'Duh, bisa gak sih dia gak bisik-bisik terus di telingaku?!' Phoebe merasa tidak nyaman dengan kelakuan pria di belakangnya.
Setelah memastikan ke mana arah para pria itu pergi dan menghilang dari pandangannya, dia memutar tungkainya lalu segera menendang tulang kering lelaki di belakangnya dengan stiletto berwarna hitam dengan sol merah menyala di kaki jenjangnya. Namun, tiba-tiba dia membungkam mulut pria yang hampir menunduk kesakitan di depannya sebelum sempat memekik, lalu mendorong tubuh kekar itu sekuat tenaga dengan mudahnya karena pria itu tidak berdiri seimbang akibat tendangan tak berperasaan dari gadis barbar di depannya, hingga tubuh pria itu membentur cukup keras ke dinding berlapis marmer di belakangnya, "Heuummpp!"
Mata biru milik Phoebe mengawasi setiap penjuru hingga pintu masuk hall. Namun, tampaknya sia-sia belaka karena dia belum menemukan jejak makhluk apa pun setelah sekelebat bayangan sempat tertangkap netranya seper sekian detik saat ia berbalik tadi, "Diamlah, stalker! Masih ada seseorang di sana. Apa kau gak melihatnya?!" bisik Phoebe geram, semakin membungkam rapat bibir Franz dengan telapak tangannya. Ya, pria yang saat ini sedang tersiksa ternyata adalah seorang Franz Hanssen.
Franz masih bersandar di dinding, ia memandangi wajah cantik di depannya yang masih mencoba bermain-main menjadi detektif dadakan, satu tangannya merengkuh pinggang Phoebe.
Phoebe mengernyit lalu berbalik menatap tajam pada Franz, "Kenapa kau suka banget meluk aku, sih? Apa lagi ide busukmu kali ini?!" tukas Phoebe dengan gigi terkatup agar suaranya tetap teredam. Franz tidak bereaksi, tetapi tatapan matanya terlihat hangat dan meneduhkan. Padahal jika orang lain sedang melihat pose mereka seperti saat ini, sudah pasti mereka akan salah paham dan mengira Phoebe gadis yang agresif. Tidak kehabisan akal, Franz mengecupi telapak tangan Phoebe yang masih setia membungkam bibirnya.
"Ewh! Dasar pria m***m. Apa kau juga begini sama para perempuan itu?!" tuduh Phoebe dengan ekspresi jijik. Ia mengusap-usapkan telapak tangannya ke triple black suit milik Franz, tepat di atas pocket square berwarna senada dengan dasi dan gaun teal berekor duyung yang membungkus indah tubuh semampai Phoebe.
"Asal kau tahu, hanya kau satu-satunya yang berani melakukan hal ini sama aku. Kau kira aku bakalan biarin sembarangan orang nendang, membungkam, terus mengacaukan style-ku seperti yang baru saja kau lakukan, Nona? Lagi pula gimana bisa kau minta aku buat jawab pertanyaanmu kalau tangan kecilmu itu masih nutupin mulutku?" Franz merapikan kembali penampilannya yang sedikit berantakan.
Phoebe menjadi salah tingkah. Ia memang sudah menuduh Franz sembarangan, padahal pikirannyalah yang sejak tadi bercabang tak karuan sampai membuatnya tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Melihat ekspresi malu dan salah tingkah Phoebe membuat Franz tidak tahan untuk tak menggodanya, "Tapi lain kali akan kupastikan kau membungkamku pakai bibirmu yang menggoda itu, calon nyonya Franz Hanssen."
Phoebe menjadi geram, lalu menatap sengit pada Franz. Ia pun segera berusaha menyusul ke arah daddynya pergi, tetapi tangan kekar Franz menahannya. Seolah memberinya isyarat untuk tidak gegabah.
"Ayo, kita kembali ke pelelangan. Daddy nggak akan ke mana-mana sama pria Levanchois itu. Aku akan bilang ke asistenku buat mengawasi mereka. Sekarang kau hanya perlu tetap bersikap tenang dan jangan jauh-jauh dariku."
"Aku paham maksudmu, Franz. Aku janji tak akan bertindak impulsif sebelum mengetahui kebenarannya, aku hanya—" Franz menatap datar sepasang netra biru milik Phoebe, membuat Phoebe mengurungkan niatnya meskipun ia ingin sekali mengungkap kebenaran di balik kejadian yang ia lihat beberapa saat lalu dengan kemampuannya sendiri. Ia sangat memahami sorot mata yang diberikan Franz dan di saat seperti ini Phoebe benar-benar membenci tatapan mata yang memintanya untuk menurut agar semuanya tidak menjadi rumit.
Phoebe tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Sebab saat terakhir kali ia tak mengindahkan saran dari Franz, ia kehilangan apa yang berharga baginya. Seorang gadis berwajah mirip seperti dirinya harus menanggung akibat dari kelalaian Phoebe. Sejak saat itu, ia selalu mendengarkan saran pria tampan di depannya ini sekalipun dia merasa muak karenanya. Phoebe hanya bisa mengikuti langkah kaki Franz yang menggandengnya kembali ke tempat di mana pelelangan sudah dimulai sejak tadi.
Walaupun tubuh Phoebe ada di samping Franz, tapi bayangan akan sosok para pria ditambah percakapan mencurigakan yang dia dengar tadi terus saja berputar-putar di kepalanya hingga membuat Phoebe memiliki banyak asumsi yang semakin menguras emosinya. Dia tidak mungkin salah mengenali mereka, apalagi Franz juga membenarkan jika mereka adalah orang yang ia kenali.
"Ah, sial! Memang susah banget ngalahin wanita kalau udah berhubungan sama hal yang identik dengan mereka," sungut Franz membuat Phoebe berjengkit kaget.
"Kenapa sih? Apa lagi yang bikin kamu kesal, Tuan Hanssen?"
"Barang tadi tuh. Bukannya dari tadi aku lagi bicara sama kamu? Atau kamu hantu yang menyerupai calon istriku?" cecar Franz sambil mengernyit heran.
"Jangan konyol kau, Franz Hanssen!" geram Phoebe memutar bola matanya jengah.
"Pantas saja kau hanya menanggapiku dengan gumaman dari tadi. Tahu begitu—" Phoebe memalingkan kepalanya saat Franz tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia mengernyit saat melihat rahang Franz mengeras. Pasti ada sesuatu yang salah atau di luar kendali. Phoebe hapal betul dengan kebiasaan seorang Franz Hanssen. Ia harap tidak ada kaitannya dengan pekerjaan pria ini, atau dia pasti akan susah dihubungi lagi karena sibuk mengurus bisnisnya yang semakin berkembang pesat hingga dia tidak punya banyak waktu untuk merawat dirinya sendiri.
Bukannya Phoebe menjadi perhatian secara berlebihan, hanya saja jika Franz sudah terlalu larut dengan pekerjaannya maka satu-satunya orang yang akan menjadi korban adalah dirinya. Kedua keluarga mereka menganggap orang yang bisa mengembalikan Franz Hanssen pada jalur yang benar dan sehat hanyalah Phoebe Amaya Breslin seorang. Karena itulah Phoebe sangat menghindari terjebak dalam zona hubungan serius dengan pria adonis di sampingnya ini. Lebih baik dia memiliki anak dari pria lain dengan sebuah perjanjian dan membesarkannya dengan nilai-nilainya sendiri jika pada akhirnya anak itu akan tumbuh besar hanya untuk menjadi robot penerus nama keluarga dan penjaga warisan saja.
Phoebe menyentuh lengan Franz perlahan, "Apa ada masalah, hmm?" Franz mengantongi lagi ponsel canggihnya, lalu tersenyum ke arah Phoebe.
"Karena tujuan utama kita udah gagal malam ini, mau nyelinap pergi dari sini?" bisik Franz di telinga Phoebe, membuat gadis itu semakin meremas lengan berotot yang sejak tadi dia pegang. Phoebe mengangguk kecil, lalu Franz berpamitan pada rekan-rekan bisnisnya yang berada satu meja dengan mereka berdua.
Phoebe melihat wajah tegang Franz dengan dahi yang mulai berkeringat. Ini sangat aneh, "Franz, ada apa sebenarnya?"
Franz tidak menjawab apa pun, sedangkan mereka berdua terus saja berjalan hingga keluar dari pintu hall. Phoebe sedikit tersandung karena sejak tadi dia sibuk memerhatikan Franz, dengan gesit Franz menangkap tubuh Phoebe tepat di pinggang rampingnya. Tubuh mereka berdua tanpa jarak, napas mereka berdua tidak beraturan karena alasan yang berbeda. Franz yang sejak tadi berusaha mengontrol emosinya merasa sangat terkejut saat menyadari Phoebe hampir saja jatuh tersungkur di atas kerasnya lantai marmer, sementara Phoebe merasa jantungnya hampir copot karena bisa saja dia tadi terjatuh dengan cara tidak elegan akibat kecerobohannya sendiri.