Pandangan mereka berdua terkunci. Mereka berada dalam posisi ini cukup lama, "Kau selalu aja melakukan hal ekstrim saat minta kupeluk. Aah, jadi karena ini kau gak mau kupeluk dengan cara yang lebih lembut kemarin? Kau lebih suka jika jantung kita berdegup kencang seperti bersahutan saat saling memeluk begini?"
Rasanya Phoebe sangat ingin menjambak pria aneh di depannya ini. Dia selalu merasa menyesal setiap kali sudah menaruh rasa empati berlebihan pada seorang Franz Hanssen.
"Lepas! Dasar pria c***l, pencuri kesempatan!" hardik Phoebe tepat di depan wajah tampan Franz.
"Tentu aja gak akan kulepasin! Kalau kulepasin bisa aja kau akan melakukan hal ekstrim lainnya yang hanya diketahui sama Tuhan dan dirimu sendiri. Kalau kau berani melakukannya maka saat itu juga akan kupastikan kau segera berganti nama menjadi Phoebe Amaya Hanssen dalam sekejap!" gertak Franz sambil menatap sepasang mata biru yang sekarang sedang terbelalak sempurna.
"Selalu aja pakai ancaman yang sama. Dasar pria paling nyebelin sedunia!" Phoebe menginjak sepatu oxford mengkilap berbahan kulit di kaki Franz agar ia bisa bebas dari dekapan pria ini.
"Ouch! Badass Queen emang gak bisa dijinakkan bahkan ketika dia udah berpakaian seperti ratu yang sebenarnya. Tunggu, My Bee!" Franz merasa punggung kakinya kebas seketika, pasti nanti timbul memar akibat serangan tak terduga dari killer heels-nya Ratu Barbar. Untung saja sepatunya limited edition dengan bahan terbaik, jika tidak pasti kakinya akan membengkak sebelah esok hari.
Phoebe berjalan cepat dengan kepala dan hati yang sama-sama panasnya. "Semua pria emang sama aja! Mereka gak bisa diberi hati sedikit pun! Gak bisa diandalkan satu pun!" sungut Phoebe, bibir sensualnya terus saja mengoceh kesal bahkan ketika dia sudah masuk ke dalam lift. Dia tidak sadar jika lift yang ia masuki bergerak naik, bukan turun karena sejak menunggu lift tadi dia memang sedang sibuk membalas pesan masuk di surelnya. Lift berhenti di salah satu lantai. Phoebe memandang lurus ke arah pintu saat suara lift berdenting, lalu perlahan celah mulai terbuka dan dia dikejutkan dengan sosok yang coba ia kejar tadi. Saat celah itu semakin terbuka lebar, "Dad!"
Sayangnya suara panggilan itu bukan berasal dari mulut Phoebe, melainkan suara seorang pria yang persis sama seperti di area hall tadi. Phoebe segera membalikkan badannya dengan mata terpejam sebelum seseorang yang pernah selalu ia turuti perkataannya dan banggakan lebih dari apa pun di dunia ini mengenalinya. Ia berharap pria paruh baya itu tidak sempat melihat wajahnya karena tadi daddynya sedang memalingkan wajah ke arah samping sambil berbicara melalui telepon genggamnya, sebelum sebuah panggilan mengejutkan mereka berdua.
Bibir Phoebe bergetar. Tidak mungkin panggilan tadi hanya ilusi, apakah daddynya memiliki anak lain dari wanita yang tidak ia ketahui? Saudara lelaki tirinyakah itu tadi? Kalau ia ingat lagi, sepertinya umur mereka tidak berbeda jauh.
Pintu lift kembali tertutup, tapi ia tak mendengar satu pun suara langkah kaki bergabung dalam ruang sempit ini. Lift kembali bergerak, ia menggigit kuat bibirnya agar tangisnya teredam. Alam semesta sedang mengajaknya bercanda lagi kali ini. Ia menggenggam kuat telepon genggamnya hingga tak menyadari benda tak bersalah itu "terbunuh" tepat di saat panggilan Franz masuk.
