The View Supper Club, Manhattan, NYC.,
"Wajahmu terlalu berseri untuk ukuran seseorang yang sedang patah hati, Ma Belle." Seorang pria menyapa Phoebe setelah keluar dari salah satu ruangan VVIP di dekat meja bar. Keduanya bertukar salam dengan pelukan singkat sambil menyentuhkan pipi kanan mereka sekilas.
"Berhentilah menggodaku, Lex. Di mana 'panggung’ utamanya, apa di tempat biasa?"
"Pastinya dong. Itu adalah spot terbaik untuk adegan terbaik, tapi, Belle—" sela pria itu berwajah gamang.
"Oh! Come on, Alex. Kau harusnya tahu kalau aku tidak suka kata 'tapi' di saat penting seperti ini," dengus Phoebe lalu memandang datar, membuat Alex menelan kembali kata-katanya yang sudah di ujung lidah.
"Oke, tidak ada 'tapi' untuk saat ini,"—Alex menatap Phoebe dengan senyum kikuk di wajahnya, lalu sekilas memandang ke belakang—"setidaknya sampai tamumu pergi dengan wajah merah karena malu sekaligus menahan amarah. Gitu, 'kan?" Alex memainkan kedua alisnya naik turun seakan tidak sabar menunggu adegan utama hari ini. Phoebe hanya tersenyum geli menanggapi perkataan Alex.
Kemarin setelah Phoebe menghubunginya, ia segera menyiapkan restorannya lebih awal dengan bantuan beberapa staf yang paling dia percaya karena memang hari ini dia hanya menerima reservasi khusus dari tamu VVIP saja.
"Bagaimana penampilanku? Apa ini udah cukup atau malah terlalu berlebihan?" tanya Phoebe sambil memutar perlahan badannya yang berbalut bodycon dress warna merah darah dipadukan stiletto hitam dengan warna merah di bagian solnya, membuatnya terlihat memesona sekaligus mengintimidasi. Sungguh ikonik!
"Tak pernah mengecewakan. Ini emang style terbaik untuk eksekusi." Alex mengacungkan kedua ibu jarinya dengan ekspresi puas, respon itu membuat keduanya terbahak. Mereka berdua memang cocok saat harus melakukan hal-hal yang mendobrak aturan seperti ini. Bukankah hidup itu juga harus seimbang? Itulah pembelaan mereka saat ada orang lain yang tak setuju dengan cara berpikir keduanya. Karena itu pula Phoebe menjuluki pertemanan mereka dengan sebutan partner in wine, sebab Alex selalu berusaha memahami pola pikir lawan bicaranya.
"Ngomong-ngomong, apa di luar tadi baby barumu? Tumben sekali kau memilih tipe tunggangan seperti itu." Saat memarkirkan mobil coupe hitamnya, Phoebe melihat ada kendaraan lain dengan tipe diluar favorit Alex. Tidak mungkin jika ada pengunjung lain karena setahunya hari ini tempat Alex hanya disiapkan untuknya.
"Sebenarnya dari tadi aku ingin memberitahumu soal itu. Hari ini bukan—" Kalimat Alex lagi-lagi terpotong saat salah satu stafnya memberikan kode bahwa tamu yang ditunggu Phoebe sudah datang. Gadis dengan aura mengintimidasi ini segera melenggang ke salah satu meja yang biasa disebut Alex sebagai tempat 'eksekusi' atau ‘panggung’ khususnya Phoebe Amaya Breslin, sedangkan Alex menunggu di ruangan VVIP dekat meja bar sampai saatnya dia mengambil peran setelah Phoebe memberikan kode padanya seperti biasa.
"Hai, Baby. Kamu datang lebih awal?" Key berjalan mendekat dan hendak mencium pipi Phoebe, tetapi Phoebe memberi isyarat pada pelayan di dekatnya untuk mengisi air mineral di gelas mereka. Phoebe sengaja melakukan itu karena dia sudah tidak tertarik bersentuhan sedikit pun dengan pria yang kini terpaksa langsung duduk di hadapannya untuk menyelamatkan mukanya sendiri dari rasa malu.
"Kamu gak lapar? Sebentar lagi mereka akan membawakan makanan untuk kita."
Key tersenyum melihat wanita di depannya masih terlihat sama perhatiannya walaupun sekilas tampak dingin, "Sebenarnya aku belum terlalu lapar, tapi karena semua sudah kamu atur seperti yang biasa kamu lakukan. Jadi, gak masalah kalau aku menemanimu makan, Baby. Ngomong-ngomong aku baru tahu ada tempat seperti ini di sini, tapi sepertinya tempat ini tidak banyak pengunjung, ya?"
Phoebe memerhatikan Key yang sibuk mengamati restoran milik Alex, "Tentu saja karena aku sengaja memesan tempat ini secara khusus."
"Benarkah? Apa ada yang spesial? Ah, atau jangan-jangan kamu ingin kita melanjutkan—" Key memutus kalimatnya saat pelayan membawakan hidangan pembuka dan dua gelas wine untuk mereka.
