"Sshh, haaahh, lagi! Shhh, haahh!" Tidak hanya wajah, tapi mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki Phoebe rasanya sudah basah oleh keringat. Air mata yang sempat menetes bersama bulir keringat sejak tadi sudah tidak tampak lagi bedanya sekarang.
"Ini yang terakhir. Kau harus berhenti, atau aku terpaksa membawamu ke rumah sakit sebelum kau pingsan," kata pria bertubuh kekar yang saat ini menemani Phoebe, dia dibuat sibuk karena terus menuruti permintaan Phoebe.
"Ini hukumanmu, sshhh. Kau yang harus bertanggung jawab, haaah, karena membuatku seperti ini. Astaga! Rasanya seperti terbakar! Haaah." Phoebe mendongak sambil menggelengkan kepalanya agar helaian rambut yang menempel di wajah dan lehernya tak mengganggu kegiatanya.
"Memang apa salahku? Tentu saja rasanya membakar lidah sampai ke perutmu. Lihat! Berapa banyak currywurst dengan level hellish yang kau pesan?! Kurasa kau sedang memakan lapisan saus cabai neraka dengan topping sosis, bukan sebaliknya!" gerutu Franz sambil sesekali mengusap keringat di wajah dan leher Phoebe, setelah itu tangannya sibuk membuka kemasan s**u entah untuk yang keberapa kotak malam ini.
Phoebe tidak menghiraukan kalimat Franz. Dia masih kesal karena pria di depannya yang selalu mencegahnya untuk mencari tahu tentang pertemuan ayahnya dan hubungan yang terjalin antara orang-orang yang baru dia ketahui malam ini. Karena alasan itu pula sampai membuat gadis bernetra safir ini harus menyiksa mulut dan perutnya agar ia bebas mengeluarkan air matanya hanya untuk menumpahkan kekesalan, amarah, sekaligus kekecewaannya. Baginya ini jauh lebih baik daripada menerima tawaran pria asing dengan aura dingin yang ia temui di lift beberapa saat lalu. Kalimat ambigu itu kembali terlintas di ingatannya.
✧✧✧
Satu jam yang lalu,
'Berteriak kencang sampai puas?' Bagaikan sebuah mantra, Phoebe mengulang kata-kata itu dalam benak cantiknya. Namun, ia segera menyadari satu hal jika dia tidak bisa memercayai siapa pun di dunia ini kecuali Tuhan, dirinya sendiri, mommynya, serta adiknya, dan Amanda, termasuk beberapa teman yang sudah sangat ia kenal. Walaupun dia menjadi penasaran setengah mati dengan wujud sebenarnya dari tawaran yang terdengar sangat menggiurkan itu.
"Thanks, but no thanks," tolak Phoebe sopan dengan senyuman simpul. Ini tempat asing, selain itu pria di depannya adalah orang asing pula, bahkan orang yang sudah dia kenal dan temui setiap hari pun selalu punya banyak cara untuk mengganggu ketenangan hidupnya lalu mencoba menyakitinya setiap kali ada kesempatan. Dia tidak punya waktu untuk dihabiskan bersama orang yang memiliki tujuan tidak jelas yang kelak hanya akan merugikannya saja.
"Sayang sekali, padahal kesempatan tidak akan datang dua kali." Pria itu hendak beranjak keluar lift, tapi langkah lebarnya terhenti saat mendengar kalimat Phoebe.
"Menurutku kesempatan sering kali datang, hanya saja terkadang kita terlambat untuk menyadarinya, Sir," celetuk Phoebe dengan wajah datar. Pria misterius itu berbalik untuk mengamati wajahnya.
"Benarkah kesempatan sering datang padamu? Interesting." Sebuah senyuman segaris yang nyaris tidak tampak diberikan oleh si pria asing misterius beraura dingin itu sebelum benar-benar keluar dari lift dan mereka berpisah begitu saja. Setelah pintu lift tertutup, Phoebe bergegas memencet tombol lift untuk kembali ke lantai dasar. Franz pasti sedang mencarinya dengan wajah murka ditambah aura mencekam karena Phoebe menghilang terlalu lama.
Tepat seperti dugaan Phoebe jika Franz sudah menunggunya di lobby dengan wajah siap memangsanya hidup-hidup, tapi Phoebe tahu jika Franz tidak mungkin mengamuk di depan umum karena pria itu paling pandai mengontrol emosi dan menjaga image-nya, bahkan image paling kelam pun hanya segelintir orang yang bisa mengetahuinya. Bukannya bergegas menghampiri saat pandangan mereka bertemu, Phoebe malah terus melangkah hingga sepasang kaki jenjang berbalut stiletto itu masuk dengan anggun ke dalam kabin mobil berlambang banteng dengan warna kesukaannya. Dia memang tidak berencana menjelaskan apa pun terlebih setelah mengetahui petugas sudah bersiap membukakan pintu Aventador hitam yang terlihat sangat gagah sekaligus misterius dari kejauhan.