Ia berusaha keras mengatur napasnya, dadanya bergerak naik turun meredam emosi. Dia harus tetap waras, di sini ada adik dan mommynya. Ah, kedua harta berharganya tidak boleh tahu tentang hal ini. Cukup dia sendiri yang menanggung semua kenyataan sepahit apa pun itu demi nama keluarga yang sedikit demi sedikit terus mengecewakannya tanpa henti. Ia terus menarik napas melalu hidung, lalu mengembuskannya perlahan melalui mulut berulang kali. Ia membuka matanya perlahan dengan bulir air mata yang masih terperangkap di antara bulu mata lentiknya. Sorot matanya berubah menjadi tajam, tapi menyiratkan luka dan kekecewaan yang mendalam dengan nyata. Ia berbalik dan akan berniat menekan tombol untuk kembali ke lantai tadi. Namun, tatapan tajam seorang pria menghentikan gerakannya, "Oh, s**t! Ups, maaf. Kukira tidak ada orang lain di sini," Phoebe tidak sengaja mengumpat, tapi segera meminta maaf dalam bahasa Jerman sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang karena kaget.
Pria bertubuh tinggi di depannya tidak mengatakan apa pun selain tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Mereka berdua saling menatap dengan keadaan canggung, atau lebih tepatnya hanya Phoebe yang canggung karena dia dipergoki orang asing sedang bertingkah aneh sendirian sejak masuk lift tadi.
Pria itu menarik pocket square dari kantong jasnya, mengulurkan benda berwarna navy dengan motif beberapa garis tipis berjajar di tepiannya. Terlihat elegan dan berkelas meskipun sederhana. Sesaat Phoebe ragu untuk menerimanya, tapi pria itu masih terus menyodorkan benda kecil itu ke arahnya. Merasa tak enak hati, ia menerimanya walaupun tak kunjung ia gunakan.
Lift berhenti di lantai paling atas. Tidak ada yang bergerak di antara mereka berdua. Tepat saat pintu lift akan tertutup, pria yang berada di depannya menekan tombol agar lift tidak bergerak, ia lalu mengucapkan sebuah ide menarik sekaligus gila yang layak dicoba, "Kau butuh meluapkan emosimu? Bagaimana kalau kubiarkan kau menjerit sepuas hatimu? Emosi yang tertumpuk tidak akan baik untuk kesehatanmu,"
"Maaf, apa maksud Anda?" tanya Phoebe bingung karena kalimat pria ini sangatlah ambigu. 'Sial! Ternyata kami menggunakan bahasa yang sama. Berarti sejak tadi dia mengerti ocehan dan keluhanku. Hancurlah image-mu di mata orang asing dan di negara asing, Phoebe Amaya Breslin!' Pikiran Phoebe meneriakkan suara hatinya yang sedang merutuki kecerobohannya.
"Meluapkan emosi dengan cara berteriak sesukamu, sekencang yang kau inginkan, dan sebanyak yang kau butuhkan, sampai kau puas sambil mengeluarkan banyak keringat. Bagaimana? Menarik bukan?" Pria di depannya tersenyum kecil dengan tatapan yang sulit diartikan. Phoebe bergeming mencoba mencerna kata demi kata yang meluncur lancar dari bibir pemilik suara khas itu dan memastikan kata-kata yang dimaksud pria kekar di depannya selaras dengan pemahamannya saat ini.
—✧✧✧—
Note:
Stiletto: jenis sepatu yang memiliki hak panjang, ramping dan tinggi.
Stalker: penguntit atau julukan untuk menyebut orang-orang yang ingin tahu tentang urusan orang lain.
Triple black suit: setelan yang terdiri dari jas, celana dan rompi berwarna hitam berpotongan formal untuk acara makan malam atau bekerja.
Pocket square: saputangan yang dilipat sedemikian rupa lalu diletakkan di kantong jas yang ada di bagian depan d**a.
Gaun berekor duyung: model gaun ala putri duyung dengan bagian atas hingga lutut mengikuti lekuk tubuh, mengecil, atau ketat. Kemudian melebar dengan beberapa lipatan sampai bagian bawah dengan ekor menjuntai mirip seperti ekor putri duyung yang sedang mengembang.
Teal: perpaduan warna hijau kebiruan gelap atau biasa dikenal dengan warna pirus atau cyan gelap. Nama warna ini terinspirasi dari salah satu jenis bebek Eurasian Teal yang memiliki garis berwarna cyan gelap di kepalanya.
Sepatu oxford: mirip sepatu pantofel, tapi bertali (lacing system), hak pendek, dan tingginya di bawah mata kaki.