"Gak perlu menebak-nebak. Udah gak ada yang spesial lagi, kok. Nikmatilah." Phoebe mengangkat gelas wine di hadapannya sambil terus mengamati gerak-gerik Key yang mulai terlihat tak nyaman karena perkataannya.
"Kau terlihat lain, Baby." Key melanjutkan kalimatnya setelah menyuapkan sepotong truffle mushroom bruschetta dengan krim brie ke dalam mulutnya.
"Benarkah? Bagus jika kamu merasa begitu. Karena memang waktunya sudah habis."
"Apa maksudnya?" Key mengerutkan keningnya, lalu menegakkan duduknya. Dia mengamati Phoebe yang terus memberikan ekspresi tak tertebak sejak ia memasuki restoran ini.
Phoebe tak langsung menjawab, ia menggoyangkan burgundy kristal di tangannya dengan senyuman kecil yang selalu menghiasi wajahnya, lalu menikmati aroma dan rasa pinot noir dalam beberapa cecapan. Ia memang sengaja menjeda kalimatnya untuk mengamati bahasa tubuh Key, "Ini adalah yang terakhir kalinya aku meluangkan waktu untukmu, dan kenapa gak kamu habiskan makanannya? Kamu harus punya tenaga yang cukup untuk menghadapi segala hal yang membebani pikiranmu akhir-akhir ini,"—ia kembali menyesap winenya perlahan, tatapan mengintimidasi disertai senyuman masih terus dia perlihatkan—"well, seperti yang kubilang tadi. Hari ini akan menjadi akhir dari segala sesuatu di antara kita, entah apa pun sebutannya. Karena bagiku tidak ada hal yang sangat khusus di antara kita selama ini."
"Tidak ada?! Lalu kamu anggap apa hubungan kita selama ini?!" Key memandang tak suka dengan tatapan tajam, nafsu makannya sudah jelas menghilang.
"Aturan pertama, jangan meninggikan suaramu di depanku. Sepertinya kamu udah terlalu nyaman karena kubiarkan bertindak sesuka hatimu. Aturan kedua, berhenti membodohiku. Sebuah hubungan itu hanya bisa terjalin jika ada visi yang selaras. Sedangkan apa yang terjadi di antara kita, apa bisa kamu jawab? Saranku sih, gak perlu lagi menutupi semuanya karena aku udah memegang kartumu, Tuan Ahmad yang terhormat? Rasanya gak perlu memanggilmu dengan sebutan Key lagi karena misimu untuk menjadi kunci rahasiaku udah gagal tepat saat kamu bermain api di belakangku."
"Aku gak tahu apa maksudmu. Kenapa kamu tiba-tiba menuduhku gini?" Ahmad meneguk habis air putih di samping gelas winenya agar dia tidak kembali membentak Phoebe.
"Benarkah?" ucap Phoebe dengan nada rendah menggoda sekaligus meremehkan. Dia mengembuskan napas panjang untuk mengontrol emosinya, lalu menatap Ahmad dengan tajam.
"Bisnismu sedang gak baik, 'kan? Bahkan semakin memburuk, kenapa kamu gak bilang apa pun sama aku?" Pertanyaan Phoebe membuat Ahmad terperanjat dan mulai menunjukkan tanda-tanda emosi yang mulai terpicu.
"Memang apa yang akan kamu lakukan? Kalau aku memberitahumu emangnya kamu akan membantuku?" Napasnya mulai memburu, dia berusaha keras menahan emosi dan nada suaranya karena tidak ingin mengamuk di depan umum, apalagi ada beberapa pelayan di sini. Walaupun mereka sudah dilatih untuk bersikap profesional, tapi sepertinya mereka cukup waspada. Terlebih entah mengapa dia merasa jika Phoebe bisa melakukan apa pun yang gadis itu inginkan saat ini.
"Lalu untuk apa kamu berusaha membodohiku selama ini kalau bukan untuk kamu manfaatkan? Apa kamu lupa nama belakang apa yang tersemat sebagai nama panjangku? Apa kamu kira nama itu cukup umum untuk bisa digunakan sama sembarang orang? Ya, walaupun itu mungkin aja, sih." Phoebe berkata santai sambil mengedikkan bahu ketika mengingat kejadian kemarin, bisa saja dia memiliki saudara tak terekspose dari para pria di keluarga Breslin. Ia kembali meneguk winenya tanpa sisa dengan mata yang terus memandang tajam ke arah Ahmad tanpa berkedip sekali pun.
"Saat aku memberimu kesempatan seharusnya kamu gak melewatkannya gitu aja. Kalau kamu bicara terus terang padaku, mungkin kamu gak perlu repot-repot menyiapkan agenda khusus setiap kali kamu ingin berusaha memanfaatkan atau mungkin menyentuhku lebih dari sebelumnya. Aku akui, hubungan di antara kita memang sangat abstrak dan gak pantas disebut dengan, cinta?! Tch, that's bullshit for us. Karena jika kamu benar-benar mencintaiku udah pasti kamu gak akan menghabiskan malammu dengan w************n saat masih ada sesuatu di antara kita,"—ia meletakkan gelas burgundy kristal di atas meja lalu sedikit mencondongkan tubuhnya—"gak perlu terkejut gini, dong. Apa kamu punya pembelaan setelah aku tahu perbuatan kotormu di belakangku sejernih gelas kristal ini?"
Ahmad mengeraskan rahangnya, dia tidak menyangka gadis polos di depannya bisa merendahkannya sejauh ini, "Apa ini adalah wajah aslimu, Amanda Breslin?! Kau yang ninggalin aku gitu aja. Saat itu aku kalut karena semuanya gak berjalan baik sampai aku mabuk, dan paginya aku baru sadar setelah terbangun dengan seorang jalang di sampingku. Kami bahkan baru ketemu malam itu setelah kamu ninggalin aku lebih dulu!"
Phoebe menggeleng kecil dengan seringaian di wajahnya, "Nah! Don't talk a s**t! Aku udah bilang kalau keluargaku lagi membutuhkanku. Ah, dan sedikit koreksi, kau menghabiskan waktumu dengan jalang itu gak hanya untuk satu malam aja, 'kan? Mungkin sejak sebelum ketemu denganku kau sudah terbiasa ditemani oleh mereka, bahkan bisa aja sampai semalam pun kau masih bekerja keras di atas tubuh mereka. Aku gak peduli jika kau ingin berganti-ganti jalang, asalkan setelah aku mendapatkan apa yang kumau, yaitu ANAKKU, MILIKKU SEORANG! Saat kau bersamaku, aku harus memastikan bahwa kau tetap bersih dan sehat. But yeah, udah gak ada gunanya lagi kita bahas soal ini. Intinya kau udah melewatkan kesempatan emasmu, dan aku udah gak tertarik menikmati apa yang bisa dinikmati sama sembarang perempuan bahkan para jalang di luaran sana yang bahkan kita gak bisa jamin soal riwayat mereka."
Ahmad tidak bisa mengelak tamparan fakta yang diberikan oleh Phoebe. Dia menggebrak meja, lalu berdiri untuk meluapkan amarahnya, "KAU PIKIR KAU BISA LEPAS BEGITU AJA DARIKU?! HAH!"
"Selain lancang, kau juga punya ingatan yang payah tentang aturan. Tentu aja aku bisa lepas darimu KARENA AKU SEKARANG ADALAH WANITANYA!" Tanpa menoleh, Phoebe menunjuk ke arah belakang. Seperti biasa pasti sudah ada Alex yang berdiri di sana untuk menjadi tamengnya. Semua yang ada di ruangan itu terperanjat, tapi Phoebe hanya fokus melihat ekspresi Ahmad yang seketika bergeming dengan wajah pucat pasi. Berhasil lagi! Sepertinya nama Alex sudah semakin dikenal akhir-akhir ini karena dia sering muncul di hadapan media sebagai penerus keluarga Ford yang terpandang. Phoebe menunjukkan seringaian licik yang tampak begitu meremehkan.
Ahmad memandangnya dengan tatapan tak percaya.
"Kau bisa pergi sekarang sebelum dia membuat hidupmu jauh lebih menderita sekaligus menyedihkan daripada sekarang!" gertak Phoebe, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Ahmad mengepalkan kedua tangannya di atas meja dan hendak menjangkau sesuatu yang tersembunyi di saku bagian dalam blazernya, tapi ia segera menghentikan niatnya saat melihat sosok yang ditunjuk Phoebe sedang berjalan mendekat dengan tatapan menghunus ke arahnya seperti memberikan peringatan. Dia pergi begitu saja tanpa berani menoleh ke belakang lagi.
Phoebe mengembuskan napas lega lalu mendongak sambil memejamkan mata. Akhirnya dia terbebas dari satu lagi pria tidak tahu diri. Sejujurnya Phoebe sudah sangat lelah karena selalu saja berurusan dengan jenis manusia yang sama. Ia masih memejamkan kedua matanya saat mendengar langkah kaki seseorang mendekat, "Thanks, Dude. Kau memang paling bisa kuandalkan seperti biasa, tapi sekarang aku ingin sendirian dulu sebentar saja. Kepalaku sekarang sakit lagi."
—✧✧✧—
Note:
Currywurst level hellish: Sosis daging berasal dari sapi/babi yang diberi saus, bubuk kari, dan bubuk cabai. Level hellish adalah yang terpedas.
Belle/Ma belle: Cantik/Wanita cantikku dalam bahasa Prancis.
Monsieur: Tuan dalam bahasa Perancis.
Bodycon dress: Baju terusan berpotongan mengikuti bentuk lekuk tubuh.
Partner in wine adalah istilah karangan penulis. Merujuk pada sebutan sahabat akrab yang saling memahami, bahkan tak sungkan bekerja sama untuk menyelesaikan hal-hal yang bersifat rahasia.
That's bullshit for us artinya itu omong kosong belaka bagi kita.
Nah! Don't talk a s**t! artinya Sudahlah, jangan bicara omong kosong!