Sesaat setelah pintu tertutup kembali, Franz menatapnya tajam dengan napas memburu, "Jangan pernah lakukan hal ini lagi! Kamu gak tahu seberapa paniknya aku saat gak bisa nemuin kamu di mana pun! Bahkan kamu mematikan teleponmu saat panggilanku baru tersambung!!"
"Ayo jalan, banyak yang mengantre. Tempat ini bukan milik keluargamu," potong Phoebe, tak berniat menganggapi Franz yang terlihat siap memberikan hukuman padanya karena sudah membuat ulah seperti bocah. Franz mencengkeram erat kemudi, lalu menginjak pedal gas sedikit dalam hingga mobil eksotis yang mereka tumpangi melesat membelah jalanan Berlin malam ini.
Suasananya terlalu hening sampai Phoebe mengingat sesuatu, "Aku ingin makan makanan yang pedas. Kita makan currywurst dulu sebelum kembali." Kalimat Phoebe bukanlah sebuah permintaan, melainkan perintah. Memang selama ini hanya Phoebe saja yang bisa memerintah Franz sesuka hatinya, tentunya karena Franz yang membiarkan gadis ini berbuat demikian. Jika wanita lain, apalagi orang lain sudah pasti tidak akan dibiarkan menghirup oksigen lagi setelah berani mencoba memerintahnya.
Perasaan Phoebe mulai membaik, tetapi tidak dengan pencernaannya. Dia mengajak Franz makan hidangan pedas karena dia membutuhkan alasan untuk menguras air matanya. Rasa sesak di dadanya memang harus dia luapkan seperti saran dari pria asing misterius tadi.
—✧✧✧—
Teterboro Airport, New Jersey.,
Mereka sudah kembali dari Berlin. Semalam Phoebe berencana untuk mengajak ibunya kembali ke Tanah Air tempat kelahiran sang mommy, agar wanita kesayangannya itu bisa melupakan rasa sesak di hatinya, lalu kembali ke New York saat merasa sudah lebih baik untuk menghadapi tingkah laku tidak menyenangkan dari orang-orang yang selalu berusaha merusak keutuhan rumah tangga dari nyonya Jane Breslin. Namun apa daya, Phoebe tidak bisa bersikeras saat ibunya menolak dan meyakinkannya jika semua masih bisa diatasi. Lagi pula ia ingat masih banyak yang harus dia persiapkan, termasuk mencari tahu tentang apa yang coba disembunyikan oleh Franz dan identitas si "saudara" yang baru ia ketahui keberadaannya di dunia. Terlebih lagi saat pintu private jet yang mereka tumpangi baru saja terbuka, Phoebe mendapatkan satu lagi berita yang sedikit mengejutkan. Sedikit? Ya, tentu saja karena dia sudah bisa memprediksikan hal ini bisa saja terjadi. Hanya tinggal menunggu waktu sampai hitungan mundur itu bisa dilakukan maka permainannya bersama seseorang bisa segera diakhiri.
Phoebe memutuskan kembali ke kondominiumnya dan memisahkan diri dari yang lain. Ia berencana menyelesaikan sisa pekerjaannya yang mulai menumpuk, lalu segera merencanakan momen perpisahan yang tak terlupakan untuk pria yang berani bermain-main dengannya.
"Halo, Belle. Bagaimana liburanmu?" Seorang pria yang menjadi salah satu partner in wine Phoebe menyapanya setelah panggilan telepon mereka terhubung.
"Aku akan berkunjung besok. Bisa bantu aku untuk menyiapkan semuanya seperti biasa?" pinta Phoebe dengan nada bersemangat.
"Wow! Secepat ini?"
"Hentikan and just enjoy the show, Monsieur."
"As your wish, Ma Belle."
Phoebe tersenyum licik ketika sambungan telepon itu tertutup, lalu dia segera mengirimkan pesan untuk memastikan rencananya esok hari akan berjalan tanpa hambatan.
"Besok kau akan mendapatkan kenang-kenangan tak terlupakan dari salah satu anggota keluarga Breslin. Kuharap kau bisa tidur nyenyak malam ini, karena kau pasti tidak akan memiliki kesempatan lagi setelah nanti malam." Sebuah senyuman culas tersungging di bibir sensual Phoebe saat ia memblokir nomor seseorang yang sudah tak penting lagi dalam hidupnya.