gelagapan saat menyadari siapa lawan bicaranya. Bukan begini alurnya, aturan permainan ini jadi kacau karena ada satu pemain baru yang tiba-tiba masuk dan menyela. Kacau sudah semuanya! Lalu apa katanya tadi, mengklaim sebagai pemilik pria arogan di depannya ini? Yang benar saja! Sekali lihat semua orang bisa menangkap aura “berbahaya” dari pria asing ini.
“Kau yang tiba-tiba mengacaukan permainan, Tuan. Coba pikirin, apa masuk akal kalau aku mengklaim seseorang yang bahkan baru pertama kali aku lihat?” ketus Phoebe tak ingin berbasa-basi.
‘Sayang sekali, tapi di sore yang indah ini bukan pertama kalinya aku melihatmu, Wanitaku yang menarik?! Tadi kau yang mengakuinya sendiri, ‘kan? Jadi, jangan salahkan karena aku berencana untuk membuatnya menjadi kenyataan,’ batin “Prianya” Phoebe. Pria asing ini memang lawan sepadan untuk seorang Phoebe Amaya Breslin. “Kalau begitu ayo kita berkenalan dengan cara yang benar. Tidak lucu kalau kau tak tahu siapa PRIAMU, begitu juga sebaliknya, ‘kan?” tawar Pria asing ini dengan nada penekanan pada kata kepemilikan yang terdengar semakin berbahaya di telinga Phoebe.
“Sorry, tapi kelihatannya kita sama-sama sibuk untuk sekedar berbasa-basi apalagi mengakrabkan diri. Anggap aja tadi minor mistake, bukankah kesalahan kecil itu sangat wajar terjadi? Lebih baik tak usah kita perpanjang lagi, OK?!” tolak Phoebe diplomatis. Dia baru saja keluar dari mulut buaya, masa sekarang mau langsung melemparkan diri ke mulut serigala? Maaf saja, ya! Dia tak punya waktu dan energi cadangan untuk permainan menguras segala hal seperti ini.
Phoebe segera beranjak lalu bergegas keluar dari The View Supper Club. Padahal dia berencana makan malam di sini juga sambil menunggu Franz datang, tapi tidak dengan keberadaan pria asing di antara mereka. Baru memikirkannya saja sudah membuat Phoebe merasa ngeri-ngeri sedap.
Namun, baru saja ia melewati pintu utama The View Supper Club dia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Phoebe berjalan dengan sedikit tertatih sambil sesekali memegangi perutnya. Keringat dingin mulai membasahi kening hingga pelipisnya. Belum juga tangannya berhasil meraih handle pintu coupe hitamnya, ia tiba-tiba merunduk memegangi perutnya sambil merintih kesakitan. Apa efek pria asing tadi sebegini kuatnya sampai tubuhnya beraksi berlebihan seperti sekarang? Pandangan Phoebe bahkan mulai kabur dan hal terakhir yang ia rasakan adalah dekapan hangat dari lengan kekar dan suara seksi tadi. ‘Ah, sial ini aroma memabukkan tadi!’ pekik batin Phoebe sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya.